
"Ehem, Kak Keenan mau ngapain?" Tanya Nadine, rasanya sudah tak kuat lagi menahan gejolak di dada jika harus terus berada di dekat Keenan.
"Oh enggak, aku hanya ingin membantu kamu membuka safety belt ini, sepertinya kamu kesusahan," jawab Keenan.
"Iya Kak, ini sepertinya ada yang nyangkut," ucap Nadine.
"Ya sudah kamu diam saja. Biar aku yang membukanya," kata Keenan, lalu ia pun segera saja melepaskannya meskipun memang terasa agak sulit.
Setelah safety belt terlepas, kini Nadine dan Keenan tampak sedang mengatur nafas mereka masing-masing setelah tadi merasakan debaran jantung yang sangat kuat.
"Ya sudah Kak, kalau begitu aku turun dulu ya. Kakak hati-hati," ucap Nadine.
"Iya Dine, nanti kalau ada apa-apa kabari ke aku aja ya. Kalau kamu mau pulang terserah kamu mau minta jemput aku, Papi atau supir juga nggak masalah. Yang penting jangan pulang sendiri," ucap Keenan.
"Iya Kak tenang aja," jawab Nadine lalu segera saja keluar dari mobil Keenan. "Bye … kak."
"Bye …," balas Keenan dan segera saja melajukan mobilnya kembali menuju ke perusahaan.
****
Saat ini Bianca sedang berada di Perusahaan Modelling. Ia sama sekali tidak dapat berpikir dengan jernih saat Clara mengatakan bahwa ia tidak boleh kembali ke Perusahaan Iklan C&K, sebelum ia memperbaiki hubungannya dengan Keenan. Sebenarnya Bianca sama sekali tak mengerti, kenapa Clara harus memberikannya syarat seperti itu untuk pekerjaannya. Akan tetapi ia juga tidak bisa banyak bertanya karena itu sama saja ia akan melawan Clara dan sudah pasti pekerjaannya itu akan lenyap, kesempatannya untuk menjadi model go international juga tidak akan ada lagi.
"Siapa Keenan bagi Nyonya Clara sebenarnya. Kenapa Nyonya Clara begitu ingin sekali dekat dengannya. Tetapi kenapa juga harus melewati aku, memangnya kenapa? Kenapa dia tidak langsung mendekati Keenan sendiri? Atau jangan-jangan Nyonya Clara mau menjodohkan anaknya dengan Keenan. Tapi kalau memang seperti itu, kenapa harus meminta aku balikan dengan Keenan? Seharusnya baguslah karena aku dan Keenan sudah tidak mempunyai hubungan lagi. Jadi sebenarnya kenapa? Benar-benar membuat aku stres. Akh …!" Bianca berteriak penuh emosi sembari menjatuhkan barang-barang yang ada di atas meja di dalam ruangannya itu.
Siska yang baru saja masuk ke dalam ruangannya pun merasa terkejut dengan apa yang telah Bianca lakukan sehingga membuat ruangannya itu berantakan seperti kapal pecah.
"Nona Bianca, Nona Bi kenapa? Kenapa Nona marah-marah seperti itu?" Tanya Siska.
"Keluar kamu dari sini sekarang juga atau kamu yang akan menjadi sasaranku!" Usir Bianca.
__ADS_1
"Aku tidak akan keluar dari sini Nona, kalau memang Nona Bi sedang ada masalah lebih baik Nona ceritakan saja padaku," ucap Siska.
"Tidak, aku tidak butuh siapapun. Sekarang tolong tinggalkan aku sendiri," pinta Bianca.
Karena tidak mau membuat Bianca semakin marah, akhirnya Siska pun menurutinya dengan keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mau melihat Nona Bianca uring-uringan seperti itu. Ayo berpikir Siska," gumam Siska.
Hingga Siska pun mendapatkan suatu ide, segera saja ia merogoh ponsel di dalam saku celananya lalu menghubungi seseorang.
"Halo, ini siapa ya?" Tanya seorang pria dari seberang telepon.
"Halo, apa benar ini Dokter James?" Tanya Siska pula.
"Iya benar, saya Dokter James. Anda siapa ya?" Tanya James.
"Saya Siska, asistennya Nona Bianca," ucap Siska.
"Maaf Dokter saya mengganggu. Apa saat ini Dokter sedang sibuk?" Tanya Siska.
"Tidak, sama sekali tidak. Kebetulan saya sedang tidak ada pasien dan saat ini sedang santai saja di dalam ruangan saya. Ada yang mau kamu sampaikan?" Tanya James.
