
Entah kenapa Nadine merasa cemburu mendengar kakaknya akan bertemu dengan wanita yang pernah dijodohkan dengannya saat itu. Nadine segera saja bersiap-siap ingin pergi ke sebuah tempat yang diyakini jika Keenan pasti mengajak wanita tersebut bertemu di sana, karena Nadine tahu betul bagaimana sifat Keenan.
"Nadine, kamu mau kemana Sayang?" Tanya Nathan saat melihat anaknya itu sudah bersiap-siap dan akan pergi.
"Papi, aku mau pergi sebentar Pi. Mau ketemu sama teman sebentar," jawab Nadine.
"Oh … tapi kenapa kamu buru-buru seperti itu? Kamu hati-hati dong Sayang, jangan sampai terburu-buru seperti itu jalannya, hampir aja kamu tersungkur," kata Nathan.
"Iya Pi, soalnya teman aku udah nungguin. Mama mana Pi?" Tanya Nadine.
"Mama kamu tadi ke toilet," jawab Nathan.
"Ya udah kalau gitu tolong bilang ke Mama ya Pi kalau Nadine pergi. Bye Pi," ucap Nadine.
"Hati-hati ya Sayang," pesan Keenan.
"Oke Pa," jawab Nadine, lalu ia pun segera saja pergi meninggalkan rumah.
****
Kini Nadine sedang berada di sebuah cafe, benar saja jika Keenan saat ini sedang bertemu dengan Bianca di cafe tersebut. Kakaknya itu memang tidak terlalu menyukai tempat-tempat yang terlalu terkesan romantis seperti pria lain yang mengajak pasangannya, seperti ke restoran, taman atau sebagainya. Keenan lebih suka mengajak bertemu seseorang di cafe, karena menurutnya tempat itu lebih santai jika ingin mengobrol bersama.
"Terimakasih ya Bianca, karena kamu sudah mau menemui aku di sini," ucap Keenan.
"Ya sama-sama. Meskipun Sebenarnya aku agak sedikit terkejut ya karena kamu tiba-tiba mengajak aku bertemu dan di sini," kata Bianca yang terlihat tidak terlalu menyukai tempat ini.
"Iya, memang kenapa? Kamu tidak suka ya kalau aku ajak kamu bertemu di sini. Karena menurut aku tempat ini lebih santai," kata Keenan.
"Suka, aku suka kok. Aku nyaman aja kok berada di sini, asalkan bersama kamu. Tapi ngomong-ngomong, kamu ada apa tiba-tiba ajak aku ke sini?" Tanya Bianca.
__ADS_1
"Oh iya, jadi sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama kamu," Kata Keenan yang agak ragu, tetapi ia harus mengatakan hal ini sesuai dengan rencananya.
"Kamu mau bicara apa Keenan?" Tanya Bianca.
Wanita yang sedang berada di depan Keenan ini memanglah wanita yang sangat cantik, pantas saja ia menjadi seorang model terkenal yang sangat dikagumi oleh banyak orang. Bianca adalah wanita yang berpendidikan dan juga anak dari seorang pengusaha yang kaya raya, kekayaan keluarganya itu satu level ada di bawah kekayaan orang tua Kenan. Banyak juga pria yang selama ini berlomba-lomba untuk mendapatkan hati Bianca, tetapi karena Bianca yang selalu memandang pria dari status, fisik, bebet maupun bobot itupun membuat para pria tidak ada yang berhasil mendapatkan hatinya. Akan tetapi memang semenjak ia dikenalkan serta dijodohkan dengan Keenan, Bianca sudah begitu tertarik dengannya. Karena selain tampan, Keenan merupakan seorang presdir muda dan selevel dengannya, tentu saja Bianca tidak akan menolaknya. Tetapi karena saat itu Keenan menolak untuk dijodohkan dengannya, ia sengaja mengalah untuk sementara sambil mencari cara bagaimana untuk mendapatkan cinta Keenan. Tetapi tiba-tiba saja Keenan mengajaknya untuk bertemu di sini, menurut Bianca ini adalah kesempatan yang begitu bagus untuknya.
