
Hingga di saat sedang memesan makanan pun Siska masih tampak mencuri-curi pandang menatap ke arah dokter tampan tersebut.
"Kedip dong matanya," sindir Bianca sehingga Siska tersadar dan merasa malu.
Sedangkan james di saat itu hanya menanggapinya dengan senyuman saja.
"Duh gawat, kenapa ya rasanya begitu berdebar-debar saat bertemu dengan Dokter James. Apa jangan-jangan aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Dokter James? Enggak, ini nggak mungkin. Aku baru pertama kali bertemu dengan Dokter James. Ternyata apa yang dikatakan Nona Bianca benar bahwa Dokter James begitu tampan. Tapi apa mungkin, aku yang selama ini sangat sulit untuk jatuh cinta tiba-tiba saja langsung jatuh cinta kepada orang yang baru pertama kali aku lihat, bahkan aku tidak mengenalinya, siapa dia. Nggak, nggak, ini nggak boleh terjadi. Apalagi Nona Bianca baru saja putus dengan Tuan Keenan, bisa saja kan kalau saat ini Nona Bi akan melakukan PDKT dengan Dokter James. Bagaimanapun juga hanya Nona Bi yang pantas untuk dokter James. Aku tidak boleh mengkhianati Nona Bi yang sudah begitu baik padaku," batin Siska, lalu membuang jauh-jauh pikirannya itu.
****
"Kenapa Kak Keenan belum sampai juga ya ke sini, kalau memang Kak Keenan tadi benar-benar ada di depan dan mengambil sesuatu yang ketinggalan di mobil, pastinya dia sudah kembali," tanya Nadine.
"Iya, aku juga heran. Kenapa sampai sekarang Keenan belum juga masuk ke dalam, atau mungkin dia langsung pergi lagi karena ada hal yang penting? Coba deh kamu telepon Keenan, Sayang," kata Farel.
"Iya, aku coba telepon Kak Keenan dulu ya," ucap Nadine, lalu segera saja meraih ponselnya yang ada di atas nakas dan menghubungi Keenan.
Di saat itu Keenan yang sedang berada di perjalanan hendak kembali ke perusahaan, saat mendapatkan telepon dari Nadine itu pun segera saja ia memakai handset bluetooth-nya untuk menjawab telepon tersebut.
"Halo Dine," ucap Keenan dari seberang telepon.
"Halo Kak Keenan, Kakak ada dimana? Kata suster tadi Kakak mau menjenguk aku tapi ada sesuatu yang ketinggalan di mobil, tapi kenapa sudah 15 menit aku menunggunya kamu belum kembali juga Kak. Atau Kakak nggak jadi menjenguk aku ya?" Tanya Nadine.
"Oh itu, iya tadi memang aku mau menjenguk kamu. Tapi aku lupa kalau aku tadi ada bawa buah yang ketinggalan di mobil dan setelah aku balik lagi ke mobil mau mengambil buah itu, tiba-tiba saja ada telepon dari Bisma yang meminta aku untuk segera datang ke perusahaan. Maaf ya Nadine aku belum jadi menjenguk kamu, tapi kamu baik-baik saja kan?" Ucap Keenan yang tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya bahwa ia cemburu melihat Nadine bersama Farel.
"Oh … begitu, iya Kak aku baik-baik saja kok. Jadi sekarang Kakak sedang ada di perjalanan balik ke perusahaan ya?" Tanya Nadine.
"Iya, ini aku sedang ada di perjalanan," jawab Keenan.
"Ya sudah Kak, Kakak hati-hati ya kalau begitu," ucap Nadine.
"Iya Dine, nanti kabari aku saja ya tentang kondisi kamu," ucap Keenan.
"Iya Kak, bye …," ucap Nadine.
"Bye …," balas Keenan dan mengakhiri telepon tersebut.
__ADS_1
Entah kenapa ada sedikit rasa kekecewaan dalam hati Nadine karena Keenan tidak jadi menjenguknya. Entahlah perasaan apa itu, padahal di saat ini ada Farel kekasihnya yang menemaninya.
****
Sementara itu, Nathan dan Dinda yang tadinya pergi mencari makanan di luar kini pun telah kembali lagi ke rumah sakit dan langsung saja menghampiri anak beserta kekasihnya itu.
"Maaf ya kita sedikit terlambat, soalnya jalanan macet, biasalah," ucap Nathan.
"Iya Om, Farel mengerti kok," jawab Farel.
"Iya Pi nggak masalah kok. Lagipula kenapa juga sih harus repot-repot keluar cari makanan, kan bisa pesan online," ucap Nadine.
"Iya, padahal tadi aku juga sudah menawarkan biar aku saja yang mencari makanan. Tapi katanya Om Nathan mau sekalian jalan-jalan saja dengan Tante Dinda, cari udara segar di luar," sahut Farel.
"Oh … gitu, pasti Mama dan Papi bosan ya ada di rumah sakit menemani Nadine," ucap Nadine mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, siapa bilang seperti itu. Ya tidak mungkin lah Mama bosan menemani anak Mama sendiri," ucap Dinda.
