Terjebak Takdir Cinta Kevin

Terjebak Takdir Cinta Kevin
Kain dan Ember Berisi Air Panas


__ADS_3

Aaron tersenyum miring. "Apakah kamu belum puas menggoda Kevin, hingga mengikutiku sampai sekarang? Aku tidak akan tergoda olehmu" menatap Anna dengan merendahkan, sambil mengelap wajah nya yang basah dengan tisu.


Brak....


Anna menggebrak meja lalu berdiri tepat dihadapan Aaron. "Ini semua ulahmu kan kak......kamu tega nyakitin hati kakak cantik, demi kepentingan mu sendiri".


"Apa maksudmu? yang sudah nyakitin Mia itu kamu dan Kevin......dan ingat jangan berbicara padaku seperti kamu sudah mengenalku dekat!!! Cihhh.......aku jijik melihat perempuan sepertimu".


"Apa kamu bilang? jijik? gak sadar yah, kalau tadi kamu sendiri bercumbu dengan wanita rendahan sepertiku.....heheh, kamu benar-benar tidak punya hati" Anna terkekeh lalu menarik nafas dalam-dalam, menahan tangan nya sendiri agar tidak melayang ke wajah Aaron.


Aaron ikut berdiri dihadapan Anna, dia pun mendorong tubuh mungil Anna. Hingga terhempas sangat keras ke sofa. "Awwh....." ringis Anna.


"Lihat saja nanti, aku akan membuat Kevin yang baji**an itu jauh dari Mia....dia tidak pantas mendampingi wanita berhati baik seperti Mia".


Anna memalingkan wajah nya saat Aaron berkata tepat di depan wajah nya. Kemudian dia mendorong kuat dada Aaron menjauh. "Gila kamu yah.....orang sepertimu lah yang tidak pantas mendampingi kakak cantik, bukan hanya luarmu busuk tapi hatimu juga, Cihhh......".


Anna meludah tepat di wajah Aaron, karna begitu geramnya dia melihat wajah tidak tahu malu Aaron.


"BERANI NYA KAMU......DASAR PELA**R" ucap Aaron setengah berteriak. Dia mengangkat kepalan tangan nya, ingin memukul Anna.


Anna yang melihat nya, sontak langsung menutup mata dan mengangkat tangan menutupi wajah nya. Tapi sebelum tangan Aaron menyentuh Anna. Lebih dulu sang sekertaris menarik Aaron. "Tuan....tenanglah jangan bertindak gegabah seperti ini" ucap sang sekertaris.


"Lepaskan tanganku....gadis ini harus diberi pelajaran".


"Tuan....anda sedang dalam pengaruh minuman, saya harap anda bisa tenang".


Aaron pun akhirnya tenang, dia langsung berlalu pergi meninggalkan Anna dan sekertarisnya. "Terserah.....cepat siapkan mobil aku muak melihat wajah nya".


"Nona Anna, sebaiknya anda bisa bersikap bermoral sedikit.....jika saya tidak melerai nya, kamu pasti sudah mati" ucap sekertaris Aaron pada Anna, sebelum akhirnya dia ikut pergi menyusul sang tuan.

__ADS_1


"Aku tidak takut padanya, awas saja lain kali jika aku bertemu dengan nya.....Awwh...." gerutu Anna sembari meringis merasa sakit bagian pinggangnya. Akibat benturan keras saat dia di dorong oleh Aaron.


 -- --


Keesokan harinya....


Arsen mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju tempat yang sudah dijanjikan. Dengan serius Arsen fokus menatap jalanan, tetapi sesekali dia melirik Kevin yang berada dikursi belakang melalui kaca sepion tengah.


Sekitar setengah jam akhirnya mereka pun sampai, di sebuah gudang lama yang berada di pinggiran kota. Tanpa menunggu lama Kevin berjalan masuk kedalam gedung tersebut dengan Arsen di belakangnya. Menemui kepala pemimpin tim khusus nya.


"Dimana dia?" tanya Kevin datar, meskipun begitu sejujurnya dia sangat tidak sabar ingin menemui orang tersebut.


"Dia ada di dalam.....tapi dari semalam dia belum juga mau membuka mulut mengenai orang yang membayarnya...." jawab nya dengan gugup, melihat tatapan tajam Kevin membuat nyali kepala pemimpin tim khusus itu menciut.


