Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Bandung


__ADS_3

Farel tampak bergidik di saat melihat Keenan yang menatapnya dengan tajam. Akan tetapi ia tetap berusaha untuk bersikap tenang, toh sebenarnya Keenan juga tidak terlalu penting, sedangkan ia sudah mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tua Nadine.


"Keenan kamu kenapa bisa berbicara seperti itu. Ini Farel loh pacarnya adik kamu, kenapa kamu bisa bilang ini orang lain," kata Dinda.


"Kan memang benar Ma, Farel itu orang lain. Dia belum menikah dengan Nadine," kata Keenan.


"Ya Mama tahu, tapi nantinya juga dia akan menjadi keluarga kita. Tidak ada salahnya kan kalau Farel ini berkenalan dulu dengan Nenek dan Kakek kalian," ucap Dinda lagi.


"Tante, Kak Keenan, sudah ya kalian nggak usah berdebat. Aku nggak apa-apa kok nggak usah ikut aja," kata Farel.


"Baguslah kalau seperti itu," gumam Keenan.


"Keenan, kamu bisa diam dulu tidak. Farel, tidak bisa begitu dong. Kalau kamu memang mau ikut, kamu ikut saja ya," kata Nathan.


"Mama sama Papi gimana sih, orangnya juga nggak mau kok malah dipaksa," gerutu Keenan.


"Kak Keenan, Kak Keenan itu bisa nggak sih nggak usah terlalu mencampuri urusan aku dan Farel. Kakak urus aja tuh Bianca pacar kakak, ajak Bianca kalau iri," ucap Nadine ketus.


"Aku nggak maksud buat ikut campur apalagi iri sama kamu Nadine. Maksud aku ini kan kita mau ke Bandung ya mengunjungi Kakek dan Nenek, jadi lebih baik keluarga kita aja, nggak perlu ada orang lain lagi. Kecuali Farel itu sudah menjadi suami kamu," kata Keenan.


"Ya nggak masalah lah, Farel kan pacar aku," kara Nadine yang membuat Farel tersenyum mendengarnya.


Meskipun sebenarnya Farel merasa sedikit tidak nyaman melihat Keenan dan Nadine berdebat karena dirinya. Tetapi ia juga sudah tahu tentang hal itu dan akan mencoba untuk terbiasa dengan pertengkaran kecil antara kekasih dan kakaknya itu.


"Farel, kamu mau kan ikut?" Tanya Nadine


"Iya, kalau kamu mengizinkan aku ikut Nadine," jawab Farel.


"Sudahlah Keenan, kamu tidak usah mempermasalahkan hal ini lagi. Kamu dan Farel juga sudah akrab kan, kalian berdua bekerja sama. Farel juga nantinya akan menjadi adik ipar kamu," kata Nathan.


Keenan terdiam, ia tidak bisa lagi membantah apa yang sudah menjadi keputusan dari kedua orang tuanya dan juga Nadine. Sedangkan Kenzo dan Kenzie juga sudah tampak resah dan mengajak keluarganya itu untuk segera pergi.

__ADS_1


****


Kini mereka pun berangkat ke Bandung menggunakan dua mobil, Nathan, Dinda dengan anak kembar mereka ada di satu mobil. Sedangkan Keenan, Farel dan Nadine juga berada di satu mobil yang sama. Saat dalam perjalanan tiba-tiba saja Keenan membelokkan mobilnya ke suatu tempat, orang tua Keenan yang berada di belakang mobilnya itu pun mengikutinya dan merasa keheranan kemana Keenan hendak pergi terlebih dahulu.


"Kak Keenan, kita mau kemana?" Tanya Nadine.


"Kamu pikir aku akan diam aja gitu menjadi supir kalian," kata Keenan yang terlihat begitu kesal.


Nadine memutar bola mata malas, sebenarnya ia tidak mengerti akan masuk Keenan saat ini, tetapi ia pun memilih untuk diam saja. Nantinya juga dia pasti akan tahu apa yang dimaksud oleh kakaknya itu.


Keenan memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah berlantai 3. Di saat itu seorang wanita cantik, tinggi semampai dengan rambut panjang tergerai, menggunakan kaca mata hitam keluar dengan dari rumah tersebut dengan membawa koper.


"Bianca? Kak Keenan jadi kita jemput Bianca?" Tanya Nadine saat mengenali wanita tersebut.


"Ya tentu saja, tidak ada salahnya kan kalau aku ajak Bianca juga, toh dia juga pacar aku," kata Keenan.


