
Daripada harus meladeni Siska, Keenan pun lebih memilih untuk segera saja pergi dari sana. Akan tetapi saat di dalam perjalanan, ia terus saja memikirkan perkataan Siska tadi.
"Teman lama? Sejak kapan Bianca mempunyai teman lama seakrab itu. Selama berpacaran denganku, kenapa Bianca sama sekali tidak pernah menceritakannya padaku. Atau mungkin mereka baru dekat setelah putus denganku? Hah sudahlah, untuk apa juga sih aku memikirkan kata-kata itu. Lalu kenapa juga Siska harus mengatakan padaku untuk jangan mengganggu Bianca lagi, apa coba maksudnya. Dia pikir Bianca itu siapa? Lagipula aku juga tidak peduli lagi dengannya, mau dia berhubungan dengan siapapun itu bukan urusanku. Sekarang aku bebas, i'm single i'm very happy dan mulai saat ini aku tidak akan pernah lagi membuka hati ini untuk wanita lain, kecuali Nadine. Ya hanya Nadine lah wanita yang aku cintai," ucap Keenan yang bermonolog dengan dirinya sendiri.
****
Saat ini kondisi Nadine pun telah membaik, sehingga dokter mengatakan jika besok Nadine sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Sedangkan malam ini sebelum Nadine pulang ke rumah, Keenan pun memutuskan untuk tidur di rumah sakit menjaga adiknya meskipun ada Farel yang masih terlihat stay di sana. Sedangkan Nathan dan Dinda sudah pulang ke rumah atas permintaan anak-anaknya agar mereka dapat beristirahat. Begitu juga dengan Kenzo dan Kenzie yang tadi menjenguk kakaknya pun sudah ikut pulang bersama orang tua mereka.
"Rel, sebaiknya kamu pulang saja lah. Kamu kan sudah seharian di sini, tidak mandi, tidak ganti pakaian. Jadi lebih baik kamu pulang untuk membersihkan diri kamu, biar aku saja yang menjaga adikku," ucap Keenan.
"Ya nggak apa-apa lah Kee. Tanggung juga kan besok pagi Nadine akan pulang, jadi biar sekalian aku mengantar Nadine pulang," kata Farel.
"Maksud kamu gimana? Kamu itu tidak menghargai aku sebagai kakak Nadine atau bagaimana sih! Kamu mau mengantar Nadine pulang karena kamu itu pacar Nadine, begitu? Terus kamu menganggap aku ini siapa? Aku ini kakaknya Nadine, aku sudah berada di sini yang itu artinya sudah pasti aku yang akan membawa Nadine pulang. Lagipula besok pagi Papi dan Mama juga akan datang ke sini, ya nggak mungkin lah mereka malah menyerahkan Nadine ke kamu," kata Keenan.
"Ya nggak masalah mau Nadine itu satu mobil dengan kamu, satu mobil dengan orang tuanya, yang jelas aku hanya ingin mengantar Nadine pulang ke rumah saja," kata Farel.
"Whatever lah, yang penting sekarang kamu pulang saja dan besok pagi kamu bisa datang lagi ke sini," ucap Keenan yang terlihat emosi, meskipun Farel sudah sangat santai menghadapinya.
"Aduh … sudah dong sudah. Stop Kak Keenan, Farel, kenapa kalian malah jadi ribut-ribut seperti itu sih? Ini sudah malam loh, nanti takutnya malah mengganggu ketenangan pasien lain," kata Nadine.
"Nggak akan mengganggu pasien lain lah. Ini kan kamar VIP, hanya kamu sendiri pasien yang berada di dalam sini," kata Keenan.
"Tapi di sebelah kedengaran Kak," kata Nadine mencoba memberi pengertian kepada kakaknya itu.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kamu suruh pacar kamu ini pulang. Sudah keseharian juga kan dia berada di sini. Memangnya tidak mau mandi, tidak butuh istirahat apa?"
Lalu ia pun segera saja duduk di sofa dengan melipat kedua tangannya serta terlihat wajah bete-nya itu.
