Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Kena Batunya


__ADS_3

Seakan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini, Farel dan Bianca sama-sama syok saat menyadari diri mereka sedang berada di sebuah kamar hotel dan tidur berdua, apalagi dalam kondisi mereka seperti saat sekarang ini. Mereka berdua yakin jika tadi malam telah terjadi sesuatu, ditambah lagi saat itu Bianca juga melihat ada bercak noda merah di atas sprei, yang itu artinya ia sudah melepaskan kesuciannya untuk Farel. Bianca pun menangis sejadi-jadinya dan membuat Farel juga menjadi kebingungan, karena ia sendiri tak tahu kenapa mereka bisa ada di sini dan tidak menyadari apa yang sudah dilakukannya.


"Bianca, kenapa kamu menangis seperti itu? Kamu membuat aku jadi bingung Bi," ucap Farel.


"Lantas aku harus bagaimana Rel? Kamu mau melihat aku tertawa bahagia gitu dengan kondisi aku sekarang. Kamu brengsek, kamu jahat Farel, kamu telah merenggut kesucianku yang seharusnya aku berikan kepada Keenan, pria yang aku cintai, bukan kamu," ucap Bianca.


"Bi, aku sendiri juga tidak tahu kenapa kita bisa ada di sini dan apa iya kita melakukannya. Aku sama sekali tidak mengingatnya, jadi jangan main asal menuduhku saja," ucap Farel.


"Jadi kalau kita tidak melakukannya, kenapa aku bisa seperti ini Farel. Ini sudah jelas kamu yang melakukannya padaku," ucap Bianca.


"Kenapa bisa jadi seperti ini sih, akh!" Teriak Farel sembari memukul-mukul kepalanya sendiri.


Sedangkan Bianca masih tampak menangis meratapi nasibnya itu.


Ting …


Sebuah pesan masuk secara bersamaan pada ponsel Bianca dan Farel. Segera saja keduanya meraih ponsel mereka dan membuka serta membaca pesan tersebut.


"Selamat pagi. Bagaimana, apakah malam kalian sangat menyenangkan? Jangan kalian pikir kalian bisa bermain-main denganku, ini adalah balasannya karena perbuatan jahat yang telah kalian lakukan. Sepandai-pandainya kalian sembunyi dan berlari dari masalah ini, kalian pasti akan kena batunya juga. Aku punya bukti bahwa kalian berdua yang waktu itu berniat untuk menjebak kami. Aku bisa saja melaporkan kalian ke polisi, tetapi kami masih berbaik hati sehingga hanya memberikan kalian pelajaran kecil saja seperti ini."


"Keenan?" Ucap Bianca.


"Nadine?" Ucap Farel.


Keduanya sama-sama terkejut setelah membaca pesan tersebut.

__ADS_1


"Kamu bilang apa tadi, Nadine?" Tanya Bianca.


Mata keduanya pun saling bertemu dan bertatapan.


"Iya Nadine, Nadine yang mengirim pesan untukku," jawab Farel. "Kamu sendiri bukannya tadi kamu menyebut nama Keenan?" Tanyanya.


"Iya, karena Farel juga mengirim pesan untukku," jawab Bianca.


Kini keduanya pun saling menunjukkan pesan yang baru saja diterima dan ternyata pesan tersebut memang sama, hanya saja dikirim dari nomor yang berbeda yaitu nomor Keenan dan Nadine.


"Brengsek! Ternyata mereka berdua yang telah menjebak kita di sini Bi. Karena sebenarnya mereka tahu bahwa malam itu kita sudah menjebak mereka, bahkan dalam pesan ini tertulis bahwa mereka mempunyai buktinya. Kita benar-benar dalam bahaya Bi," ucap Farel.


"Iya, ternyata mereka berdua pandai sekali bersandiwara dan malah membuat kita menjadi seperti sekarang ini Rel. Bagaimana ini, kamu enak sebagai laki-laki kamu bisa pergi begitu saja. Lalu bagaimana denganku, bagaimana nanti kalau aku hamil," kata Bianca yang sangat panik.


