
Semakin Nathan mendekati Clara, semakin membuat wanita itu pun merasa bergidik. Tatapan Nathan yang begitu tajam seperti harimau lapar yang ingin menerkam mangsanya, mengingatkannya saat dulu ia masih berumah tangga dengan pria tersebut. Saat Nathan begitu murka karena sikap buruk yang ia lakukan. Dan kali ini tatapan tajam itu tidak hanya dari Nathan, tetapi anaknya juga yang membuat Clara pun menjadi serba salah, tidak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi mereka.
"Nathan, bagaimana kabar kamu? Selain Keenan, ternyata kamu juga menyusul datang ke sini, benar-benar menjadi kejutan untukku," ucap Clara seolah tak terjadi apa-apa.
"Jangan berbasa-basi Clara, aku sudah mendengar semuanya tadi. Jadi ternyata kau yang sudah mengancam akan mencelakai istriku," hardik Nathan. "Dan tentang teroran itu, teror apa maksudnya Keenan? Kenapa kamu tidak cerita kepada Papi?" Tanya Nathan kepada anaknya pula.
"Maaf Pi, karena aku juga baru menemukan bukti-bukti itu tadi malam, lebih tepatnya Kenzo yang menemukannya di gudang. Maka itu aku langsung datang ke sini setelah aku tahu dari Bisma tentang sesuatu," ucap Keenan.
"Jadi Mama kamu juga diteror sama perempuan ini?" Tanya Nathan.
"Iya Pi, aku yakin memang Ibu ini yang sudah mengancam Mama," jawab Keenan.
"Kalian berdua ini bicara apa? Apa yang sebenarnya sedang terjadi, kenapa kalian malah datang ke sini marah-marah dan menuduhku seperti itu? Aku sama sekali tidak mengerti," bantah Clara.
"Kau dari dulu memang tidak pernah berubah Clara. Masih saja bersikap jahat padahal umurmu sudah tidak muda lagi, benar-benar keterlaluan! Bukan hanya Keenan yang akan memberikan kamu perhitungan, tetapi aku juga. Jika kau benar-benar berani menyentuh istriku atau semua keluargaku, lihat saja apa yang aku lakukan terhadapmu!" Ancam Nathan.
"Aku harap Anda mengerti kata-kata itu Bu," sambung Keenan. "Ayo Pi lebih baik sekarang kita pergi saja dari sini, hanya buang-buang waktu saja." Keenan menarik tangan ayahnya itu dan segera keluar dari ruangan Clara.
"Keenan, Nathan, tunggu! Kalian tidak bisa memperlakukanku seperti ini, kalian berdua sama-sama telah membenciku dan lebih membela wanita itu. Lihat saja aku tidak akan tinggal diam!" Teriak Clara.
Nathan menghentikan langkahnya, ia yang sangat geram itu pun kembali membalikan badannya dan mendekati Clara, lalu mendorong tubuh mantan istrinya itu hingga menyentuh dinding dan mencekik lehernya.
"Aku tidak pernah mengusik hidupmu selama ini. Tapi jika kau berani menyentuh istriku bahkan seujung jari pun, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu," ucap Nathan yang menatapnya semakin tajam, bahkan lebih tajam dari pisau yang baru diasah.
Keenan sangat terkejut melihat ayahnya yang selama ini tidak pernah semarah itu, kali ini terlihat begitu murka.
"Papi, sudah Pi. Ayo sekarang kita pergi saja," ajak Keenan seperti ada sedikit rasa kasihan, bagaimanapun juga Clara adalah ibu kandungnya.
Lalu Nathan pun melepaskan cekikannya itu dan segera pergi bersama dengan anaknya.
Wajah Clara memerah, ia juga mengepal erat kedua tangannya menahan amarah karena sikap Nathan terhadapnya, ada juga sedikit rasa sedih karena Keenan sama sekali tak menghargainya lagi sebagai ibu kandung. Keenan malah memanggilnya dengan sebutan ibu, seperti orang asing dan lebih membangga-banggakan Dinda sebagai mamanya.