"Begini dokter, sepertinya Nona Bianca sedang ada masalah. Dia uring-uringan di ruangannya sendiri, bahkan menghancurkan barang-barangnya dengan penuh emosi. Saya sudah mencoba untuk mendekatinya, tetapi Nona Bi tidak mau mendengarkan saya. Saya minta tolong bagaimana jika Dokter James yang datang ke sini untuk menenangkan Nona Bianca," pinta Siska.
James merasa khawatir saat mendengar kondisi Bianca dari Siska, tanpa berbasa-basi ia pun langsung saja menyetujuinya.
"Siska kamu tenang ya, tunggu saja sebentar lagi saya akan datang ke sana," ucap James.
"Baik Dokter, terimakasih banyak," ucap Siska mengakhiri telepon tersebut.
__ADS_1
****
"Dine, kamu jangan mendiamkan aku seperti ini terus dong. Aku minta maaf karena aku tidak mengabari kamu dulu sebelum datang ke sini," ucap Farel.
"Seharusnya kamu tidak perlu datang ke sini setiap hari Farel, aku lagi banyak pekerjaan. Kamu tahu kan kalau aku sudah seminggu tidak datang ke butik, pekerjaan di butik ini sangat banyak, jadi aku tidak ada waktu untuk meladenimu saat ini," ucap Nadine yang tampak emosi.
"Dan tidak seharusnya juga kamu berbicara seperti itu padaku Dien. Aku datang ke sini juga tidak meminta untuk kamu meladeniku, aku hanya datang untuk melihat keadaanmu saja. Bagaimana apakah kamu sudah baik-baik saja? Karena aku menghubungimu juga kamu jarang sekali menjawabnya, aku chat juga jarang kamu balas, aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu," ucap Farel.
"Farel, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku. Lagipula di rumah ada Mama, Papi, Kak Keenan, Kenzo dan Kenzie. Jadi stop untuk merasa khawatir berlebihan seperti itu. Kalau memang terjadi sesuatu denganku, pasti keluargaku juga akan memberitahu kamu. Seperti sekarang ini pasti kamu tahu dari Mama kan kalau aku sudah datang ke butik," kata Nadine.
"Iya, kamu benar. Aku memang tahu dari Tante Dinda, karena kamu sama sekali tidak membalas pesanku pagi ini," ucap Farel.
"Aku minta maaf, tidak selamanya aku selalu memegang ponsel. Apalagi saat di rumah aku fokus untuk beristirahat dan kadang mengurus pekerjaanku yang dikirim oleh asistenku. Aku benar-benar minta maaf," ucap Nadine.
"Nggak apa-apa, tapi boleh nggak kalau sekarang ini kamu berhenti dulu bekerja. Kamu istirahat, ini juga sudah waktunya makan siang," pinta Farel.
"Aku nggak bisa Rel, aku sedang banyak pekerjaan. Kalau kamu memang mau makan, ya sudah kamu makan saja duluan," ucap Nadine.
Akan tetapi Farel pun langsung saja menarik tangan Nadine untuk mengajaknya makan siang terlebih dahulu baru melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Farel, lepaskan! Kenapa sih kamu harus menarik-narik tangan aku seperti ini!" Bentak Nadine yang terlihat sangat kesal dengan sikap kekasihnya.
"Nadine, aku hanya ingin kamu makan. Kamu baru saja sembuh, tidak seharusnya kamu terlalu mengejar pekerjaan kamu seperti ini. Kamu lupa Dokter bilang kamu itu kecapean, kamu kekurangan darah dan harus menjaga kesehatan kamu. Apa kamu melupakan itu?" Tanya Farel.
"Aku tidak pernah lupa dengan hal itu Rel, tapi saat ini aku sedang banyak pekerjaan. Sudahlah kalau kamu memang datang ke sini tujuannya hanya untuk bertengkar denganku, lebih baik kamu pergi. Aku juga bukan anak kecil yang selalu kamu ingatkan untuk makan. Aku tahu kok dan pasti nanti aku akan makan, kamu tidak perlu khawatir," ucap Nadine.
"Aku nggak menyangka ya Dine, sikap kamu benar-benar berubah sekarang. Kamu sama sekali sudah tidak menganggap aku di sini Padahal aku datang ke sini hanya ingin memperhatikan kamu, tapi kamu sama sekali tidak menghargai itu," ucap Farel yang merasa kecewa, lalu ia pun segera saja pergi meninggalkan butik Nadine.
Sedangkan Nadine di saat itu hanya terdiam, ia tampak berpikir apakah mungkin perlakuannya terhadap Farel tadi memang sudah keterlaluan? Tetapi ia benar-benar sibuk hari ini dan tidak tahu kenapa ia bisa bersikap seperti itu terhadap Farel.
__ADS_1
Bersambung …