Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Tentang Perasaan


__ADS_3

Karena merasa sangat panik dengan bos-nya itu, Siska pun segera berlari untuk mengambil minyak angin roll on yang selalu ia bawa kemana-mana di dalam tasnya. Karena tidak bisa dipungkiri jika Siska sering mabuk perjalanan jika seharian berkeliling menggunakan mobil, meskipun ia sudah terbiasa menggunakannya. Lalu segera saja ia menggosokkan minyak angin tersebut pada punggung Bianca dan mengusap-ngusapnya secara pelan.


"Maaf Nona, Saya hanya ingin membuat Nona Bi merasa lebih rileks," ucap Siska karena merasa tidak sopan memegangi punggung bos-nya. Akan tetapi ia juga tidak mungkin tinggal diam melihat kondisi Bianca seperti itu, karena Siska juga sangat menyayangi Bianca yang selalu baik terhadapnya, meskipun ia sadar diri siapalah dirinya.


"Tidak apa-apa Siska, lakukan saja," ucap Bianca, karena ia memang merasa mualnya berkurang setelah Siska melakukan hal itu.


"Sudah, sudah Siska," ucapnya saat merasa lebih tenang, sehingga Siska pun menghentikan aktivitasnya lalu menuntun Bianca untuk duduk di sofa.


"Nona Bi, apa Nona baik-baik saja? Atau mau saya bawa ke rumah sakit?" Tanya Siska.


"Nggak usah Siska, aku baik-baik saja kok. Aku yakin pasti aku hanya masuk angin karena tadi pagi tidak sarapan," ucap Bianca.


"Nona, saya kan sudah katakan kalau Nona seharusnya sarapan dulu sebelum bekerja. Ya sudah saya belikan Nona makanan dulu ya, Nona Bi tunggu di sini," ucap Siska.


"Iya siska, rerima kasih ya," ucap Bianca.


"Sama-sama Nona Bi," jawab Siska, lalu segera saja ia pergi mencarikan makanan untuk Bianca.


"Ada apa ini? Kenapa rasanya mual banget, kepalaku juga pusing. Biasanya aku juga jarang sarapan, tapi tidak pernah seperti ini rasanya," gumam Bianca sembari menyandarkan tubuhnya itu di sofa.


Sembari membeli makanan di luar, tak lupa pula Siska yang sudah sangat akrab dengan James itupun menghubungi dokter tersebut, ia meminta tolong James untuk datang ke Perusahaan Modelling karena sangat khawatir dengan kondisi Bianca yang terlihat sangat lemah, bahkan wajahnya juga pucat.


Hingga disaat Siska baru saja pulang membeli makanan, di Saat itu pula bertepatan dengan James yang baru saja tiba di Perusahaan Modeling.


"Loh Dokter James, kok Dokter cepat sekali sampai ke sini? Padahal saya tadi beli makanannya tidak terlalu lama loh," tanya Siska.

__ADS_1


"Masa iya tidak terlalu lama, setahu saya restoran tempat kamu membeli makanan ini selalu antri panjang," ucap James.


"He … he … he … ketahuan. Ya habis mau bagaimana lagi Dokter. Karena ini kan makanan kesukaannya Nona Bianca, katanya sehat, mengenyangkan, tidak tinggi kalori, tidak berlemak, pokoknya bisa tetap menjaga tubuh idealnya itu. Lagipula Nona Bianca itu meskipun dia lagi sakit, perutnya tidak enak karena masuk angin, kalau dikasih makanan sembarangan juga nanti tidak akan di makan makanannya," ucap Siska apa adanya.


Mendengar ucapan Siska itu, tanpa sadar telah membuat James pun tersenyum karena sangat kagum dengan sikapnya yang begitu peduli dan perhatian.


"Dokter James, Dokter kenapa menatap saya seperti itu?" Tanya Siska yang sebenarnya malu karena ditatap dengan pria yang dikaguminya itu.


"Oh tidak tidak apa-apa, saya hanya merasa kagum saja dengan sikap perhatian kamu terhadap Bianca," ucap James.


"Oh itu, biasalah Dokter, karena saya kan asistennya Nona Bianca," ucap Siska. "Apa? Tadi Dokter James bilang, dia kagum? Ya ampun rasanya aku ingin terbang melayang saat ini juga," batin Siska hingga wajahnya itu pun memerah seperti kepiting rebus karena menahan malu. Hanya saja ia berusaha untuk menahannya di depan pujaan hatinya itu.


"Siska, kamu kenapa jadi melamun seperti itu?" Tanya James yang terlihat heran, ditambah lagi ia melihat jika saat ini Siska juga senyum-senyum sendiri.


"Saya tidak apa-apa kok. Ya sudah Dokter, ayo kita masuk," ajak Siska dan ditanggapi anggukkan kepala oleh James.


****


Keenan melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam kamar setelah tadi ia baru saja melihat sang kakek di kamarnya. Akan tetapi di saat itu langkahnya pun terhenti karena ia melihat pintu balkon yang terbuka, Keenan sangat yakin jika Nadine lah yang berada di sana, sehingga ia pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri adiknya itu.


