Terjebak Takdir Cinta Kevin

Terjebak Takdir Cinta Kevin
Ambil saja nyawaku, Tuhan....


__ADS_3

Mata Kevin menyapu segala isi ruangan tempat kini dia berdiri. Dua orang yang suka menghabiskan waktu bersama di dalam satu rumah, apa lagi jika pria dan wanita. Apa mungkin mereka tidak melakukan apa-apa? Isi pikiran Kevin begitu kotor menilai kedua orang itu, yang tak lain adalah Anna dan Arsen.


"Cihh....Menjijikan...." umpat Kevin dengan suara pelan dan raut wajah menghina.


Anna mengerinyit kini dia berdiri tepat di belakang Kevin. Ucapan Kevin yang pelan itu berhasil di tangkap oleh indra pendengar nya. "Apa nya yang menjijikan? Apakah yang dia maksud itu aku?" gumam Anna menerka.


"Kenapa kamu tertawa seperti itu? Apa ada yang lucu dan pantas kamu tertawakan disini?" cetus Anna kesal dengan ekspresi wajah Kevin.


Kevin berbalik badan menatap Anna dari atas sampai bawah. Muak? Benar sekali dia sudah muak dengan gadis tidak punya malu dan harga diri yang ada di hadapan nya itu.


"Langsung saja katakan apa tujuan anda ingin menemui ku?" tanya Anna spontan tanpa ingin berlama-lama. Karna dia merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran Kevin di dekatnya.


Kevin malah tertawa, bisa-bisa nya gadis depan nya ini masih sempat-sempat nya meninggi hati. Jika bukan karna Mia yang memintanya untuk mencari gadis sialan ini. Kevin juga tidak sudi menemui nya.


Kevin meraih kerah kemeja dress yang Anna kenakan, menariknya kedekat nya dengan kasar. Anna sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Kevin. Gerakan nya sangat cepat hingga dia sendiri tidak bisa menghindar.


Kini wajah nya dan wajah Kevin sangat dekat. Dengan posisi Anna mendongak menampakan jelas lekukan leher nya yang jenjang.


Gadis itu merasa risih dengan tatapan Kevin yang menatap lekat matanya dengan tajam. Anna pun memalingkan wajah nya. Kevin tersenyum tipis dengan sinis.


"Katakan untuk apa kamu ke dokter kandungan? Apa jangan-jangan kamu sedang hamil? Dan sengaja kamu datang di waktu yang tepat saat aku dan Mia juga berada disana....kamu sengaja kan, ingin membuat Mia terguncang dengan kehadiran mu......cepat katakan mau mu apa? kenapa kamu mengusik rumah tangga ku lagi....jawab jangan diam saja"


Kevin menyerang Anna dengan pertanyaan bertubi-tubi. Bahkan nada perkataan nya seperti sedang menyudutkan Anna.


Air matanya menetes seketika itu, dan tangan nya mengepal dengan sempurna. Meredam emosi dan rasa sakit hatinya. Memang nya ini kemauan nya? Dia tidak pernah meminta hal ini terjadi, jika dia tahu Mia dan Kevin juga berada di dokter kandungan itu. Anna pasti sudah menghindari nya, karna dia tidak berniat untuk menampakan diri apalagi sampai berniat membuat Mia terguncang.


Anna menarik nafas nya dalam-dalam sambil menggigit bibir bawah nya. "Itu bukan urusan mu aku pergi kesana untuk apa....yang jelas aku tidak berniat apalagi sengaja untuk bertemu kalian disana" jawab Anna tegas.


Gadis itu dengan kasar menepis tangan Kevin dari kerah nya. "Cihh....." delik Kevin.


"Kamu kira aku percaya? Mulut wanita seperti mu tidak bisa di percaya, bilang saja kalau kamu hamil dan ingin minta pertanggung jawaban dariku......" tembakan telak untuk Anna.


Hatinya berdenyut-denyut menahan amarah. "Aku tidak meminta mu untuk percaya, jika tidak ada lagi yang ingin kamu katakan silahkan pergi dari sini........aku tidak punya waktu untuk orang seperti mu." Anna masih bisa berkata sopan.

__ADS_1


Dia pun hendak melangkah pergi meninggalkan Kevin. Karna semakin dia berlama-lama bersama dengan pria kejam seperti Kevin. Takutnya akan berdampak buruk dengan janin nya. Apa lagi sedari tadi Kevin tidak pernah berkata lembut melainkan hanya bentakan kasar yang keluar dari mulut nya.


Kevin kembali menarik tangan Anna, menghempaskan nya ke atas sofa. Gadis itu menjerit kesakitan, lalu menatap tajam Kevin yang berdiri di hadapan nya. BENCI satu kata yang terbaca dari sorot mata Anna. Kini dirinya begitu membenci Kevin. Lelaki jahat yang sangat kejam. Kenapa dia harus terjebak dengan Kevin yang berhati keras seperti batu, terlebih sikap nya yang tidak pernah ada kebaikan sedikitpun dimata Anna.


"Jangan menampakan air mata buaya mu itu, kamu kira aku akan luluh.....jangan mimpi"


"Asal kamu tahu, aku tidak pernah sekalipun ingin membuatmu terkesan apalagi tertarik padaku.....Cihhh...aku saja tidak sudi" Anna meludah ke sembarang arah.


