
Nathan tampak kebingungan menatap anak dan ibunya yang saat ini masih menatapnya tajam seakan ingin menerkamnya.
"Mama, Keenan, kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tanya Nathan sembari mendekati mereka.
"Kamu benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu?" Hardik Cynthia.
"Aku benar-benar tidak tahu kenapa kalian menatapku seperti itu. Ada apa ini Keenan? Apa kamu berbicara sesuatu dengan Oma kamu?" Tanya Nathan.
"Iya Pi, aku sudah katakan semuanya kepada Oma. Bahkan tentang Mama dan Papi yang mencarikan calon suami untuk Nadine," jawab Keenan.
Meskipun Nathan terkejut karena ia didahului oleh anaknya itu, tetapi ia juga merasa cukup lega karena ternyata Cynthia masih dalam keadaan baik-baik saja meskipun ia sudah tahu tentang kondisi Nadine. Tetapi ia dapat melihat raut wajah kekecewaan yang Cynthia tunjukkan kepadanya itu.
"Ma, aku minta maaf Ma. Sebenarnya sekarang ini aku ingin memberitahu Mama tentang hal ini, tapi aku tidak tahu kalau ternyata Keenan sudah datang dulu untuk memberitahu Mama," ucap Nathan.
"Mama benar-benar kecewa dengan kamu Nathan. Kalau bukan Keenan yang memberitahu Mama, pasti sekarang Mama belum tahu apa-apa. Bisa-bisanya masalah sebesar ini tidak kamu bicarakan kepada Mama, malah kamu sembunyikan seolah Mama ini bukan keluarga kalian," ucap Cynthia.
"Ma, sudah aku katakan aku datang ke sini ingin memberitahu Mama, tapi Keenan sudah menyampaikannya langsung kepada Mama kan," ucap Nathan.
"Mama mau tanya dengan kamu Nathan, memangnya sejak kapan kalian mengetahui kondisi Nadine, barusan? Tidak kan? Tetapi kamu baru mau memberitahu Mama hari ini, iya? Kamu ini benar-benar keterlaluan. Dan Mama dengar dari Keenan, sekarang kamu mau mencarikan calon suami untuk Nadine, kamu juga tidak mengatakan hal itu kepada Mama. Sebenarnya kamu ini menganggap Mama siapa dalam keluarga kita? Apa Mama ini sama sekali tidak ada artinya untuk kalian, sehingga kalian bisa ambil keputusan sesuka hati tanpa memberitahu Mama terlebih dahulu," ucap Cynthia yang yang tampak emosi.
"Oma, sabar Oma," ucap Keenan.
"Ma, bukan itu maksud aku Ma. Tolong Mama dengarkan aku dulu, aku hanya tidak mau memperburuk keadaan Mama. Mama itu sedang sakit, Mama belum pulih, jadi aku tidak mau menambah beban pikiran Mama. Hanya itu saja maksud aku. Tapi hari ini aku sudah niat ingin memberitahu Mama, terlebih lagi tadi aku juga mendapat kabar dari dokter bahwa Mama sudah pulih, bahkan Mama besok sudah boleh pulang. Sudah jelas aku pasti akan memberitahu Mama, aku ingin mendiskusikannya kepada Mama. Mama jangan berbicara seperti itu, tentu saja Mama itu sangat penting dalam keluarga kita, Mama sangat berarti untuk hidup kami Ma," ucap Nathan dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Keenan dapat melihat jika ayahnya itu sangat tulus dan sedih, sehingga ia juga ikut merasakan kesedihan itu bahkan saat ini matanya sudah berkaca-kaca. Lalu Keenan pun segera saja mendekati ayahnya dan memeluk pria yang paling ia cintai di dalam hidupnya.
"Papi, maafkan Keenan ya Pi. Aku tidak bermaksud membuat Papi sedih, aku salah dan egois karena sudah menyampaikannya terlebih dulu kepada Oma tanpa sepengetahuan Papi dan Mama. Aku hanya tidak rela Pi jika Nadine menikah dengan orang lain," ucap Keenan.
"Sudahlah Nak, Papi juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kamu. Papi juga minta maaf karena tadi sudah menampar kamu, Papi tidak bisa menahan emosi. Seharusnya Papi bisa mengendalikan emosi itu, karena Papi tahu jika kamu juga berada di posisi yang sangat sulit," ucap Nathan.
Melihat pemandangan mengharukan yang ada di depan matanya saat ini, membuat Cynthia pun tak dapat lagi membendung air matanya. Cynthia juga merasa sangat tersentuh dengan ucapan anaknya tadi, sehingga ia pun memaafkan Nathan dan mengerti jika Nathan menyembunyikan rahasia itu hanya demi kebaikannya.
