
*****
Siang ini Kevin dan Arsen berniat untuk makan siang dia restauran terdekat. Sekalian membicarakan masalah perpanjangan kontrak bersama Aaron.
Kini Kevin sedang duduk berhadapan dengan Aaron, mengobrol sembari menyantap makan siang. Sedangkan dimeja yang tidak terlalu jauh jaraknya, terlihat Arsen dan sekertaris Aaron juga menyantap makan siang mereka. Meskipun berada dimeja yang berbeda tetapi Arsen masih bisa mendengar jelas. Percakapan Kevin dan Aaron.
"Bagaimana Mr.Kevin, apa anda sudah memikirkan nya?" tanya Aaron, disela santapan nya.
"Hmm...Saya sudah memikirkan nya semalaman" jawab Kevin, sambil mengunyah.
"Baiklah, setelah selesai makan kita langsung saja membicarakan nya" ucap Aaron tersenyum miring. Sedangkan Kevin hanya melirik lalu kembali dengan makanan nya.
Setelah makan siang mereka habis, pelayan restauran dengan sigap langsung membersihkan sisa makanan nya. Perintah dari Aaron, karna ingin membicarakan masalah kontrak itu dengan Kevin.
"Saya akan menerima persyaratan tersebut, akan tetapi....." ucap Kevin dengan wajah serius.
Aaron tersenyum miring, sangat jelas tergambar diwajah nya. Jika saat ini dia merasa sudah memenangkan permainan. Tetapi seketika raut wajah nya berubah, saat Kevin melempar senyuman licik nya.
"Ada apa Mr.Kevin....." Aaron memicingkan matanya menatap Kevin.
"Persyaratan yang sama untuk perusahaan anda...." dengan santainya Kevin berkata, sembari menyeruput secangkir teh didepan nya.
Sedangkan Aaron menatap tajam Kevin dengan mata melotot. Entah apa yang saat ini dia fikirkan? Senyuman kemenangan yang ia tampak kan tadi. Seketika lenyap.....
"Apa maksud anda Mr.Kevin......" ucap Aaron dengan nada tinggi. Sesekali ia mengusap wajah nya dengan kasar.
"Yah jika anda tidak setuju, saya tidak punya jalan lain untuk melepaskan kontrak ini?! Meskipun anda merupakan investor terbesar, saya masih bisa mendapat kan yang lebih dari perusahaan anda...." tutur Kevin dengan percaya diri.
Itu baru yang nama nya Kevin, yang tidak akan mengaku kalah pada lawan yang licik. Bagaikan Seekor Kadal yang ingin di Kadalin. Aaron salah besar jika berpikir Kevin tidak memiliki rencana untuk melawan nya.
"Terlebih saya gak yakin, ada perusahaan lain yang bersedia menerima investasi dari perusahaan anda?! Jika anda tidak setuju, jangan menyesal saya tidak akan menerima investasi selanjut nya......" ucap Kevin kembali.
Lagi-lagi perkataan Kevin berhasil membuat rasa percaya diri Aaron menciut. Dia membenarkan perkataan Kevin, tidak ada perusahaan yang lebih baik dari perusahaan Kevin saat ini. Tidak mungkin dia melepaskan nya begitu saja demi kepentingan pribadi.
"Saya permisi sebentar....." Aaron pun beranjak dari kursinya. Lalu melangkah menjauh dari tempat duduk nya kini.
Aaron menghampiri sekertarisnya, kemudian sang sekertaris dengan sigap memberikan ponsel pada Aaron. Dia pun menghubungi seseorang saat itu juga....
Nampak kekesalan diwajah Aaron saat melakukan panggilan tersebut, yang tidak diketahui siapa itu. Sekitar lima menit dia berbicara dengan seseorang dipanggilan nya.
Setelah selesai Aaron langsung menghampiri Kevin dan duduk kembali dikursinya. "Baiklah, aku menyetujui syarat itu tetapi hanya yang ketiga saja...." ucap Aaron.
Kevin tersenyum miring "Tidak masalah Mr.Aaron, jadi kita sepakat yah Deal.....Arsen cepat bawakan dokumen kontrak nya" ucap Kevin sembari memerintah Arsen.
Keduanya pun bergantian menandatangani surat kontrak tersebut. Kemudian saling berjabat tangan, layaknya rekan bisnis. Aaron tersenyum getir, masih merasa bimbang dengan keputusan nya ini. Sedangkan senyum kepuasan terukir jelas dari sudut bibir Kevin.
"Akhirnya kita impas...." gumam Kevin.
Acara makan siang yang penuh ketegangan itu pun selesai. Aaron dan sekertarisnya kembali ke kantor mereka. Begitu pun Kevin dan Arsen, mereka kembali ke kantor karna banyak yang harus dipersiapkan.
