
"Dor … Papi sedang melihat apa?" Tanya Kenzo yang baru saja turun dan melihat Papinya itu, hingga menghampirinya.
"Kamu lihat tuh ke sana, Papi sedang melihat dua bidadari yang ada di rumah kita ini sedang masak bersama. Coba kamu perhatikan, so sweat banget kan," kata Nathan.
Kenzo pun melihat ke arah yang dimaksud oleh ayahnya itu. "Iya Pi, aku ikut bahagia melihat Mama tersenyum seperti itu bersama Kak Nadine," ucap Kenzo.
"Oh ya? Memang kamu juga menyadari ya kalau beberapa minggu ini senyuman di wajah Mama menghilang?" Tanya Nathan.
"Ya iyalah Pi. Aku bukan anak kecil lagi, aku ini anak SMA. Bukan hanya aku, Kenzie juga menyadarinya kok. Bahkan kita pernah tanya langsung ke Mama apa sedang ada masalah. Tetapi karena Mama mengatakan semua baik-baik saja, ya sudah kita memilih diam dan tidak bermaksud ingin mencampuri urusan orang tua. Lagipula aku dan Kenzie yakin kok kalau Papi pasti bisa mengembalikan senyuman Mama lagi dan sekarang terbuktikan kalau Mama sudah bisa tersenyum kembali," ucap Kenzo.
"Iya kamu benar Ken. Oh ya Kenzie dimana? Tumben kamu tidak bersama dengan Kenzie. Biasanya kalian berdua kan selalu bersama," tanya Nathan.
"Kenzie lagi ada tugas sekolah Pi. Kalau tugas aku sih sudah selesai," jawab Kenzo.
"Oh seperti itu. Ya sudah kalau begitu kita ke sana saja, jangan mengganggu Mama dan Kakak kamu sedang memasak," ajak Nathan.
"Iya Pi," jawab Kenzo lalu mereka berdua pun beranjak menuju ke ruang keluarga.
****
Pada saat makan malam telah selesai dan tersaji di atas meja, hanya tinggal dinikmati saja oleh keluarga Nathan masih tampak menunggu kepulangan Keenan. Di saat itu pula Keenan sedang bertengkar hebat dengan kekasihnya.
Keenan mengikuti Bianca sampai ke rumahnya, akan tetapi wanita itu malah bersikap arogan terhadapnya.
"Bi tunggu Bi, aku bisa jelaskan ke kamu Bianca," ucap Keenan sembari menarik tangan kekasihnya itu.
"Lepaskan! Keenan, kamu tidak perlu mengikuti aku sampai ke sini. Aku sudah muak dan sangat lelah menghadapi sikap kamu," ucap Bianca.
__ADS_1
"Jadi kamu mau apa sekarang Bi? Aku sudah berusaha menjadi kekasih yang kamu mau. Aku minta maaf, tadi aku benar-benar sibuk dan menyelesaikan pekerjaan aku dulu. Tadi aku juga sudah mengetik pesan untuk memberitahu kamu bahwa aku akan datang terlambat, tapi ternyata pesan itu tidak terkirim," ucap Keenan.
"Kamu pikir aku ini bodoh yang bisa percaya begitu saja dengan alasan seperti itu. Bukan baru kali ini saja kamu ingkar janji, sudah terlalu sering dengan alasan-alasan kamu yang selalu sibuk. Kamu selalu saja mementingkan pekerjaan kamu daripada aku. Padahal aku juga sibuk, aku juga kerja Keenan. Dan sekarang kamu memberikan alasan yang sama sekali tidak masuk di akal. Lebih baik sekarang kamu pergi tinggalkan tempat ini, karena aku sama sekali sudah tidak mau lagi melihat wajah kamu," ucap Bianca.
"Maksud kamu apa tidak mau melihat wajah aku lagi? Kamu ingin kita mengakhiri hubungan ini?" Tanya Keenan.
"Ya, aku ingin mengakhiri hubungan ini. Aku sudah tidak sanggup lagi mempunyai hubungan dengan pria yang tidak punya pendirian seperti kamu. Lebih baik aku sendiri, fokus dengan pekerjaan daripada harus mempunyai kekasih yang terus saja membuat aku kecewa dan sakit hati. Hanya mengganggu konsentrasiku saat bekerja. Lebih baik sekarang kamu pergi, kamu sudah terbebas dari aku," ucap Bianca.