Nadine tersenyum, meskipun di dalam hatinya ada perasaan lain yang tidak bisa dijelaskan. "Ya Benar, daripada Kakak menjadi obat nyamuk dan terus mengurusi masalah aku jadi lebih baik Kakak ajak pacar Kakak itu."


Setengah jam yang lalu, setelah memutuskan bahwa Farel akan ikut mereka, dengan cepat Keenan pun mengirim pesan WhatsApp untuk Bianca. Untungnya kekasihnya itu sedang tidak mempunyai jadwal pemotretan yang begitu penting sehingga ia pun langsung saja menyetujui saat Keenan mengajaknya untuk liburan ke Bandung. Menurut Bianca ini adalah kesempatan yang bagus untuknya lebih dekat dengan Keenan dan juga keluarganya. Tentu saja Keenan merencanakan ini semua agar ia tidak terus merasakan sakit hati melihat kedekatan adik bersama pacarnya itu.


"Keenan, ternyata kamu mengajak Bianca juga," ucap Dinda tersenyum.


"Iya Keenan, kamu ini diam-diam kasih kejutan ya untuk kita semua," ucap Nathan pula.


"Halo Om, Tante," sapa Bianca lalu menyalami kedua orang tua kekasihnya itu.


"Iya Ma, Pi, nggak salah kan kalau aku ajak pacar aku juga. Ya daripada aku jadi supir dan obat nyamuk juga kan di dalam mobil. Kebetulan kita lewat rumahnya Bianca, terus Bianca juga dua hari ini nggak ada jadwal pemotretan, jadi dia bisa ikut kita ke Bandung sekalian kenalan dengan Nenek dan Kakek," ucap Keenan


"Wah bagus dong, tentu saja Mama setuju. Ini benar-benar pertemuan keluarga yang tidak direncanakan sebelumnya," kata Dinda.


"Iya Papi juga senang karena anak-anak Papi ini sudah dewasa, pergi ke Bandung membawa calonnya masing-masing," kata Nathan.

__ADS_1


Berbeda halnya dengan Nadine, ia terlihat sangat tidak suka dengan keberadaan Bianca saat ini. Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh Keenan sedari tadi yang tidak menyukai keberadaan Farel.


Lalu mereka semua masuk ke dalam mobil kembali dan melanjutkan perjalanan menuju ke Bandung.


****


Tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar 2 jam lebih mereka pun telah tiba di kota Bandung. Kota yang begitu sejuk dan asri dengan dikelilingi oleh kebun teh. Terlebih lagi rumah kedua orang tua Dinda itu berada di antara perkebunan teh yang membuat Nadine, Keenan, Bianca, dan Farel begitu sangat senang menikmati pemandangannya. Berbeda dengan si kembar yang saat ini terlihat sedang tertidur pulas di dalam mobil. Kini mereka pun telah tiba di kediaman Santi dan Doni.


"Kenzie bangun, kita udah sampai nih," ucap Kenzo yang membangunkan saudara kembarnya itu.


Kenzie mengerjap-ngerjapkan matanya dan menyadari benar saja jika saat ini mereka telah tiba di tempat tujuannya.


"Assalamualaikum," ucap Nathan sembari mengetuk pintu rumah sang mertua mewakili keluarganya.


Mendengar suara itu, segera saja Santi membukakan pintu untuk mereka.


"Wa'alaikumsalam," jawab Santi yang begitu terkejut dan juga sangat senang melihat kehadiran anak, menantu dan cucu-cucunya itu.


Nathan dan Dinda pun segera menyalami tangan Santi dan memeluknya.


"Nenek," ucap Nadine yang kini menyalami dan langsung menghamburkan pelukan hangatnya di tubuh sang nenek.


Memang sejak bayi Nadine sudah begitu dekat dengan neneknya, hingga sampai saat ini ia juga merasakan hal yang sama.


Setelah Kenan, Kenzo dan Kenzie, kini giliran Bianca dan Farel yang menyalami tangan Santi.


"Kalian siapa?" Tanya Santi menunjuk ke arah Bianca dan Farel.


"Aku Farel Nek, aku pacarnya Nadine," ucap Farel memperkenalkan diri.


"Aku Bianca Nek, pacarnya Keenan," ucap Bianca pula.

__ADS_1


"Wah … kalian ini, sudah datangnya tidak mengabari Nenek dulu, lalu kalian membawa calon kalian masing-masing. Nenek benar-benar merasa diberi kejutan," ucap Santi tersenyum bahagia. "Ya sudah ayo semuanya masuk," ajak Santi, lalu mereka semua masuk ke dalam rumah.


Bersambung …


__ADS_2