Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Tawaran Yang Baik


__ADS_3

Merasa kesal karena tidak diladeni oleh sang kekasih, Bianca pun pergi begitu saja meninggalkan Perusahaan Collin Group tanpa Keenan sadari. Ia begitu sangat marah karena Keenan sama sekali tidak menghargai kedatangannya, padahal ia sudah menyempatkan waktu untuk menemui sang kekasih di tengah-tengah kesibukannya.


Drt … drt … drt …


Di saat itu pula ponsel Bianca bergetar ada panggilan masuk dari Siska.


"Ada apa sih Siska?" Tanya Bianca dengan ketus saat menjawab telepon tersebut, ia masih terbawa emosi karena sikap Keenan yang acuh tak acuh padanya.


"Maaf Nona, Anda ada dimana? Pemotretan akan segera dimulai. Tuan Reno juga sudah menanyakan keberadaan Anda dari tadi, saya harus mengatakan apa lagi?" Tanya Siska.


"Aduh … aku lupa lagi. Ini semua gara-gara Keenan," gerutu Clara.


"Halo Nona Bianca, Anda bicara apa?" Tanya Siska.


"Tidak apa ada apa-apa. Sudahlah kamu tunggu saja di situ, sebentar lagi aku akan datang. Katakan saja pada Tuan Reno sebentar lagi aku pasti akan tiba di sana, 10 menit," kata Bianca.


"Oke, baik Nona. Hati-hati," ucap Siska.


"Iya," jawab Bianca singkat lalu mengakhiri telepon tersebut.


Segera saja ia melajukan mobil menuju ke lokasi pemotretannya.


****


Setibanya di Hotel Laguna, tampak semua telah menunggunya. Terpancar raut wajah amarah dan tatapan tajam dari Reno yang membuat Bianca bergidik. Perlahan Bianca pun mendekati bos-nya itu dan bersiap menebalkan telinga dan juga hatinya, karena sudah pasti ia akan diomeli habis-habisan oleh Reno.


"Tuan, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf karena tadi aku ada urusan, aku juga tidak tahu kalau urusanku akan selama ini, karena tadinya aku pikir hanya sebentar. Tapi-" ucapan Bianca terputus.


"Sudah, stop! Kamu tidak perlu lagi banyak bicara. Kamu ini benar-benar keterlaluan ya Bianca. Kamu telah mengabaikan pekerjaan begitu saja, kamu lebih mementingkan urusan pribadi kamu daripada pekerjaan kamu, Bianca," ucap Reno memotong ucapan Bianca begitu saja.


"Iya aku tahu kalau aku salah Tuan. Tapi, apakah sering aku datang terlambat seperti ini, apakah aku selalu mengecewakan Tuan kalau bukan hanya karena ada hal yang benar-benar penting. Aku benar-benar minta maaf, aku sudah lama bekerja dengan Tuan Reno dan seingatku baru dua kali aku terlambat datang ke lokasi pemotretan. Pertama ada halangan di jalan karena ban mobil kempes dan yang kedua sekarang ini, aku benar-benar minta maaf. Aku selalu berusaha yang terbaik," ucap Bianca, lalu ia pun tertunduk karena merasa sangat bersalah, di dalam hatinya terus saja mengumpat dan menyalahkan ini semua karena Keenan penyebabnya.


"Kamu tidak perlu merasa sedih seperti itu Bi. Aku memaafkan kamu karena Nyonya Clara menghubungi aku, dia mengatakan mau bekerja sama dengan perusahaan kita dan mau mengontrak kamu sebagai modelnya," kata Reno.


Ucapan Reno itu membuat Bianca pun mendongakkan kepalanya menatap bos-nya itu dengan tatapan tidak percaya.


"Apa Tuan? Ini serius?" Tanya Bianca yang tidak mempercayainya, wajahnya yang tadi tampak murung pun kini berubah menjadi ceria.

__ADS_1


"Tentu saja Bianca, baru saja Nyonya Clara mengabariku. Katanya sewaktu itu Nyonya Clara hanya ingin menguji saja bagaimana reaksi kamu saat di tolak, dan di situ Nyonya Clara tahu bahwa kamu benar-benar serius ingin mencobanya lagi. Sebenarnya Nyonya Clara sangat menyukai foto-foto kamu yang sudah dilihatnya. Beliau mengerti kenapa waktu itu kamu bisa seperti itu karena saya juga sudah menjelaskannya kepada Nyonya Clara bahwa kamu sedang tidak fit. Jadi Nyonya Clara akan memberikan kesempatan untuk kamu. Kamu tidak perlu menunjukkannya lagi, tapi beliau meminta kita untuk datang ke perusahaannya besok untuk membicarakan kerja sama," kata Reno.


"Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya Tuan. Terimakasih banyak. Aku janji aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," ucap Bianca yang begitu antusias.


"Ya tentu saja kamu tidak boleh menyia-nyiakannya, tunjukkan performa terbaik kamu, jangan membuat Nyonya Clara kecewa. Dan sekarang ini cepat kamu lakukan pemotretan, sejujurnya kamu belum terlambat Bianca. Karena tadi aku juga ada halangan di jalan, aku baru saja tiba di sini," kata Reno.


"Baik Tuan, terimakasih banyak," ucap Bianca.


Ia seperti mendapatkan durian runtuh setelah mendapatkan kesialan di dalam hidupnya. Lalu langsung saja Bianca masuk ke ruang pemotretan untuk melakukan sesi pemotretannya itu.


Akhirnya karena mendapatkan tawaran yang baik dari Clara, membuat Bianca pun melupakan kekesalannya pada sang kekasih dan ia juga dapat melakukan sesi pemotretan ini dengan sangat baik. Tanpa Bianca sadari ternyata Clara juga memperhatikannya dari jauh.


