Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Mencari Sang Anak


__ADS_3

Keluarganya itu pun langsung saja membawa Dinda untuk duduk di sofa ruang tamu, mereka ingin memastikan kondisi Dinda baik-baik saja. Mereka benar-benar khawatir melihat Ratu di rumah mereka itu terluka.


"Mama kenapa sih malah nyetir sendiri? Terus Mama juga tidak izin lagi sama Papi. Seharusnya Mama itu tunggu saja Papi pulang dulu, kita kan bisa pergi sama-sama Ma," ucap Nathan yang begitu panik melihat istrinya itu terluka.


"Sudahlah Pa, Keenan, Nadine. Mama itu tidak kenapa-napa, Mama baik-baik saja. Tadi Kenzie dan Kenzo yang khawatir banget sama Mama setelah Nadine pulang. Apalagi Kenzo tuh, sebegitu khawatirnya sama Mama, padahal hanya luka kecil saja yang tadinya sudah di plester sampai harus diganti dengan perban seperti ini. Lihat nih jadi seperti luka parah kan?" Ucap Dinda.


"Mama seperti nggak tahu Kenzo aja, dia kan memang paling khawatir tuh kalau melihat kita ada yang terluka, sedikit saja. Bahkan Mama ingat kan waktu itu aku hanya tergores pisau sedikit aja, tapi Kenzo mau bawa aku ke rumah sakit. Karena aku nggak mau, alhasil jari aku diperban kelima-limanya, padahal yang terluka hanya 1 jari. Benar-benar tuh anak, gimana coba kalau nanti Kenzo sudah jadi dokter. Bisa-bisa tubuh pasiennya akan penuh dengan perban hanya karena luka," ucap Nadine.


"Nadine, kok kamu berbicara seperti itu. Ya bagus dong kalau Adik kamu itu memiliki jiwa sosial yang tinggi," ucap Dinda.


"Iya Ma, iya. Jadi Mama benar-benar nggak apa-apa kan?" Tanya Nadine.


"Tidak Sayang, Mama baik-baik saja. Ya sudah Nadine, Keenan, sebaiknya kalian naik saja ya ke kamar kalian. Pa, kita ke kamar juga," ucap Dinda.


Lalu mereka pun menyetujuinya dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


****


Tok … tok … tok …


Amanda mengetuk pintu kamar Clara, bermaksud mengantarkan paket yang baru saja diantar oleh kurir.


"Masuk!" Teriak Clara.


Amanda membuka pintu lalu masuk ke dalam dan menghampiri bos-nya yang saat itu sedang duduk sembari menatap foto-fotonya bersama dengan Keenan.


"Nyonya, maaf saya mengganggu. Saya mau memberi paket ini," ucap Amanda sembari memberikan amplop coklat kepada Clara.


Segera saja Clara mengambil amplop tersebut dari tangan Amanda. Iya yakin pasti ini adalah laporan tentang keluarga Nathan yang ia minta dari anak buahnya.


"Kamu boleh keluar sekarang," ucap Clara.


"Baik Nyonya," ucap Amanda dan segera saja keluar dari kamar Clara.

__ADS_1


"Sepertinya susah sekali hanya untuk mengucapkan kata terimakasih. Ini main usir aja. Untung aja aku masih butuh pekerjaan, kalau tidak sudah pasti aku tidak akan mau lagi bekerja dengan kamu, Nyonya Clara," batin Amanda.


Kini Amanda telah berada di dalam kamarnya. Tiba-tiba ia teringat akan pertemuannya waktu itu dengan Dinda.


"Kenapa rasanya begitu nyaman dan hangat saat berada di dekat Bu Dinda. Padahal kita baru aja ketemu sekali. Ibu itu benar-benar baik, memiliki jiwa keibuan yang kuat, sangat berbeda sekali dengan Nyonya Clara. Apakah suatu saat nanti aku bisa bertemu lagi dengan Bu Dinda," gumam Amanda tersenyum.


Akan tetapi, di saat itu tiba-tiba saja Clara memanggilnya sehingga lamunan indahnya itu pun langsung saja buyar. Segera saja Amanda keluar dari kamarnya dan menghampiri Clara.


"Iya Nyonya, ada apa?" Tanya Amanda.


"Kamu itu lagi apa sih di dalam, kenapa lama sekali saya panggil baru kamu datang," hardik Clara.