Kevin memerintahkan Arsen untuk menyiapkan ruangan baru untuk Aaron dikantor nya. Pastinya akan sangat merepotkan, fikir Arsen. Menciptakan ketegangan didalam kantor mereka.
__ADS_1
Diperjalanan menuju kantor, Kevin tak berhenti terus tersenyum puas. Sembari memandan keluar jendela. Arsen yang melihatnya pun ikut tersenyum sesekali. Dia sangat tahu jika saat ini. Bos nya itu merasa sangat senang telah berhasil membuat lawan nya kalah telak. Lebih tepatnya sih impas....
Kevin merogoh ponsel disakunya, hendak menghubungi Mia. Saking senangnya dia hampir saja lupa untuk memberitahu sang istri. Jika dia akan mengadakan jamuan makan malam untuk para investor-investor besar nya. Termasuk Aaron dan Mr.Richard tentunya.
Tut....Panggilan tersambung....
" Hallo bee.....sedang apa?"
"...."
"Ooh....Aku mengundang para investor untuk makan malam dirumah kita, kamu bisa mengaturnya kan bee"
"...."
"Iya malam ini...."
"...."
"Makasih yah....kamu memang istri terbaik bee"
"...."
"Love you too bee....bye"
Panggilan pun terputus....
*****
Kini Kevin telah bersiap untuk pulang, dia berdiri dilobby gedung kantornya itu. Menunggu kedatangan Arsen dengan mobil.
Tidak lama berselang Arsen pun datang, Kevin langsung masuk kedalam mobil. Arsen pun langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah sang bos.
"Nanti malam jangan lupa untuk datang juga...." ucap Kevin sembari memainkan ponselnya.
Arsen melirik Kevin dikaca sepion tengah. "Ba-baik Bos...." sahutnya gugup. Karna merasa setengah hati meng-iyakan undangan bos nya itu.
Tidak bisa kah dia dibuat tenang semalam saja, tanpa harus ada yang dikerjakan nya. Meskipun sebenarnya hanya makan malam bukan nya bekerja. Arsen sangat malas untuk menghadiri makan malam dengan para-para orang besar.
.
.
.
Sampailah mereka didepan rumah Kevin, sebelum Kevin turun dari mobil. Dia kembali mengingatkan Arsen untuk hadir diacara makan malam nanti. Dengan sedikit ancaman Arsen benar-benar tidak bisa berkutik. Mau tidak mau dia harus menghadiri nya.
Menunggu Kevin sampai masuk kedalam rumah nya, barulah Arsen pergi dari sana. Melajukan mobil menuju arah pulang....
Diperjalanan pulang tiba-tiba saja Arsen kepikiran oleh Anna. Dimana Anna saat ini? Apa dia sudah makan? Atau apa yang Anna lakukan saat ini dia sangat penasaran.
Sudah beberapa hari sejak terakhir kali dia dan Anna melakukan hal itu. Arsen sama sekali tidak pernah bertemu dengan Anna lagi. Sepertinya Anna sengaja menghindari Arsen. Entah apa alasan nya....
__ADS_1
Arsen pun berniat untuk menghubungi ponsel Anna. Sekali, dua kali, hingga tiga kali. Anna tak kunjung menjawab nya. Membuat Arsen sedikit gusar, ingin sekali rasanya dia bertemu dengan Anna.
"Anna kamu dimana? Aku yakin pasti kamu sengaja menghindariku....sial" Arsen menggerutu sembari memukul setir kemudinya.
Drrrrtt...drrtt....drrtt
Tiba-tiba saja ponsel Arsen bergetar, ternyata panggilan masuk dari Anna. Seketika itu juga mata Arsen berbinar, betapa senangnya dirinya.
Arsen pun langsung menepikan mobilnya dan mengankat panggilan tersebut.
"Hallo An, "
"...."
"Iya gak apa-apa, kamu dimana?"
"...."
"Baiklah, kalau begitu lanjut kerjanya!?"
"...."
"Tunggu dulu!!"
"...."
"Apa kamu pulang kerumahku nanti malam?"
"...."
"Tidak, aku tidak akan melakukan hal itu lagi padamu...tenang saja"
"...."
"Ok, sampai bertemu nanti malam"
Panggilan terputus....
Arsen pun kembali melanjutkan perjalanan pulang nya. Sepanjang jalan dia jadi senyum-senyum sendiri. Setelah mendengar suara Anna kembali dalam beberapa hari. Membuat hati Arsen tenang.
Dan juga dari nada bicara Anna, tidak terdengar ada kecanggungan. Karna jika seperti itu tentu Arsen akan sangat merasa bersalah kepada Anna.
.
.
.
TBC
Author juga berharap kalian mau berkenan mampir dinovel Author yang berjudul "More Than Friend"🙏🙏
__ADS_1