"Apa maksudmu? Pukuli dia sampai dia membuka mulut nya, kalau perlu tempelkan timah panas di punggung belakang nya...." ucap Kevin dengan tekanan, membuat semua orang yang berada disana merinding.


Kevin memang seperti itu jika dirinya sudah sangat marah. Bisa saja orang yang mencari gara-gara padanya, di kubur hidup-hidup oleh nya.


"Sudahlah....aku mau bertemu dengan nya".


"Lewat sini bos....".


Kepala pemimpin tim khusus itu membukakan pintu untuk Kevin. Kevin pun segera masuk kedalam ruangan dengan pencahayaan yang remang-remang itu. Dengan di ikuti oleh Arsen di belakang nya.


Kini Kevin tengah berdiri tepat di depan seorang pria yang kisaran umurnya seperti Arsen. Tangan dan kaki nya terikat oleh kursi yang di dudukinya. Nampak lelah dan tidak berdaya tapi pria itu masih sadar. Wajah nya yang babak belur serta bercak darah di bajunya, membuat nya terlihat semakin miris.


"Katakan siapa yang menyuruhmu...." tanya Kevin dengan nada suara yang masih rendah.


Pria itu malah tertawa sambil menengadahkan kepalanya, menatap Kevin seperti lelucon. "Kenapa kamu tertawa? Apakah wajahku seperti sedang bercanda...." ucap Kevin dengan tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Bughh.....


Kaki Arsen menendang perut pria itu, sampai kursi yang di dudukinya terjungkal kebelakang. Tetapi dengan sigap dua orang tim khusus membantu membetulkan posisi kursi tadi.


"Uuhukk...uhhukk...." pria itu batuk-batuk dan menumpahkan darahh segar dari mulutnya. "Bodohh....." ucap nya pelan masih dengan senyuman meremehkan. Membuat Arsen semakin geram, dia menjambak rambut pria itu hingga kepala nya temengadah ke atas.


"Berani-berani nya kamu tertawa seperti itu.....cepat ambilkan kain dan air panas mendidih" titah Arsen, sedangkan Kevin memilih duduk manis di kursi tepat di depan pria itu. Membiarkan Arsen mengambil alih sementara.


Salah satu anggota tim khusus itu pun dengan sigap membawakan kain dan seember air panas ke hadapan Arsen. Tawa menyeringai yang tadi nya nampak di wajah pria itu, kini berubah menjadi ketakutan.


"Apa yang ingin kau lakukan.....apa pun itu aku tidak akan membuka mulutku, kalian adalah orang-ora...mmmhhhh" ucapan nya terhenti saat Arsen menutupi wajah pria itu menggunakan kain.


"Kita lihat sampai mana kamu akan menutup rapat mulut busuk mu itu...." Arsen pun mengambil ember perisi air panas tersebut.


"mmmhhh....mmhhhh....le.mmh...pas....mmhh" lengguh pria itu dengan wajah yang masih tertutup kain. Apa yang ingin dilakukan Arsen? Kevin hanya diam dengan wajah datar menonton aksi yang akan di lakukan Arsen.


Lalu.....


"Aagggrrgghhhh......." jeritan pria itu begitu nyaring nya, saat Arsen menuangkan nya perlahan di kain yang menutupi wajah nya. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu, bergidik ngeri melihat nya. Tapi tidak dengan Kevin, raut wajah nya masih sama. Dia tidak bergeming sama sekali.


Lagi.....


Arsen kembali menuangkan air panas, membuat pria itu semakin mengerang dan bergelinjang hendak melepaskan diri. Namun sia-sia karna ikatan tangan dan kakinya sangat kuat terikat.


"Hahaha......." Arsen tertawa menyeringai, melihat kepedihan yang dirasakan pria itu. Setelah sudah merasa puas, dengan kasarnya Arsen melemparkan ember tersebut kesembarang arah. Lalu menarik paksa kain yang menempel lekat di wajah pria itu.


Sepertinya kulit wajah nya melepuh, hingga menempel dikain. "Agrrrgghh....." ringis pria itu, merasakan perih di sekujur wajah nya.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2