
Setelah mendengar percakapan itu, akhirnya Dinda pun mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Nadine. Padahal tadinya Dinda hanya ingin menemui Nadine karena ada suatu hal, tetapi karena mendengar percakapan kedua anaknya itu akhirnya Dinda pun memilih untuk segera saja pergi. Perlahan Dinda melangkahkan kakinya agar tidak terdengar oleh Keenan dan Nadine, lalu ia pun menuruni tangga dengan wajah tampak tertunduk menahan kesedihan. Akan tetapi tiba-tiba saja ia menabrak suaminya yang saat itu sedang mencarinya.
"Mama, ada apa Ma? Kenapa wajah Mama sedih seperti itu?" Tanya Nathan yang terlihat sangat khawatir.
"Tidak ada apa-apa Pi, Papi mau kemana?" Tanya Dinda pula.
"Papi mencari Mama, Mama tadi tidak ada di kamar jadi Papi rencananya mau cari Mama ke atas dan malah bertemu di sini. Mama kenapa? Tidak mungkin kalau tidak ada sesuatu tapi wajah Mama murung seperti itu? Papi tahu kalau Mama itu sedang sedih," ucap Nathan.
"Papi, kita bicara di kamar saja ya," ucap Dinda.
Nathan mengangguk, lalu ia merangkul tubuh istrinya itu menuntunnya menuju ke kamar mereka.
"Ada apa sebenarnya Ma, apa yang membuat Mama sedih?" Tanya Nathan saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Tadi sewaktu Mama ke atas mau cari Nadine, tidak sengaja Mama malah mendengar anak-anak sedang berbicara di balkon," ucap Dinda lirih.
"Memang mereka sedang membicarakan soal apa? Jadi karena pembicaraan anak-anak yang membuat Mama sedih?" Tanya Nathan lagi.
"Iya Pi, memang pembicaraan mereka yang buat Mama sedih. Mama dengar …."
Dinda pun menceritakan apa yang baru saja ia dengar tadi kepada suaminya itu.
"Jadi Clara sudah berada di Indonesia? Dia sudah kembali kembali ke sini dan tadi saat kita berada di restoran, Keenan bertemu dengan wanita itu?" Tanya Nathan yang terlihat sangat terkejut dan tidak mempercayainya.
Nathan teringat pada saat itu, Clara pernah mengatakan kepada Nathan bahwa ia akan pergi ke luar negeri dan tidak akan pernah kembali lagi ke Indonesia. Dia juga tidak akan pernah lagi mempedulikan Keenan dan menyerahkan Keenan sepenuhnya kepada ayahnya.
__ADS_1
"Iya Pi, Mama dengar sendiri. Bahkan Nadine tadi saja terlihat sangat syok sewaktu Keenan menceritakan hal itu. Dan tadi Mama juga lihat bagaimana sedihnya Keenan karena tidak dikenali oleh ibunya sendiri, bahkan ibunya itu bersikap arogan, marah-marah terhadapnya, padahal apa yang ia lakukan adalah ketidaksengajaan. Mama juga dengar bagaimana Keenan menangis di pelukan Nadine. Mama jadi takut Pi," ucap Dinda yang terlihat cemas.
"Takut? Takut kenapa Ma?" Tanya Nathan.
"Papi tahu kan kalau Mama sudah merawat Keenan dari kecil, Mama sudah menjaga Keenan dengan segenap jiwa dan raga Mama. Mama sudah menganggap Keenan sebagai anak kandung Mama sendiri. Mama sayang sama Keenan, Mama sangat mencintai Keenan seperti Mama menyayangi Nadine. Mama takut karena saat ini Clara sudah kembali. Bagaimana kalau dia mau mengambil Keenan dari kita, mengambil Keenan dari Mama. Mama tidak rela Pi kehilangan Keenan," ucap Dinda dalam kesedihannya.
Nathan mengerti akan ketakutan Dinda, lalu ia pun meraih tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya.
"Sayang, tidak akan ada yang bisa merebut Keenan dari kita. Keenan adalah anak kita, kamu ingat itu. Apalagi Clara sudah sangat lama tidak kembali bahkan dia sama sekali tidak pernah memberi kabar ataupun menanyakan kabar tentang Keenan. Apakah menurut kamu sikap seperti itu adalah sikap seorang ibu, apakah itu sikap orang tua yang menyayangi anaknya. Tidak kan? Lagipula jika saat ini Clara menginginkan Keenan, apa menurut Mama Keenan akan menginginkannya, apa Kenan mau? Papi yakin tidak Ma. Keenan tidak akan mau untuk kembali bersama ibunya. Bahkan seperti yang Mama katakan tadi kepada Papi kalau Keenan tidak mau mengakui jika dirinya adalah Keenan anak Clara. Dari situ terlihat jelas jika Keenan sangat kecewa dengan sikap ibu kandungnya sendiri. Sudahlah Ma, jangan berpikiran yang tidak-tidak, Papi juga yakin kalau Keenan begitu menyayangi Mama dan sudah menganggap Mama seperti ibu kandungnya sendiri," ucap Nathan meyakinkan sang istri agar tidak memikirkan yang bukan-bukan.