"Kamu serius Bi?" Tanya Keenan untuk memastikannya lagi.
"Aku sangat serius dan aku mau kamu pergi dari hadapanku sekarang juga!" Ucap Bianca.
"Oke kalau itu mau kamu. Kamu yang mengakhiri hubungan ini, bukan aku Bianca. Aku sudah menjelaskannya, tetapi kamu sama sekali tidak percaya apa kataku," ucap Keenan.
"Ya ini memang mauku dan aku tidak akan menarik kata-kataku. Oh ya satu lagi, ini ada titipan buat kamu. Aku juga tidak tahu ini dari siapa, yang jelas di sini tertera untuk kamu," ucap Bianca sembari menyerahkan bingkisan yang diberikan oleh Clara tadi dengan sangat kasar.
Ia begitu sangat kesal, bukan karena menyesali berakhirnya hubungannya dengan Bianca, tetapi ia sama sekali tidak menduga dengan pengorbanan yang telah ia lakukan selama ini malah dibalas oleh sikap kasar Bianca seperti itu. Keenan tidak bisa mempercayainya, padahal selama ini ia sudah berusaha keras untuk menjadi kekasih terbaik untuknya di tengah kesibukannya itu. Bianca malah tidak mempercayainya dan menuduhnya yang bukan-bukan.
****
"Pi, bagaimana? Apa Keenan sudah bisa dihubungi?" Tanya Dinda.
Saat ini mereka masih menunggu Keenan untuk menyantap makan malam bersama.
"Tidak bisa Ma. Mungkin Keenan masih ada kesibukan dan HP-nya non aktif. Bagaimana kalau sekarang kita makan malam saja terlebih dulu, kasihan tuh yang sudah kelaparan," ucap Nathan.
"Iya Pi, aku sudah lapar banget nih. Kita makan aja yuk duluan," ucap Kenzo.
__ADS_1
"Aku setuju, nanti kan Kak Keenan bisa nyusul. Lagipula biasa jam 07.00 kita sudah makan malam dan ini sudah jam 08.00 Pi, Ma. Bisa kebayang kan bagaimana cacing di dalam perut aku memanggil-manggil," ucap Kenzie.
Sedangkan Nadine di saat itu hanya terdiam saja serta menundukkan wajahnya, terlihat jelas rasa kekhawatiran yang terpancar dari raut wajahnya itu.
"Kak Keenan kemana ya? Kenapa sampai sekarang belum juga pulang?" Batin Nadine.
"Ya sudah lebih baik sekarang kita makan saja ya duluan, nanti kakak kalian bisa menyusul. Mungkin saja saat ini Keenam masih sibuk dengan pekerjaannya dan mudah-mudahan Keenan sudah makan. Atau bisa saja kan kalau Keenan sedang bertemu dengan Bianca sekalian makan malam seperti biasanya," ucap Dinda.
"Iya Mama benar, bisa jadi seperti itu. Ya sudah kita makan saja ya sekarang," ucap Nadine.
Lalu mereka pun langsung menyantap makan malam bersama.
Keenan baru saja tiba di rumah dan memarkirkan mobilnya itu di sembarang tempat. Tidak seperti biasanya Keenan selalu saja langsung memasukkan mobil ke dalam garasi. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah dan melewati ruang makan dengan memasang wajah yang ditekuk. Di saat itu Nadine lah yang melihat jika kakaknya itu sudah pulang.
"Kak Kee!" Panggil Nadine hingga keluarganya itu pun menatap ke arah pria itu.
Akan tetapi Keenan sama sekali tak menggubrisnya dan tetap melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.
"Ada apa ya dengan Keenan, kenapa raut wajahnya ditekuk seperti itu dan kelihatannya dia sangat kesal," ucap Dinda.
"Iya Ma, aku juga bisa melihatnya. Sepertinya Kak Keenan sedang ada masalah deh Ma," ujar Nadine.
"Sudah, sudah, kita lanjutkan saja makannya ya. Nanti biar Papi tanya ada apa dengan Keenan. Mungkin saat ini Keenan benar-benar butuh waktu sendiri dan tidak mau diganggu oleh kita," ucap Nathan.
"Iya Pi," Jawab Nadine.
Bersambung …
__ADS_1