Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Terharu Bahagia


__ADS_3

Ayah, Ibu dan anak itu pun masih tampak tak percaya melihat seorang wanita yang saat ini berjalan mendekati mereka dengan tatapan tajam.


"Berani sekali kamu datang ke sini. Kamu pikir kamu siapa?" Ucap Nathan dengan suara lantang sembari menunjuk wanita tersebut.


"Pi, sudah Pi sabar. Biarkan saja kita tanya dulu apa maunya," ucap Dinda.


"Ck masih mau bertanya apa mauku. Sudah jelas aku datang ke sini karena mau melihat anakku. Kenapa kalian tega sekali tidak ada yang mengabarkan hal ini kepadaku, kalian sudah membuat anakku celaka seperti itu dan kalian sengaja mau menyembunyikan dariku, iya?" Ucap Clara.


"Tante, maaf tuduhan Tante itu sama sekali tidak benar. Terus ini di rumah sakit, bisa tidak Tante pelankan sedikit suara Tante," ucap Nadine.


"Diam kamu! Anak kecil berani sekali kamu mengaturku seperti itu!" Bentak Clara.


"Kamu yang diam! Kalau kamu datang ke sini hanya mau mencari keributan, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!" Usir Nathan yang tak terima anaknya dibentak oleh mantan istrinya itu.


"Kamu-" ucapan Clara terhenti karena di saat itu pintu ruang ICU terbuka.


Tampak seorang dokter yang keluar dari ruangan tersebut dan menghampiri mereka.


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Nathan dan mengabaikan Clara begitu saja.


"Alhamdulillah Tuan Keenan benar-benar sudah sadar. Ini pasti karena doa dari kalian, keluarga yang sangat menyayanginya. Sekarang Tuan Keenan akan segera kami pindahkan ke ruang rawat agar keluarga dapat menemui dan menjaganya," ucap dokter.


"Terimakasih banyak Dokter. Alhamdulillah," ucap Dinda.


Begitu juga dengan Nadine, Nathan dan juga Clara. Mereka sangat senang mendengarnya dan tak henti mengucapkan kata syukur.


****


Setelah Keenan dipindahkan ke dalam ruang rawat inap, kini keluarga pun sudah berada di dalam sana termasuk Clara. Akan tetapi Keenan terlihat masih marah terhadap ibunya, sehingga ia enggan melihat Clara. Ia malah terus saja mengalihkan pandangannya itu.


Dinda yang mengerti kondisi saat ini pun mengajak suami dan anaknya untuk keluar sebentar agar Clara dapat leluasa berbicara dengan Keenan, antara ibu dan anak.

__ADS_1


"Ma, kenapa Mama aja kita keluar sih. Bagaimana kalau wanita itu akan berbuat macam-macam dengan anak kita," ucap Nathan.


"Papi tidak boleh berbicara seperti itu dong. Papi lupa ya Clara itu 'kan ibu kandungnya Keenan. Jadi dia berhak untuk ada di dalam sana dan berbicara dengan Keenan, kita kasih waktu ya mereka berbicara berdua," ucap Dinda.


"Tetapi bagaimana kalau Clara malah membuat keadaan Keenan menjadi memburuk? Karena Keenan itu tidak mau bertemu dengan Clara, Mama bisa melihat 'kan tadi bagaimana Keenan membuang muka tidak mau melihat ibu kandungnya sendiri," ucap Nathan.


"Papi jangan berdoa yang buruk seperti itu dong," ucap Dinda.


"Papi tidak berdoa Ma, Papi hanya takut," ucap Nathan.


"Papi, sekeras-kerasnya batu jika terus terkena air pasti akan melunak. Begitu juga dengan hatinya Keenan," ucap Dinda.


"Pi Sudahlah Pi. Apa yang Mama katakan itu benar. Tante Clara itu kan ibu kandungnya Kak Keenan, aku yakin kok Tante Clara tidak akan berbuat macam-macam dengan anaknya sendiri," ucap Nadine yang ikut menenangkan hati ayahnya itu.


"Kalian berdua tidak tahu bagaimana dulu Clara selalu kasar dan menyakiti Keenan. Bahkan dia sendiri yang mengakui tidak pernah menyayangi Keenan sama sekali. Jadi bisa saja jika saat ini dia hanya berpura-pura simpatik terhadap Keenan, padahal ada maksud terselubung. Papi yakin Clara itu tidak pernah menyayangi Keenan sampai saat ini," ucap Nathan.


