Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Musibah


__ADS_3

Akibat dari tabrakan itu, mobil yang dikemudikan oleh Keenan pun terbalik, sedangkan mobil tronton menabrak pembatas jalan mengakibatkan dua pengemudinya itu mengalami luka parah dan segera dibawa ke rumah sakit oleh warga di sekitar yang membantunya.


Sementara itu, saat ini di kediaman Collin semua tampak cemas memikirkan Keenan yang belum juga kembali meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Meskipun mereka bukanlah keluarga kandung Keenan, tetapi karena sudah sangat dekat dengan Keenan sehingga mereka semua merasakan perasaan yang tidak enak dan menganggap jika sedang terjadi sesuatu dengan Keenan.


"Pi bagaimana, apa belum ada kabar juga dari Keenan?" Tanya Dinda.


"Belum Ma, Papi sudah berusaha untuk menghubungi Keenan tetapi sama sekali tidak ada jawabannya. Bahkan saat ini ponselnya tidak aktif," jawab Nathan.


"Duh … Mama jadi khawatir Pi dengan Keenan. Tiba-tiba saja perasaan Mama tidak enak," ucap Dinda yang tampak cemas.


"Iya Ma, Papi juga merasakan hal yang sama. Tapi Mama harus tetap tenang ya," ucap Nathan.


Tok … tok … tok …


"Dinda … Nathan … ," Panggil Cynthia diiringi ketukan pintu.


Segera saja Dinda membukakan pintu tersebut untuk ibu mertuanya itu.


"Ada apa Ma?" Tanya Dinda.


"Dinda, perasaan Mama tidak enak sekali. Mama takut terjadi sesuatu dengan Keenan," ucap Cynthia.


"Iya Ma, aku dan Nathan juga merasakan hal yang sama. Tapi mudah-mudahan saja ini hanya perasaan kita, kita berdoa saja mudah-mudahan Keenan dalam kondisi baik-baik saja dimanapun dia berada," ucap Dinda.


"Iya itu memang yang kita inginkan, tetapi bagaimana jika memang terjadi sesuatu dengan Keenan," ujar Cynthia.


"Akh … !"


Di saat itu terdengar suara teriakan keras dari lantai atas, tepatnya dari kamar Nadine. Mereka pun merasa sangat panik dan langsung saja berlari menuju ke kamar Nadine yang ternyata di situ sudah ada Kenzo dan Kenzie terlebih dulu.

__ADS_1


"Kak Nadine, Kakak kenapa Kak? Tanya Kenzo yang sangat panik, sama halnya dengan Kenzie.


"Perut aku sakit sekali Kenzo, Kenzie. Tolong panggilkan Papi dan Mama," ucap Nadine.


"Iya Kak, sebentar ya. Kakak harus bertahan," ucap Kenzie dan disaat ia hendak keluar mencari kedua orang tuanya, di saat itu pula kedua orang tua dan omanya sudah berada di depan pintu kamar Nadine.


"Ada apa Kenzie?" Tanya Nathan.


"Kak Nadine kesakitan Pi, katanya perutnya keram," jawab Kenzie.


Segera saja mereka semua masuk ke dalam kamar Nadine. Di saat itu mereka melihat Nadine yang sedang menangis dan merintih kesakitan memegangi perutnya disertai keringat dingin yang sudah membasahi keningnya itu. karena merasa sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu dengan Nadine serta kandungannya, segera saja Nathan dan Dinda membawa anak mereka ke rumah sakit. Sedangkan Kenzo dan Kenzie tetap diperintahkan berada di rumah untuk menjaga oma dan opanya itu.


****


Kini Nathan dan Dinda yang membawa Nadine sudah berada di rumah sakit. Saat ini Nadine sedang ditangani oleh dokter kandungan di dalam ruang pemeriksaan, hanya Dinda yang diperbolehkan untuk menemaninya sedangkan Nathan disuruh menunggu di luar ruangan sampai dokter selesai melakukan pemeriksaan terhadap anaknya itu.


"Dokter, bagaimana ini? Kami sama sekali belum bisa menghubungi keluarga pasien. Karena menurut warga yang menolongnya tadi, korban hanya berada sendiri di dalam mobil, sedangkan ponselnya juga tidak aktif. Mereka tidak menemukan petunjuk apapun di dalam mobil. Sepertinya korban kecelakaan itu juga tidak membawa dompetnya sehingga tidak ada identitas apapun. Hanya saja menurut keterangan warga, korban menggunakan mobil lamborghini berwarna hitam dengan nomor plat xxxx," ucap seorang suster kepada dokter yang di saat itu sedang berjaga.


"Iya Dok, mudah-mudahan saja. Karena kita harus segera melakukan operasi pada pasien, jika tidak akan membahayakan nyawanya," ucap Suster.


