
*****
Akhirnya hari itu Mia memutuskan untuk pulang ke Seoul hanya seorang diri. Dia tidak di temani oleh Arsen, malahan dia meminta kepada Arsen untuk menemani Anna. Dan pulang ke Seoul bersama gadis itu.
Mia berangkat saat itu juga dengan menggunakan taksi yang ia pesan. Di sepanjang perjalanan Mia tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi. Sungguh seperti mimpi bagi Mia, dia tidak pernah menyangka akan mengalami nasib seperti ini.
Tiba-tiba saja Mia merasa perut nya sakit sekali, dan kepala nya pusing. Pandangan nya pun mulai berputar-putar dan keringat dingin bercucuran di kening nya. "Awwh...." ringis nya pelan dengan memegang perut dan kepala nya.
Supir taksi itu pun melirik dari sepion tengah nya, saat mendengar ringisan dari Mia. "Ada apa Miss? Apa anda baik-baik saja?" tanya supir tersebut.
Mia melambaikan tangan nya, mengisyaratkan TIDAK. "Tidak pak, saya tidak apa-apa..." jawab nya dengan suara lemah.
"Tapi anda terlihat sangat pucat, sebaiknya kita ke rumah sakit Miss....." ucap supir itu lagi, dia merasa takut dengan wajah pucat Mia. Karna jika terjadi sesuatu kepada wanita itu, tentu saja dia akan menjadi saksi atau tersangka utama sebagai pemilik taksi.
Mia menggelengkan kepala nya. "Tidak pak, gak usah mengkhawatirkan saya.....fokus saja pada jalanan nya agar cepat sampai di tujuan" ucap nya lagi dengan tersenyum getir.
"Ba..baik Miss...." sahut supir dengan gugup, dia langsung kembali memfokuskan pandangan ke depan. Lalu mengemudikan mobil nya dengan kecepatan penuh menuju Seoul.
Mia pun berusaha untuk menahan rasa sakit nya, dia menyandarkan kepala dan menutup sejenak matanya. Untuk meredam rasa sakit itu, Mia merasa bingung dengan tubuh nya yang kelewat lemah itu. Sebelumnya dia tidak pernah sama sekali merasakan hal tersebut.
Tepat pukul tujuh pagi.....
Supir taksi berhasil mengantar Mia dengan selamat sampai di rumahnya. Mia mengucapkan banyak terima kasih kepada supir tersebut dan memberikan upah lebih kepada nya. Sebelum dia melangkah masuk ke dalam rumah.
Mia langsung bergegas masuk ke dalam kamar nya, tidak sempat mengganti pakaian nya, Mia langsung merebahkan tubuh nya di tempat tidur. Dia merasa tubuh nya menggigil kedinginan, dan mata nya berat sekali ingin tertutupbsedari tadi.
Akhirnya beberapa saat kemudian dia tertidur dengan balutan selimut tebal yang menutupi tubuh nya. Tapi tidak juga meredakan rasa dingin yang dia rasakan.
Satu jam....
Dua jam berlalu...
Mia masih terlihat belum juga bangun dari posisi meringkuk nya tadi. Sedangkan di bawah sana, nampak Kevin berjalan memasuki rumah nya.
__ADS_1
Dia sempat bertanya kepada salah satu pelayan tentang keberadaan sang istri. Karna dia begitu cemas dan khawatir jika Mia tidak pulang ke rumah. Kevin belum siap untuk di tinggalkan oleh istri tercinta nya itu.
Saat mengetahui Mia ternyata sudah pulang sedari tadi. Kevin merasa begitu lega dan kecemasan yang dia rasakan berkurang sedikit. Kevin pun langsung bergegas menuju kamar nya.
Cklek....
Dengan perlahan Kevin membuka pintu kamar nya, pandangan nya menyapu sekeliling. Dilihat nya Mia yang sedang tertidur di atas tempat tidur dengan terbungkus selimut.
Dengan langkah yang sangat canggung, Kevin berjalan menghampiri sang istri. Lalu dia duduk di pinggiran tempat tidur tersebut.
"Bee.....bisakah kamu mendengar penjelasan ku kali ini? Aku benar-benar tidak pernah mempunyai niat untuk mengkhianati mu....kamu harus percaya honey jika aku telah di jebak, dan aku sudah menemukan bukti nya. Akan ku perlihatkan padamu honey supaya kamu percaya padaku....." ucap Kevin panjang lebar dengan suara pelan yang terdengar lirih.
Suasana hening, Kevin merasa ada yang aneh. Dan lagi hawa di seisi ruangan kamar nya itu terasa begitu panas. Kevin menoleh ke arah Mia sembari mengerinyitkan dahi nya. Kenapa panas-panas begini Mia malah berselimutan seperti itu, Kevin semakin merasa aneh dan heran.
Dia pun menyibakan selimut yang menyelimuti tubuh sang istri. "Bee....kenapa kamu memakai selimut seperti ini...." ucap Kevin.
Saat terbuka nya selimut tersebut, seketika itu juga Kevin terkejut. Saat melihat keadaan sang istri. Wajah nya pucat pasi, keringat bercucuran, dan tubuh nya begitu panas dan menggigil.
