
Clara semakin membulatkan matanya untuk memastikan jika yang dilihatnya itu memang benar Nathan mantan suaminya itu bersama keluarganya.
"Ternyata itu memang Nathan, tidak salah lagi," gumam Clara dalam hati.
Sedangkan Amanda yang saat itu memperhatikannya berdiri celingukan menatap ke arah sebuah keluarga, membuatnya merasa keheranan.
"Nyonya ada apa?" Tanya Amanda memberanikan diri.
Akan tetapi Clara sama sekali tidak menggubrisnya, ia terlihat masih tetap fokus menatap ke arah sana.
"Jika itu memang Nathan, bisa saja yang sedang menghadap ke arah sana, dua wanita itu, pasti Nadine dan Dinda. Ya yang aku dengar setelah berpisah denganku, Nathan menikah dengan Dinda. Kedua anak laki-laki kembar yang tampaknya masih bersekolah itu pasti anak mereka berdua. Lalu siapa pria yang baru menabrak aku tadi? Apa jangan-jangan itu Keenan," ucap Clara yang terus bermonolog dengan hatinya, mendadak ia juga merasa khawatir mengingat bagaimana sikapnya tadi terhadap pria muda itu.
"Seandainya itu benar-benar Keenan, bagaimana ini? Padahal kita baru saja bertemu untuk yang pertama kalinya setelah lama berpisah, tetapi aku malah meninggalkan kesan buruk. Padahal tujuan aku ke Indonesia, selain membangun perusahaan di sini, karena aku ingin bertemu dengan Keenan, aku ingin dekat dengan anakku. Keenan maafkan Mami Nak," batin Clara.
"Nyonya ini makanannya sudah datang, lebih baik sekarang kita makan," tegur Amanda yang kini berdiri menghampiri bos-nya itu, hingga Clara tersadar dari lamunannya.
"Kita pergi sekarang dari sini," ucap Clara.
"Loh kenapa kita harus pergi? Ini makanan kita sudah datang Nyonya. Kalau kita pergi dari sini, lalu siapa yang mau makan makanan ini? Sayang sekali. Lagipula saya juga lapar," ucap Amanda.
"Kamu ini terlalu banyak bicara. Terserah saja mau kamu apakan makanan ini, mau kamu bawa pulang, mau kamu kasih ke orang, yang penting cepat kamu bayar dan kita pulang sekarang," ucap Clara ketus sembari menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Ba-baik Nyonya. Nyonya Tunggu saja dulu di mobil, saya akan membereskan makanan ini," ucap Amanda.
Meskipun ia merasa sangat bingung dengan perilaku bos-nya itu, tetapi Amanda pun sama sekali tidak bisa membantah dan banyak bertanya.
"Sayang banget makanan sebanyak ini, belum disentuh sama sekali mau dianggurin begitu saja," gumam Amanda.
Setelah Clara terlebih dulu keluar dari restoran menuju ke mobil, ia pun segera meminta pelayan untuk membungkus makanan yang baru saja dipesan serta membayarnya.
__ADS_1
"Aku tidak sanggup jika harus bertemu Nathan dan keluarganya saat ini, terutama Keenan yang tadi sudah aku marahi habis-habisan. Lebih baik sekarang aku menghindar saja, aku benar-benar tidak sanggup. Tapi bagaimana jika itu bukan Keenan? Bisa saja pria muda itu pacarnya Nadine, ya bisa saja kan. Aku harus cari tahu. Tetapi bagaimana kalau itu benar-benar Keenan? Ya ampun, apa yang harus aku lakukan? Wait … wait … tadi aku lihat sepertinya anak muda itu terkejut melihat aku, seperti mengenal aku, atau jangan-jangan dia memang Keenan karena tahu bahwa aku ini adalah ibunya. Tetapi karena sikap aku yang arogan, sikap aku yang tidak baik, sehingga dia memilih untuk diam. Dan aku juga bisa melihat tadi wajah anak muda itu tiba-tiba tampak murung dan sedih saat mendengar aku membentaknya, bahkan dia tidak melawan. Pantas saja tadi aku juga merasakan ada getaran lain saat berdekatan dengannya, tetapi kenapa aku tidak menyadari itu. Aku malah begitu kesal karena anak itu tidak sengaja menabrakku. Apa yang harus aku lakukan saat ini? aku bingung, tidak tahu harus berbuat apa," gumam Clara.
Hingga Amanda pun sudah datang menghampirinya untuk segera pergi meninggalkan restoran.
"Nyonya makanannya sudah saya bungkus. Jadi sekarang kita mau kemana Nyonya?" Tanya Amanda.
"Kamu ini lama sekali ya. Ya sudah karena kamu sudah bungkus makanannya, kita pulang saja ke apartemen sekarang. Kamu makan di apartemen, saya sudah tidak berselera," ucap Clara.
Amanda hanya menganggukkan kepalanya. Lalu segera saja melajukan mobil menuju ke apartemen.
Sementara itu, keluarga Nathan masih tampak menikmati makanan yang mereka pesan. Tidak hal-nya dengan Keenan, ia terlihat seperti mengacak-acak makanannya dan tidak berselera. Pikirannya masih saja terus melayang pada saat pertemuannya dengan ibunya itu.
