
"Jadi dimana istri saya dok? Apa saya bisa melihatnya sekarang?" tanya Kevin.
Anehnya, kenapa dokter-dokter itu malah menunjukan raut wajah sedih dan murung. Membuat perasaan Kevin semakin kalut dan tidak tenang. "Maafkan kami Tuan Kevin....." lirih salah satu dokter.
"Apa maksud anda? KENAPA ANDA MALAH MEMINTA MAAF....." tanya Kevin lagi dengan bentakan yang sangat keras. Membut semua pandangan mata tertuju padanya.
"Kak tenang lah...." Tara memegang kedua pundak Kevin dari belakang, mencoba membuat Kevin tenang.
"Lepaskan aku....." Kevin melepaskan tangan Tara dari pundaknya. "Aku bertanya dan kalian jawab yang jelas......jangan bertele-tele...." bentak Kevin lagi yng sudah sangat marah.
"Maafkan kami Tuan Kevin.....Nyonya Mia terlalu banyak mengeluarkan darah detak jantungnya juga sangat lemah, dengan berat hati saya mengatakan ....jika kami tidak bisa menyelamatkan nyawa istri anda....."
Cetarrr.....dumdrudumdrudum.....
Seketika petir menyambar dan suara guntur yang begitu menggema. Diluar sana hujan sangat deras turun.
__ADS_1
Deg....
Jantung Kevin seperti berhenti berdetak. Kekonyolan apa yang barusan dia dengar. Lelucon yang sama sekali tidak lucu. Apa ini mimpi?
Kevin terduduk lemas di lantai. Pandangan nya kosong lurus ke arah depan. Mendengar pernyataan dari dokter barusan. Seakan setengah nyawa nya mati. Kevin benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Kevin segera beranjak berdiri. "Gak....gak mungkin hahah....ini pasti salah, Mia gak mungkin ninggalin aku.....gak mungkin ini pasti mimpi kan....." Kevin geleng-geleng kepala terkekeh dengan mata yang berkaca.
"Kak...." lirih Tara. Sakit melihat keadaan sang kakak yang seperti itu.
Di atas brankar tersebut terbaring seseorang yang seluruh tubuhnya di tutupi oleh kain putih, dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Mata Kevin tertuju pada brankar itu, dengan langkah berat dan ragu dia mendekati brankar tersebut. Tanganya menjangkau ujung kain putih dengan perlahan dia menyingkap kain itu.
Seketika manik mata Kevin menajam. Air matanya yang tertahan kini mengucur deras. "Mi.....Mia apa benar ini kamu? Honey....bangun, jangan bercanda seperti ini....." ucap Kevin mengelus pipi Mia yang terasa kaku dan dingin.
__ADS_1
Wajahnya yang membiru dan bibir yang pucat, serta beberapa luka sayat akibat pecahan kaca. "Ini gak mungkin....jangan bercanda bee, cepat bangun...." Kevin berteriak mengguncang-guncang tubuh kaku itu. Tidak ada jawaban atau reaksi, membuat kepala Kevin hampir pecah.
"Ini hanya mimpi, ini bukan kenyataan, ini hanya mimpi, mimpi buruk BRENGSEK....." Kevin memukul-mukul kepala nya dengan keras berusaha bangun dari mimpi buruknya itu.
Semua orang yang melihat keharuan Kevin, hanya bisa diam. Tidak ada yang bisa berkata, hanya tinggal penyesalan saja. Sedih sangat sedih melihat seorang suami yang menangisi jasad sang istri.
"Hiks....hiks....Bee....bangun honey, aku janji jika kamu bangun aku akan memberikan seluruh perhatian ku padamu.....aku akan menebus segala kesalahan ku padamu Mi.....jadi kumohon bangun dan sadarlah.....maafkan aku yang selalu membuatmu terluka dan menangis.....bangun bee aku mohon.......jangan mempermainkan aku seperti ini....." Kevin terus meranyau, menangis memeluk jasad sang istri yang terbujur kaku.
"Aku gak sanggup hidup tanpa kamu Mi.....jangan tinggalkan aku....plisss....hukum aku apa saja yang terpenting jangan pisahkan aku dengan nya....ya tuhan aku mohon, kembalikan Mia.....jangan pisahkan aku....hiks hiks..."
"Aku janji akan menebus kesalahan ku, aku mohon jangan tinggalkan aku Mia.....bangun dan sadarlah, katakan padaku jika ini hanya mimpi.....aku benar-benar gak sanggup hidup tanpa kamu bee...."
Kevin terus menangis, meraung, memeluk tubuh sang istri. Tidak ingin membiarkan nya pergi. Sungguh sangat pedih dan sakit rasanya menerima kenyataan yang sangat pahit ini. Separuh dari nyawanya dan setengah dari tujuan nya hidup kini sudah musnah. Dapatkah Kevin melanjutkan hidup nya tanpa hadir nya sosok Mia. Wanita yang selalu berada di samping nya, saat susah mau pun senang
TBC.
__ADS_1