
Semalaman Arsen menemani Anna di rumah nya, dia takut Anna melakukan hal bodoh lagi. Dia tertidur di sofa yang juga ada di rumah kecil itu.
Hingga pagi tiba, Arsen terbangun dia langsung beranjak dan menghampiri Anna. Arsen terkejut mendaoati Anna yang sudah terbangun sedari tadi. Anna kembali menangis dengan posisi tidur yang berpaling ke arah kanan. Menutupi wajah nya yang penuh air mata.
"An....." lirih Arsen memanggil Anna, dia pun duduk di pinggiran kasur tempat Anna terbaring.
"Bisa kah kamu meninggalkan ku sendiri? Apa kamu tidak pergi bekerja?" ucap Anna dengan suara pelan.
"Aku tidak akan kemana-mana, jika kamu tidak mau berjanji....untuk tidak melakukan hal yang membahayakan lagi" teguh Arsen sembari menyentuh pundak Anna.
Anna pun berbalik dan beranjak duduk. Gadis itu menatap Arsen dengan tatapan sendu. Kenapa lelaki ini begitu perduli terhadapnya.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu? Apa aku terlihat tampan saat baru bangun tidur?" Arsen mencoba menghibur Anna, dengan kesombongan nya.
"Cihhh....percaya diri sekali" Anna tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Nah....gitu dong senyum, itu baru Anna yang ku kenal" Arsen menyentuh bibir Anna menggambarkan senyuman lebar di bibir gadis itu.
Anna kembali diam dan menunduk murung. Arsen meraih tangan Anna, lalu menggenggam nya erat. Anna terkejut dan langsung menatap wajah Arsen.
"Aku mohon jangan beri tahu ini kepada kakak cantik atau pun dia....." Anna memohon.
Arsen mengangguk....
"Aku tidak akan meninggalkan mu An....aku akan selalu ada buat mu, jadi jangan pernah berpikir jika kamu hanya seorang diri.....melainkan ada aku di sebelahmu" ucap Arsen dengan sungguh-sungguh.
Anna semakin lekat menatap wajah Arsen. Andai saja dia sudah bertemu Arsen sebelum dia menjalani kehidupan susah ini. Mungkin saja Anna akan sangat bahagia bila jatuh cinta dan di cintai pria seperti Arsen.
__ADS_1
"Pergilah bekerja, aku tidak akan melakukan hal aneh.....jika kamu tudak bekerja, bos mu akan marah" ucap Anna.
Sedetik kemudian dia kembali terdiam, mengingat siapa bos Arsen. Anna kembali sedih dan teringat kebenaran pahit mengenainya.
"An..." Arsen meraih dagu Anna dan menengadahkan pandangan gadis itu.
"Aku tidak apa-apa kok, pergilah" Anna geleng-geleng sambil menyeka air mata nya. Dia tersenyum getir dengan paksaan.
"Baiklah....aku pergi dulu, jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku" ucap Arsen sembari beranjak.
Anna mengangguk. Arsen pun melangkah ke arah pintu sambil terus menolehi Anna. Dia membuka pintu dan langsung keluar meninggalkan Anna sendirian.
Sepeninggal Arsen Anna kembali menangis, meringkuk memeluk kedua lutut nya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak ingin kakak cantik mengetahui tentang kehamilan ku......dia pasti akan sangat kecewa".
Satu kata yang bisa Anna katakan kepada Mia, jika kebenaran ini sampai ke telinga nya. "MAAF...." hanya itulah yang bisa dia katakan.
"Maafkan aku....aku benar-benar minta maaf, bahkan jika kamu meminta ku menghilang sejauh mungkin....aku akan melakukan nya kak, walau pun nyawa ku sendiri yang akan menghilang aku bersedia"
Di ruangan UGD tempat Mia terbaring karna guncangan tadi menyebabkan nya pingsan. Mia mengerjapkan matanya beberapa kali sembari memegangi kepalanya yang pusing.
"Bee....bee...." lirih nya memanggil sang suami.
"Bee....syukurlah kamu sudah sadar, jangan membuatku cemas seperti ini.!! aku takut terjadi apa-apa padamu" ucap Kevin dengan suara bergetar.
Mia yang mendengar suara suaminya itu bergetar, langsung bangun dan duduk. Di pandanginya lekat-lekat, pria yang berada disamping nya itu. Raut wajah yang nampak cemas dan air mata yang menetes membasahi wajah tampan nya.
