
Setelah ia meminum air putih di dapur, Nadine pun kembali ke menemui Kakek dan kekasihnya yang masih berada di ruang televisi. Tetapi bukannya untuk kembali duduk, melainkan berpamitan untuk segera beristirahat.
"Ya sudah kamu tidur saja Nadine, ini juga kan sudah malam. Kamu juga Farel, lebih baik kamu istirahat," ucap Doni.
"Iya Kek, tapi kakek juga ya istirahat. Nggak baik untuk kesehatan kalau Kakek tidurnya terlalu malam, apalagi untuk usia Kakek sangat penting menjaga waktu tidur," kata Farel yang begitu perhatian terhadap Doni.
"Iya, kebetulan Kakek juga sudah mengantuk, jadi sekarang kita ke kamar dan istirahat ya," ucap Doni.
"Baik Kek," ucap Nadine Dan Farel secara bersamaan, lalu mereka bertiga pun masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat.
Farel tidur bersama Keenan, Kenzo dan Kenzie di satu kamar yang sama, Nathan tidur bersama Dinda, sedangkan Nadine tidur bersama dengan Bianca juga di satu kamar. Kediaman Doni meskipun hanya satu lantai tetapi ukurannya cukup besar dan memang memiliki 4 kamar, Doni sengaja mendesain rumahnya dengan banyak kamar untuk berjaga-jaga di saat nanti anak dan cucunya datang dengan membawa keluarga mereka masing-masing.
****
Keesokan hari, Nadine yang baru saja bangun langsung saja menuju ke dapur karena indera penciumannya mencium bau harum masakan yang sumbernya dari arah sana. Di saat itu Nadine melihat ibunya yang sedang membantu neneknya memasak.
"Nenek, Mama, lagi masak apa? Pagi-pagi banget udah masak, mana baunya harum banget lagi," ucap Nadine dengan suara khas bangun tidur.
"Mama sama Nenek lagi masak untuk sarapan kita bersama. Menunya ada bermacam-macam," jawab Dinda.
"Wah … sarapan berat nih," ucap Nadine dan ditanggapi senyuman oleh Dinda dan Santi.
"Nadine, kamu sudah bangun Sayang?" Kalau kamu masih ngantuk, tidur saja lagi. Ini juga kan masih jam 07.00," kata Santi.
"Justru itu aku sudah kesiangan nek, biasanya kan aku bangunnya lebih pagi dari ini kalau mau kerja," kata Nadine.
"Iya, tapi sekarang kan kamu sedang libur," kata Santi.
"Biarkan saja Bu. Bukannya anak gadis lebih bagus bangun pagi-pagi, kalau kesiangan nanti jodohnya diambil orang," ucap Dinda. "Oh iya Bianca mana? Belum bangun ya?" Tanya Dinda kepada sang anak.
__ADS_1
"Tadi sih belum Ma. Kecapean mungkin, masih nyenyak banget tidurnya," jawab Nadine.
"Oh … begitu, ya sudah kamu mandi saja gih sana, nanti kalau semuanya sudah bangun kita sarapan, lalu jalan-jalan sebelum nanti sore kita pulang ke Bandung," kata Dinda.
"Kita pulang hari ini ya Ma?" Tanya Nadine tang sepertinya tak rela jika harus cepat-cepat meninggalkan Bandung, ia masih sangat merindukan sang nenek dan ingin berlama-lama di kota ini.
"Iya Sayang, besok kan Keenan, Farel harus bekerja. Begitu juga dengan Kenzo, Kenzie yang harus sekolah. Bianca juga katanya besok ada jadwal pemotretan. Kamu sendiri memangnya besok tidak ada pekerjaan di butik?" kata Dinda.
"Bebas sih Ma kalau aku. Aku lagi nggak banyak pekerjaan. Kan semuanya udah di handle sama karyawan aku," kata Nadine.
"Ya sudah kalau kamu memang masih mau berada di sini, kamu tinggal saja dulu. Biar Mama, Papa dan yang lainnya pulang terlebih dulu, bagaimana?" Tanya Dinda.
"Nenek setuju. Nenek juga masih kangen sama kamu. Nenek akan sangat senang kalau kamu masih di sini dulu untuk beberapa hari," kata Santi.
"Tapi aku nggak enak dong dengan Farel. Aku datang ke sini sama Farel, karena aku juga kan Farel jadi ikut ke sini. Masa tiba-tiba dia pulang sendirian, aku nggak enak," kata Nadine.
"Ya sudah kalau Nenek dan Tante nggak keberatan, aku juga masih akan tetap di sini supaya kita bisa pulang sama-sama," kata Farel yang tiba-tiba saja muncul.
