
Tak mau memikirkan perasaannya terlalu lama, Nadine pun mencoba untuk memejamkan matanya meskipun terasa sangat sulit. Akan tetapi pada akhirnya ia bisa terlelap juga hingga terbangun keesokan harinya.
Di saat Nadine baru saja hendak beranjak dari tempat tidurnya, tiba-tiba ia merasakan kepalanya begitu sakit sehingga tidak mampu untuk bangun dan memutuskan untuk kembali berbaring.
"Aduh … kenapa ini, kenapa tiba-tiba kepalaku sakit seperti ini," ucap Nadine sembari memegangi kepalanya.
Sedangkan di saat ini semuanya telah berkumpul di ruang makan. Seperti biasa, jika Nadine belum berada di sana, mereka akan memulai sarapan terlebih dulu hingga nantinya Nadine akan menyusul. Karena itu juga merupakan pesan dari Nadine untuk tidak perlu menunggunya.
Akan tetapi sampai saat ini Nadine belum juga turun, padahal sarapan bersama sudah hampir selesai. Menurut Dinda ini ada hal yang tidak wajar dan ia pun memutuskan untuk melihat anaknya yang masih berada di kamar.
"Mama mau kemana?" Tanya Keenan.
"Mama mau ke atas lihat Adik kamu, tumben jam segini belum juga turun. Takutnya dia kesiangan," jawab Dinda.
"Memangnya kamu tadi tidak membangunkan Adik kamu atau melihat adik kamu sudah bangun atau belum?" Tanya Nathan kepada Keenan.
"Enggak Pi, aku hanya lewat saja. Ya aku pikir Nadine sudah bangun, karena kan memang biasanya Nadine yang selalu bangun terlebih dulu, hanya dandan saja yang lama," jawab Keenan apa adanya.
"Oh seperti itu. Lalu kamu sendiri apa baik-baik saja hari ini setelah tadi malam kita melihat kamu pulang dengan wajah yang ditekuk seperti itu?" Tanya Nathan.
"Aku baik-baik saja Pi," jawab Keenan yang enggan mengingat masalahnya lagi.
Sedangkan di saat ini Dinda sudah berada di depan kamar Nadine.
Tok … tok … tok …
"Sayang … kamu sudah bangun?" panggil Dinda.
Suara ketukan pintu dan juga suara ibunya itu pun seakan berdengung di telinga Nadine, karena ia tidak dapat mendengarnya dengan jelas.
"Nadine … !" panggil Dinda sekali lagi.
"Iya Ma, sebentar," jawab Nadine lirih.
Karena di saat itu pintu kamarnya terkunci, sehingga ibunya itu tidak akan bisa masuk kalau ia tidak berusaha untuk membuka pintunya.
__ADS_1
Lalu secara perlahan Nadine berusaha sekuat mungkin mencoba untuk bangun dari tempat tidurnya, hingga ia pun berhasil mencapai ke depan pintu. Akan tetapi di saat pintu baru saja terbuka, tiba-tiba Nadine jatuh begitu saja di dalam pelukan ibunya yang membuat Dinda menjadi panik.
"Sayang, kamu kenapa? Nadine, Sayang, bangun Nak. Papi, Keenan, Kenzo, Kenzie!" Teriak Dinda hingga keluarganya itu pun mendengarnya.
"Nadine kamu bangun Sayang, ada apa dengan kamu? Kenapa kamu bisa seperti ini," ucap Dinda saat menyadari Nadine yang sudah tak sadarkan diri.
Sementara itu, Nathan beserta 3 anak laki-lakinya itu pun sedang berlari menuju ke atas untuk menghampiri ibunya.
"Ma ada apa Ma, Nadine kenapa?" Tanya Nathan yang terlihat sangat khawatir.
"Nadine, Nadine kenapa Ma?" Tanya Keenan yang langsung saja menggendong tubuh adiknya itu masuk ke dalam kamar.
"Mama tidak tahu, tiba-tiba saja Nadine pingsan sewaktu membuka pintu. Sekarang kita bawa Nadine ke rumah sakit," ucap Dinda yang terlihat begitu cemas.
"Kak Nadine ayo bangun Kak," ucap Kenzie.
"Kak bangun Kak, Kakak Kenapa?" ucap Kenzo pula.