"Rel apa yang dikatakan Kak Keenan itu benar, lebih baik kamu pulang saja ya dulu sekarang. Aku nggak mau kalau kamu sakit, kamu kecapean karena terus menjaga aku disini. Mama dan Papi juga sudah pulang beristirahat, jadi lebih baik biar Kak Keenan saja yang ada di sini menemaniku," pinta Nadine, berharap kekasihnya itu akan mengerti.
Karena ini juga keinginan dari kekasihnya, Farel pun mengiyakannya meski terasa berat. Karena sebenarnya ia masih tetap ingin berada di rumah sakit menemani sang kekasih.
"Ya sudah kalau begitu, kalau memang itu mau kamu. Tapi besok pagi-pagi aku datang ke sini lagi ya untuk menjemput kamu dan mengantar kamu pulang ke rumah," kata Farel.
"Iya boleh, yang penting malam ini kamu pulang saja dulu ya. Terimakasih ya karena hari ini kamu sudah menjagaku," ucap Nadine.
Farel pun mengecup kening kekasihnya itu dengan sangat lembut, yang membuat Keenan merasa panas melihatnya.
"Iya aku pulang. Aku pulang dulu ya Sayang, Keenan," ucap Farel berpamitan.
"Hm," jawab Keenan singkat.
"Hati-hati ya," ucap Nadine.
****
Setelah Farel pergi meninggalkan ruang rawat inap Nadine, Keenan pun segera saja mendekati adiknya itu dan duduk di kursi samping brankar yang ditiduri oleh Nadine.
__ADS_1
"Keadaan kamu sekarang bagaimana?" Tanya Keenan.
"Seperti yang kakak lihat, aku baik-baik saja. Maka dari itu besok aku sudah diperbolehkan untuk pulang," jawab Nadine.
"Iya, iya. Kamu kenapa sih bisa sampai kecapean seperti itu, sampai kekurangan darah. Bukannya ada Farel yang selalu memperhatikan kamu? Ya seharusnya hal ini tidak akan pernah terjadi," ucap Keenan.
"Ini bukan salah Farel atau salah siapapun, ini murni kesalahan aku sendiri karena terkadang terlalu disibukkan dengan pekerjaan aku," kata Nadine
"Kalau sudah tahu seperti itu, lebih baik mulai sekarang kamu jangan terlalu mengejar pekerjaan kamu itu, seharusnya sesuai kemampuan kamu saja Nadine. Lagipula kamu itu Bos loh, pemilik butik. Masa iya pekerjaan kamu lebih sibuk daripada anak buah kamu. Kamu juga punya desainer kan, jadi seharusnya kamu itu menyerahkan pekerjaan itu kepada desainer kamu," kata Keenan.
"Habisnya aku seperti kurang puas aja Kak kalau bukan aku yang mengerjakannya sendiri. Tetapi karena aku sudah masuk rumah sakit, ini sudah menjadikan pembelajaran buat aku. Iya deh nanti aku akan coba mempercayakan semuanya kepada desainer aku itu dan akau hanya perlu mengawasinya saja," ucap Nadine.
"Nah gitu dong, itu baru adik aku. Ya sudah lebih baik sekarang lamu tidur, istirahat saja sudah malam," kata Keenan.
"Iya Kak, Kakak tidur di sofa aja gih sana supaya lebih leluasa," kata Nadine .
"Enggak ah, aku mau temani kamu aja tidur di sini," ucap Keenan.
"Ya sudah terserah Kakak aja," ucap Nadine.
Lalu Keenan dan Nadine pun mencoba memejamkan mata. Keenan menyandarkan kepalanya di atas tempat tidur Nadine dengan memegang tangan adiknya itu layaknya seorang kekasih. Nadine yang saat itu terbangun menyadari jika Keenan masih berada di dekatnya dengan menggenggam erat tangannya, merasakan hatinya begitu berdebar dan sangat bahagia. Rasanya seperti ada yang berbeda tidak seperti di saat ia bersama dengan Farel sang kekasih. Nadine juga tidak merasa jika kedekatannya bersama Keenan saat ini adalah bersama seorang kakak. Entahlah semua itu membuat Nadine menjadi bingung memikirkan perasaannya. Ia yakin jika ini adalah cinta, bukan cinta dari seorang adik untuk kakaknya.
Bersambung …
__ADS_1