Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Rasa Takut Yang Berlebihan


__ADS_3

"Kamu jangan coba-coba untuk menyembunyikan Keenan ya Dinda. Keenan itu anak aku, jadi aku berhak untuk melakukan apapun terhadap anak aku sendiri," ucap Clara.


"Anak? Kemana saja kamu selama ini, kamu sudah pergi begitu saja tanpa kabar. Setelah 16 tahun kamu kembali lagi dan mengatakan jika Keenan itu anak kamu, iya? Apakah seperti itu sikap seorang ibu? Kamu dengar ya Clara, aku tidak akan pernah menyerahkan Keenan kepada kamu. Keenan juga bukan barang yang bisa kamu serahkan, kamu buang dan tiba-tiba kamu mau ambil begitu saja. Keenan itu anak aku, aku sudah menyayangi Keenan dengan segenap jiwa raga aku. Aku sudah menyerahkan semua kasih sayangku untuk Keenan sama seperti aku menyayangi Nadine dan juga kedua ada kembarku. Jadi kamu sama sekali tidak ada hak untuk merebut Keenan dari aku. Camkan itu!" Ucap Dinda yang terlihat emosi. Bahkan ia sendiri tidak menyangka dapat mengatakan hal seperti itu. Karena rasa takutnya yang berlebihan lah yang membuat ia begitu berani untuk melawan Clara.


"Kamu benar-benar keterlaluan ya Dinda, siapa kamu berani berbicara seperti itu padaku. Kamu sama sekali tidak ada hak untuk melarang aku bertemu dengan anak kandungku sendiri, aku yang mengandung Keenan dan bertaruh nyawa untuk melahirkan Keenan. Kita lihat saja nanti, setelah Keenan bertemu dengan aku, apakah dia mau ikut denganku atau tetap bersama denganmu yang jelas-jelas bukan ibu kandungnya," ucap Clara.


Dinda terdiam, memang apa yang dikatakan oleh Clara itu ada benarnya, tetapi tetap saja Dinda tidak rela, ia takut jika Keenan benar-benar kembali pada ibu kandungnya. Dinda pun enggan meladeni mantan istri suaminya itu, ia segera saja meraih tasnya dan beranjak pergi meninggalkan Clara di cafe tersebut.


"Memangnya dia siapa? Berani sekali dia berbicara seperti itu denganku dan seenaknya mau merebut Keenan dariku," gerutu Clara.


Lalu ia pun merogoh ponsel di dalam tasnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, saya ada tugas buat kamu. Saya ingin kamu mencari informasi tentang sebuah keluarga, nanti saya akan mengirimkan detailnya kepada kamu," ucap Clara sembari tersenyum smirk lalu mengakhiri telepon tersebut.


****


Sepanjang perjalanan pulang, Dinda tampak gugup. Ia seperti sedang dihantui rasa takut yang berlebihan, ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia benar-benar akan kehilangan Keenan, seorang anak laki-laki yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Di saat itu Dinda juga terlihat sangat tidak fokus hingga ia hampir saja menabrak seseorang yang sedang melintasi jalan tersebut. Untung saja Dinda dengan cepat menyadari hal itu dan segera membanting setir hingga dan membelokkan mobilnya ke arah kiri jalan. Untungnya Dinda juga tidak kenapa-napa, hanya dahinya saja yang sedikit terluka karena terbentur setir.


Sedangkan seorang wanita yang tadi hendak menyebrang melihat akan hal itu merasa bersalah dan segera saja menghampiri Dinda.


Tok … tok … tok …


Seseorang mengetuk jendela mobil dan langsung saja Dinda membukanya.


"Bu, Ibu tidak kenapa-napa?" Tanya seseorang wanita muda kepada Dinda.


"Iya, saya tidak apa-apa. Kamu yang menyeberang tadi kan?" Tanya Dinda pula.


"Iya benar Bu. Saya minta maaf ya karena saya sudah membuat Ibu seperti ini," ucap wanita itu.


"Oh … tidak, tidak. Kamu sama sekali tidak bersalah, justru saya yang mau minta maaf karena tadi saya hampir saja menabrak kamu. Saya tidak fokus," ucap Dinda dengan tatapan sendu.


"Tidak apa-apa Bu. Saya juga yang salah tidak melihat kanan kiri dulu dan malah mau menyebrang begitu saja," ucap wanita itu lagi.

__ADS_1


"Saya juga salah karena tadi benar-benar tidak melihat kamu. Kamu tidak kenapa-napa kan Nak?" Tanya Dinda yang tampak khawatir.


"Nak? Kenapa rasanya begitu hangat saat ibu ini memanggil aku dengan sebutan Nak," batin wanita itu.


"Nak? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Dinda lagi karena melihat wanita yang ada di depannya itu melamun.


"Oh iya Bu, saya tidak kenapa-napa kok. Saya baik-baik saja. Justru ibu yang saat ini terluka, dahi Ibu berdarah pasti karena terbentur setir mobil kan? Saya antar Ibu ke rumah sakit ya," ucap wanita itu.


"Tidak perlu Nak, saya benar-benar tidak kenapa-napa," ucap Dinda.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi apa Ibu ada bawa kotak P3K?" Tanya wanita itu.


"Tidak, kebetulan kotak P3K-nya ada di dalam mobil suami saya, jadi tidak ada di dalam mobil ini," jawab Dinda.


