
Setelah sepakat dengan keluarga Nadine bahwa ia sangat setuju untuk menikahi anak perempuan Nathan dan Dinda itu, saat ini Farel pun sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dengan perasaan yang begitu senang, ia tak menyangka jika pada akhirnya bisa memiliki wanita yang dicintainya secara baik-baik. Sebagai pria yang sangat mencintai Nadine, tentunya ia juga merasa bersalah dan menyesal dengan perbuatan yang pernah dilakukannya terhadap Nadine dan Keenan waktu itu, tetapi setelah di pikir-pikir lagi, bukankah ia juga bisa mengambil hikmahnya?
"Ternyata karena perbuatanku waktu itu yang mencoba menjebak Nadine malah membuatnya hamil anak Keenan dan pada akhirnya aku juga yang diminta untuk bertanggungjawab dengan menikahi Nadine. Aku benar-benar beruntung, ternyata gara-gara hal itu bisa mendatangkan hal baik yang terjadi dalam hidupku. Berita sebaik ini harus aku katakan kepada Bianca. Ya memang aku harus memberitahunya sekarang, aku juga harus berterimakasih kepada Bianca karena bagaimanapun juga ini kan merupakan idenya. Pasti dia akan merasa iri," gumam Farel dengan senyuman yang tak terlepas dari sudut bibirnya sedari tadi.
Lalu Farel pun menggunakan headset bluetooth-nya dan menghubungi Bianca saat itu juga.
Tut … tut … tut …
"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan, cobalah beberapa saat lagi."
Akan tetapi meskipun telepon itu tersambung, Bianca sama sekali tak menjawab telepon tersebut. Sehingga Farel pun memutuskan untuk langsung pergi ke Perusahaan Modelling menemui wanita itu.
****
"Keenan, kamu kenapa Sayang?" Tanya Cynthia.
Saat ini Keenan sedang menemani sang nenek yang berada di kamar untuk menjaga kakeknya itu. Tetapi meskipun jiwanya berada di sini, pikirannya itu sedang tidak ada di tempat.
Cynthia tahu pasti Keenan sedang memikirkan tentang pernikahan Nadine dan Farel, pasti dia tak terima karena wanita yang dicintainya itu akan menikah dengan pria lain. Hanya saja ia ingin memastikannya lagi tentang bagaimana perasaan Keenan saat ini.
"Oma tahu kan kalau aku sangat mencintai Nadine, tapi aku juga sadar Oma kalau Nadine itu adalah adik aku. Bagaimanapun aku berusaha untuk menerobos kuatnya dinding persaudaraan kita, tetap saja itu tidak akan berhasil, tetap saja aku dan Nadine tidak akan bisa bersama," ucap Keenan dengan mata berkaca-kaca.
Melihat Keenan yang begitu sedih, membuat Cynthia juga tak dapat membendung kesedihannya. Ia langsung saja memeluk cucunya itu untuk meluapkan rasa bersalahnya terhadap Keenan.
"Maafkan Oma Keenan. Ini adalah jalan yang terbaik, Oma yakin kamu pasti kuat, pasti kamu bisa melupakan cinta kamu untuk Nadine," batin Cynthia. "Kamu yang sabar ya Keenan, Oma sangat mengerti perasaan kamu saat ini, mungkin ini sangat sulit tapi inilah yang terbaik. Kamu harus ikhlas dan relakan Nadine untuk menikah dengan Farel. Oma yakin suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan wanita yang baik sama seperti Nadine, wanita yang berhasil membuat kamu jatuh cinta," ucap Cynthia sembari mengusap lembut punggung Keenan.
"Tidak akan ada wanita sebaik Nadine Oma, karena hanya Nadine lah yang aku cintai dari dulu. Buktinya tidak ada yang bisa menggantikan posisi itu, meskipun aku sudah dua kali menjalin hubungan dengan wanita lain, tetap saja Nadine yang ada di hati aku," batin Keenan menahan kesedihan yang amat mendalam.
Untuk saat ini, Keenan memilih untuk diam karena tidak mau membuat nenek yang sangat dicintainya itu merasa khawatir dengan kondisinya sekarang. Keenan pun mencoba untuk tersenyum, seakan mengatakan kepada omanya bahwa ia baik-baik saja. Setelah itu, ia pun meminta izin kepada Cynthia untuk keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
****
Karena pernikahan ini terlalu terburu-buru, membuat Nadine tidak sempat untuk mendesain gaun pengantinnya sendiri seperti yang sudah ia rencanakan jika nanti menikah dengan pria yang ia cintai. Lagipula ia menikah dengan Farel juga karena terpaksa, demi anak di dalam kandungannya bersama Keenan, sehingga membuat Nadine menjadi malas. Rencana yang sudah ia inginkan sadari dulu, ingin menggunakan gaun pengantin buatannya sendiri seakan semuanya sirna. Meskipun saat ini Nadine sudah mempunyai gambaran tentang gaun pernikahan itu, tetapi sama sekali tidak ada semangat di dalam dirinya untuk mengerjakannya. Sehingga ia pun meminta Farel yang mengurus tentang baju pernikahan, karena Farel juga yang menawarkan akan hal itu.
Farel memarkirkan mobilnya tepat di depan butik milik calon istrinya itu, saat ini dia hendak menjemput Nadine untuk mengajaknya ke sebuah butik ternama di kota tersebut yang memang khusus untuk gaun pernikahan. Ya tepatnya Farel akan mengajak Nadine untuk fitting baju pengantin mereka. Tentunya sebelum datang, Farel sudah mengatakan hal tersebut kepada Nadine dan mereka juga sudah janjian akan pergi bersama.
