
Nadine pun akhirnya memutuskan untuk menemui Farel yang telah menunggunya di bawah, bagaimanapun juga ia yang telah memutuskan untuk menerima Farel dan bertekad untuk belajar mencintainya, bukan untuk menjadikannya sebagai pelampiasan saja. Itu artinya sangat tidak pantas jika Nadine mengabaikan Farel begitu saja hanya karena masalah yang sedang dihadapinya saat ini.
"Sayang, aku senang karena ternyata kamu baik-baik saja. Aku benar-benar merasa khawatir sama kamu Nadine, kamu balas chat aku hanya sesekali dan setelah itu kamu menghilang begitu saja, aku telepon juga nggak kamu angkat," ucap Farel yang terlihat dari wajahnya itu jika ia begitu khawatir.
"Maafkan aku ya Sayang, aku sudah buat kamu khawatir. Tapi seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja kan," ucap Naya.
"Ya syukurlah, karena ini juga yang aku harapkan. Tapi kamu benar baik-baik saja kan? Kamu lagi nggak ada masalah apapun kan?" Tanya Farel ingin memastikan.
"Tidak Farel, aku baik-baik saja. Aku hanya lagi banyak pekerjaan saja yang begitu menguras otak dan membuat otak aku sedikit pusing," kata Nadine beralasan.
"Aku minta maaf ya karena aku sudah mengganggu pekerjaan kamu dan kesannya tidak mengerti dengan kondisi kamu, ini semua hanya karena rasa sayang aku yang begitu besar sehingga aku mengkhawatirkan kamu Nadine," ucap Farel.
"Kamu nggak perlu minta maaf Rel, kamu nggak salah apa-apa. Makasih ya karena kamu sudah mengkhawatirkan aku," ucap Nadine.
"Iya sama-sama. Tapi kamu udah makan kan?" Tanya Farel.
"Iya Rel aku udah makan kok. Kamu tenang saja ya, kalau untuk soal itu aku pasti akan selalu menjaga kesehatan aku," ucap Nadine yang tak ingin membuat Farel merasa khawatir. Akan tetapi entah kenapa ia juga merasa risih dengan perhatian Farel yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Nadine, aku mau mengatakan sesuatu sama kamu," ucap Farel.
"Ya katakan saja," kata Nadine.
"Kemarin di saat kamu menerima cinta aku, kamu mengatakan akan belajar untuk mencintaiku dan sekarang aku mau tanya, apakah setelah hampir 1 bulan ini kita berpacaran kamu sudah bisa mencintai aku? Apakah ada secuil rasa cinta itu untukku?" Tanya Farel dengan tatapan mendamba.
Nadine tertegun, rasanya tak sanggup untuk menatap mata Farel yang saat ini menunggu jawaban darinya. Apa yang harus ia katakan kepada Farel? Apakah harus mengatakan jika ia sama sekali belum mencintai Farel? Sedangkan Farel begitu tulus mencintainya dan berharap jika mendapat balasan yang sama darinya.
__ADS_1
Disaat itu, tiba-tiba saja Keenan tidak sengaja melewati mereka berdua karena akan keluar rumah. Nadine pun langsung saja melihat ke arah kakaknya itu yang sama sekali tidak mau menatap ke arahnya.
Farel dapat melihat jika ada rasa kekecewaan yang Nadine rasakan dan tentu saja membuatnya merasa sedikit kebingungan. Ia tahu jika saat ini Nadine dan Keenan sedang tidak saling bertegur sapa layaknya seorang kekasih yang sedang berantem.
"Farel maaf, aku rasa untuk saat ini aku belum bisa memberikan jawabannya untuk kamu. Tapi yang jelas selagi aku masih mau berhubungan dan menjalin hubungan denganmu, itu artinya aku akan terus belajar untuk mencintai kamu Farel," ucap Nadine.
"Ya sudah kalau memang seperti itu, aku juga nggak akan maksa dan akan terus berusaha untuk membuat kamu mencintaiku Nadine. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja ya, aku akan pulang sekarang," ucap Farel.
"Kamu serius mau langsung pulang? Kamu baru saja datang," kata Nadine.
"Iya aku serius. Aku tidak mau mengganggu waktu kamu. Apalagi kamu lagi banyak pekerjaan di butik, pastinya saat ini kamu sangat lelah dan ingin beristirahat," ucap Farel.
Sebenarnya Nadine merasa begitu bersalah terhadap Farel, tetapi untuk saat ini ia juga tidak bisa melakukan atau mengatakan hal apapun kepada Farel. Sehingga ia pun membiarkan saja saat Farel hendak pergi.
"Nanti tolong sampaikan saja ya salam aku buat Tante Dinda dan Om Nathan. Aku mau berpamitan tapi nggak enak menganggu orang tua kamu yang sedang beristirahat," ucap Farel.