"Sudah, sudah, kalian jangan panik ya. Sekarang kita bawa Nadine ke rumah sakit, Keenan ayo kamu gendong Nadine, bawa ke mobil Papa," ucap Nathan, lalu Keenan pun segera saja menggendong Nadine dan membawanya masuk ke dalam mobil orang tuanya.
"Tapi Pi, aku mau antar Nadine ke rumah sakit juga," ucap Keenan.
"Iya Pi, aku juga mau ikut," sahut Kenzie.
"Aku juga Pi," sambung Kenzo.
"Tidak, kalian bertiga punya tugas masing-masing. Keenan ingat tanggung jawab kamu di perusahaan dan kalian Kenzo dan Kenzie, kalian harus sekolah ya. Biar Papi dan Mama yang antar Nadine ke rumah sakit," ucap Nathan.
"Tapi Pi-" ucapan Keenan terhenti.
"Pi, kenapa lama sekali sih. Ayo bawa anak kita ke rumah sakit," ucap Dinda.
"Tak ada pilihan lain, hingga Keenan, Kenzo dan Kenzie mengikuti perintah orang tuanya itu.
Setibanya di rumah sakit, Nadine pun langsung saja ditangani oleh dokter. Sedangkan Dinda dan Nathan berada di luar untuk menunggu kabar dari dokter tentang kondisi anaknya itu.
__ADS_1
****
Keenan yang saat ini sedang berada di perusahaan, merasa pikirannya begitu tidak tenang karena ia belum juga mendapatkan kabar dari orang tuanya tentang Nadine. Hingga pada saat itu ponselnya pun berdering ada panggilan masuk dari ayahnya.
"Halo Pi, bagaimana keadaan Nadine? Kenapa nggak ada yang memberi kabar ke Keenan," Tanya Nadine yang menjawab telepon tersebut.
"Keenan kamu tenang saja ya, ini Papi mau mengabari kami jika Nadine baik-baik saja. Kata Dokter, Nadine hanya kelelahan sehingga terkena hipotensi. Tapi keadaannya tidak parah dan sekarang juga Nadine sudah sadar," terang Nathan.
"Syukurlah Pi, selesai meeting aku langsung ke rumah sakit ya," ucap Keenan.
"Ia Kee, hati-hati," jawab Nathan mengakhiri telepon tersebut.
****
"Sayang kamu baik-baik saja?" Tanya Farel yang baru saja tiba di rumah sakit.
Di saat Nadine tadi masih berada di dalam ruang pemeriksaan, Dinda yang sengaja mengirim pesan WhatsApp kepada Farel untuk memberi kabar tentang Nadine, karena Farel adalah kekasih dari anaknya. Sehingga Farel yang baru saja hendak pergi kantor memutuskan untuk segera datang ke rumah sakit.
"Loh Farel, kok kamu ke sini? Memangnya kamu tidak ada pekerjaan di kantor?" Tanya Nadine.
"Nggak masalah dengan pekerjaan aku, yang terpenting sekarang aku mau lihat keadaan kamu," ucap Farel.
"Farel, aku baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat, aku nggak kenapa-napa kan," ucap Nadine.
"Iya, syukurlah. Tapi kenapa kamu bisa pingsan seperti tadi. Aku panik sewaktu Tante Dinda mengabari jika kamu pingsan," ucap Farel.
"Itu karena tiba-tiba kepala aku pusing. Kata dokter aku hanya kekurangan darah dan kelelahan," terang Nadine.
Akhirnya Farel pun memutuskan untuk menemani Nadine karena Nadine masih harus di berada di rumah sakit sampai keadaannya nanti benar-benar pulih.
Sedangkan Nathan dan Dinda sedang pergi sebentar meninggalkan rumah sakit untuk mencari makanan karena ada Farel yang menjaga Nadine. Di Saat itu pula Keenan baru saja tiba di rumah sakit karena ia tidak sabar untuk melihat keadaan adiknya itu.
Akan tetapi, saat tiba di ruang ruang rawat inap Nadine, ia merasa sangat marah dan cemburu yang berlebihan karena melihat Farel yang sedang memegang tangan Nadine dan terlihat senyum yang terpancar dari keduanya. Keenan mengepal erat kedua tangannya ia merasa cemburu dan tak terima melihat Nadine bersama dengan pria lain.
Bersambung …
__ADS_1