
Siang itu setelah polisi datang menangkap kedua pria tersebut. Rapat pun di bubarkan. Kevin beserta keluarga memilih untuk balik membicarakan hal tersebut dirumah. Lebih nyaman tentunya....
"Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Ceritakan semuanya pada kami..." ucap papah serius.
Kevin pun mulai menceritakan semua nya. Papah dan mamah nampak terkejut dan sesekali mengangguk. Mendengar penjelasan Kevin....
"Jadi dimana gadis yang bersama mu waktu itu sayang?" tanya mamah.
Kevin dan Mia saling menatap. "Namanya Anna mah.....Kevin dan dia sama sekali tidak mengingat kejadian nya dengan jelas. Mereka tersadar saat sudah berada di satu ranjang bersama" jelas Mia membela sang suami.
"Benarkah? kasihan sekali dirinya?".
"Benar sekali mah....Mia juga merasakan hal yang sama, Anna sudah Mia anggap seperti adik sendiri".
"Kamu yang sabar yah sayang....mamah yakin kalian berdua bisa melewati semua masalah....Cups...".
Sang mamah pun merangkul Mia, lalu mengecup kening menantunya itu. Seolah bisa merasakan sakit hati yang di rasa oleh wanita cantik itu. Mia pun mengangguk dan tersenyum, kemudian dia memeluk sang mertua.
"Mia dan Kevin punya kabar bahagia untuk mamah dan papah...." ucap Mia dengan raut wajah bahagia. Begitu pun Kevin.
Papah dan mamah nampak heran dan kebingungan. "Ada apa sayang? Katakan cepat, jangan buat mamah penasaran nih" tanya mamah penasaran.
"Saat ini Mia sedang mengandung mah...pah" ucap keduanya bersamaan. Papah dan mamah nya terkejut bukan main, raut wajah bahagia tergambar jelas di wajah mereka.
Hal yang di tunggu-tunggu selama dua tahun ini, akhirnya anak sulung nya itu berhasil. Dia akan segera menjadi seorang ayah, tentu nya kebahagiaan keluarga mereka bertambah. Kevin dan Tara sebentar lagi akan memberikan mereka cucu.
Mamah pun memeluk Mia dengan sangat erat, air matanya juga sudah mengalir sedari tadi. Air mata bahagia seorang ibu. "Selamat yah sayang, semoga dengan kehamilan mu ini....kalian bisa melewati masa-masa sulit apa pun itu".
"Selamat juga untuk mu Vin, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah!!! Ingat jangan sampai terlibat suatu masalah lagi yang menyakiti hati istrimu" ucap papah dengan raut wajah serius, sembari menepuk pundak Kevin.
Kevin mengangguk sambil menatap sang istri. "Kevin gak akan menyakitinya lagi pah....papah gak usah khawatir mengenai masalah itu, Kevin akan segera mengakhirinya" sahut Kevin berbalik menatap sang papah.
Papah pun beranjak dari duduk nya sambil merapikan jas nya. "Baiklah...kalau begitu papah dan mamah mau pamit" ucap papah.
__ADS_1
"Kenapa secepat itu mah pah?" tanya Kevin heran.
"Sayang, kamu lupa yah jika Sheila akan segera melahirkan....mamah dan papah mqu mengunjungi mereka berdua sebelum balik ke Beijing" jelas mamah menggenggam erat tangan Kevin.
"Kalau begitu biar Kevin antar ke rumah Tara...".
"Tidak....papah gak mau, kamu harus tetap disini temani Mia".
"Mamah pergi dulu yah sayang, jaga menantu dan cucu mamah yang tersayang ini yah...".
Cups...cups....
Sebelum berlalu pergi mamah mengecup kening Kevin dan Mia secara bergantian, sebagai tanda kasih sayang darinya.
-- --
Sore hari nya....
Kevin beserta Arsen pergi ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan terkait masalah itu. Setelah selesai, Kevin menyempatkan diri untuk menemui pria pertama yang mengaku sebagai penembak.
Dua orang petugas polisi membawa pria itu ke dalam ruangan lain karna akan di interogasi lebih lanjut. Dia tersenyum miring kepada Kevin, seolah-olah sedang mengejek nya.
Kevin hanya diam dan menghela nafas pelan. Tidak ada gunanya dia marah apalagi sampai memukul pria itu. Toh itu tidak akan merubah kesaksian nya, tetap saja di mata hukum pria tersebut pelakunya. Karna dia yang telah mengakui semua kesalahan atas namanya.