Nathan yang mendengar percakapan antara dokter dan suster yang tidak jauh darinya itu pun tiba-tiba saja teringat akan Keenan yang sampai saat ini belum juga kembali. Memang Nathan tidak terlalu mengingat jelas nomor plat mobil yang digunakan anaknya, tetapi ia mengingat 2 nomor di ujungnya sama dan mobil tersebut juga sama yaitu mobil lamborghini berwarna hitam. Untuk menghilangkan rasa penasarannya itu dan memastikan siapa korban tersebut, Nathan pun beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati dokter dan suster tersebut.


"Maaf Dokter, Suster, tadi saya tidak sengaja mendengar jika ada korban kecelakaan yang menggunakan mobil lamborghini berwarna hitam. Apa saya boleh tahu siapa orangnya?" Tanya Nathan.


"Iya, benar Tuan. Baru saja terjadi kecelakaan antara mobil lamborghini berwarna hitam dengan nomor plat xxxx dan mobil tronton di jaln X. Saat ini korban sedang berada di ruangan IGD dan kami kesulitan untuk menghubungi keluarganya karena tidak menemukan petunjuk," terang suster.


"Apa boleh saya melihatnya? Karena kebetulan anak saya dari tadi siang belum pulang dan tidak bisa dihubungi. Dia juga menggunakan mobil lamborghini berwarna hitam dengan nomor plat yang sama ujungnya seperti yang Suster ucapkan tadi," ucap Nathan.


"Tentu saja boleh Tuan," ucap suster.

__ADS_1


Lalu suster pun membawa Nathan ke ruang IGD untuk melihat korban kecelakaan tersebut.


Tubuh Nathan lemah seketika, air matanya juga tiba-tiba saja mengalir dari pelupuk mata saat ia melihat korban kecelakaan tersebut benar-benar Keenan anaknya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ingin membantah, tetapi itulah kenyataan yang harus ia terima. Nathan harus ikhlas menerima musibah yang saat ini sedang menimpa keluarganya.


"Tuan, ada apa? Apa benar korban kecelakaan ini adalah anak Tuan?" Tanya suster.


"Iya Suster benar, ini memang anak saya," jawab Nathan.


"Kalau begitu silahkan Tuan tunggu sebentar di sini, saya akan memberitahu Dokter," ucap Suster.


"Keenan, ada apa dengan kamu Nak? Apa yang terjadi, kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanya Nathan yang menangis tersedu-sedu dan sangat tidak tega melihat tubuh anaknya itu dipenuhi luka dan darah yang terus saja mengalir dari kepalanya meskipun sudah diperban sementara.


****


Beberapa saat kemudian, suster pun telah kembali dengan seorang dokter yang kini sudah berada di dekat Nathan.


"Syukurlah Tuan jika memang Tuan ini adalah anak Tuan. Kalau begitu lebih baik Tuan segera menandatangani surat persetujuan untuk operasi pada kepalanya, karena jika tidak ini akan sangat membahayakan," ucap Dokter.


"Baik Dokter, lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya," ucap Nathan dan segera menandatangani sebuah surat persetujuan operasi.


Setelah itu pun, segera saja Suster membawa Keenan ke ruang operasi untuk segera mendapatkan tindakan lebih lanjut saat itu juga.


Sementara itu, Nathan yang saat ini sedang berada di depan orang operasi terlihat sangat lemah tak berdaya. Lalu tiba-tiba saja ia teringat jika istri dan anak perempuannya saat ini masih sedang berada di ruang pemeriksaan. Nathan terlihat sangat terpukul di saat anaknya Keenan mengalami kecelakaan, di saat itu juga Nadine pun merasakan kesakitan yang luar biasa pada perutnya. Mungkin memang bayi dalam kandungan Nadine ikut merasakan jika saat ini sedang terjadi sesuatu dengan ayahnya.


Sementara sambil menunggu Keenan yang masih dioperasi, Nathan pun memutuskan untuk menemui Dinda dan Nadine saat ini. Saat ia telah tiba di depan ruang pemeriksaan, ternyata di saat itu Dinda sudah berada di luar ruangan dan tampak celingak-celinguk mencarinya.


"Ma … !" Panggil Nathan yang menghampiri sang istri.


"Papi, Papi dari mana? Itu Nadine sudah lebih baik dan Papi boleh masuk kalau mau masuk," ucap Dinda.

__ADS_1


Tanpa menjawab apapun Nathan pun langsung saja memeluk tubuh istrinya itu untuk menenangkan hatinya yang terasa gundah. Dinda pun membalas memeluk erat suaminya, meskipun ia bingung dengan apa yang terjadi saat ini.


Bersambung …


__ADS_2