"Oh … kalau begitu Ibu tunggu sebentar ya, saya ada kotak P3K di dalam mobil. Saya akan kembali lagi," ucap wanita itu dan bergegas saja pergi untuk mengambil kotak P3K di dalam mobilnya.


Tidak lama kemudian, ia pun kembali menemui Dinda dengan membawa obat yang ada di dalam kotak P3K tersebut.


"Bu Maaf, biar saya obati luka Ibu ya. Sebentar saja, Ibu tahan ya kalau agak perih," kata wanita itu lalu ia pun masuk ke dalam mobil Dinda untuk mengobatinya.


"Sudah selesai Bu. Oh ya saya Amanda, panggil saja Manda," ucap wanita itu menjulurkan tangannya.


"Ya, terimakasih banyak ya Nak Manda sudah mengobati saya. Saya Dinda," ucap Dinda, lalu mereka pun berjabat tangan.


"Sekali lagi saya minta maaf ya Bu. Saya tadi terburu-buru sekali dan sekarang saya harus segera pergi untuk menemui Bos saya," ucap Amanda.


"Tidak apa-apa Manda. Maaf ya gara-gara saya kamu jadi terlambat dan sekali lagi terimakasih banyak Nak," ucap Dinda.


"Iya Bu sama-sama. Ibu tidak perlu minta maaf karena ini juga kesalahan saya. Kalau nanti terjadi apa-apa sama Ibu, hubungi saya saja ya Bu. Ini kartu nama saya," ucap Amanda sembari memberikan kartu namanya.


Dinda pun segera saja menerima kartu nama tersebut.


"Terima kasih banyak Amanda," ucap Dinda yang tak bosan mengucap kata itu.

__ADS_1


"Iya Bu sama-sama. Saya permisi dulu," ucap Amanda, ia meraih tangan Dinda lalu mencium punggung kelapa tangannya itu dan segera saja berlalu dari pandangan Dinda.


Perlakuan Amanda itu begitu menyentuh hati Dinda, ia tidak menyangka setelah kejadian buruk yang membuatnya tadi merasakan sangat takut, malah dia mengalami hal yang baik bertemu dengan anak muda yang kira-kira seusia dengan anaknya, Nadine. Yang memperlakukannya dengan sangat baik layaknya seorang anak kepada ibunya.


Amanda sendiri tidak tahu kenapa ia bisa melakukan hal itu kepada Dinda. Atau mungkin karena selama ini ia memang tidak pernah merasakan kasih sayang ibunya, karena sejak kecil tinggal di Panti Asuhan tanpa tahu siapa orang tua kandungnya. Setelah berusia 17 tahun, Amanda keluar dari Panti dan mencari pekerjaan di luar negeri sehingga ia menjadi asisten Clara. Sayangnya ia sama sekali tidak bisa untuk mendekatkan dirinya dengan Clara yang sangat angkuh itu dan hanya menganggapnya sebagai seorang asisten atau bisa dibilang sebagai kacungnya.


Kini Amanda pun terburu-buru melajukan mobilnya untuk menjemput Clara di cafe. Memang Amanda tadi pergi sebentar meninggalkan bos-nya karena ada urusan lain. Sehingga terjadilah kejadian yang menimpa dirinya dan Dinda barusan. Akan tetapi entah kenapa Amanda merasa sangat senang karena diperlakukan baik oleh orang lain.


****


"Ma, Mama kenapa keningnya?" Tanya Nadine. Nadine lah orang yang pertama kali pulang ke rumah dan melihat keadaan ibunya seperti itu.


"Oh ini, Mama tidak kenapa-napa kok Sayang. Tadi hanya ada kecelakaan kecil saja di jalan," jawab Dinda.


"Hah? Kecelakaan kecil, maksud Mama kecelakaan gimana?" Tanya Nadine yang begitu tampak khawatir.


"Tadi itu Mama tidak fokus saat menyetir mobil dan hampir saja menabrak orang. Jadi Mama memilih untuk banting setir ke kiri dan berhenti mendadak, akhirnya kepala Mama ini terbentur setir deh," jawab Dinda.


"Mama, Mama hati-hati dong. Terus kenapa juga Mama nyetir sendiri? Kenapa Mama nggak tunggu Nadine, Papa atau Kak Keenan pulang dulu," kata Nadine.


"Iya Mama minta maaf, soalnya tadi itu barang belanjaan kan sudah pada habis, terus Mama juga bosan karena di rumah sendiri. Jadi Mama lagi ingin saja gitu belanja sendirian. Apalagi di rumah kan lagi kosong tidak ada siapa-siapa yang bisa antar Mama. Mama juga kan udah lama tidak nyetir sendiri," ucap Dinda.


"Iya Ma, justru karena Mama itu sudah lama nggak nyetir, jadinya seperti ini kan?" Kata Nadine.


Di saat itu Keenan dan Nathan baru saja pulang dan masuk ke dalam rumah, mereka mendengar perdebatan di antara ibu dan anak perempuannya itu.


"Nadine, Mama, ada apa sih? Sepertinya Papi dengar suara ribut-ribut?" Tanya Nathan.


"Iya, suaranya sampai terdengar keluar loh," sahut Keenan.


"Ini Pi, Kak, lihat kening Mama. Mama tadi nyetir mobil sendirian sampai seperti ini," ucap Nadine menunjukan luka ibunya itu.


Nathan dan Keenan pun segera menghampiri wanita yang sangat mereka cintai itu dengan perasaan yang sangat khawatir.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2