
*****
Disisi lain, masih dirumah sakit tempat Anna di rawat sementara. Nampak Arsen sedang duduk di luar ruangan. Ruangan dimana Anna berada.
Dia duduk sambil menyandarkan kepala nya dikursi tunggu, sembari menutup mata dengan lengan kiri nya. Arsen juga menghela nafas nya beberapa kali. Dia bingung untuk bertemu Anna, apa yang harus dia lakukan? Marah? Emosi? Membentak Anna? Atau hanya diam?.
"Aaaggghh......kenapa aku tidak bisa berpikir jernih!? Bukan kah kamu yang menasehati Nyonya Bos untuk percaya pada Anna, tapi kenapa malah kamu yang menjadi bimbang seperti ini Arsen.....ingat kamu sudah mengenal Anna dengan sangat baik, dia memang nakal tapi tidak mungkin....." gerutu Arsen terhenti saat seorang perawat keluar dan memanggil nya.
"Maaf tuan, apa anda keluarga dari pasien bernama Brianna Kim?" tanya sang perawat.
Seketika Arsen langsung berdiri sambil mengangguk. "Benar, ada apa?" sahut Arsen dengan sigap saat mendengar nama Anna di sebut.
"Ini dia resep obat yang harus di tebus, dan jika sudah mohon agar pasien langsung meminum nya setelah makan...." ucap perawat itu menjelaskan.
Arsen manggut-manggut, dan langsung berlalu pergi saat itu juga. Setelah selesai menebus obat untuk Anna, Arsen pun kembali ke ruangan tersebut. Tapi tidak masuk melainkan hanya berdiri di depan pintu.
Mondar-mandir dia di depan pintu ruangan tempat Anna berada. Sambil membawa bungkusan obat dan totebag berisi bubur. "huhh......kenapa kamu seperti dasar bodoh....tetaplah bersikap seperti biasa" gumam nya sembari menghela nafas pelan.
Cklek....
Arsen membuka pintu dan masuk perlahan. Dia langsung menuju ranjang dimana Anna terbaring. Sedangkan Anna saat melihat kedatangan Arsen dia langsung bangun dan duduk. Meski wajah nya pucat, tapi dia masih terlihat cantik.
Anna tersenyum pada Arsen, tapi tidak dengan Arsen yang hanya memansang wajah datar. "Arsen...." lirih Anna.
Arsen pun menaruh bungkusan obat dan totebag berisi bubur tadi di nakas sebelah ranjang itu. "Makanlah itu, lalu minum obatmu.....sebentar lagi dokter akan memeriksa keadaanmu, jika sudah tidak apa-apa kita akan pulang ke Seoul hari ini juga...Nyonya Bos ingin bertemu denganmu" ucap Arsen dingin.
Anna menatap sendu Arsen yang bahkan tidak ingin menatap nya. "Maksudmu kakak cantik?" tanya Anna.
Arsen hanya mengangguk. Melihat sikap acuh Arsen membuat Anna semakin sedih. Dia benar-benar tidak mengira jika dirinya akan berada dalam masalah seperti ini. Terlebih dia menyesali telah menyakiti hati seorang wanita cantik yang sangat baik hati terhadapnya, yaitu Mia.
"Apa kamu juga tidak percaya padaku?" tanya Anna lirih.
Arsen menoleh pada Anna, dia merasa iba melihat keadaan Anna yang seperti itu. "Menurutmu bagaimana? Apa aku harus percaya padamu? Dengan semua yang sudah jelas terlihat?" sahut Arsen dengan sedikit ketus.
__ADS_1
Anna membuang muka ke arah lain, lalu menarik nafas dalam-dalam sambil memegangi dada nya yang sesak. Mendengar ucapan Arsen yang begitu menusuk ke dalam hati nya.
"Kalau begitu untuk apa kamu disini? Tinggalkan aku sendiri....." dengan nada tinggi Anna mengusir Arsen, tanpa sadar air matanya juga ikut menetes.
"Baiklah aku pergi, tapi jangan lupa makan buburmu dan minum obat" ucap Arsen yang hendak berdiri. Sejujurnya dia tidak sanggup melihat Anna menangis, tapi apa boleh buat ego Arsen lebih tinggi.
"Tidak....aku tidak mau makan itu dan minum obat?! Lagian aku bisa pulang sendiri ke Seoul tidak perlu bantuan mu...." Anna pun menarik jarum infus yang tertempel di tangan kirinya. Menyebabkan kulit punggung tangan nya robek dan mengeluarkan banyak darah. Anna beranjak dari atas ranjang dan berjalan melewati Arsen.
Sontak Arsen terkejut dengan apa yang di lakukan Anna, dia pun menahan Anna sebelum dia membuka pintu. "Kamu mau kemana?" tanya Arsen dengan mengerinyitkan dahi nya.
Anna menatap nya tajam. "Minggir, aku bilang minggir....." bentak Anna.
"An....jika kamu seperti ini, juga gak akan menyelesaikan masalah" ucap Arsen yang memegang kedua pundak Anna dengan erat, agar gadis itu tidak bisa kabur.
Arsen melirik tangan kiri Anna yang terus meneteskan darah ke lantai. "Tenanglah dan kembali ke ranjang" ucap nya sembari hendak menuntun Anna.
