
Tak berselang lama suasana hening tidak terdengar sama sekali suara dari dalam kamar mandi. Kevin semakin gusar, apa yang terjadi di dalam sana.
Kevin membongkar beberapa laci yang ada di bufet sebelah pintu kamar mandi. Mencari-cari kunci cadangan untuk membuka pintu tersebut.
"Kemana kuncinya.....sial kenapa saat di cari malah tidak ada...."
Kevin membolak-balik isi dari laci itu tapi belum juga mendapatkan kunci cadangan nya. Namun tiba-tiba saja terdengar bunyi pintu terbuka.
Cklek.....
Kevin melihat Mia keluar dari dalam kamar mandi. Kepala nya menunduk, dia diam tak berkata. Tatapan nya kosong, Kevin langsung menghampirinya. Memeluknya dengan begitu erat. Bersyukur jika dia tidak melakukan hal yang bodoh.
Ada perasaan kecewa dalam hati Kevin karna Mia sama sekali tak membalas pelukan itu. Melainkan dia hanya diam tanpa ekspresi, tangan nya menggantung tidak ada tanda-tanda ingin membalas pelukan Kevin.
"Syukurlah bee...kamu gak kenapa-kenapa!! Jangan seperti ini honey, hujum saja diriku tapi jangan menghukum dirimu sendiri....aku gak akan sanggup melihatmu seperti itu."
Mia melepaskan pelukan Kevin dan berjalan ke arah tempat tidur. Tak ada satu kata yang keluar dari mulutnya. Bahkan menatap nya saja tidak, dia hanya menatap kosong ke arah depan.
Kevin sangat terkejut dengan sikap Mia yang seperti itu. Hatinya begitu sakit dengan sikap acuh Mia, seolah-olah tidak menghiraukan dirinya ada. Tapi Kevin sadar dia tidak pantas kecewa apalagi marah. Setidaknya dia tidak menyakiti dirinya sendiri, sudah membuat hati Kevin lega sedikit.
Kevin melihat Mia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kevin menghampirinya Mia langsung menarik selimut dan memalingkan tubuhnya ke arah berlawanan.
"Bee..." Kevin menyentuh pundak nya.
"Istirahatlah.....aku juga sudah lelah...." ucap nya yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Kevin.
Mia menepis tangan Kevin secara halus dari pundak nya. Sakit, memang sakit rasanya di perlakukan seperti itu. Tapi apa boleh buat dia juga punya hati. Saat ini yang paling merasakan sakit adalah dia, Kevin tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya cukup menunggu Mia bersedia berbicara padanya.
Dengan langkah berat Kevin masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Mia sendiri. Saat di dalam kamar mandi Kevin melihat barang-barang berserakan di lantai.
Sedih melihat Mia yang seperti itu. Perasaan kecewa nya yang membuat dirinya seperti orang lain. Jika waktu bisa di putar, Kevin akan memilih bantuan Nathan. Sungguh Kevun sangat menyesal telah menyetujui kerja sama dengan Aaron dan mempertemukan Mia dengan nya.
Ini semua adalah kesalahan nya, kebodohan nya, dan keras kepala nya. Padahal dari awal Nathan sudah mengingatkan nya, tapi dengan kesombongan diri yang tinggu Kevintidak menyikapi nya. Yah inilah yang terjadi, sekarang nasi sudah menjadi bubur.
__ADS_1
Kevin memunguti satu persatu barang itu, lalu menyusun nya kembali ke atas nakas. Setelah itu aKevin mulai membersihkan diri dan mengganti baju yang basah dengan piyama tidur.
Kemudian dia kembali ke dalam kamar, merangkak naik ke atas tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di sebelah wanita yang sangat dia cintai itu.
Kembali teringat saat-saat mereka bersama, mengobrol sebelum tidur, bercanda ria, bahkan berpelukan saat tidur. Tapi sekarang? Mia tidur dengan membelakangi dirinya. Hati Kevin sakit tapi rasa sakit itu tidak bisa menandingi rasa sakit yang Mia rasakan.
Kevin tidur dengan memiringkan tubuh menghadap Mia. Ingin rasanya dia melingkarkan tangan di pinggang Mia. Tapi dia mengurungkan niat itu, karna dia tahu jika sekarang ini Mia sedang merasa tidak nyaman.
Lama Kevin berdiam diri membiarkan air mata terus menetes. Sampai pada akhirnya rasa kantuk menyerang nya. Tanpa sadar dia terlelap dalam tidurnya. Berharap bangun dari mimpi buruk ini.
Sedangkan disisi lain, malam itu......
Arsen memeluk Anna dengan begitu erat. Ada perasaan iba yang dia rasakan melihat gadis di depan nya ini tersiksa dengan hidupnya.
