
Tiga hari yang lalu tepatnya di sore hari.....
Anna sengaja tidak pergi bekerja karna merasa tubuhnya sangat lemas. Bahkan sedari pagi dia terus mual dan memuntahkan setiap isi perut yang dia makan.
Anna bolak-balik kamar mandi di pagi harinya, dan alhasil sore harinya dia begitu lemas. Untuk berdiri saja dia tidak mampu, kepala nya begitu pusing.
"Ada apa denganku? Kenapa kepala ku begitu pusing? Bahkan semua yang ku makan, ku muntahkan kembali"
Anna merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis miliknya. Sesaat kemudian dia pun terlelap, saking lemas dan tidak berdaya nya. Hingga malam pun tiba.
Tok...tok....tok
Suara pintu rumah Anna, seperti nya ada seseorang yang mengetuknya dari luar sana. Anna pun terbangun, sambil memegangi kepala nya yang pusing. Anna beranjak dan berjalan sempoyongan ke arah pintu.
Cklek....
Pintu terbuka perlahan. Anna tersenyum simpul dengan wajah nya yang pucat dan sedikit berantakan. "Arsen...." ucapnya mendapati sosok Arsen.
Arsen mengerinyit. "Ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat sangat pucat dan juga bartender banyak mulut itu mengatakan jika kamu izin kerja....karna itu aku kesini" ucap Arsen menatap Anna penuh tanya.
Anna pun mempersilahkan Arsen untuk duduk di sofa kecil yang ada di rumahnya. "Tunggu disini, aku bikinkan kamu minum dulu.
Tetapi sebelum Anna melangkah, Arsen terlebih dulu menarik tangan nya. Arsen terkejut bukan main, saat merasakan tangan Anna yang panas sekali. Dia pun langsung menaruh punggung tngan nya di kening Anna.
Benar saja, panas dan berkeringat dingin. "Anna kamu sakit? Badan mu sangat panas.....ayo kita ke dokter" ucap Arsen dengan raut wajah yang sangat cemas.
"Aku tidak apa-apa kok, paling bentar udah sembuh tinggal minum obat demam aja kok...." Anna melepaskan genggaman tangan Arsen di lengan nya.
"Benarkah? Yasudah kalau begitu...ini teobokki kesukaan mu, tadi di jalan aku membelinya" Arsen memberikan bungkusan berisi totebag pada Anna.
Belum sempat Anna menerima nya, terlebih dulu dia langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Lagi-lagi dia memuntahkan segala isi perut nya. Arsen yang melihatnya menjadi panik dan ikut berlari mengikuti Anna ke kamar mandi.
Di usap-usapnya punggung belakang Anna, sambil memegangi rambut panjang Anna. Agar tidak terkena muntahan.
__ADS_1
"Sebaiknya kita ke rumah sakit An....." titah Arsen dengan raut wajah serius. Anna menggeleng menatap Arsen dengan mata sayu. "Jangan membantah.....ini demi kebaikan mu, aku tak mau terjadi apa-apa pada mu An....".
Arsen pun segera membawa Anna ke rumah sakit untuk di periksa. Awalnya menolak, tapi Arsen memaksa mau tidak mau Anna pun menurut.
Sesampainya di rumah sakit, dokter dan perawat di UGD memeriksa Anna. Lalu bertanya gejalan apa saja yang di rasakan Anna sejak pagi. Tanpa pikir panjang Anna menjawab, mengatakan semua yang dia rasakan sejak pagi.
"Jadi dia sakit apa dok?" Tanya Arsen yang penasaran dari tadi.
"Iya dok, saya sebenarnya sakit apa? hanya demam saja kan, nih orang memang gak percayaan" sanggah Anna sambil mendorong tubuh Arsen pelan.
"Sudah kamu diam aja....biarkan dokter menjelaskan" sahut Arsen menatap tajam Anna.
Anna memilih diam memutar bola matanya malas. Menurut Anna Arsen terlalu berlebihan.
"Selamat tuan....istri anda saat ini tengah hamil muda, usia kandungan nya sudah memasuki minggu ketiga" jelas sang dokter dengan tersenyum.