"Maaf Nyonya, tadi saya-" ucapan Amanda terpotong.


"Sudahlah, saya tidak ada waktu untuk mendengar penjelasan kamu sekarang. Ayo kita pergi," ucap Clara yang memotong ucapan Amanda begitu saja.


Amanda memutar bola mata malas saat Clara tidak melihatnya. Amanda hanya dapat mengumpat dalam hatinya, ia begitu kesal karena baru saja pulang ke apartemen dan ingin beristirahat sejenak. Tetapi Clara sudah mengajaknya pergi lagi. Rasanya benar-benar sangat melelahkan bekerja dengan Clara, ingin rasanya Amanda berhenti bekerja jika ia mempunyai pekerjaan lain. Bagi Amanda Clara orang yang egois, sama sekali tidak pernah memikirkan perasaannya meskipun sudah 5 tahun bekerja dengannya.


****


"Nyonya, saya ikut atau saya tetap berada di sini?" Tanya Amanda saat mereka sudah tiba di Perusahan Collin Group.


"Sebaiknya kamu tetap di sini. Karena ini urusan pribadi saya, jadi kamu tidak perlu ikut campur," ucap Clara.


"Baik Nyonya," jawab Amanda.


Sejujurnya Amanda merasa senang karena akhirnya bisa beristirahat sejenak di dalam mobil karena Clara memintanya untuk menunggu.


Clara pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam Perusahaan Collin Group dan langsung menuju ke loby.


"Selamat siang Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis kepada Clara.


"Saya ingin bertemu dengan Keenan Edward Collin, Presdir di Perusahaan ini," ucap Clara.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, apa Nyonya sudah ada janji bertemu dengan Tuan Keenan?" Tanya resepsionis.


"Apa harus saya membuat janji terlebih dulu untuk bertemu dengan anak saya sendiri? Apa kamu tidak tahu saya ini siapa?" Tanya Clara yang membuat resepsionis itu kebingungan menatapnya.


"Oh tentu saja kamu tidak tahu, karena selama ini saya berada di luar negeri dan baru saja kembali untuk menemui anak saya," ucap Clara lagi.


Akan tetapi bukan hal itu yang membuat resepsionis bingung dan bertanya, tetapi karena setahu resepsionis ibu dari Keenan adalah Dinda, yaitu istri dari Nathan pemilik Perusahaan tempatnya bekerja.


"Kenapa kamu jadi melamun seperti itu, kamu tidak percaya? Ah sudahlah tidak penting juga kamu mau percaya atau tidak. Sekarang saya tanya dimana Keenan?" Tanya Clara yang begitu angkuh.


"Tuan Keenan saat ini sedang meeting Nyonya, saya akan memberitahu asistennya jika Nyonya ingin bertemu dengan Tuan Keenan dan Nyonya bisa menunggu dulu sebentar," ucap resepsionis.


Tanpa mengucap kata apapun, Clara langsung saja melenggangkan kakinya itu menuju ke ruang tunggu untuk menunggu Keenan.


Sedangkan Bisma yang sudah mendapatkan kabar dari resepsionis bahwa ada seseorang yang mengaku ibunya Keenan dan ingin bertemu dengannya itu pun segera menyampaikan kepada tuannya.


"Mama? Kalau Mama ingin bertemu denganku kenapa harus menungguku di bawah? Kenapa juga harus mengatakan kepada resepsionis. Mama kan bisa langsung naik ke atas menemuiku seperti biasa," ucap Keenan.


"Tapi ini bukan Nyonya Dinda, Tuan," ucap Bisma.


"Lalu siapa?" Tanya Keenan


"Bahkan resepsionis sendiri tidak tahu siapa wanita itu, tetapi yang jelas dia mengaku sebagai ibunya Tuan Keenan," jawab Bisma.


"Apa jangan-jangan itu Mami? Tapi dari mana Mami tahu perusahaan ini dan kenapa juga Mami mau bertemu denganku?" ucap Keenan yang bertanya-tanya di dalam hatinya.


Ya sudah kalau begitu kamu boleh beristirahat, aku akan menemui ibu itu," ucap Keenan.


"Baik Tuan," ucap Bisma.


Lalu Keenan pun segera saja turun ke loby untuk menemui wanita yang ingin bertemu dengannya itu. Ia juga sangat penasaran siapa wanita itu? Apakah benar jika wanita tersebut adalah Clara, ibunya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2