Nadine dapat melihat dari wajah Farel saat ini yang tampak begitu kecewa, tetapi ia hanya berusaha untuk menahannya karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap Nadine. Setelah itu Farel pun segera saja keluar dari rumah Nadine.
****
Sebelum masuk ke dalam mobil, tiba-tiba pandangan mata Farel tertuju pada sosok Keenan yang saat itu sedang duduk di halaman depan rumahnya sendirian. Lalu Farel pun berjalan menghampiri kakak dari kekasihnya itu.
"Keenan maaf aku mengganggu, tapi apa bisa kita berbicara sebentar?" Tanya Farel.
"Untuk apa kau menghampiriku dan apa yang mau kau bicarakan? Aku rasa kita sama sekali tidak mempunyai urusan. Urusanmu hanya dengan Nadine," ucap Keenan Ketus.
__ADS_1
"Justru ini ada hubungannya dengan Nadine, maka dari itu aku ingin berbicara denganmu," kata Farel.
"Kau mau berbicara apa?" Tanya Keenan.
"Aku ingin tahu kenapa kau begitu overprotektif terhadap Nadine, adikmu sendiri? Kenapa kau tidak bersikap layaknya seorang kakak tapi sebagai seorang pacar yang begitu cemburu melihat kekasihnya dekat dengan orang lain. Kau tahu kan bahwa aku ini adalah kekasih Nadine? Tapi kenapa kau begitu tidak menyukaiku. Apakah aku kurang baik? Padahal aku sudah melakukan hal yang terbaik untuk Nadine, aku sudah memberikan seluruh rasa cinta dan juga perhatianku untuk Nadine. Aku selalu berusaha untuk mencintainya Keenan, tetapi kenapa aku merasa jika Nadine tidak pernah mencintaiku dan selalu perduli kepadamu. Apa kalian berdua itu saling mencintai? Apakah jangan-jangan kalian berdua itu bukan adik beradik," ucap Farel yang tidak sanggup lagi untuk menahan apa yang selama ini mengganjal di dalam hatinya.
Tentu saja Keenan sangat terkejut mendengar ucapan itu, ia langsung saja berdiri dan menonjok wajah Farel saat itu juga. Farel memegangi pipinya yang terasa sakit dan berbekas kemerahan akibat pukulan tersebut, tetapi sama sekali ia tidak ingin membalasnya.
"Jaga mulutmu itu Farel. Aku bersikap seperti itu karena tidak ingin adikku tersakiti, aku tidak mau jika Nadine salah memilih pasangan lagi. Bukan karena rasa cinta seperti yang kau katakan itu. Sudah jelas kita berdua ini adik beradik, mana mungkin akan ada rasa cinta yang lain selain hanya rasa cinta sebagai saudara," ucap Keenan menyangkal.
"Tetapi rasa cemburu dan perhatianmu itu berlebihan Keenan, bukan seperti layaknya perhatian kakak terhadap adiknya," ucap Farel yang terus saja ingin mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Sekarang kau pergi dari sini sebelum aku menghabisimu!" Usir Keenan yang enggan menatap Farel.
Karena tidak mau memperpanjang masalah lagi dengan Keenan, akhirnya Farel pun memilih untuk segera pergi meninggalkan kediaman keluarga Nathan.
****
"Brengsek! Apa yang baru saja aku katakan kepada Keenan? Bagaimana kalau Keenan mengatakan hal itu kepada Nadine, pasti Nadine akan sangat marah padaku. Farel … Farel …kenapa kamu sama sekali tidak bisa menahan emosi kamu sendiri? Kenapa kamu harus mengeluarkan kata-kata itu Farel. Dasar bego," gumam Farel yang memarahi dirinya sendiri saat sedang di dalam perjalanan.
Lalu ia pun merogoh ponsel di dalam saku celananya dan menghubungi seseorang untuk mengajaknya bertemu. Setelah orang yang dihubunginya itu menyetujui dan menentukan tempat dimana mereka akan bertemu, Farel segera saja melajukan mobilnya ke tempat tersebut.
"Ada apa Farel? Kenapa seperti tidak ada waktu saja sampai kamu harus mengajakku bertemu malam-malam seperti ini?" Tanya Bianca yang kini ada di hadapan Farel.
Saat ini Farel dan Bianca sedang berada di sebuah cafe yang jaraknya tidak jauh dengan rumah Bianca, Memang Bianca sendiri lah yang menentukan tempat itu.
__ADS_1
"Tentu saja karena aku ingin membicarakan soal Nadine dan Keenan yang semakin hari semakin mencurigakan," kata Farel yang membuat Bianca terkejut dan merasa kebingungan dengan ucapan pria yang ada di depannya itu.
Bersambung …