
Keesokan paginya.....
Hari yang sangat berat untuk Kevin. Hari dimana dia harus kuat dan merelakan kepergian Mia. Hati dan perasaan nya begitu sakit. Tak sanggup rasanya dia untuk mengantarkan sang istri ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Di dalam kamar nya.
Kevin berdiri memandangi dirinya sendiri dari pantulan cermin. Berpakaian sangat rapi dengan setelan tuxedo berwarna hitam.
Setelah selesai bersiap. Kevin berbalik badan mengedarkan pandangan nya menyapu setiap sudut kamar nya. Di bagian sisi diding sebelah kiri adalah tempat dimana terpampang foto-foto dirinya dan Mia di setiap moment bahagia. Kevin berjalan mendekati salh satu bingkai foto yang ukuran nya sangat besar. Bingkai foto pernikahan nya.
Di pandangi nya lekat-lekat wajah sang istri. Air matanya kembali menetes. Tak kuasa dia menahan tangis nya yang mulai pecah kembali. Sesak di dalam dada nya seakan ingin membunuh nya.
__ADS_1
"Bee....ini seperti mimpi, dalam sekejap aku sudah kehilangan cahaya kehidupan ku...hiks hiks....."
"Kenapa kamu tega ninggalin aku bee? Kenapa harus seperti ini? Bukan kah aku sudah pernah mengatakan nya...hukum aku seberat apapun asalkan jangan kamu jangan pernah meninggalkan aku bee....."
Kevin terduduk lemas sambil menekuk lutut dan memeluk nya. Dia terus menangis sesegukan hingga nafas nya mulai tersengal karna sesak.
Brak....
Pintu kamar nya terbuka lebar. Masuklah seorang wanita cantik yng tergesa-gesa. Wajah cantik nya kini beruraian air mata dengan raut yang sangat marah. Wanita itu tak lain adalah Rens....
"Bisa-bisa nya kamu membiarkan nya celaka Kevin......" Rens menghampiri Kevin yang tengah terduduk sambil menangis itu. Nathan yang melihat Kevin pun langsung membantunya untuk berdiri.
__ADS_1
"Kenapa harus dia? Kenapa? Hiks hiks.....kamu jahat....jahat.....kamu itu gak pantas di sebut suami Kevin, selama hidup Mia kamu selalu nyakitin dia....apa kamu tidak kasihan padanya....." Rens memaki-maki Kevin tepat di depan wajah nya sambil memukul-mukul dadanya. Tetapi yang dimaki tidak memberikan respon apapun, sorot mata Kevin lurus kosong kedepan. Air mata nya saja yang terus menetes tanpa henti.
"Seharus nya waktu itu aku tidak membiarkan mu membawa Mia kembali......jika ini yang akan terjadi? Bahkan aku menyesal telah mempertemukan kalian dulu......hiks hiks....Mia maafkan aku, aku benar-benar tidak percaya jika kamu sudah tiada"
"Sayang tenang lah....tenanglah, jangan seperti ini" Nathan memegangi kedua tangan Rens, lalu menarik tubuh sang istri ke dalam dekapan nya.
Rens terus meraung menangis. "Kenapa? Kenapa harus Mia yang menderita seperti ini? Kenapa Nathan? Kenapa bukan dia saja.....cihhh laki-laki brengsek jahat kamu Kevin....." Rens menunjuk wajah Kevin. Perkataan nya sangat kasar tapi masih tidak ada respon dari Kevin.
"Rens.....RENESMEE....." bentak Nathan mengguncang-guncang tubuh sang istri mencoba menyadarkan nya. Rens diam dan menatap wajah Nathan dengan sendu, air matanya mengalir tanpa henti. "Tenang kan dirimu, seharus nya kita sama-sama mendoakan yang terbaik untuk Mia.....bukan malah seperti ini" lanjut Nathan menasihati Rens dengan sedikit lembut.
"Tapi Nathan.....aku masih belum bisa terima ini semua, aku tidak tega kenapa harus Mia yang menanggung berat nya hidup ini......kenapa tuhan memberikan nya hidup sesingkat ini.....bahkan dia tidak sempat untuk melihat buh hati yang selama ini dia tunggu-tunggu.....tuhan sungguh tidak adil terhadapnya....hiks hiks" Rens menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Nathan. Menangis di dalam dekapan sang suami.
__ADS_1
"Inilah kenyataan nya.....walau pahit kita harus tetap menerima nya, mungkin saja ini adalah jalan terbaik yang diberikan tuhan untuk hidup Mia......."
TBC.