Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Bersikap Canggung


__ADS_3

Pagi menyingsing dengan cepat, Nadine mengerjap-mengerjapkan matanya saat sang mentari menyapanya melalui celah jendela. Nadine tampak menghembuskan nafasnya secara perlahan, ia masih tidak tahu harus bersikap seperti apa saat bertemu dengan Keenan kakaknya itu. Ingin bersikap seperti biasa saja, tapi rasanya itu akan terasa sangat sulit. Lihat saja nanti apa yang akan terjadi, yang pasti Nadine juga tidak bisa jika harus menghindarinya terus menerus.


Segera saja ia beranjak dari tempat tidur dan segera mandi, lalu bersiap-siap karena akan segera pergi ke butik. Meskipun sedang tidak ada pekerjaan yang deadline, tetapi Nadine lebih memilih menghabiskan waktunya di butik bersama dengan gaun-gaunnya yang akan menjadikan pikirannya lebih fresh, daripada ia harus tetap berada di rumah dan terus saja memikirkan Keenan.


Di saat Nadine baru saja keluar dari kamarnya, bertepatan saat itu Keenan juga keluar dari kamarnya tersebut. Nadine dan Keenan tampak canggung, tidak saling menyapa. Bahkan tadinya di saat mata mereka bertemu, langsung saja keduanya mengalihkan pandangan ke arah lain. Karena kamar Keenan terletak lebih dekat dengan akses jalan untuk menuju ke lantai bawah, akhirnya Keenan pun berjalan terlebih dulu, lalu Nadine mengikutinya dari belakang.


Kini Keenan dan Nadine pun sama-sama menuruni tangga. Di saat itu karena pikirannya tidak fokus, Nadine tidak sengaja tersandung hingga tubuhnya terhuyung dan hampir saja terjatuh. Untung saja Kenan yang saat itu berada tidak jauh darinya, hanya berjarak 3 anak tangga itu dengan cepat menangkapnya hingga Nadine terjatuh di pelukan Keenan. Mata keduanya saling bertatapan, ada rasa dag dig dug yang luar biasa dan tidak dapat dijelaskan dan juga rasa canggung setelah apa yang terjadi. Lalu setelah menyadari itu, Keenan pun secara perlahan membantu Nadine untuk berdiri, Nadine juga buru-buru untuk membenarkan posisinya itu serta menjadi salah tingkah.


"Maaf Kak, terimakasih sudah menolong aku," ucap Nadine lirih.


"Hem, lain kali hati-hati" ucap Keenan Ketus dan berlalu.


"Sepertinya Kak Keenan benar-benar marah sama aku. Tapi mungkin ini lebih baik untuk membuang perasaan itu," batin Nadine.


Saat sarapan bersama pun Nadine dan Keenan tampak terdiam, mereka hanya fokus untuk sarapan lalu segera saja pergi untuk beraktivitas masing-masing.


Nathan dan Dinda dapat melihat ada yang aneh dengan sikap kedua anaknya itu, tetapi mereka hanya memilih untuk diam saja. Pikir mereka, mungkin saat ini di antara kedua anaknya itu memang sedang ada masalah serius. Bukan enggan peduli, tetapi sebagai orang tua, Nathan dan Dinda hanya ingin memberikan waktu anak mereka dan memilih untuk tidak ikut campur.


****


Pada malam harinya, di saat Keenan sedang duduk seorang diri di taman belakang, tepatnya di tepi kolam sembari menatap bintang-bintang, Dinda pun menghampiri anak tirinya itu.


"Keenan," panggil Dinda sembari melangkahkan kaki menghampiri Keenan.


"Mama, ada apa Ma?" Tanya Keenan menoleh ke arah Dinda.

__ADS_1


"Mama boleh duduk di sini?" Tanya Dinda menunjuk ruang yang kosong di samping anaknya itu.


"Boleh Ma, duduk aja," jawab Keenan, lalu Dinda pun mendudukkan dirinya tepat di samping Keenan.


"Keenan, maaf ya bukan Mama bermaksud mau ikut campur. Tapi yang Mama lihat sepertinya kamu dan Nadine sedang ada masalah yang sangat rumit. Mama tidak tahu itu masalah kalian masing-masing atau itu masalah kalian berdua, tapi kalau boleh Mama kasih saran, jika itu memang masalah kalian berdua cepat selesaikan ya. Bagaimanapun juga kalian berdua itu adik beradik, Mama dan Papi tidak mau melihat kalian berdua diam-diaman seperti itu. Rasanya sangat canggung sekali dalam satu keluarga tetapi tidak saling bertegur sapa. Dan kalau Keenan mau cerita sama Mama, Mama siap kok untuk mendengarkannya, bahkan jika Keenan membutuhkan solusi Mama, nasehat Mama, dengan senang hati Mama pasti akan memberikan nasehat itu Sayang. Perlu kamu tahu Sayang, meskipun Mama ini bukan ibu kandung kamu, tapi Mama sudah menganggap kamu seperti anak Mama sendiri, Mama membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang dan segenap jiwa raga Mama, Mama tidak pernah membedakan antara kamu, Nadine, Kenzo dan Kenzie. Mama sangat menyayangi kamu sama seperti Mama menyayangi adik-adik kamu. Mama ikut sakit dan sedih kalau melihat anak-anak Mama sedih dan terluka," ucap Dinda dengan tulus.