Meskioun kalau di pikir-pikir sangat tidak masuk akal, untuk apa dia melakukan itu semua? Apa masalah nya dia dengan Kevin? Alasan dia berbuat itu sungguh tidak jelas, bahkan Kevin sama sekali tidk mengenal nya.
"Silahkan bos....apa anda mau saya temani" ucap Arsen sembari membukakan pintu Kevin.
Kevin hanya menggeleng dia pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut, dimana tempat pria penembak berada.
Di dalam ruangan nampak pria itu sedang menundukan kepalanya. Sesekali dia menjambak rambut nya dengan keras. Dia telah mengambil jalan yang salah.
Kevin duduk tepat di hadapan pria itu. "Kenapa kamu berbohong?" ucap Kevin dengan dingin tanpa ekspresi.
__ADS_1
Pria itu pun menengadah, wajah nya nampak gusar dan ketakutan. "Kamu.....jika bukan karna kamu ini tidak akan terjadi...." dia berteriak keras sambil menggebrak meja di hadapan Kevin.
Kevin mengerinyit tatapan nya menajam, tapi dia hanya diam. "Salah aku sudah berpihak padamu......sekarang aku bahkan tidak bisa menyelamatkan anak dan istriku.....Brengsek...brengsek...brengsek" pria itu kembali berteriak nyaring dan menggebrak-gebrak meja hingga tangan nya memar.
"Apa maksudmu? Kenapa kamu marah? Bukan kah kamu yang telah membohongi aku.....Kamu tau aku tidak akan pernah mengampuni orang yang telah berbohong apalagi mengkhianatiku" dengan tatapan tajam yang mengisyaratkan ancaman mengerikan Kevin berucap.
Pria itu malah tertawa, dia terus tertawa seperti orang gila. Apa ancaman dari Kevin di anggap nya sebagai lelucon. Kevin terlihat emosi, seperti sedang di permainkan oleh pria itu.
Kevin langsung mencengkram leher pria itu dengan sangat kuat, hingga tubuhnya tertarik ke depan. Deruan nafas dan detak jantung Kevin sudah tidak karuan. Kenapa beberapa hari ini selalu saja ada yang membuatnya geram dan marah.
"Bu...bu...bunuh....sa...saja....a..aa..aku...." ucap pria itu terbata saking kuat nya Kevin mencengkram leher nya. Dia juga tidak bisa melawan karna tangan nya yang diborgol.
Seketika itu juga Kevin langsung melepaskan cengkraman nya dan mendorong kembali tubuh pria itu hingga terduduk di kursinya lagi.
Kevin pun beranjak sambil merapikan jas dan rambutnya, tidak ada lagi yang mesti dia dengar dari mulut pria itu. Tapi saat dia hendak berlalu, pria itu kembali terkekeh.
"hahah.....kenapa tidak kamu bunuh saja aku, agar aku tidak melihat kematian istri dan anak-anak ku" lirih pria itu sambil menunduk, suara nya bergetar seperti nya dia menangis.
Saat itu juga Kevin menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah pria itu. "apa maksudmu?" tanya nya ketus.
"Aku tidak meminta mu untuk memaafkan ku atau membebaskan ku, tapi anak dan istriku tidak bersalah....mereka tidak ada hubungan nya dengan ini semua, ku mohon selamat kan mereka!!! Aku yakin Arbos akan menyakiti anak dan istriku, karna aku sudah mengkhianati nya.....pliss tolong......tolong selamatkan mereka" dengan berlinangan air mata pria itu bersujud di kaki Kevin.
Raut wajah marah Kevin seketika berubah, mendengar perkataan pria itu. Berhasil membuat sisi lain dari dirinya mencuat, Kevin bukan lah orang yang tega terhadap seseorang yang tidak bersalah. Dia masih punya hati nurani. Terlebih dia juga sudah berjanji sebelum nya, jika akan menanggung keselamatan pria itu beserta keluarga nya. Meskipun rencana mereka tidak berjalan lancar. Tidak boleh ada korban lagi, apalagi jika anak dan istri pria itu tidak bersalah.
Kevin menarik kaki nya, tanpa berkata dia berlalu pergi dari ruangan itu. Suara pria tadi terdengar hingga dia keluar. Pria itu terus meminta tolong pada Kevin sambil bersujud dan menangis.
Sesampai nya diluar.....
"Cepat cari tahu, identitas pria itu, dimana tempat tinggal istri dan anak nya...." perintah Kevin pada Arsen, dia pun langsung berlalu meninggalkan Arsen yang mematung. Dia bingung untuk apa sang bos meminta hal yang tidak penting itu.
__ADS_1
TBC.
Maaf yah baru up sekarang, Author lagi ada kerjaan mohon pengertian nya....🙏🙏🙏