"Nathan, Keenan aku akan selalu mengingat apa yang telah kalian lakukan hari ini padaku. Aku tidak akan pernah lupa dan aku pasti akan membalas perbuatan kalian ini. Ya kalau tidak lewat Dinda, minimal lewat Nadine lah atau anak kembar kalian itu," gumam Clara tersenyum smirk.
Setelah melihat pria paruh baya dan pria muda keluar dari ruangan Direktur Utama, Amanda pun segera saja masuk ke dalam ruangan tersebut untuk memastikan keadaan tuannya saat tadi ia mendengar keributan di dalam sana.
__ADS_1
"Nyonya, apa Nyonya baik-baik saja?" Tanya Amanda mendekati Clara.
"Baik-baik saja bagaimana? Kamu tidak lihat tadi bagaimana Keenan begitu murka terhadap saya, ditambah lagi Nathan juga datang menambah suasana menjadi runyam dan juga ikut marah terhadap saya," jawab Clara.
"Jadi itu tadi Tuan Nathan mantan suami Nyonya Clara, pantas saja dia juga tampan sama seperti Keenan meskipun Tuan Nathan sudah berumur," batin Amanda yang masih sempat-sempatnya memperhatikan ketampanan ayah dan anak itu. "Maaf Nyonya, kenapa mereka bisa semarah itu terhadap nyonya?" Tanyanya.
"Sudah jelas ini gara-gara mereka membela wanita itu. Lihat saja aku tidak akan tinggal diam. Lalu untuk apa kamu ke sini? Memangnya kamu sedang tidak ada pekerjaan?" Tanya Clara ketus.
"Pekerjaan saya kan ada di dalam ruangan ini Nyonya. Tadi saya keluar karena tidak mau mengganggu Nyonya dan Tuan Keenan berbicara," ucap Amanda.
"Kenapa kamu tidak membawa pekerjaan kamu itu ke ruangan kamu saja Amanda, kamu ini sepertinya benar-benar ingin tahu masalah pribadi saya ya. Ingat Amanda apa status kamu, kamu tidak perlu tahu atau ikut campur," ucap Clara yang rasanya menusuk hingga menembus ke jantung Amanda.
"Baik Nyonya, saya akan segera keluar sekarang," ucap Amanda tanpa banyak berbicara lagi. Lalu ia pun mengambil berkas-berkas yang tadi ia kerjakan bersama Clara dan membawa keruangannya.
Meskipun sangat kesal mendengar tudingan yang Clara ucapkan tadi, akan tetapi Amanda mencoba mengerti jika saat ini perasaan nyonyanya itu sedang tidak baik. Sehingga ia pun lebih memilih untuk menjauh daripada nanti ia yang akan menjadi sasaran kemarahannya lagi.
****
Karena membawa mobil masing-masing dan tidak dapat berbicara berdua, Keenan dan Nathan pun kembali ke Perusahaan Collin Group dan saat ini sudah berada di ruangan presdir.
"Maafkan aku Pi, tadinya aku hanya ingin memastikan saja dulu apakah benar itu perbuatan Mami. Dan ternyata benar semua ada sangkut pautnya dengan masalah aku. Bianca juga yang bekerja di perusahaan itu, semua saling berhubungan Pi," ucap Keenan yang menceritakan apa yang ia maksud dengan semuanya berhubungan, tetapi tidak dengan masalahnya dan Nadine.
"Papi juga minta maaf karena Papi terlalu emosi kalau sudah menyangkut soal keluarga kita, terutama Mama kalian. Lalu Bagaimana perasaan kamu sekarang setelah mengetahui sifat Mami kamu yang begitu buruk?" Tanya Keenan yang kini berbicara lembut kepada anaknya.
