
"Ma, aku kangen deh sama Nenek dan Kakek. Besok aku mau ke sana ya Ma," ucap Nadine meminta izin kepada ibunya.
"Ya boleh dong, Mama juga merindukan Nenek dan Kakek kalian. Bagaimana kalau besok kita pergi sama-sama aja ya dengan Papi, Keenan dan adik kembar kalian," usul Dinda.
"Ide Bagus Ma, malah itu lebih seru," ucap Nadine menyetujui.
Saat ini ibu dan anak perempuannya itu sedang mengobrol di ruang keluarga. Nathan yang kebetulan baru saja pulang dari kantor dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka segera saja menghampiri.
"Sepertinya Papi mendengar kalian berdua menyebut Kakek dan Nenek," ucap Nathan
"Iya Pi, jadi aku tuh bilang sama Mama kalau aku kangen banget sama Nenek dan Kakek, jadi aku minta izin mau ke sana besok. Tapi kata Mama, Mama mau ikut, biar sekalian aja kita ke sananya sama-sama. Sama Papi, Kak Keenan, Kenzo dan Kenzie," kata Nadine.
"Oh ya? Ide bagus tuh, besok juga kan hari libur. Kita semua akan pergi liburan ke Bandung," kata Nathan.
"Oke Pi, tapi Kak Keenan gimana tuh. Kira-kira dia mau ikut nggak ke Bandung?" Tanya Nadine.
"Nanti kita tanyakan saja langsung. Kalau menurut Mama sih, pasti Keenan mau lah, dia juga pasti merindukan Nenek dan Kakek," kata Dinda.
Saat ini, Santi dan Doni yang merupakan orang tua Dinda sudah tidak lagi tinggal di Jakarta. Mereka memilih menghabiskan waktu tua mereka pindah ke kota Bandung yang udaranya begitu sejuk, kebetulan di sana orang tua Dinda juga masih memiliki keluarga yang dekat dengan mereka.
Sedangkan Cynthia dan Frans yang merupakan orang tua Nathan sudah berada di luar negeri karena Frans yang sakit keras selama dua tahun terakhir ini dan harus dioperasi di sana, sehingga Cynthia pun memutuskan untuk tinggal di sana dengan kekayaan mereka dari perusahaan yang ada di luar negeri dan dikelola oleh orang kepercayaannya.
Saat mereka sedang berbincang, terlihat Keenan yang baru saja pulang ke rumah dan menghampiri mereka.
"Ada apa nih? Kok semuanya pada kumpul di sini?" Tanya Keenan.
"Nggak semuanya juga kali Kak, si kembar nggak ada tuh," kata Nadine.
"Ya Kenzo dan Kenzie nggak penting lah, mereka itu kan anak kecil yang taunya hanya main, makan, belajar, itu aja. Nggak seharusnya juga mereka mencampuri urusan orang tua," kata Keenan.
__ADS_1
"Keenan, kamu ini bicara apa sih. Kedua adik kembar kamu itu bukan anak kecil lagi, mereka berdua sudah besar," kata Nathan.
"Memang kenyataannya mereka masih kecil Pi, mereka itu masih sekolah," kata Keenan sehingga Nathan pun memilih untuk diam, daripada harus berdebat dengan anaknya itu. Sudah pasti ia tidak akan pernah menang.
"Keenan, jadi Nadine tadi mengatakan kalau dia merindukan Nenek dan Kakek. Jadi rencananya besok Mama, Papi dan adik-adik kamu akan pergi ke Bandung untuk mengunjungi mereka. Apa kamu mau ikut?" Tanya Nathan.
"Ke Bandung? Tapi sebenarnya besok pagi aku ada meeting sih, karena siang harinya klien aku itu harus kembali ke luar negeri. Jadi beliau minta untuk bertemu pagi, meskipun hari libur," kata Keenan.
"Oh ya sudah, kalau begitu Kakak nggak usah ikut aja. Biar aku, Mama, Papi, Kenzo dan kenzie yang mengunjungi Nenek dan Kakek. Kakak tenang aja, nanti aku sampaikan kok salam Kakak buat mereka," kata Nadine, padahal di dalam lubuk hatinya ia sangat ingin Keenan bisa ikut ke Bandung.
"Eh siapa yang bilang aku nggak ikut. Masalah meeting ini aku bisa kok meminta Bisma yang menghandlenya," kata Keenan.