Hingga makan malam pun telah selesai dan keluarga itu kembali pulang ke rumah.
****
"Kamu mau bicara apa?" Tanya Keenan.
"Lebih baik kita duduk dulu Kak," ucap Nadine.
"Ya sudah kita duduk di luar saja," ajak Keenan.
Lalu Nadine dan Keenan pun duduk di balkon yang memang biasa digunakan untuk mereka bersantai. Di sana juga tersedia kursi dan meja untuk menikmati keindahan malam dari atas sana ditemani semilir angin yang menerpa.
"Kak, sebenarnya Mama, Papi, dan aku bisa melihat kalau saat ini kamu sedang menyembunyikan masalah dari kita. Sejak tadi kita semua hanya diam saja, menunggu Kakak bercerita. Tapi aku rasa, kamu nggak akan cerita kalau nggak ditanya. Sebenarnya ada apa Kak? Semenjak kembali dari toilet tadi, kamu itu aneh, berbeda saat pertama kali kita pergi ke restoran," tanya Nadine.
"Apa harus aku cerita ke kamu," ucap Keenan.
"Kenapa Kakak berbicara seperti itu, bukannya kamu sudah terbiasa bercerita sama aku. Lagipula kita juga kan sudah baikan Kak. Aku ini adik kamu dan semua rahasia kamu itu akan aman di tangan aku," ucap Nadine.
__ADS_1
Keenan menatap Nadine dengan tatapan sendu, memang lebih baik ia menceritakannya kepada seseorang agar hatinya itu lebih tenang. Terutama Nadine, Nadine adalah orang yang paling dekat dengannya selama ini.
"Oke, aku akan cerita. Tadi waktu di toilet, aku tidak sengaja menabrak seorang ibu paruh baya. Dan kamu tahu siapa dia?" Ucap Keenan.
"Nggak tahu lah, kan kamu belum bilang. Memang siapa Kak?" Tanya Nadine.
"Dia adalah ibu kandung aku Dine, Mami Clara," jawab Keenan.
Nadine membelalakkan matanya. "Hah? Kakak serius?" Tanyanya yang sangat terkejut.
"Ya serius lah Dine, untuk apa juga aku berbohong sama kamu. Aku serius," jawab Keenan menatap serius.
"Ya, ya, bukan itu juga maksud aku Kak. Hanya tidak menyangka aja," ucap Nadine yang tampak gugup karena ditatap seperti itu oleh kakaknya.
"Aku juga nggak menyangka, setelah sekian lama berpisah akhirnya aku bisa bertemu dengan ibu kandung aku lagi. Sudah 16 tahun lamanya Mami meninggalkan aku, bahkan sama sekali tidak pernah memberi kabar ke aku. Tapi aku masih ingat jelas bagaimana wajah Mami, kamu tahu kan sampai sekarang aku masih menyimpan foto Mami," ucap Keenan.
"Iya Kak. Tapi kalau memang seperti itu, kenapa Kakak harus sedih, seharusnya kamu senang dong bisa bertemu ibu kandung kamu lagi. Terus bagaimana tadi pertemuannya? Pasti sangat mengharukan banget ya, kamu pasti peluk Tante Clara, mencurahkan rasa rindu kamu selama ini kan Kak," ucap Nadine yang malah terlihat begitu antusias.
"Seharusnya seperti itu Nadine, itu juga yang aku inginkan. Tapi kamu tahu apa? Mami malah bentak-bentak aku, dia malah marah-marah sama aku karena tidak sengaja menabraknya tadi di depan toilet. Membuat aku mengingat lagi bagaimana perlakuannya dulu saat aku masih kecil, padahal aku sudah melupakan masa lalu itu Nadine. Mami juga tidak tahu bahwa aku adalah Keenan, anaknya," ucap Keenan yang tampak begitu emosi dan juga sedih.
Mendadak hati Nadine yang lembut itu pun ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh kakaknya, ia menjadi iba karena ternyata pertemuan yang seharusnya sangat mengesankan ternyata malah mengesalkan untuk Keenan. Lalu Nadine pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri sang kakak.
"Kamu yang sabar ya Kak, aku yakin kok itu karena Tante Clara nggak tahu kalau Kakak itu Keenan anaknya. Seandainya Tante Clara tahu pasti Tante Clara nggak akan bersikap seperti itu terhadap Kakak. Kamu percaya deh sama aku," ucap Nadine lalu memeluk kakaknya itu.
Keenan pun langsung saja mengeluarkan tangisannya yang sejak tadi ia tahan di dalam dekapan Nadine agar perasaannya itu lebih tenang.
Tanpa mereka sadari, ternyata sedari tadi ada Dinda yang berdiri di samping pintu dan mendengar semua percakapan mereka berdua. Saat ini Dinda juga ikut merasa sedih karena Keenan diperlakukan tidak baik oleh ibu kandungnya sendiri. Tetapi Dinda juga yakin jika Clara bersikap seperti itu ya karena memang dia tidak tahu bahwa Keenan itu anaknya ,seperti yang dikatakan oleh Nadine tadi. Memang ibu dan anak perempuannya itu selalu saja mempunyai pemikiran yang sama.
Bersambung …
__ADS_1