
*****
Siang pun berganti dengan cepat menjadi sore....
Saat ini Kevin sedang tidak ada di rumah, ada sesuatu yang di urus nya. Sedangkan Mia kini dia berada di dapur, tapi bukan untuk masak melainkan hanya sekedar memberi arahan kepada para pelayan. Karna Kevin melarang nya untuk mengerjakan hal-hal yang bisa membuatnya kelelahan.
Setelah selesai, Mia berniat untuk mendatangi Anna yang sedang berada di salah satu kamar tamu rumahnya. "Tolong siapkan makanan dan bawakan ke kamar tamu kedua yah" perintah Mia kepada salah satu pelayan, sebelum dia berlalu pergi.
"Baik Nyonya...."
Mia pun berlalu pergi menuju kamar Anna. Dia berdiri lama di depan pintu kamar tersebut. "Mia kamu pasti bisa, di dunia ini memang sangat susah menjadi orang yang sabar dan pemaaf....tapi yakinlah dengan apa yang kamu pilih" ucap nya menyemangati diri sendiri.
Tok...tok...tok...cklek....
Mia mengetuk dan perlahan membuka pintu tersebut.
"Anna....bolehkah aku masuk?" ucap Mia lembut.
Mendengar suara Mia, Anna pun langsung beranjak duduk. Kondisi kamar yang gelap membuat Mia susah untuk melihat sosok Anna. "Kenapa begitu gelap?" tanya Mia yang berusaha mencari saklar lampu.
Klik......
Lampu pun menyala menerangi seisi ruangan. Nampak Anna yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil menunduk.
Mia menghampiri Anna dan duduk tepat di hadapan gadis itu. Anna masih menunduk, dia merasa tidak pantas menatap Mia.
"Anna....aku tahu jika saat ini kamu pasti sangat takut kepada Kevin" Mia menegakan wajah Anna.
Anna menggeleng, "Aku baik-baik saja...." lirihnya.
Mia tersenyum sembari menggenggam tangan Anna. "Kevin sebenarnya orang yang baik, hanya saja pertemuan pertama kalian yang seperti ini pasti membuatnya salah paham padamu" ucap nya santai.
Anna mengerinyit heran, apa tidak salah yang dia lihat. Kenapa wanita di depan nya itu memperlakukan dia dengan sangat baik, sedangkan dia sudah sangat menyakiti hati wanita itu. Bahkan seharusnya tiada maaf untuk nya......
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Mia sembari menyentuh pundak kiri Anna.
__ADS_1
Lamunan Anna buyar seketika. "Kenapa kamu memperlakukan ku dengan sangat baik kak, padahal aku sudah sangat menyakitimu" ucap Anna lirih dan menunduk sedih.
"Tidak Anna....aku sudah memutuskan untuk percaya kepada kalian berdua!? Aku yakin Kevin gak salah, begitu pun dengan mu" ucap Mia dengan sungguh-sungguh.
Anna menatap lekat wanita cantik di hadapan nya itu. Bukan hanya cantik wajah dan fisik nya, tetapi dia juga memiliki hati yang baik dan tulus. Sangat jahat dirinya yang telah menyakiti hati wanita baik seperti wanita itu.
Akhirnya Anna menumpahkan air matanya dengan sangat deras, dia merasa sangat tidak pantas untuk di maafkan. Hati nya semakin sakit jika Mia terus bersikap baik padanya, perasaan bersalah pun juga semakin besar menyelimuti hati Anna.
"Hiks...hiks....maafkan aku kak, aku benar-benar minta maaf" ucap Anna sembari terisak.
Mia mengusap air mata Anna, "Aku sudah memaafkan mu....aku harap kamu juga bisa memaafkan dirimu sendiri....kita buktikan kamu dan Kevin tidak bersalah" ucap Mia mengangguk pada Anna.
Mia pun memeluk Anna dengan erat, dan mengelus-elus punggung belakang gadis tersebut. "Tetaplah disini untuk beberapa hari, karna kita masih perlu menyelidiki obat jenis apa yang kalian berdua minum saat itu" ucap Mia.
Anna mengangguk setuju, perasaan nya sedikit tenang. Sedetik kemudian Tok...tok...tok.... Pintu kamar di ketuk oleh seseorang yang ternyata adalah pelayan. Dengan membawa nampan berisi makanan untuk Anna.
"Taruh saja disana...." perintah Mia sembari menunjuk ke arah nakas.
Setelah menaruh nampan tersebut di atas nakas, pelayan itu langsung pamit dan berlalu pergi. Anna menatap Mia dengan penuh tanya. "Kenapa? Ini makanan bukan racun, aku tau jika saat ini kamu masih takut untuk bertemu Kevin...jadi aku sengaja meminta pelayan untuk membawa makan malam mu ke kamar..." jelas Mia.
"Tapi kak aku...." sanggah Anna terhenti.
"Habiskan dan minum obatmu....jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, katakan saja pada para pelayan" ucap Mia lagi dan kembali di balas dengan anggukan oleh Anna. "Kalau begitu aku pergi dulu....".
Mia pun bergegas pergi meninggalkan Anna. Mia juga mendengar suara mobil Kevin memasuki pekarangan rumah. Karna itu dia bergegas pergi dari kamar Anna. Jika tidak akan ada perdebatan lagi tentunya antara dia dan Kevin.