"Iya Pi, Papi tidak salah kok. Justru aku yang salah karena memang tidak memberitahukan langsung kepada Papi. Karena kita bingung bagaimana caranya menyampaikan kepada Papi, sedangkan Papi selalu bersama dengan Mama. Bahkan untuk menghubungi Papi lewat telepon pun kami takut jika Mama yang menjawab atau membaca pesan jika kita mengirimnya. Sehingga aku pun memutuskan untuk mencari tahu dulu kebenarannya. Masalah perasaan aku sekarang, jujur aku sangat kecewa terhadap sikap Mami aku Pi. Bahkan pertama kali bertemu saja dia sudah membuat aku kecewa," ucap Keenan yang juga menceritakan kejadian tadi malam.
"Iya, Papi mengerti. Jadi ini penyebabnya kenapa Mama kalian kemarin diam dan tampak ketakutan. Lalu dimana surat dan boneka teror itu?" Tanya Nathan.
"Ada di kamar aku Pi, aku sengaja menyimpannya di sana," jawab Nathan.
Tok … tok … tok …
Seseorang mengetuk pintu ruangan presdir dan langsung saja masuk ke dalam.
"Maaf Tuan Keenan, Tuan Nathan, saya mengganggu. Saya hanya ingin menyampaikan jika 1 jam lagi ada meeting di luar bersama dengan klien dari perusahaan A," ucap Bisma.
__ADS_1
"Iya, terimakasih Bisma," jawab Keenan.
"Sama-sama Tuan," jawab Bisma lalu segera saja keluar dari ruangan itu.
"Ya sudah Keenan, kamu bekerja saja dengan baik. Kamu tenang saja, masalah ini pasti akan Papi selesaikan segera. Papi pastikan keluarga kita tidak akan ada yang tersakiti karena ulah Mami kamu itu. Papi harap kamu bisa menenangkan perasaan kamu, jangan terlalu terbawa emosi atau terpikir terus dengan masalah ini," ucap Nathan yang tahu jika anaknya saat ini pasti sedang merasa kecewa terhadap ibunya sendiri.
"Iya Pi, aku akan berusaha untuk tetap fokus dengan pekerjaan aku. Apalagi Papi juga sudah tahu masalah ini, aku percaya Papi lebih handal untuk menyelesaikan masalah ini daripada aku," ucap Keenan.
"Jangan terlalu memuji Papi, Keenan. Justru kamu itu sekarang lebih hebat daripada Papi," puji Nathan.
"Terimakasih Pi, kan keturunan Papi," ucap Keenan.
"Kamu nih bisa saja," ucap Nathan yang merangkul anak laki-lakinya itu sebentar, hingga pada akhirnya ia pergi meninggalkan perusahaan.
****
Setelah lama tidak bertemu dan setelah kejadian di saat Farel dan Bianca dijebak, kini Farel pun memberanikan diri untuk menemui Nadine lagi di butiknya. Seakan tidak punya malu, ia menganggap tidak pernah terjadi apapun saat ini.
Nadine sendiri sangat terkejut saat melihat Farel yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya, padahal saat ini ia sedang sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang sedang menghampirinya.
"Nadine, boleh aku berbicara sebentar dengan kamu?" Tanya Farel.
"Kamu mau bicara soal apa lagi Rel? Kita sudah tidak ada urusan apapun lagi," ucap Nadine ketus dan tetap asik dengan pekerjaannya.
"Kamu jangan mencoba menghindariku ya Nadine, kamu pikir aku tidak tahu apa yang sudah kamu dan Kakak kamu lakukan, kalian menjebak aku dan Bianca pada malam itu," ucap Farel.
"Lalu kamu pikir aku juga tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan dengan Bianca untuk menjebak aku dan Kak Keenan," ucap Nadine membalikkan fakta itu.
"Tapi kalian berdua berhasil lolos kan, tidak dengan aku dan Bianca hingga kami melakukannya," ucap Farel keceplosan.
"Maksudnya? Memang apa yang sudah kamu dan Bianca lakukan?" Tanya Nadine pura-pura tidak tahu.
Farel terdiam, ia bingung harus mengatakan apa saat ini kepada Nadine. Harus jujur tentang apa yang sudah ia lakukan bersama Bianca atau diam saja.
Bersambung …
__ADS_1