"Tapi bagaimana kalau tiba-tiba Clara datang untuk menemui Keenan dan menginginkan Keenan kembali padanya, lalu Keenan pun mau? Apa yang harus Mama lakukan?" Tanya Dinda yang masih diselimuti rasa takut.
"Itu tidak akan mungkin Sayang, sudahlah kamu jangan berpikiran yang macam-macam lagi ya. Sekarang kita istirahat saja, sudah malam. Papi rasa Mama butuh istirahat untuk menenangkan pikiran Mama. Anak-anak juga pasti sudah istirahat, Keenan pasti sudah lebih tenang karena Nadine. Pasti Keenan juga akan melupakan kesedihannya itu," ucap Nathan.
****
Saat sedang memilih beberapa buah-buahan di supermarket dan ingin mengambil buah apel, tidak sengaja Dinda malah memegang tangan seorang wanita yang saat itu juga mengambil buah yang sama dengannya.
"Maaf saya tidak sengaja Mbak, Mbak saja yang ambil," ucap Dinda.
Lalu Dinda dan wanita tersebut saling berpandangan, Dinda sangat terkejut karena ternyata wanita itu adalah wanita yang dulu pernah menghampirinya dan memintanya untuk menjauhi Nathan, sehingga ia pun pergi meninggalkan kota Jakarta. Begitu juga dengan wanita itu yang terlihat syok menatap tajam ke arah Dinda.
"Kamu? Tidak disangka ya ternyata kita bisa bertemu lagi di sini," ucap Clara.
"Iya, dan ini adalah pertemuan yang sangat tidak aku inginkan. Aku sama sekali tidak ingin bertemu dengan kamu lagi Clara," ucap Dinda, lalu ia pun pergi begitu saja.
__ADS_1
Akan tetapi dengan cepat Clara mengejar dan menarik tangan Dinda.
"Tunggu!" Ucap Clara.
Dinda menghentikan langkah kakinya dan melirik ke arah belakang dengan tatapan sinis. "Lepaskan tanganku," ucapnya.
"Oke aku akan melepaskannya, tapi aku mau kita berbicara," ucap Clara.
"Aku tidak ada waktu untuk berbicara denganmu," ucap Dinda ketus.
"Kamu tidak usah merasa sok penting Dinda, aku hanya ingin berbicara sebentar," ucap Clara.
Akhirnya Dinda pun menyetujui permintaan Clara, kini mereka duduk di cafe sebelah supermarket yang tadi mereka kunjungi.
"Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan? Saya tidak punya waktu lama untuk meladeni kamu," ucap Dinda.
"Heh, ternyata setelah menikah dengan Nathan kamu menjadi wanita yang angkuh ya," ucap Clara.
"Jaga ucapanmu itu. Jangan berbicara sembarangan tentang aku karena kamu tidak tahu apa-apa. Sekarang cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan, karena aku masih banyak urusan daripada harus meladeni kamu Clara," ucap Dinda. Entah kenapa ia masih merasa sangat kesal terhadap wanita itu mengingat saat dulu dia pernah mengancamnya, hingga ia pun terpaksa pergi meninggalkan pria yang dicintainya dengan membawa benih yang telah ditanam oleh pria itu.
"Dimana Keenan? Aku tahu jika selama ini kalian bersamanya kan? Katakan padaku dimana anakku, aku ingin bertemu dengannya dan aku ingin mengajaknya untuk kembali lagi bersamaku. Saat ini aku sudah pulang ke Indonesia, dan apa kamu tahu aku pulang ke Indonesia hanya untuk Keenan," ucap Clara.
Deg …
Tiba-tiba jantung Dinda berdegup kencang, aliran darahnya terasa mengalir lebih deras, ternyata ketakutannya selama ini benar bahwa Clara akan datang lagi untuk mengambil Keenan darinya. Hal itu membuat Dinda begitu sangat takut dan terkejut hingga menatap Clara dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
__ADS_1
Bersambung …