Mia pun menghampiri Kevin yang berjalan masuk dari arah luar. Kevin langsung merangkul istri nya itu sembari berjalan ke arah ruang santai. Mereka duduk bersama di sofa yang berada di ruangan itu.
Keduanya membicarakan masalah malam peristiwa gila itu terjadi. Mengenai siapa pelayan itu dan obat bius yang diduga berada di dalam minum yang Kevin dan Anna minum. Tidak lama kemudian datanglah Arsen yang membawa kepala pelayan di pesta tersebut.
Kepala pelayan itu mengatakan jika seseorang yang berada di CCTV itu bukanlah karyawan mereka. Sontak Kevin dan yang lain terkejut. Berarti benar ini semua sudah di rencanakan. Meskipun Kevin sudah tau jika itu adalah perbuatan Aaron, tapi dia belum memiliki bukti-bukti yang kuat.
Untuk saat ini mereka fokus untuk melacak keberadaan pelayan palsu yang berada di rekaman CCTV tersebut. Tetapi sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu pikiran Kevin, yang membuatnya masih belum tenang. Bagaimana dia akan menghadapi masalah tersebut, jika Aaron akan mengekspos tentang kejadian di pesta itu. Apa jadinya perusahaan nya nanti....
*****
__ADS_1
Tepat pukul tengah malam, Kevin terbangun dari tidur nya karna merasa tenggorokan nya cekat. Perlahan Kevin turun dari tempat tidur, agar tidak membangunkan sang istri.
Kevin meraih gelas kosong yang berada di atas nakas, lalu membawa nya keluar menuju dapur. Setelah selesai mengambil air putih, dia pun bergegas kembali ke dalam kamar.
Tetapi di tengah jalan, langkah kevin terhenti di ruang santai. Dia mendengar isakan tangis seorang wanita dari arah balkon teras belakang. Tanpa pikir panjang Kevin pun mendekati sumber suara tersebut.
Mata Kevin membulat sempurna dengan dahi yang mengkerut. Dia melihat sosok Anna yang sedang duduk di atas bangku yang ada di balkon itu. Duduk meringkuk sambil memeluk kedua lututnya. Anna menangis sesegukan.
Tap...tap...tap
Suara langkah Kevin menghampiri Anna, membuat gadis itu mendongak ke atas. Dia terlihat begitu terkejut dengan kehadiran Kevin. Raut wajah sedih nya berubah menjadi ketakutan.
"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?" tanya Kevin ketus tanpa menatap Anna. Sebenarnya dia masih enggan untuk bertemu gadis itu, tapi apa boleh buat mereka malah bertemu malam ini.
Anna tersadar jika dia sedang menatap Kevin, dia pun langsung cepat-cepat menurunkan pandangan nya. "A...aku....aku....aku tidak bisa tidur" jawab nya gugup.
Kevin menyibakan rambut depan nya kebelakang, sembari menghela nafas pelan. "Jika kamu tidak bisa tidur yah terserah, tapi jangan mengajak orang lain" cetus Kevin, lagi-lagi perkataan nya terasa dingin.
Anna mengerinyit dan memberanikan diri mendongak menatap Kevin. Begitu pun Kevin dia juga menatap ke arah Anna. Tatapan tajam Kevin terasa seperti sedingin es. Wajah datar nya dengan sorot mata seperti itu berhasil membuat jantung Anna berdegup dengan kencang. Gadis itu merinding ketakutan.
"Mak...maksudmu apa?" tanya Anna terbata-bata.
"Tangisan mu...." sahut Kevin singkat. Tapi Anna masih tidak mengerti dia semakin menatap Kevin dengan heran.
"Ku bilang tangisan mu, apa kamu gak sadar jika tangisan mu bisa membuat orang lain tidak bisa tidur.....dan berhenti menatapku seperti itu jika masih ingin memiliki bola mata" cetus Kevin sangat kasar, bahkan dia sempat mengancam Anna.
"Hah? Ma...maaf" lirih Anna yang langsung menundukan kepala nya.
"Lagian untuk apa kamu menangis? Memang nya dengan tangisan mu itu bisa mengembalikan waktu? Jika bisa aku minta tidak pernah bertemu apalagi terlibat masalah dengan gadis seperti mu" dengan begitu kasar nya mulut Kevin menyindir Anna.
Wajah Anna memerah dan panas, dia langsung beranjak berdiri tepat di hadapan Kevin. "Maaf tuan Kevin yang terhormat.....Jika saya bisa memilih saya juga tidak ingin bertemu dengan orang seperti anda" sahut Anna dengan bentakan, dia sudah tersulut emosi. Bahkan Anna menunjuk dada Kevin dengan jari telunjuk nya, lalu berlalu pergi meninggalkan Kevin.
Kembali Kevin menghela nafas nya dengan pelan, mencoba untuk bersabar. Kevin pun langsung bergegas kembali ke kamar nya. Dia tidak mau jika Mia terbangun dan mendapati dirinya tidak ada, bisa-bisa timbul masalah baru. Fikir Kevin......
.
__ADS_1
.
TBC.