"Maaf Ma sebenarnya bukan itu juga kok maksud aku," ucap Nadine.
"Malas ah makan makanan dari rumah sakit, nggak enak," ucap Nadine.
"Kamu itu ya, Mama sudah tahu Pasti kamu tidak mau makan makanan di sini, maka itu Mama ngotot mau mencari makanan di luar untuk kamu," ucap Dinda.
"He … he … he … Mama tahu aja deh keinginan aku. Terimakasih ya Mama sayang," ucap Nadine lalu memeluk sang ibu.
Sedangkan Nathan dan Farel pun ikut tersenyum dan merasa tenang melihat kemesraan antara anak dan ibu itu.
****
"Hoam … kenapa rasanya mengantuk sekali ya, aku harus mampir dulu untuk mencari kopi," gumam Keenan yang menguap.
Lalu ia pun mampir di salah satu Coffee Shop yang ada di seberang restoran dimana Bianca sedang makan siang bersama dengan James dan Siska.
Di Saat baru saja turun dari mobilnya, tidak sengaja Keenan melihat sosok Bianca yang saat itu sedang bersenda gurau bersama pria yang tidak bisa dilihat jelas olehnya.
__ADS_1
"Ternyata baru saja putus denganku, kamu sudah bisa sebahagia itu ya Bi. Aneh, kenapa juga aku harus seperti ini. Bukannya bagus karena aku sudah terlepas dari Bianca. Seandainya saja aku bisa menggapai cintaku kepada Nadine, pasti aku tidak akan mungkin terpuruk seperti saat ini. Sekarang aku jadi bingung dengan perasaanku sendiri," batin Keenan dan langsung saja masuk ke dalam coffee shop serta memesan kopi.
Ternyata Siska yang tadi sedang melihat ke arah luar, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok pria yang dikenalnya sedang melihat ke arah Bianca, yaitu Keenan. Tetapi Siska hanya diam saja karena tidak mau mengganggu perbincangan yang terlihat sangat seru di antara model dan dokter yang ada di dekatnya saat ini. Bahkan ia sendiri seperti tidak dianggap atau bisa dikatakan menjadi obat nyamuk di antara keduanya.
"Nona Bi, Dokter James, saya permisi ke toilet sebentar ya," ucap Siska saat makanannya itu telah habis.
"Kamu nih Sis, baru saja selesai makan. Sudah langsung ke toilet aja," ucap Bianca.
"Ya namanya juga keinginan perut, mana bisa sih kita yang atur Nona," hardik Siska.
"Ya sudah sana pergi, jangan lama-lama ya. Sebentar lagi kita harus balik ke perusahaan," ucap Bianca.
"Baik Nona," jawab Siska lalu segera saja beranjak dari tempat duduknya.
Akan tetapi di saat itu Siska bukannya pergi ke toilet, melainkan keluar secara diam-diam untuk menghampiri Keenan. Baru saja tiba di depan coffee shop tersebut, bersamaan dengan Keenan yang baru saja keluar dari coffee shop itu.
"Tuan Kinan!" Panggil Siska.
"Loh Siska, kenapa kamu ada di sini? Bukannya tadi saya lihat kamu ada di restoran?" Tanya Keenan yang cukup terkejut.
"Iya Tuan, memang tadi saya ada di sana," jawab Siska menunjuk. "Tetapi saya tidak sengaja melihat Tuan ada di sini, maka dari itu saya menghampiri Tuan."
"Oh begitu, memangnya ada apa kamu menghampiri saya? Lalu apa Bianca tahu kalau kamu datang ke sini menghampiri saya?" Tanya Keenan.
"Oh tentu saja Nona Bianca tidak tahu, Tuan Keenan bisa lihat sendiri kan saat ini Nona Bianca sedang asyik mengobrol bersama teman lamanya itu," ucap Siska.
"Maaf Siska, maksud kamu berbicara seperti itu atas dasar apa ya? Dan kamu belum mengatakan untuk apa kamu menghampiri saya, ada perlu apa? Saya sudah sedang tidak ada banyak waktu," ucap Keenan dengan tegas.
"Saya hanya mau mengatakan kepada Tuan. Saya yakin keputusan Nona Bianca untuk memutuskan Tuan Keenan itu adalah hal yang sangat bagus, jadi saya minta tolong kepada Tuan Keenan jangan pernah lagi untuk mengganggu Nona Bianca. Saya tahu bagaimana rasa sakit hatinya Nona Bianca saat itu yang selalu dicuekin oleh Tuan. Sekarang Tuan Keenan bisa lihat kan Nona Bianca sudah bisa tersenyum lagi dengan pria lain," ucap Siska.
Keenan sangat terkejut mendengar ucapan Siska, akan tetapi ia hanya menganggap biasa saja karena Siska adalah asisten Bianca, sudah pasti ia akan membela bos-nya itu.
"Kamu tenang saja, saya tidak akan pernah lagi mengganggu Bianca," saya permisi," ucap Keenan lalu ia pun segera saja pergi meninggalkan Siska dan segera masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi meninggalkan Coffee Shop.
Bersambung …
__ADS_1