Mungkin kah sosok yang begitu mencintainya itu, tega menyakiti hatinya? Tapi bagaimana dengan kenyataan nya. Mia benar-benar bingung dan tak tahu harus berkata apa? menangis pun radanya sudah tak sanggup.
__ADS_1
"Aku mau pulang bee..." ucap nya menahan tangis dengan suara pelan.
"Apa kamu yakin tidak apa-apa bee? Jika ada yang sakit katakan saja...aku tidak mau kamu kesakitan saat di rumah" ucap Kevin menggenggam tangan Mia.
Mia diam tida k menjawab dan hanya menggeleng tersenyum paksa. "Yang sakit hatiku bee....bagaimana bisa aku melewati ini coba? Hanya ketulusan mu yang kini menjadi tempat ku menopang rasa sakit ini" batin Mia.
Mata nya berkaca-kaca menahan tumpahan air mata. Mia langsung memalingkan wajah nya ke arah lain. Tak ingin Kevin melihat kesedihan nya, terlebih di tempat umum seperti itu tidak mungkin dia meminta penjelasan sang suami. Bisa-bisa orang lain mengetahui persoalan rumah tangga nya, yang sangat di jaga ketat oleh Mia.
Kevin pun menuruti keinginan sang istri, membawa nya pulang dan beristirahat dirumah. Diperjalanan pulang Mia hanya diam menatap sendu ke arah luar jendela. Sedangkan Kevin merasa sangat bersalah, Mia pasti terguncang karna kemunculan sosok Anna.
Dia juga belum tau pasti apa yang membuat Anna datang ke dokter kandungan. Dia hanya berharap apa yang ada di pikiran nya adalah salah. Kasian sang istri, Kevin benar-benar tak habis pikir jika masalah kembali menghampiri bahtera rumah tangga mereka.
Mobil Kevin memasuki perkarangan rumah nya. Baru saja menarik rem tangan, Mia langsung membuka pintu mobil lalu keluar. Tanpa menunggu Kevin dia berjalan masuk dengan langkah cepat menuju kamar nya.
Kevin menghela nafas pelan, melihat sang istri seperti itu jujur membuat hati Kevin sakit. Tapi dia bisa apa? Ini semua berawal dari salah siapa? Tidak ada yang bisa di salah kan. Tidak mungkin juga kan dia menyalahkan Nathan yang memiliki persoalan dengan Frans.
Ini tidak ada hubungan nya dengan itu. Tetapi memang sudah takdir mempertemukan mereka semua jadi satu. Dari awal kisah mereka memang tidak bisa di tebak. Dari batal nya pernikahan Nathan dengan Sheila akibat kecelakaan. Serta pernikahan dadakan Nathan dengan Renesmee, yang mempertemukan diribya dengan Mia. Dan sekarang dia tidak menyangka jika Mia dan Aaron sudah saling mengenal. Apa lagi Aaron yang sangat mendambakan Mia sejak waktu kuliah sebelum bertemu Kevin. Jadi apa ada yang bisa di salahkan tentang kejadian yang menimpa rumah tangga nya ini? Tidak ada.
Kevin menyusul Mia ke dalam kamar. Dilihatnya sang istri sedang berbaring sambil menutupi wajah dengan selimut. Kevin pun menghampiri dan duduk di tepi tempat tidur.
"Bee....jangan seperti ini, jika kamu mau menangis....menangislah, menahan nya malah akan membuat mu sakit" ucap Kevin pelan.
Seketika itu juga Mia langsung menyibakan selimut nya lalu duduk tepat di hadapan Kevin. "Menurutmu apa yang dilakukan Anna di tempat dokter Lee?" tanya Mia tanoa pikir panjang.
Mata Kevin membulat, mencerna pertanyaan dari sang istri. "Aku tidak tahu bee....Jangan terlalu memikirkan itu, aku tidak mau terjadi sesuatu pada bayi kita jika kamu banyak pikiran".
Kevin mengusap lembut kepala Mia. "Bagaimana kamu bisa bersikap seperti ini bee? Apa kamu tidak penasaran dengan alasan Anna berada disana?" Mia menekan ucapan nya.
__ADS_1
Di tatap nya sang suami dengan tatapan yang tidak bisa di baca. Antara sedih, kecewa, dan juga marah. Tapi dia masih tetap mencoba tenang, mengendalikan diri.
TBC.