"Kamu mau bicara apa Keenan?" Tanya Bianca sekali lagi saat Keenan terlihat diam membisu tampak memikirkan sesuatu.
"Oh ya maaf Bianca, jadi aku mau bicara tentang perjodohan kita waktu itu. Apa kamu mau melanjutkannya?" Tanya Keenan.
Bianca membelalakkan matanya, ia ingin memastikan jika apa yang didengarnya tadi tidak salah. "Kamu tidak salah ngomong kan?" Tanyanya.
"Ya, aku tidak salah ngomong. Aku benar-benar bertanya, apa kamu mau melanjutkan perjodohan kita waktu ini. Bahkan saat itu kita belum sempat bertemu juga kan? Kalau kamu mau, aku juga bersedia Bianca. Tetapi kita coba dulu untuk menjalin hubungan, kita coba dulu untuk dekat, seandainya nanti kita memang cocok, barulah kita akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi. Bagaimana?" ucap Keenan.
Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Bianca mengangguk pertanda ia menyetujuinya, lalu dengan sangat agresif ia pun memegang kedua tangan Keenan dan tersenyum. Dengan sangat terpaksa Keenan juga membalas pegangan tangan tersebut serta membalas senyumannya.
"Aku harus bisa, aku harus bisa menerima Bianca di dalam hati aku supaya aku bisa melupakan Nadine. Ya, kamu pasti bisa Keenan," ucap Keenan dalam hati yang meyakinkan hatinya.
Nadine sedih karena ternyata Keenan benar-benar mulai membuka hatinya dan berhubungan dengan wanita lain. Tapi kenapa perasaan Nadine harus terasa sakit? Kenapa ia tidak rela jika kakaknya berpacaran? Padahal itu adalah sesuatu yang wajar, seharusnya sebagai seorang adik Nadine mendukung Keenan bukan malah bersikap yang tidak wajar seperti ini. Nadine benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri, ia tidak ingin melihat Keenan dan Bianca berlama-lama sehingga Nadine pun memutuskan untuk keluar dari cafe tersebut.
****
Bruk …
Tiba-tiba Nadine menabrak seseorang saat berada di depan cafe karena ia tidak fokus memperhatikan jalannya itu.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Nadine.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya seorang pria yang saat ini berdiri di depan Nadine.
__ADS_1
Nadine pun mendongakkan wajahnya melihat ke arah pria tersebut.
"Tidak, aku tidak apa-apa kok. Kamu sendiri tidak kenapa-napa kan?" Tanya Nadine pula.
"Iya aku tidak apa-apa, aku juga baik-baik saja," jawab pria itu.
Lalu pria itu pun menjulur tangannya dengan bermaksud mengajak Nadine berkenalan, "Farel."
Nadine pun membalas menjulurkan tangannya dan menyebut namanya, "Nadine."
"Nama yang indah," puji Farel. "Kamu mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?"
"Oh aku mau pulang," jawab Nadine.
"Kamu sendirian ya? Bagaimana kalau kita ke dalam dulu. Kita ngopi atau ngobrol-ngobrol gitu melanjutkan perkenalan kita," kata Farel. Ia merasa tertarik dengan Nadine saat pertama kali melihat wanita tersebut.
Nadine tampak berpikir, mungkin ini adalah kesempatannya untuk berdua dengan Farel, ia ingin melihat bagaimana ekspresi Keenan saat melihat adiknya sudah menggandeng laki-laki lain dan berkencan di tempat yang sama dengannya.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau," jawab Nadine.
Farel yang mendengar akan hal itu pun merasa sangat senang dan langsung mengajak wanita cantik tersebut masuk ke dalam cafe.
Nadine sengaja mengajak Farel duduk di kursi yang tidak jauh dari Keenan dan Bianca, saat itu Keenan pun langsung saja melihat Nadine dan seorang pria. Keenan sempat heran melihat adiknya itu yang baru saja putus sudah menggandeng laki-laki lain, terbesit juga rasa cemburu di dalam hatinya yang saat ini ia rasakan.
Bersambung...
Visual Farel dan Bianca.
__ADS_1