Arsen ingin melindunginya dan selalu ada di sampingnya. Entah apa yang dia rasakan saat ini, yang jelas melihat Anna terluka membuat nya juga merasa sangat terluka.
Arsen mengusap kedua pipi Anna yang basah karna deraian air mata menggunakan kedua tangan nya. Arsen menatap lekat kedua manik mata indah milik gadis itu.
Anna nampak terkejut dengan ucapan Arsen, dia menatap Arsen dengan begitu lekat. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Arsen hanya bisa menunggu jawaban dari nya. Berharap jawaban itu yang akan menentukan jalan hidup Arsen saat ini.
Arsen bersedia melepaskan pekerjaan nya saat ini, hanya untuk membawa Anna pergi jauh dari kota ini. Menjauh dari hal-hal yang membuatnya terluka.
"Pliss An.....aku juga tidak sanggup harus melihatmu terluka terus seperti ini, kita akan memulai hal yang baru....kita bertiga."
Tangan kanan Arsen menyentuh perut Anna yang masih rata itu. Arsen berharap Anna bersedia pergi bersamanya. Apapun kendala yang berada di depan Arsen nanti nya, pasti bisa dia lewati jika bersama dengan Anna. Arsen yakin itu.....
Anna meneteskan kembali air mata lalu mengusapnya dengan cepat. Tak di sangka dia mengangguk menyetujui apa yang arsen usulkan tadi.
"Aku mohon bawalah aku sejauh mungkin dari sini Arsen.....hiks hiks" lirih nya yang langsung memeluk tubuh Arsen.
Tanpa sadar air mata Arsen ikut menetes, entah ini air mata bahagia atau sedih. Arsen tidak bisa menjelaskan nya. Yang jelas sekarang tujuan nya adalah untuk melindungi Anna.
"Aku berjanji An....untuk selalu ada di dekatmu dan menjagamu dengan segenap jiwa. Bahkan jika aku harus merelakan nyawaku untukmu aku bersedia Anna...."
__ADS_1
Arsen memeluk erat tubuh gadis itu, di kecupnya dengan lembut pucuk kepala Anna beberapa kali. Lama berdiam dengan posisi seperti itu. Arsen pun melepaskan pelukan nya, dia merasa Anna juga sudah sedikit tenang.
"Kalau begitu kita berangkat pagi-pagi, karna aku harus menukar mobil di kantor.....kita siapkan semuanya malam ini."
Anna mengangguk. Mereka pun mulai menyiapkan beberapa barang yang penting saja. Setelah selesai mengemasi barang-barangnya. Arsen dan Anna bergegas pergi ke rumah Anna untuk mengemas barang-barang penting nya juga.
Kali ini tekad Arsen sudah bulat. Arsen sudah memutuskan untuk tidak meninggalkan Anna apapun yang terjadi. Dia juga mempertaruhkan hidupku untuk Anna. Meskipun Arsen belum mengerti perasaan apa yang bergejolak di dalam dirinya itu, yang membuat nya bertindak seperti ini.
Bos Kevin.....aku selalu membanggakan dirimu, bahkan sampai sekarang kamu adalah panutanku....tapi kali ini maafkan aku, karna aku harus pergi...aku harap kamu bisa mendapatkan asisten yang lebih baik dari aku....mengenai Anna kamu tidak perlu cemas, karna aku yang akan menjaga nya dan aku tidak akan meninggalkan nya apapun yang terjadi....
Sekali lagi terima kasih untuk pelajaran yang aku dapat selama menjadi asisten pribadi mu.....
Pesan yang dikirim oleh Arsen ke ponsel Kevin malam itu. Untuk terakhir kali nya dia menghubungi Kevin.
--,--
Pesan itu masuk di ponsel Kevin saat dirinya sudah tertidur. Tapi dari kegelapan kamar ada tangan yang meraih ponsel itu dari atas nakas sebelah Kevin tidur.
Tangan itu adalah tangan Mia. Ternyata dia belum tidur, dibacanya isi pesan tersebut. Siapa yang malam-malam mengirim pesan ke ponsel suaminya. Saat di bacanya, seketika mata Mia membulat.
Air matanya menetes membasahi layar ponsel Kevin. Dia menutup mulut nya agar isakan nya tidak membangunkan Kevin. Membaca pesan itu membuat hati Mia sakit. Dia bisa merasakan bagaimana isi hati Anna saat ini. Dia tidaklah salah, mereka semua hanya korban. Korban dari permainan takdir yang begitu menyakitkan.
"Anna aku tahu saat ini kamu pasti sangat sedih, aku harap Arsen bisa membuat luka mu itu tertutup.....berbahagia lah nikmati hidupmu" gumam Mia di dalam hatinya.
Dia kembali menaruh ponsel Kevin ke tempatnya semula.
.
.
TBC.
Note : Episode selanjutnya sore yah🙏🙏
__ADS_1