"Sudah Pi, kita biarkan saja dulu ya. Kita duduk dulu di sini," ucap Dinda lalu menuntun suaminya untuk duduk di kursi bersama dengan anak mereka.


****


"Keenan, mau sampai kapan kamu mendiami Mami seperti ini Nak? Mami ada di sini untuk kamu," ucap Clara.


"Saya tidak meminta Anda untuk ada di sini. Lebih baik sekarang Anda keluar! Tolong panggilkan keluargaku, aku hanya membutuhkan mereka, bukan Anda," ucap Keenan tanpa melihat Clara sedikitpun.


Keenan, kenapa kamu tega sekali berbicara seperti itu dengan Mami. Mami ini ibu kandung kamu, Mami datang ke sini karena Mami peduli dengan kamu. Mereka yang kamu anggap keluarga itu yang sudah membuat kamu celaka seperti ini dan sekarang kamu malah membutuhkan mereka, iya?" Ucap Clara.


"Bukan mereka yang membuatku celaka, tapi Anda. Jika waktu itu Anda mau memberitahuku siapa ayah kandungku, kecelakaan ini tidak akan terjadi. Aku berpikir kenapa aku tidak mati saja daripada harus hidup dalam sandiwara Anda, supaya Anda puas," ucap Keenan yang kata-katanya itu menembus ke hati Clara, rasanya begitu sangat sakit sehingga ia pun meneteskan air matanya.


Karena Keenan sama sekali tak mau melihatnya, Clara pun segera saja keluar dari ruang rawat inap. Saat di luar ia melihat Dinda, Nathan dan Nadine dengan tatapan tajam penuh kebencian. Lalu Clara pun melangkahkan kakinya segera berlalu dari pandangan mereka.


Nathan, Dinda dan Nadine yang melihat Clara sudah keluar dari ruangan tersebut, kini mereka terburu-buru masuk untuk melihat keadaan Keenan.

__ADS_1


"Kak Keenan, aku senang karena akhirnya Kakak bangun," ucap Nadine yang begitu antusias dan langsung memeluk kakaknya itu.


"Akh," rintih Keenan karena ia merasakan tubuhnya sakit ditindih oleh Nadine.


"Maaf Kak aku nggak sengaja. Aku terlalu bersemangat karena melihat Kakak yang akhirnya sadar," ucap Nadine sembari melepaskan pelukannya.


"Iya, nggak apa-apa. Aku senang kok karena kamu peluk aku seperti itu. Tapi sekarang 'kan aku lagi sakit, jadi pelan-pelan dong," ucap Keenan.


"He … he … he … maaf ya kak," ucap Nadine nyengir yang membuat kedua orang tua mereka itu pun ikut tersenyum.


"Keenan, bagaimana keadaan kamu sekarang Nak? Apa sudah lebih baik?" Tanya Dinda.


"Iya Ma, aku sudah lebih baik kok," jawab Keenan.


"Syukurlah kamu baik-baik saja, Papi merasa sangat khawatir melihat kondisi kamu waktu itu. Bahkan kamu sampai dioperasi, Papi benar-benar merasa hancur Keenan," ucap Nathan.


Karena sangat terharu, tanpa sadar Keenan meneteskan air matanya yang membuat keluarganya itu pun merasa heran melihatnya.


"Kak Keenan, kenapa Kak Keenan menangis?" Tanya Nadine.


"Mama, Papi, setelah kalian tahu aku bukan anak kandung Papi, apa kalian tidak akan menyayangiku lagi? Apa kalian akan membuangku dari hidup kalian?" Tanya Keenan penuh ketakutan.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu Sayang. Bahkan sewaktu Mama tahu kamu adalah anak tiri Mama, Mama sudah sangat menyayangi kamu sepenuh hati. Mama tidak pernah membedakan antara kamu, Nadine maupun Adik kembar kalian. Jadi apa bedanya jika tahu kamu bukan anak kandung Papi, Mama tidak akan pernah berubah menyayangi kamu sedikitpun," ucap Dinda.


"Papi juga sama seperti Mama kamu, rasa sayang Papi untuk kamu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Papi sudah sangat menyayangi kamu," ucap Nathan pula.


"Apalagi aku Kak, aku malah semakin sayang dan mencintai kamu," ungkap Nadine.


"Aku juga, aku semakin sayang dan mencintai kamu Nadine," ungkap Keenan pula yang membuat mereka semua pun terharu bahagia lalu berpelukan.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2