****


Sementara itu Keenan masih saja uring-uringan karena merasa kesal dengan sosok misterius yang dianggapnya telah mempermainkannya itu.


"Bi, maaf. Tadi aku-" Keenan menoleh dan ucapannya terhenti karena ia sudah tak lagi melihat kekasihnya itu.


"Dimana Bianca?" Gumam Keenan.


Lalu Keenan pun mencari keluar ruangannya tetapi tidak menemukan wanita itu. Ia juga beberapa kali mencoba menghubungi Bianca tetapi tidak ada jawabannya.


"Halo Tuan Keenan," ucap Siska dari seberang telepon. Karena Siska sudah mengenal Keenan sebagai kekasih dari bos-nya itu.


"Siska, dimana Bianca? Apa dia sudah kembali?" Tanya Keenan dengan suara yang tampak tergesa-gesa.


"Tentu saja sudah Tuan, saat ini Nona Bianca sedang melakukan sesi pemotretan di Hotel Laguna, maka itu ponselnya ada sama saya," jelas Siska.


"Oh … jadi ternyata tadi Bianca buru-buru meninggalkan perusahaanku karena dia ada jadwal pemotretan?" Tanya Keenan.


"Oh … jadi Nona Bianca tadi ke perusahaan Tuan Keenan? Pantas aja Nona Bianca begitu kekeh ingin keluar, padahal jadwal pemotretannya sudah di ujung waktu. Ya untungnya meskipun Nona Bianca terlambat, tetapi Tuan Reno tidak marah, bahkan tadi Nona Bianca mendapatkan tawaran baik untuk menjadi model go international dari perusahaan baru," jelas Siska dan balik bertanya.


"Iya, tadi memang Bianca datang ke sini ada yang dibicarakan denganku. Tapi aku tidak tahu jika Bianca ternyata menyempatkan waktu di sela-sela pemotretannya hanya untuk menemuiku. Tapi syukurlah, aku ikut senang jika Bianca mendapatkan tawaran baik. Ya sudah kalau begitu nanti katakan saja ke Bianca, suruh dia menghubungiku jika pemotretannya sudah selesai," ucap Keenan.


"Iya Tuan, baik. Nanti akan saya sampaikan," jawab Siska.


"Terima kasih ya Siska," ucap Keenan.

__ADS_1


"Sama-sama Tuan," jawab Siska.


Lalu Keenan pun mengakhiri telepon tersebut.


"Aku jadi merasa bersalah, karena tadi Bianca sudah menyempatkan di sela-sela waktu pemotretannya untuk menemuiku dan berbicara masalah kita, tapi aku malah sibuk sendiri. Pasti Bianca merasa tertekan dan kesal karena sikap cuek acuh tak acuhku terhadapnya. Kasihan Bianca, aku tidak bisa seperti ini terus. Lagipula Bianca juga kan harus fokus terhadap pekerjaannya, mana bisa dia fokus kalau aku terus saja membuat masalah dalam hubungan ini? Pasti konsentrasi Bianca akan terganggu. Atau lebih baik aku akhiri saja ya hubungan ini dengan Bianca," gumam Keenan.


Tok … tok … tok …


Keenan mengetuk pintu kamar Nadine.


Nadine yang saat itu sedang mendengarkan musik menggunakan earphone, sehingga ia tidak mendengar ketukan pintu tersebut.


"Nadine … kamu sudah tidur?" Tanya Keenan diiringi ketukan pintu yang berulang kali.


Akan tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda adiknya itu akan datang membukakan pintu untuknya.


Akhirnya Keenan pun mencoba membuka pintu kamar Nadine yang ternyata saat itu tidak dikunci. Saat itu Keenan melihat Nadine yang tengah asik mendengarkan musik dengan arah membelakanginya. Keenan pun memilih untuk masuk ke dalam ruangan tersebut dan berniat akan mengganggu adiknya itu tanpa Nadine ketahui secara diam-diam, lalu menyentuh bahu Nadine.


"Akh … !" Teriak Nadine saat melihat ke arah belakang. Ia begitu syok karena melihat Keenan yang saat itu menggunakan topeng.


Keenan begitu puas dan tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi adiknya itu. Nadine pun segera saja melepaskan earphone yang dipakainya dan menatap Keenan yang saat itu sudah membuka topengnya dengan sorotan mata tajam.


"Kak Keenan apa-apaan sih. Nggak lucu tahu nggak," ucap Nadine yang begitu kesal.


"Hem maaf deh maaf. Habis kamu dipanggil, diketuk pintunya dari tadi tapi nggak dijawab-jawab. Eh ternyata lagi asik mendengarkan musik. Jiwa keisenganku kan jadi meronta-ronta untuk mengganggu kamu," kata Keenan.


"Kak Keenan memang sudah terkenal paling iseng. Nggak bisa sehari aja kalau nggak mengganggu aku," kata Nadine.


"Memang nggak bisa. Tapi aku minta maaf ya. Kamu sih, aku kan mau cerita sama kamu, mau curhat," ucap Keenan.


"Tapi nggak gitu juga dong Kak caranya, nggak perlu harus pakai topeng-topeng segala. Kalau aku punya penyakit jantung gimana? Pasti aku sudah mati terkapar di sini gara-gara kamu mengagetkan aku," protes Nadine.


"Iya, sorry. Aku nggak akan melakukan hal itu lagi kok. Kalau begitu boleh kan aku curhat sama kamu," kata Keenan.


"Iyalah Kak boleh, kapan juga aku melarang kamu buat curhat sama aku. Ya sudah duduk sini dulu curhatnya," ajak Nadine.


Lalu mereka berdua pun segera saja duduk di sofa yang ada di dalam kamar Nadine.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2