"Kalau begitu cepat jawab pertanyaan ku.....Apa kamu hamil?" tanya Kevin.


"Untuk apa kamu bertanya seperti itu....." jawab Anna memalingkan wajah nya dari tatapan tajam mata Kevin.


"Jawab saja, jika aku bertanya jangan balik bertanya....aku tidak suka" kini nada bicara Kevin sedikit pelan. Dia mencoba mengontrol emosi nya, lagi pula Anna adalah seorang wanita. Meskipun dia sangat kesal, entah kenapa masih ada perasaan bersalah sedikit di hatinya. Karna sudah membentak dan berlaku kasar terhadap gadis itu.


"Terus? Kenapa? Memang nya kamu siapa? Siapa kamu hingga aku harus mengikuti peraturan mu" ucap Anna dengan kasar nya.


Kevin mendengus kesal sambil meraba tengkuk lehernya, lalu menggeleng kepala kekiri dan kanan meregangkan otot leher yang menegang.


"CEPAT JAWAB GADIS SIALAN....." bentak Kevin menendang meja kaca yang ada dihadapan Anna hingga pecah.


Brakk.....


Pintu luar terbuka, Arsen masuk dengan tergesa-gesa. Mendengar sesuatu yang pecah dari dalam rumah. Arsen takut terjadi apa-apa terhadap Anna.


"Anna.....kamu gak apa-apa" Arsen berjongkok di depan Anna, memeriksa apa gadis nya itu terluka.


Anna diam tak menjawab, pandangan matanya menatap kosong serpihan kaca itu. Arsen berdiri dan menatap tajam Kevin.


"Bos sebaiknya anda pulang....tidak ada jawaban yang anda cari disini" ucap Arsen tegas.


Untuk pertama kalinya Arsen berbicara kepada Kevin seperti itu. Tapi Kevin tidak bergeming dia terus menatap ke arah Anna. Tidak menghiraukan ucapan Arsen.


"Minggir...." dengan kuatnya Kevin mendorong Arsen menyingkir dari hadapan nya. Dia berjalan mendekati Anna.

__ADS_1


Bersitumpu menjongkok dengan satu lutut dilantai, Kevin memegang kedua pundak Anna. "Katakan jika yang ada dipikirn ku salah, dan tidak benar."


Suara Kevin bergetar, matanya juga berkaca-kaca. Berharap jawaban yang tepat keluar dari mulut Anna. "Katakan cepat...." Kevin mengguncang-guncangkan tubuh Anna.


"Bos lepaskan Anna....kamu menyakitinya" Arsen mencoba melepaskan crngkraman tangan Kevin di pundak Anna.


"Jawab Anna.....JAWAB....." Kevin menepis tangan Arsen kemudian berteriak kencang di depan wajah Anna.


Gadis itu menoleh dan menatap Kevin dengan tatapan kosong. "Apa yang ingin kamu dengar? Tenang saja tuan, bahkan jika anak ini adalah anak anda......saya tidak akan meminta pertanggung jawaban dari anda."


Duuuaaarrrr.......


Sambaran petir di langit gelap tepat di atas rumah Arsen. Seperti menyambar di hati Kevin. Seketika dia mengerti dengan ucapan Anna. Dunia nya seakan runtuh, apa yang harus dia lakukan.


Dua wanita yang kini sedang mengandung anak nya. Kenapa disaat rumah tangga nya mulai bersinar lagi, kegelapan kembali datang menghampiri. Tidak mungkin dia harus membuat sang istri di madu.


Di sisi lain jika benar yang di kandungan Anna, adalah anak nya. Kevin juga tudak bisa membuarkan nya begitu saja. Apalagi jika Mia sampai memilih untuk meninggalkan nya. Sungguh Kevin tidak akan sanggup menjalani sisa hidup nya ini.


"Kenapa tidak kamu ambil saja nyawaku tuhan, agar aku tidak lagi menyakiti hati istriku......ambil saja nyawaku sebagai ganti kebahagian untuk istriku" batin Kevin.


Dia beranjak dan langsung melangkah keluar dari dalam rumah Arsen. Hujan turun dengan sangat derasnya, terlebih petir-petir juga menyambar bersamaan dengan angin yang begitu kencang.


Diperjalanan pulang sambil menyetir di tengah hujan deras. Dia menangis meratapi nasib sang istri. Selama ini apakah dia sudah membahagian wanita yang dicintai nya itu? Kenapa dia memberikan luka yang sangat menyakitkan untuk istrinya? Tidak bisa kah tuhan memberikan cobaan yang lain, bahkan jika dia harus kehilangan nyawanya juga tidak apa-apa.


Asal tidak dengan menyakiti hati istrinya dengan sangat begitu dalam seperti ini. Melihatnya menangis dan terluka, juga membuat hati Kevin sakit.


Sesekali Kevin memukul setir kemudi dan mengusap wajah nya dengan kasar. Bahkan dia sembat menghantamkan kepala nya di setir kemudi yang keras itu beberapa kali hingga berdarah. Dia juga tidak terlalu fokus melihat jalanan yang dalam keadaan hujan deras.


"Brengsek kamu Kevin, kamu benar-benar pria brengsek....kamu tidak pantas hidup berdampingan dengan perempuan berhati malaikat seperti Mia.....kenapa tidak dari dulu saja kamu mati saat masih kecil.....agar tidak ada kejadian menyakitkan seperti ini untuk hidup Mia"


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2