
Meskipun Bianca terlihat begitu kesal, tetapi ia tetap tidak bisa untuk mengakhiri hubungannya dengan Kenan. Jadi daripada ia semakin kesal, lebih baik saat ini ia pergi saja meninggalkan kekasihnya itu dan menuju ke lokasi pemotretan.
Akan tetapi di saat itu Bianca terlihat sama sekali tidak fokus hingga beberapa kali ditegur oleh managernya.
"Bianca, kamu itu kenapa sih? Bisa tidak kalau kamu itu lebih fokus lagi. Ini sudah 5 kali take loh, masa iya kamu salah terus," kata Beni yang merupakan manager Bianca itu.
"Sorry, sorry aku lagi kurang enak badan saja. Kita ulangi lagi ya," Ucap Bianca.
"Ya sudah cepat, kamu harus fokus menyelesaikan sesi pemotretan ini. Setelah itu kamu boleh pulang istirahat," kata Beni.
"Oke, kita ulang sekali lagi ya," kata Bianca, lalu ia pun mencoba untuk berusaha fokus agar pekerjaannya itu berjalan lancar.
Setelah selesai, ia pun berniat akan segera pergi meninggalkan lokasi pemotretan dan pulang ke apartemen.
****
Sebelum pulang, Bianca mampir terlebih dahulu ke sebuah supermarket untuk berbelanja, kebetulan isi kulkas di apartemennya telah kosong. Ia berkeliling untuk mencari beberapa cemilan kesukaannya dan di saat ia ingin mengambil salah satu snack, tiba-tiba saja ada seseorang yang memegang tangannya bermaksud ingin mengambil snack tersebut juga. Sehingga keduanya sama-sama terkejut dan saling bertatapan.
"Loh kamu?" Ucap keduanya secara bersamaan.
"Kamu kekasihnya Keenan Kakak Nadine itu kan? Maaf, maaf, aku tidak tahu kalau kamu mau snack ini," ucap Farel sembari mengalihkan tangannya itu dari atas tangan Bianca.
"Oh iya kamu yang waktu itu di cafe bersama Nadine ya? Kalau kamu mau snack ini nggak apa-apa, untuk kamu saja," kata Bianca.
"Ya nggak bisa begitu dong. Kan kamu duluan yang pegang snack-nya, lagipula ladies first," ucap Farel yang membuat Bianca tersenyum, seandainya itu Keenan yang mengatakannya, sudah pasti Bianca akan menjadi wanita paling bahagia di dunia.
__ADS_1
"Terimakasih ya," ucap Bianca.
"Iya sama-sama. Oh ya aku Farel," ucap Farel menjulurkan tangannya.
"Aku Bianca," ucap Bianca dan berjabat tangan dengan Farel. "Kalau gitu bagaimana sebagai gantinya aku traktir kamu ngopi sebentar, di dekat sini aja."
"Boleh," jawab Farel yang langsung saja menyetujuinya.
Setelah membayar barang belanjaan yang diambil, kini mereka pun duduk di coffee shop yang ada di samping supermarket tersebut.
"Kamu kok bisa belanja di sini?" Tanya Bianca.
"Kebetulan lewat dan aku mau pulang ke rumah orang tuaku. Jadi aku beli beberapa cemilan, karena adik aku suka ngemil," jawab Farel.
"Oh … jadi kamu punya adik ya," kata Bianca.
Entah kenapa Bianca merasa begitu tersentuh dan merasa akrab serta nyaman saat berbicara dengan Farel. Tetapi tujuannya mengajak Farel untuk duduk di coffee shop bukan karena itu, ia hanya ingin bercerita tentang masalahnya dengan Keenan, mungkin saja Farel bisa membantunya.
"Kamu kenapa? Seperti sedang ada masalah," tanya Farel yang melihat Bianca tiba-tiba tampak murung.
"Ya sebenarnya aku memang lagi ada masalah, aku nggak tahu apa pantas untuk cerita sama kamu. Tapi karena kamu dekat dengan Nadine, adik dari pacar aku, jadi mungkin nggak ada salahnya kali ya," kata Bianca.
