
Pagi hari nya....
Jungmo telah bersiap-siap hendak menjemput Viera di kediaman Kevin. Diperjalanan di dalam mobil yang hening. Jungmo nampak srdang memikirkan sesuatu yang penting.
Matanya menyipit dan hidung nya kembang kempis bernafas berat. "Semoga saja dugaan ku salah....."
Jungmo berharap apa yang dia pikirkan dan dia duga semuanya salah. Hari ini dia akan mencari tahu tentang kebenaran itu.
Jungmo menggelengkan kepala nya. Sambil menghela nafas nya kasar dan mengacak- acak rambutnya. "Tapi jika itu benar? Apa motif nya? Akkhh.....tau."
Sampailah di depan rumah Kevin. Ternyata Viera sudah menunggu diteras depan. Melihat mobil Jungmo datang Viera langsung masuk ke dalam mobil. Wajah gadis itu di tekuk cemberut dan sorot matanya sangat tajam. Seakan ingin membunuh seseorang yang sedang ditatap nya.
Brakk....
Pintu mobil ditutup dengan sangat kasar nya. Dengan gerakan cepat Viera menarik sabuk pengaman, lalu memasang nya.
"Ada apa denganmu Vie?" tanya Jungmo tersenyum polos tanpa sadar dosa apa yang telah dia perbuat.
"Jalan...." ucap Viera singkat dan padat. Pandangan nya lurus ke depan dengan tangan yang dilipat di depan dadanya.
__ADS_1
Jungmo pun menancap gas keluar dari perkarangan rumah Kevin. Melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju tempat tujuan.
Diperjalanan....
Jungmo melirik Viera yang masih diam belum bergerak dari posisi sebelum nya. Wajahnya juga masih ditekuk.
"Mau permen?" Jungmo merogoh saku kemeja nya. Lalu menyodorkan sebuah permen kepada Viera.
Viera pun menoleh tajam. Dadanya naik turun bernafas dengan rasa kesal yang mendalam didalam hati. "Kamu mau mati?" ucap nya didetik berikutnya.
Sontak Jungmo terkejut dengan perkataan Viera. Saking terkejutnya mobil sempat oleng sekejap. "A-apa kamu bilang?" tanya nya gugup. Dengan sesekali melirik Viera lalu kembali menatap jalanan.
Jungmo tertegun dengan kemarahan Viera. Barulah dia sadar apa alasan dari sikap Viera yang dingin sedari tadi. Ternyata dia marah karna Jungmo terlambat.
"Hmm...maafkan aku, sebe--"
"Tidak usah beralasan, aku juga tidak ingin mendengarnya...gak penting." potong Viera. Gadis itu kembali melipat tangan nya dan menatap lurus ke depan.
Jungmo pun diam, tidak berniat ingin berkata lagi. Lebih baik dia diam dari pada nanti makin panjang masalah nya. Mengalah adalah keputusan yang benar jika menghadapi kemarahan seorang wanita. Betul gak sih?
__ADS_1
Jungmo menghela nafas nya panjang. Memfokuskan diri untuk menyetir. Karna tempat tujuan yang mereka tuju masih sangat jauh.
Setengah jam berkendara. Jungmo menepikan mobilnya didepan sebuah pertokoan kecil yang ada di sebuah jalan sempit. Dia pun keluar dari mobil, lalu menyandarkan tubuhnya di pintu mobil. Dia sedang menunggu seseorang.
Sambil menunggu Jungmo merogoh saku mengeluarkan sekotak rokok. Membukanya lalu menarik satu batang rokok dan menyelipkan nya dibibirnya.
Ctekk.....
Suara korek api yang dinyalakan untuk membakar ujung batang rokok. Tak berlama-lama Jungmo langsung menyesap rokok nya dan menghembuskan asap nya ke arah bawah.
Viera sedikit tertegun dengan gaya Jungmo saat ini. Entah kenapa dia merasa Jungmo terlihat sangat keren. Gayanya berdiri dengan satu tangan di dalam saku dan tangan satu nya lagi memegang sebuah rokok.
"Viera sadarlah....apa yang sedang kamu lihat, ingat pria itu bodoh....tidak mungkin kamu menyukai pria model kaya dia, sepertinya gara-gara si Daniel brengsek itu....otak ku jadi sedikit kurang waras kurasa....." Viera mengibas-ngibas udara di depan nya. Mengusir isi kepalanya yang sempat memikirkan Jungmo sekilas.
"Ada apa Vie? Apa kamu memanggilku?" tanya Jungmo menundukan kepala nya mengintip ke dalam mobil.
"Hah? En--enggak kok, aku gak manggil kamu...." Viera menjadi gugup dan terbata-bata. Gadis itu langsung memalingkan wajah nya ke arah yang berlawanan. Pipi nya bersemu merah, dada nya juga berdebar-debar.
TBC.
__ADS_1
Note : Jangan lupa untuk like dan vote, biar aku tambah semangat untuk up nya. Happy Readings🌹🌹🌹