Tanpa sadar Keenan mengeluarkan buliran bening dari sudut matanya itu, lalu ia menghamburkan pelukan dalam dekapan sang ibu. Rasanya begitu nyaman dan hangat, memang dari kecil ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya melainkan Dinda lah yang selalu memberikannya kasih sayang dengan sangat tulus, bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai anak tiri. Keenan sendiri begitu menyayangi Dinda. Bukan berarti ia tidak menyayangi ibu kandungnya sendiri, tetapi memang semenjak ayah dan ibunya itu berpisah, ibu kandungnya yaitu Clara sama sekali tidak pernah menghubunginya untuk sekedar menanyakan kabarnya itu. Keenan tahu jika saat ini Clara tinggal di luar negeri, tetapi ia tidak tahu persis dimana alamatnya.


"Ma, aku memang sedang lagi ada masalah, masalah yang berat banget dalam hidup aku. Tapi maaf ya Ma karena aku nggak bisa cerita ke Mama sekarang, mungkin belum saatnya. Tapi aku janji, nanti ada saatnya kok Ma aku pasti akan cerita ke Mama. Nggak apa-apa kan Ma kalau saat ini aku hanya butuh pelukan Mama, hanya butuh sandaran Mama yang sudah buat aku sudah cukup tenang," ucap Keenan.


"Ia Sayang, tentu saja itu tidak masalah. Mama juga senang kalau kehadiran Mama di sini bisa buat kamu lebih tenang," ucap Dinda yang memeluk erat tubuh sang anak sembari mengusap lembut pundaknya.


Ting … tung …


"Sayang, itu sepertinya ada yang datang. Mama buka pintu dulu ya," ucap Dinda.


"Iya Ma," jawab Keenan lalu melerai pelukan mereka.


Dinda bergegas membukakan pintu untuk tamunya itu. memang jika sudah malam para ART sudah diizinkan untuk beristirahat, sehingga tidak perlu lagi untuk melakukan tugas-tugas rumah kecuali memang saat itu mereka masih berada di luar kamar.


"Nak Farel," ucap Dinda saat membuka pintu dan mendapati pacar dari anaknya itu yang datang.


"Selamat malam Tante," ucap Farel yang langsung meraih tangan ibu dari kekasihnya itu, menyalami serta mencium punggung telapak tangannya.


"Selamat malam juga Farel. Kamu sudah kasih kabar Nadine belum kalau mau datang ke sini?" Tanya Dinda.

__ADS_1


"Belum Tante, justru dari pagi aku WA Nadine jawabannya singkat-singkat, malah sama sekali nggak ada balasan lagi. Aku telepon juga nggak diangkat. Aku hanya khawatir terhadap Nadine Tante. Apa boleh aku bertemu dengan Nadine? Nadien-nya ada kan Tan?" Tanya Farel.


"Oh begitu, iya Nadine-nya ada kok. Ya sudah kamu masuk dulu ya, biar tante panggilkan Nadine dulu di kamarnya," kata Dinda mempersilahkan.


Lalu Farel pun langsung saja masuk dan duduk menunggu Nadine di ruang tamu.


Sedangkan Dinda langsung pergi menuju ke kamar Nadine untuk memanggil anaknya itu.


Tok … tok … tok


"Nadine … ," Dinda mengetuk pintu sembari memanggil nama anaknya itu.


Tidak berapa lama Nadine membukakan pintu untuk Dinda.


"Iya Ma ada apa? Tanya Nadine saat melihat ibunya ada dihadapannya saat ini.


"Sayang kamu belum tidur? kamu Lagi apa?" Tanya Dinda.


"Aku lagi baring-baring aja Ma, ada apa?" Tanya Nadine.


"Itu di bawah ada Farel, dia terlihat sangat khawatir terhadap kamu. Katanya kamu nggak ada kabar seharian ini. Bisa kan kamu temui Farel, kasihan dia Sayang," kata Dinda.


Nadine tampak terdiam, memang ia hari ini tidak terlalu menggubris sang kekasih. Bahkan ponselnya saja entah ia letakkan dimana, memilih untuk tidak membukanya. Bukan karena ia mempunyai masalah dengan Farel, tetapi karena masalah hatinya itulah ia lebih memilih untuk menghindari Farel, tak ingin jika kekasihnya itu menjadi sasarannya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2