****
Saat Nathan memberitahu kepada keluarganya bahwa hari ini Cynthia sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, Nadine begitu antusias ingin menjemput neneknya itu. Sehingga pagi-pagi sekali ia sudah bersiap-siap dan langsung saja mencari keberadaan sang ibu yang masih berada di kamarnya.
"Sayang kamu yakin mau menjemput Oma? Memangnya keadaan kamu benar-benar sudah pulih?" Tanya Dinda.
"Iya boleh dong Sayang. Ya sudah kita sekarang pergi saja ya minta antar supir, Mama tidak mau kalau kamu yang menyetir mobil dan kalau Mama yang menyetir nantinya malah akan jadi masalah lagi buat Papi kamu," ucap Dinda.
"Iya Ma, ba-ha-ya," ledek Nadine tersenyum.
"Kamu nih ya malah meledek Mama," ucap Dinda yang juga tersenyum.
"Maaf Mamaku sayang, aku bercanda kok. Ya sudah Ma, kita berangkat sekarang ya," ucap Nadine.
"Iya Sayang," jawab Dinda.
__ADS_1
Lalu anak dan ibu pun itu pun segera saja pergi ke rumah sakit. Sedangkan Nathan dan Keenan masih berada di rumah sakit menemani Cynthia yang sejak kemarin belum pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Nadine tampak terdiam. Dinda tahu meskipun tadinya Nadine selalu tersenyum di depannya, tetapi di dalam hatinya itu menyimpan rasa kebimbangan dan kesedihan karena kondisinya saat ini. Dinda juga merasa sedih dan kasihan dengan anaknya itu, tetapi ia juga belum bisa melakukan hal apapun saat ini agar Nadine terbebas dari masalahnya. Sekarang yang terpenting Dinda akan selalu berada di samping Nadine, agar ia tak merasa sendirian dan akan selalu kuat dengan apa yang sedang menimpanya saat ini, seperti saat dulu Dinda yang selalu didampingi oleh ibunya.
****
Setelah kepulangan Cynthia ke rumah, mereka pun sudah membahas masalah Nadine dan keluarga juga sudah sepakat akan menghubungi Farel untuk membicarakan masalah Nadine dengannya. Bahkan Keenan juga sudah mencoba untuk ikhlas menerimanya, karena mungkin ini adalah keputusan yang terbaik daripada Nadine harus menggugurkan kandungannya itu.
Nathan juga sudah menghubungi Farel untuk memintanya datang ke rumah, tentu saja Farel sangat senang dan menyetujuinya. Dan saat ini keluarga Nathan itu pun tampak sedang menunggu kedatangan Farel yang mengatakan bahwa ia sudah berada di perjalanan menuju ke kediaman Collin.
Suara mobil berhenti terdengar jelas di depan rumahnya dan di saat itu Nathan yang melihat dan sangat mengenali mobil tersebut adalah mobil Farel, segera saja memberitahu keluarganya yang sudah menunggu kedatangan pria tersebut di ruang keluarga.
Nadine tampak gugup sembari sesekali menatap ke arah Keenan yang terlihat hanya diam saja dan menunduk. Nadine tak menyangka jika akan dinikahkan dengan Farel, padahal ia sudah sangat muak dengan pria itu dan merasa sangat menyesal karena tidak bisa bersama dengan pria yang dicintainya, yaitu Keenan. Akan tetapi mau bagaimana lagi, karena ini adalah solusi yang terbaik untuk dirinya saat ini.
Sedangkan Keenan rasanya ingin sekali memberontak dan mengatakan bahwa dia lah yang akan menikahi Nadine, bukan pria lain, apalagi Farel. Tetapi ia sudah memutuskan akan menerimanya, ia harus ikhlas karena ini demi kebaikan semua. Ia juga tidak mau membuat keluarganya malu karena apa yang telah mereka lakukan berdua, apalagi jika sampai terjadi pernikahan sedarah dalam keluarganya.
Bibi yang menyambut kedatangan Farel itu pun segera saja membawanya ke ruang keluarga untuk menemui keluarga Nadine. Di saat itu Farel merasa merasa terkejut dan juga canggung, bahkan ada rasa takut saat melihat keluarga Nadine yang menatapnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Gawat, Seharusnya aku sudah berpikir dari awal jika Om Nathan menyuruh aku datang ke sini pasti ingin menghakimiku atas apa yang sudah aku lakukan, karena aku telah menjebak Keenan dan Nadine waktu itu. Kenapa aku bodoh sekali, kenapa seolah-olah aku merasa jika Om Nathan benar-benar menginginkan aku datang ke sini untuk Nadine," batin Farel.
Bersambung …
__ADS_1