Tetapi Anna malah menepis tangan Arsen dengan kuat. "AKU BILANG MINGGIR.......MAU AKU MATI SEKALIPUN ITU BUKAN URUSAN MU....." bentak nya lagi.
Arsen pun mendekap Anna ke dalam pelukan nya. Anna menangis sambil memberontak. "An....Anna...hey Anna.....tenanglah....iya aku mempercayaimu.....aku percaya jika kamu tidak dengan sengaja melakukan nya, jadi diam lah dan turuti kataku!!" teriak Arsen memanggil nama Anna sembari mengelus-elus kepala Anna, mencoba menenangkan nya.
Anna menangis menjadi-jadi hingga dada nya terasa sesak. "Aku mempercayaimu Anna....jangan menangis seperti ini, kamu bukanlah Anna yang ku kenal...jika cengeng seperti ini, aku akan mencari tahu yang sebenar nya terjadi" ucap Arsen sembari merenggangkan pelukan nya dan menatap wajah Anna dengan lekat. Anna mengangguk sambil menangis.
Anna memandangi Arsen yang sibuk dengan tangan nya. Saat Arsen menolehinya Anna langsung memalingkan wajah nya. "Kamu makan dulu yah, aku suapin baru minum obat....biar kita bisa pulang ke Seoul" ucap Arsen sembari meraih totebag tadi.
Anna hanya mengangguk, dia benar-benar bersyukur memiliki teman yang baik seperti Arsen. "Makasih....sudah mau percaya padaku" lirih Anna.
Arsen pun tersenyum dan langsung menyuapi Anna sesendok bubur hingga habis. Entah kenapa Arsen merasa dirinya tidak bisa untuk tidak perduli terhadap Anna. Begitu pun hati nya yang ikut merasa sakit jika Anna bersedih.
Beberapa saat kemudian dokter pun datang dan kembali memeriksa keadaan Anna. Dokter menjelaskan jika tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Anna sudah boleh pulang saat itu juga....
Arsen pun membelikan Anna sepasang celana levis dan baju kaos untuk Anna kenakan. Lalu memesan taksi untuk pulang bersama ke Seoul.
Sepanjang perjalanan Anna tertidur karna efek obat yang diminum, membuatnya merasa ngantuk. Arsen menyandarkan kepala Anna di pundak kirinya, sembari menggenggam erat tangan Anna.
"Aku tidak akan meninggalkanmu disaat seperti ini An.....bersandarlah padaku jika kamu memerlukan tempat untuk bersandar" batin Arsen.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, mereka telah sampai di Seoul. Atas perintah dari Mia, Arsen membawa Anna langsung menemuinya di kediaman Kevin.
Arsen pun membangunkan Anna dengan cara menepuk-nepuk pipi nya dengan pelan. Anna pun terbangun dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Merasa sangat asing dengan tempat itu.
Arsen pun menggandeng Anna keluar dari taksi, sebelumnya dia juga sudah membayar ongkos taksi tersebut. Saat hendak melangkah Anna berhenti, dia pun menatap Arsen dengan kebingungan.
"Kamu membawaku kemana?" tanya nya heran.
Arsen tersenyum dan menggandeng kembali tangan Anna. "Ini rumah Bos Kevin....bukan kah saat di rumah sakit aku sudah mengatakan nya, jika Nyonya Bos ingin menemuimu" ucap Arsen menjelaskan.
Anna terkejut, dia kembali menghentikan langkah nya. Tiba-tiba jantungnya berdebar dengan kencang. Anna pun memegangi dada nya itu. "Aku gak mau....." tolak Anna.
Arsen mengerinyit, dia terkejut dengan sikap Anna yang tiba-tiba berubah. "Ada apa An..." tanya Arsen heran.
"Bukan kah kamu mau menjelaskan kepada Nyonya Bos jika kamu tidak bersalah" ucap Arsen kembali mencoba meyakinkan Anna.
Tapi Anna masih tetap bersikeras tidak mau masuk. "Aku gak mau masuk ke dalam sana....aku mau pulang aja" ucap Anna sembari mundur selangkah.
Arsen kembali menangkap tangan Anna, "Iya tapi kenapa?" tanya nya semakin penasaran.
Anna menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku gak mau bertemu dengan nya.....aku takut dia akan berniat membunuhku lagi" lirihnya.
Arsen pun tersadar dan kembali mengingat saat Kevin mencengkram leher Anna, waktu di Resort. Dia mengerti bagaimana perasaan Anna, dia pasti trauma.
Arsen menggenggam erat tangan Anna dan menatap nya dengan lekat. "Ada aku disini....kamu gak perlu takut, aku yakin bos Kevin tidak sengaja melakukan itu karna dia terbawa emosi....percaya padaku" ucap arsen sembari mengangguk.
Anna menatap lekat mata Arsen, dia pun mengangguk setuju. Arsen pun mengajak Anna masuk. Mata gadis itu menyapu sekeliling nya, rumah yang besar dan mewah fikir nya.
Langkah Anna terhenti saat melihat Kevin yang berjalan menuruni anak tangga. Jantungnya berdebar dengan kencang dia begitu ketakutan, bagaimana tidak jika Kevin menatap nya dengan sangat tajam.
"Untuk apa lagi Arsen membawa gadis pel**r itu kesini....." gumam Kevin.
.
.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa like, koment, dan Vote nya readers🙏🙏