"Hai Nadine, kamu sudah siap? Kita pergi sekarang ya," ucap Farel saat ia sudah berada di hadapan Nadine.
"Iya aku sudah siap, lebih baik sekarang kita pergi saja Rel," jawab Nadine.
Setelah menitipkan butik kepada para pegawainya, kini Nadine dan Farel pun segera saja pergi menuju ke tempat tujuan.
Sebagai seorang wanita yang normal, saat sedang berada di butik mewah dengan gaun-gaun pengantin yang indah di dalamnya, tentu akan membuat wanita tersebut merasa sangat bahagia karena akan menggunakan salah satu gaun itu di acara pernikahannya nanti saat menjadi ratu sehari seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Tetapi tidak dengan Nadine, ia terlihat begitu murung, bukan karena tidak menyukai gaun yang ada di dalam butik itu, tetapi karena ia harus menikah terpaksa dengan pria yang sama sekali sudah tidak ia cintai. Bahkan secuil rasa yang dulu pernah ia rasakan pun seakan hilang ditelan bumi, karena sikap tidak baik yang telah Farel lakukan terhadapnya. Padahal Nadine sudah berusaha untuk ikhlas, tetapi rasanya begitu sulit. Apa mungkin karena rasa cintanya untuk Keenan yang terlalu besar, sehingga sangat sulit untuk memaafkan Farel dan menerimanya kembali di dalam hatinya itu.
"Sayang, kenapa kamu melamun? Ayo coba gaunnya," ucap Farel di saat seorang pegawai di butik tersebut sudah datang menghampiri mereka dan mengajak Nadine untuk segera mencoba gaun yang sudah dipesan khusus oleh Farel untuk wanita cantik yang akan menjadi istrinya.
Meskipun secara mendadak, tetapi bukan berarti Farel memilih gaun sembarangan yang tidak bagus, malah gaun itu merupakan gaun limited edition dengan harga yang begitu fantastis. Bukan hanya Nadine saja yang dibawa oleh pegawai untuk mencoba gaun pengantin, tetapi Farel juga dibawa oleh pegawai lainnya untuk mencoba baju pengantinnya di tempat yang berbeda.
Hingga di saat itu dari kejauhan Farel sudah melihat Nadine yang sedang melangkahkan kakinya dengan anggun mendekat ke arahnya sembari tersenyum. Sepasang mata Farel tak dapat berkedip karena melihat kecantikan Nadine yang menggunakan gaun pilihannya itu. Sangat cocok dan terlihat begitu sempurna di mata Farel, bahkan siapapun yang melihatnya, termasuk dua pegawai wanita yang saat ini sedang menangani fitting baju pengantin mereka.
Wanita yang saat ini sudah berdiri di hadapan Farel merupakan wanita yang paling tercantik yang pernah ia lihat di dalam hidupnya, sehingga membuat Farel pun merasakan jatuh cinta kepada Nadine untuk yang kesekian kalinya.
"Farel, kenapa bengong. Nggak bagus ya?" Tanya Nadine.
"Cantik, sempurna," gumam Farel.
"Kamu bicara apa Rel?" Tanya Nadine karena tak begitu mendengar jelas ucapan Farel tadi.
"Aku bilang kamu cantik Nadine, cantik banget, sempurna," jawab Farel tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih Rel," ucap Nadine dan membalas senyuman itu.
****
Saat baru saja melakukan sesi pemotretan, kini Bianca pun sedang berada di dalam ruang istirahat untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah. Karena kemarin ia sempat menghindar dari pemotretan, kini jadwal pemotretannya yang berada di perusahaan tersebut sangat padat. Sedangkan kerjasamanya dengan Perusahaan C&K Group telah diputus oleh Clara dan membayarkan sisa kontraknya yang tinggal 2 bulan itu secara langsung.
"Ini Nona ponselnya. Sepertinya banyak pesan WhatsApp masuk," ucap Siska seraya memberikan ponsel Bianca yang sedari tadi ia pegang.
"Iya siska, terima kasih. Oh ya kamu duduk sini dulu, saya mau cerita," ucap Bianca, lalu Siska pun langsung saja menundukkan dirinya di kursi samping bos-nya itu.
"Ada apa Nona? Tanya Siska di saat Bianca sedang melihat pesan WhatsApp yang masuk pada ponselnya itu.
"Kamu lihat ini, ini adalah foto fitting baju pengantin yang baru saja dikirim Farel," ucap Bianca sembari memperlihatkan foto tersebut. "Sebenarnya ini juga ingin aku ceritakan."
"Jadi Tuan Farel akan menikah dengan Nona Nadine?" Tanya Siska.
"Ya seperti itulah, benar-benar beruntung. Sedangkan nasib aku dan Keenan sampai saat ini saja belum jelas bagaimana nantinya," ucap Bianca yang terlihat rasa kekecewaan dan iri dari pelupuk matanya itu.
"Nona Bi yang sabar ya, saya yakin kok kalau jodoh tidak akan kemana," ucap Siska.
Dan tiba-tiba saja …
Huwek … huwek …
Entah kenapa Bianca merasakan begitu mual, atau mungkin karena ia masuk angin karena memang tadi pagi belum sempat sarapan saat hendak pergi bekerja. Sehingga membuat Siska begitu panik dengan mencoba untuk mengusap-usap pelan punggung Bianca agar merasa lebih tenang.
Akan tetapi karena sudah tidak tahan lagi, Bianca pun segera berlari menuju ke wastafel yang ada di dalam ruangan tersebut dan menumpahkan apa saja yang ada di dalam perutnya itu.
Bersambung …
__ADS_1