"Ya sudah cerita aja kalau memang kamu lagi ingin bercerita masalah pacar kamu. Nggak baik juga masalah di pendam sendirian," ucap Farel.
"Aku hanya lagi kesal aja sih dengan Keenan. Karena Keenan itu terlihat cuek, acuh tak acuh terhadapku. Seperti tadi saat kita bertemu, padahal kita berdua jarang sekali untuk bertemu dan di saat bertemu Keenan malah terlihat tidak peduli denganku. Tapi coba aja kalau soal adiknya, Nadine, dia itu selalu menomorsatukannya. Aku tahu sih kalau Nadine itu adiknya, tapi apa hanya demi adiknya dia harus mengabaikan pacarnya sendiri. Aku merasa kalau sikap Keenan ke Nadine itu terlalu berlebihan, nggak seperti seorang kakak dengan adiknya," kata Bianca.
__ADS_1
"Oh ya? Jadi kamu beranggapan seperti itu?" Tanya Farel.
"Iya, dan apa kamu tahu, kita pernah lagi jalan berdua lalu tiba-tiba Nadine telepon dan mengatakan kalau mobilnya itu mogok. Keenan langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan dan memikirkan aku sedikitpun," kata Bianca.
"Ya kalau seperti itu sih sudah keterlaluan ya, karena dia sudah meninggalkan kamu begitu saja, tanpa pamit. Ya mungkin itu memang wajar dia peduli dengan Nadine takut terjadi sesuatu dengan adiknya, tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu juga dengan kamu. Harusnya dia bisa ajak kamu sekalian dong, kan pakai mobil," kata Farel.
"Ya itu dia yang buat aku kesal. Lantas bagaimana hubungan kamu dengan Nadine?" Tanya Bianca.
"Ya masih begitu aja sih. Aku dan Nadine belum ada hubungan apapun, tapi aku juga akan menyatakan cinta itu kepada Nadine. Rencananya sih nanti malam, karena aku sudah janji malam ini mau dinner bersamanya," jawab Keenan.
"Oh … ya bagus dong kalau begitu. Jadi setelah nanti kamu sudah jadian dengan Nadine, aku harap Keenan sudah tidak terlalu mengkhawatirkan adiknya itu, karena sudah ada yang menjaganya," kata Bianca.
"Mudah-mudahan saja ya. Aku berharap juga seperti itu. Asal jangan sampai aku yang jadi buronannya setelah dia tahu aku sudah berpacaran dengan adiknya," kata Farel.
****
Hingga malam yang ditunggu-tunggu oleh Farel pun tiba, dimana saat ini Farel menjemput Nadine ke rumahnya untuk pertama kali dan membawa Nadine ke sebuah restoran yang sudah dipesannya serta didesain secara romantis serta ruangan yang privasi khusus untuk mereka berdua.
"Loh Farel. Kenapa ini hanya kita berdua aja yang ada di sini. Terus tempatnya juga romantis banget, ini ada apa?" Tanya Nadine yang melihat tempat tersebut dipenuhi dengan bunga-bunga dan juga lilin di atas meja.
"Ya Nadine, aku memang sengaja menyiapkan ini semuanya khusus untuk kita berdua, tidak ada orang lain," ucap Farel.
"Oh ya? Memang ada apa?" Tanya Nadine.
"Jadi ada yang mau aku bicarakan sama kamu Nadine. Aku mencintai kamu, aku sangat mengagumimu sejak pertama kali kita bertemu dan semakin lama kita dekat, ngobrol, jalan bareng, itu membuat aku merasa yakin kalau aku benar-benar mencintai kamu. Apakah kamu bersedia menerima cinta aku dan menjadi pacar aku?" ucap Farel mengungkapkan isi hatinya sembari memegang tangan Nadine.
__ADS_1
Nadine sangat terkejut mendengar pengakuan cinta dari Farel yang begitu tiba-tiba, sebenarnya Nadine juga sudah tahu jika Farel sudah menaruh hati padanya sejak saat itu, tetapi ia hanya tidak menyangka jika hari ini Farel akan mengungkapkan perasaan itu. Sedangkan Nadine sama sekali tidak tahu harus menjawab apa saat ini.
Bersambung …