"Ya tidak bisa seperti itu lah Keenan. Bukankah kamu katakan ini meeting penting dan klien kamu itu akan kembali ke luar negeri siang harinya? Itu artinya beliau sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan kamu, tapi kenapa kamu malah menyerahkannya kepada Bisma. Kamu mau melepaskan tanggung jawab kamu begitu saja," Ucap Nathan yang perkataanya itu mampu menyentuh ke dalam hati Keenan.
"Tidak seperti itu juga Pi. Tapi kan menjenguk Nenek dan Kakek juga penting Pi, masa iya aku harus lebih mementingkan meeting daripada menjenguk keluarga sendiri. Aku juga merindukan mereka," ucap Keenan.
"Iya Papi tahu, tapi juga tidak mengorbankan pekerjaan kamu. Papi tahu kalau kamu bukan orang yang seperti itu," kata Nathan.
"Ya sudah kalau begitu, besok pagi kamu meeting saja terlebih dahulu, kami akan menunggu kamu, setelah kamu selesai meeting baru kita akan pergi ke Bandung," Kata Nathan mencari solusinya.
Kini mereka semua pun menyetujuinya dengan apa yang baru saja Nathan putuskan. Nadine sangat senang, ia sudah tidak sabar lagi ingin pergi ke Bandung esok hari untuk bertemu dengan nenek dan kakeknya itu.
****
Keesokan hari di saat Nadine dan keluarganya baru saja melangkahkan kaki keluar dari rumah dan hendak memasukkan barang bawaan ke dalam mobil, di saat itu mereka melihat mobil Farel yang baru saja tiba di depan rumah.
"Pagi Om, Tante, Nadine dan si kembar. Loh kalian mau mudik ya?" Tanya Farel yang melihat keluarga itu membawa barang yang cukup banyak berupa koper dan juga oleh-oleh.
"Pagi Kak," balas si kembar.
__ADS_1
"Pagi," balas Dinda dan Nathan hampir bersamaan.
"Pagi juga Rel, kok kamu nggak bilang-bilang mau datang," kata Nadine.
"Maaf Dien, aku kira karena ini hari libur jadi kamu berada di rumah. Maka itu aku tidak mengabari kamu dulu," ucap Farel.
"Nak Farel, memangnya Nadine tidak bilang ke kamu ya kalau kita mau pergi?" Tanya Dinda.
"Nggak Tante, maka itu aku ke sini," jawab Farel.
"Nadine, kamu ini bagaimana sih. Masa mau pergi jauh seperti ini malah tidak mengabari Farel," ucap Dinda.
"He … he … he … aku lupa Ma. Tadi malam sih aku chat-chatan ya sama Farel, tapi aku benar-benar lupa mau kasih tahu kalau hari ini kita mau pergi ke Bandung," ucap Nadine.
"Ke Bandung? Jadi kalian mau pergi ke Bandung?" Tanya Farel.
"Iya Farel, kalau kamu tidak ada kegiatan bagaimana kalau kamu ikut kita saja kami ke Bandung? Hanya menginap satu malam saja kok. Kita mau mengunjungi Kakek dan Nenek Nadine, kamu bisa sekalian berkenalan dengan mereka," tawar Nathan.
"Nah ide bagus tuh, Mama juga tidak keberatan kok kalau Farel mau ikut. Kamu juga tidak keberatan kan Nadine?" Kata Dinda.
Nadine tersentak, bagaimana bisa kedua orang tuanya itu begitu percaya dan menyukai Farel sehingga mengajaknya pergi ke Bandung menemui nenek dan kakeknya. Begitu juga Farel yang masih belum menjawab apapun, ia masih menunggu keputusan dari sang kekasih apakah memperbolehkannya atau tidak. Akan tetapi ia cukup senang karena kedua orang tau Nadine begitu care dengannya.
Disaat yang bersamaan, Keenan yang baru saja pulang dari kantor sangat terkejut melihat kehadiran Farel di tengah-tengah mereka.
"Maaf aku terlambat, kita sudah mau berangkat kan, lalu kenapa ada Farel di sini?" Tanya Nathan yang terlihat tidak suka.
"Oh jadi begini Nathan, Farel ini tadi datang ke sini, tidak tahu jika kita mau pergi. Jadi Papi ajak saja sekalian ke Bandung untuk berkenalan dengan Nenek dan Kakek kalian," kata Nathan.
"Apa? Kenapa Papi mengajak orang lain, cukup keluarga kita saja Pi," kata Nathan menatap Farel dengan tajam.
__ADS_1
Bersambung …