Kevin langsung menarik tubuh Mia agar duduk. "Bee....kamu kenapa? Honey badan mu begitu panas, seperti nya kamu demam......bee sadarlah" Kevin terlihat begitu cemas sampai-sampai air mata nya menetes.
Kevin melajukan mobil nya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit. Dia begitu mencemaskan keadaan sang istri. Perasaan Kevin saat ini begitu campur aduk, sampai-sampai dia tidak memikirkan bagaimana penampilan nya sekarang.
Kevin mengemudikan mobil nya dengan tangan sebelah, sedangkan yang satu nya menggenggam erat tangan Mia. Apa yang terjadi oleh Mia adalah akibat kesalahan nya. Begitu fikir Kevin, sampai-sampai sang istri jatuh sakit dan pingsan. Kevin benar-benar menyalahkan diri sendiri.
"Honey bertahanlah, sebentar lagi kita sampai....Maafkan aku yang telah membuat mu seperti ini...Cups..." Kevin mengecup punggung tangan sang istri dan menatap nya sendu. Air mata mengalir membasahi wajah tampan nya.
Sesampai nya dirumah sakit......
Kevin merebahkan tubuh sang istri diatas ranjang rumah sakit yang telah di sediakan. Seketika itu juga Mia terbangun sembari meringis memegangi perut nya.
Pandangan nya menyapu sekeliling, dia sadar jika saat ini dia berada di rumah sakit. Tetapi mata tertuju pada satu arah, yaitu pada sosok sang suami yang nampak berantakan. Pakaian yang kusut, rambut acak-acakan, bahkan wajah nya yang kusam berlinangan air mata.
Ingin sekali jika saat itu juga Mia menghapus air mata berharga suaminya itu. Tetapi diurungkan niatnya itu, mengingat rasa sakit yang di berikan oleh Kevin.
Mia pun mencoba bangun dari tidur nya. "Kenapa membawaku kesini? Aku mau pulang" ucap nya.
__ADS_1
Dengan sigap Kevin langsung berdiri dan memegang kedua pundak Mia. Lalu merebahkan kembali tubuh sang istri. "Bee...tenanglah sebentar lagi dokter datang" ucap Kevin sembari hendak memegang tangan nya.
Namun langsung di tepis oleh Mia, "Aku gak kenapa-kenapa.....aku mau pulang aja" Mia mencoba bangun kembali.
"Bee....bisa tidak kamu jangan keras kepala dan dengerin apa kataku" ucap Kevin dengan nada tinggi. Dia menjadi kesal dengan sikap Mia saat ini.
Mia hanya diam dan menatap tajam Kevin, yang telah membentak nya tadi. Dia pun memalingkan wajah nya ke arah lain. Seketika itu juga Kevin tersadar dan merasa bersalah telah membentak sang istri.
Kevin pun meraih tangan Mia dan menggenggam nya erat. "Maaf aku tak bermaksud membentak mu....hanya saja aku mohon sayangi tubuhmu bee, sebentar lagi dokter datang dan memeriksamu....jika sudah selesai aku janji akan membawa mu pulang" ucap Kevin dengan nada lembut.
Dia pun hendak mengelus kepala Mia, tapi lagi-lagi di tepis oleh nya. Membuat hati Kevin sangat sakit dan sedih mendapat perlakuan tersebut dari Mia.
Tetapi Kevin sangat mengerti perasaan Mia saat ini. Tidak mudah untuk nya melupakan begitu saja peristiwa menyakitkan yang baru terjadi beberapa jam lalu.
Perasaan sakit yang dirasakan Kevin tidak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan oleh Mia. Pasti hati istrinya itu sangat-sangat lah sakit dan terluka. Membayangkan nya saja Kevin tidak sanggup apalagi menjadi Mia.
Kevin kembali duduk di kursi nya sembari mengusap air mata dan hidungnya yang sangau akibat menangis. Sesaat kemudian datanglah dokter dan beberapa perawat wanita, mereka langsung memeriksa perut Mia yang terasa sakit tersebut.
Setelah selesai di periksa, nampak wajah sang dokter tersenyum memandangi kedua insan itu. Kevin dan Mia sama-sama heran dengan tatapan dokter itu.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter...." tanya Kevin dengan cemas.
"Tuan Kevin tenang saja, keduanya baik-baik saja dan dalam keadaan sehat....hanya saja Nyonya Mia harus istirahat total jangan melakukan hal-hal yqng berat" tutur sang dokter.
Mendengar penjelasan sang dokter, sontak keduanya semakin terheran-heran. "Tunggu dulu, maksud dokter Keduanya ?" tanya Kevin lagi menatap dokter itu dengan serius.
"Tentu saja Nyonya Mia dan bayi di kandungan nya, yang kira-kira baru seusia tiga minggu lebih. Saya harap Tuan Kevin bisa memberikan perhatian lebih untuk calon sang buah hati, karna akan sangat beresiko bagi bayi nya jika sang ibu terlalu banyak pikiran dan tertekan...." jelas dokter itu dengan penuh nasihat kepada Kevin dan Mia.
Sontak Kevin dan Mia dibuat tertegun oleh penjelasan sang dokter. Keduanya pun saling melempar pandang, tak percaya dengan ucapan dokter yang di dengar oleh telinga mereka.
.
.
TBC.
__ADS_1