"Bi, tenang Bi. Kamu nggak mungkin hamil, kita baru melakukannya sekali. Lagipula aku juga nggak yakin kalau tadi malam kita melakukannya, karena aku sama sekali nggak merasakan apapun. Aku hanya ingat kalau aku pingsan dan setelah itu aku nggak sadarkan diri," kata Farel.


"Nah kalau memang seperti itu, berarti Keenan dan Nadine yang sudah membawa kita ke kamar ini dan mereka membuat kita berdua seolah-olah telah melakukannya," kata Farel.


"Iya tapi ini benar-benar di luar nalar Rel. Bagaimana caranya mereka membuka pakaian kita? Memangnya mereka berdua nggak malu melihat kita seperti ini dan lagipula yang ada di sprei ini bercak darah Farel. Aku juga merasa sesuatu yang perih, aku yakin kita memang sudah melakukannya," ucap Bianca yang masih berusaha menutupi tubuh polosnya itu dengan selimut.


Sedangkan Farel tampak menutupi kepemilikannya itu dengan bantal.


"Aku minta maaf Bi, tapi aku benar-benar tidak pernah punya niat untuk menodai kamu karena kita berdua dijebak. Tapi jika memang terjadi sesuatu padamu nanti, aku pasti akan bertanggung jawab. Aku bukan laki-laki brengsek yang lepas tanggung jawab begitu saja," kata Farel.


Bianca pun kembali menangis, ia tak menyangka jika masa depannya akan hancur hanya karena kebodohan yang telah ia mulai terlebih dahulu.

__ADS_1


"Sudah Bi, stop! Jangan menangis terus. Bukan hanya kamu yang menyesali ini, tapi aku juga. Aku baru pertama kali melakukannya bersamamu Bianca. Aku minta kamu tenang ya, sambil kita memikirkan jalan keluarnya. Sekarang kamu jangan melihat ke arahku, aku mau turun dan menuju ke kamar mandi," kata Farel.


"Aku juga tidak nafsu untuk mengintipmu, ucap Bianca lalu mengalihkan pandangannya.


"Ck, tapi kamu juga sudah merasakannya," hardik Farel dan langsung saja turun dari tempat tidur memunguti pakaiannya, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


****


"Kak Keenan, jelaskan ke aku apa maksud dari pesan ini?" Tanya Nadine sembari menyodorkan ponselnya.


Nadine cukup terkejut membaca riwayat pesan yang dikirimkan untuk Farel. Karena di saat itu Keenan lupa untuk menghapus pesan terakhir yang dikirimnya itu.


"Menjelaskan apa Nadine?" Tanya Keenan pura-pura bodoh.


"Jangan pura-pura nggak tahu ya Kak. Sebenarnya apa sih yang sudah kakak lakukan? Dan ini apa maksudnya, bagaimana malam kalian? Jangan macam-macam ya Kak Keenan," ucap Nadine.


"Aku nggak macam-macam Nadine, aku hanya satu macam aja kok. Aku hanya memberi mereka pelajaran, ini semua adalah balasan untuk mereka karena sudah berani macam-macam dengan kita. Jadi mereka kena batunya sekarang," ucap Keenan.


"Maksud Kakak gimana sih? Coba kakak jelaskan ke aku, aku benar-benar nggak mengerti Kak," pinta Nadine.


Karena semuanya sudah terjadi, kini Keenan pun menceritakan kepada adiknya itu agar tidak terus bertanya karena merasa penasaran. Keenan pun menceritakan secara detail, mulai dari rencananya dengan apa yang sudah ia lakukan, hingga menjebak Farel dan Bianca di kamar hotel.


Di saat Bianca dan Farel sama-sama sudah tidak sadarkan diri lagi, segera saja Keenan membawa Bianca ke salah satu kamar yang sudah dipesan olehnya. Setelah itu ia pun memerintahkan Bisma untuk memindahkan Farel juga ke tempat yang sama. Tetapi setelah itu Keenan benar-benar tidak tahu apa yang mereka lakukan berdua, karena efek dari obat tersebut, obat yang sudah ia pesan khusus itu, mengakibatkan keduanya pusing dan pingsan. Tapi setelah itu akan membangkitkan gairah keduanya dan mereka dapat melakukan apapun di batas kesadaran.


Bersambung …

__ADS_1



__ADS_2