Sontak keduanya tersentak kaget, mendengar penjelasan yang keluar dari mulut sang dokter.
"APA? HAMIL?" ucap keduanya bersamaan.
"kalau begitu saya permisi...." pamit dokter itu.
Pandangan Anna kosong ke arah depan, dia nampak kebingungan. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Setelah menyelesaikan biaya administrasi, Arsen mengajak Anna pulang.
Disepanjang jalan, di dalam mobil....
Anna hanya diam termenung, tanpa berekspresi tatapan nya kosong ke depan. Tapi air matanya terus menetes, mempertanyakan kebenaran pahit ini dengan dirinya sendiri.
"Tidak mungkin.....tidak mungkin ini anak pria itu, bagaimana bisa......kakak cantik, apa yang akan aku katakan padanya" pikiran Anna kacau balau.
Sambil menyetir Arsen sesekali melirik Anna. Melihat Anna hanya diam tidak berekspresi, dengan air mata yang terus menetes. Membuat Arsen merasa khawatir.
"Ini gila.....Anna hamil? Gak mungkin.....tidak mungkin itu anak ku, kandungan nya baru masuk tiga minggu....apa itu anak bos Kevin? Sial..." Batin Arsen juga sama kacau nya.
__ADS_1
Shiittt......
Mobil Arsen berhenti di sebuh tempat pinggiran sungai.
"An....Anna.....Anna...." ucap Arsen dengan beberapa kali sembari menepuk pundak Anna.
Anna pun terkejut dan tersadar, dengan cepat dia menyapu air matanya. "Kamu baik-baik aja kan...." ucap Arsen menggenggam tangan kiri Anna.
"Aku baik-baik aja kok...." jawab Anna tersenyum paksa, sembari memalingkan wajah dan melepaskan genggaman tangan Arsen.
Arsen menatap sendu ke arah genggaman nya yang di lepaskan oleh Anna. "Jika kamu ingin menangis, menangis lah jangan di tahan....." Arsen mencoba membuat Anna nyaman.
Di balik wajah nya yang dipalingkan, Anna telah meneteskan air matanya. Meratapi nasib nya, apa yang akan dia lakukan kedepan nya. Andai saja waktu itu dia tidak salah paham terhadap Arsen dan tidak bertemu Aaron. Pasti kejadian ini tidak akan terjadi, sungguh bodoh dirinya saat itu.
"Bagaimana aku akan menjalani hidupku selanjutnya? Menghidupi diriku sendiri saja aku susah, apa lagi dengan bayi ini" lirih Anna dengan suara pelan dan bergetar.
"An....kamu yang sabar yah, ada aku disini....aku akan menjaga mu, aku gak akan ninggalin kamu" ucap Arsen meraih bahu Anna lalu membalikan badanya.
"Apa maksudmu? Apa aku seperti sedang mengemis? Aku tidak butuh bantuan siapa pun...." tiba-tiba Anna marah lalu menepis tangan Arsen lagi.
Membuat nya merasa sedih. "An....bukan itu maksudku.....".
"Lalu apa? Sudahlah aku tidak butuh bantuan kalian semua" Anna membuka sabuk pengaman nya, hendak membuka pintu mobil.
Arsen menarik tangan Anna. "Kamu mau kemana? malam-malam begini?" tanya Arsen dengan nada tinggi, dia kesal dengan tingkah Anna yang seperti itu.
"Lepaskan aku.....aku ingin sendiri, jangan menahan ku".
Anna kembali menepis tangan Arsen, lalu berlari menjauh. Arsen gelagapan, dengan cepat dia membuka sabuk pengaman lalu keluar dari mobil. Namun sayang nya Anna sudah tidak ada. Jejak nya menghilang Arsen tidak sempat mengejarnya.
"Aagghhh....sial.....Anna pliss jangan seperti ini" Arsen memaki sembari menendang spakbor depan mobilnya. Kemudian mengacak-acak rambutnya, frustasi harus mencari Anna kemana.
.
__ADS_1
.
TBC.