Benar saja, Kenan melihat Nadine yang saat ini sedang duduk termenung seperti sedang memikirkan masalah berat di dalam hidupnya.


"Nadine!" Panggil Keenan, sehingga membuyarkan lamunan Nadine dan langsung saja menoleh ke arah sumber suara.


"Kak Keenan? Kamu sudah lama berdiri di situ Kak?" Tanya Nadine.

__ADS_1


"Belum, baru aja," jawab Keenan. "Apa aku boleh duduk di sini menemani kamu?"


"Ya tentu aja boleh lah Kak," jawab Nadine.


"Tapi aku nggak mengganggu kamu kan?" Tanya Keenan.


"Nggak Kak, kalau Kakak memang mau berada di sini ya itu terserah Kakak. Aku sama sekali nggak melarang kok Kak, malah aku senang karena ada temannya," ucap Nadine hingga Keenan pun melangkahkan kakinya lalu duduk di kursi seberang Nadine itu.


"Nadine, kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu? Kamu sedang ada masalah ya?" Tanya Keenan.


"Memangnya yang Kakak lihat aku seperti itu ya?" Bukan menjawab pertanyaan Keenan, Nadine malah balik bertanya.


"Ya Kalau menurut aku memang seperti itu. Kamu baik-baik saja karena Dine? Rencana pernikahan kamu dengan Farel bagaimana, apakah semuanya lancar?" Tanya Keenan.


"Semuanya lancar karena Mama yang urus semuanya. Kalau kondisi aku sekarang, seharusnya Kakak nggak perlu bertanya soal itu ke aku, karena kamu pasti sudah tahu kan bagaimana perasaan aku saat ini karena harus menikah dengan pria yang sama sekali sudah tidak aku cintai. Tapi aku harus bagaimana lagi Kak, aku harus pura-pura terlihat baik-baik saja. Semua ini aku lakukan demi anak kita, aku nggak mau anak kita lahir tanpa Ayah, sedangkan kita tidak bisa bersatu. Lagipula kalau aku menikah dengan Farel nanti, Kakak juga bisa dekat dengan anak kita, kamu bisa melihat anak kamu tumbuh Kak. Tapi aku harap kamu bisa terima dan nggak sedih ya Kak di saat anak kita nanti akan memanggil kamu dengan sebutan Om," ucap Nadine dengan mata berkaca-kaca.


Keenan pun tampak menahan kesedihan di dalam dirinya. Menghadapi kenyataan bahwa wanita yang dicintainya akan menikah dengan pria lain saja sudah membuat Keenan begitu merasa sakit hati, apalagi jika nanti anak mereka lahir tetapi anaknya itu tidak tahu bahwa dialah ayah kandungnya dan malah menjadi Om-nya.


"Sudahlah Nadine, aku sudah berusaha untuk ikhlas menerima kenyataan ini. Bagaimanapun nanti akhirnya, yang jelas aku berharap semua baik-baik saja. Semoga seiring berjalannya waktu kamu bisa kembali untuk mencintai Farel, agar hubungan rumah tangga kalian langgeng sampai maut memisahkan. Karena kamu sudah memutuskan untuk menerima saat Mama, Papa dan Oma meminta kamu menikah dengan Farel, jadi kamu harus mempertahankan rumah tangga kamu dengannya nanti, jangan sampai ada perceraian karena anak lah yang akan menjadi korbannya. Aku nggak mau itu terjadi Nadine, aku nggak mau anak kita akan merasakan bagaimana sakitnya karena perpisahan orang tua seperti apa yang aku rasakan dulu. Cukup kita berdua saja yang terpisahkan karena hubungan sedarah ini, rasanya sangat sakit," ucap Keenan.


"Iya Kak, lalu bagaimana dengan kamu Kak?" Apa kamu akan mencari wanita lain? Aku harap seperti itu supaya kamu lebih cepat move on dari aku. Bagaimanapun caranya kamu harus segera melupakan aku Kak. Mungkin dengan mencintai wanita lain atau kamu menikah dengan wanita itu seperti aku menikah dengan Farel. Aku yakin kalau rasa cinta kamu buat aku pasti akan hilang," ucap Nadine.


"Tidak semudah itu Nadine. Kalau memang seperti itu kenapa dari dulu aku tidak bisa melupakan kamu? Nyatanya perasaan ini semakin lama semakin dalam," ucap Keenan.


"Ya sudahlah Kak, lebih baik kita jalani saja alur yang sudah ditentukan. Mudah-mudahan kita berdua sama-sama bahagia ya Kak nantinya meskipun kita tidak bisa bahagia bersama," ucap Nadine yang menatap ke arah Keenan.

__ADS_1


Tanpa sengaja Keenan pun menangkap bola mata Indah tersebut hingga kini mereka berdua saling bertatapan.


Bersambung …


__ADS_2