"Maaf ya Nek, Tante, Nadine aku muncul tiba-tiba dan langsung aja berbicara. Maaf banget kalau kesannya nggak sopan. Tapi tadi aku dengar katanya Nadine masih mau di sini, tapi dia nggak enak karena aku harus pulang terlebih dulu. Sebenarnya aku nggak masalah kalau Nadine mau tetap di sini dan aku pulang sama Tante dan keluarga. Tapi setelah aku pikir-pikir aku juga lagi nggak banyak pekerjaan kok, jadi aku bisa izin untuk beberapa hari. Jujur aku juga masih ingin berjalan-jalan di kota ini," ucap Farel.
"Kamu yakin Rel?" Tanya Nadine.
"Iya aku yakin Dien," jawab Farel menatap serius.
"Ya sudah kalau memang Farel bisa, Mama tidak keberatan kok. Menurut Mama tidak ada salahnya kalian menginap beberapa malam lagi di sini, nikmati liburan kalian di Bandung setelah itu baru kembali ke Jakarta," Ucap Dinda yang begitu percaya kepada Farel, ia yakin jika Farel adalah pria yang baik dan akan menjaga putrinya.
"Ya Nenek juga tidak keberatan," jawab Santi.
"Ya sudah kalau begitu," ucap Nadine.
__ADS_1
"Terimakasih ya Nek, Tante, sudah mengizinkan aku," ucap Farel.
"Sama-sama. Karena kalian berdua sudah bangun, sebaiknya sekarang kalian mandi, siap-siap nanti kita sarapan bersama dan jalan-jalan. Mama juga mau membangunkan Papa dan Keenan dan si kembar. Nadine, nanti jangan lupa kamu bangunkan Bianca juga ya Sayang, bilang saja kita mau sarapan dan jalan-jalan. Sayang dong kalau kita sudah berada di Bandung tapi kita tidak jalan-jalan," kata Dinda.
"Oke Ma," jawab Nadine. Lalu segera saja ia beranjak pergi, begitu juga dengan Farel.
****
Setelah berjalan-jalan mengelilingi kota Bandung bersama, kini sudah tiba saatnya mereka mengemasi barang-barang karena mereka akan segera pulang ke Jakarta. Tetapi Nadine dan Farel yang saat itu masih terlihat santai membuat Keenan bertanya-tanya.
"Kalian berdua kenapa nggak packing? Memangnya kalian berdua nggak mau pulang?" Tanya Keenan.
"Ya itu Kakak tahu, memang aku dan Farel belum pulang. Kita masih akan tetap berada di sini untuk beberapa hari ke depan," jawab Nadine.
Bukan hanya Keenan, tentu saja hal itu membuat Bianca juga terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Kenzo dan Kenzie. Tidak dengan Nathan yang sudah tahu dari sang istri dan juga menyetujuinya.
"Nggak bisa seperti itu lah, kita pergi sama-sama dan kita juga harus pulang sama-sama. Aku nggak mengizinkan kamu tetap berada di sini bersama dengan Farel!" Bentak Keenan.
"Loh Kakak ini kenapa sih? Aku nggak berdua aja di sini sama Farel, ada Kakek dan Nenek. Farel mau menemani aku di sini supaya pas aku pulang ada temannya Kak. Mama, Papi, Nenek, Kakek nggak ada yang keberatan Kok. Kenapa Kakak yang sewot," kata Nadine dengan suara meninggi.
"Pokoknya aku nggak setuju. Kamu dengan Farel itu belum muhrim, belum menikah. Kenapa juga harus dengan Farel, aku bisa kok tetap berada di sini untuk menemani kamu dan kita bisa pulang sama-sama," kata Keenan.
"Ya sudah kalau Kakak masih mau di sini, Kakak tetap di sini saja biar besok-besok kita bisa pulang sama-sama," kata Nadine.
"Maaf Nadine, tapi aku nggak bisa tetap berada di sini. Besok pagi aku ada jadwal pemotretan," ucap Bianca.
"Ya sudah kalau begitu Kakak ajak pacar Kakak ini pulang sama Mama, Papi, Kenzo dan Kenzie. Nggak usah ikut campur urusan aku," kata Nadine yang seolah kini membentak Bianca dan membuat Bianca pun terdiam.
"Nadine, jaga yang ucapan kamu. Kamu jangan bentak-bentak Bianca lah kalau kamu memang ada masalah denganku," kata Nathan menatap Nadine dengan tajam.
__ADS_1
Kini Nadine dan Keenan malah terlihat sedang bertengkar hebat, Nathan dan Dinda yang mendengar pertengkaran anak-anaknya itu pun segera saja menghampiri mereka.
BERSAMBUNG…