Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Jadian


__ADS_3

Nadine masih terlihat melamun dengan pengakuan cinta yang diucapkan oleh Farel. Ia bingung harus menjawab apa saat ini, tetapi ia juga tidak mungkin mengabaikan perasaan Farel yang terlihat begitu tulus mencintainya. Bukankah ini juga merupakan kesempatan karena ia juga sudah berniat akan belajar untuk mencintai Farel demi melupakan rasa cintanya yang berlebihan untuk Keenan, Kakaknya sendiri.


"Nadine kamu kenapa melamun? Pasti kami syok ya karena aku terlalu cepat menyatakan cinta ke kamu. Sebenarnya aku juga merasa seperti itu, tapi aku juga nggak mau menunda terlalu lama. Kalau kamu belum bisa untuk menerima aku saat ini, aku tidak apa-apa kok. Tapi kasih aku waktu ya supaya aku bisa membuat kamu mencintai aku," ucap Farel dengan tatapan mata mendamba.


"Nggak perlu Rel," ucap Nadine.


"Maksudnya? Apa kamu menolak aku dan tidak mau memberikan aku kesempatan? Aku janji Dien, aku akan berusaha mati-matian supaya kamu mencintai aku, aku janji akan membuat kamu bahagia," ucap Farel.


Nadine tersenyum, ia bisa melihat dari tatapan mata Farel yang sangat berharap kepadanya.


"Bukan itu maksud aku Rel, maksud aku kamu nggak perlu untuk menunggu jawaban itu terlalu lama atau membuat aku mencintai kamu, karena saat ini juga aku sudah merasa mencintai kamu, ya meskipun baru sedikit sih. Tapi aku yakin kok seiring berjalannya waktu, kalau cinta ini dipupuk akan semakin bersemi," ucap Nadine.


"Kamu serius Dine?" Tanya Farel tak mempercayai, ia terlalu senang mendengar bahwa Nadine juga mencintainya.


"Ya aku serius," jawab Nadine diiringi anggukan kepalanya.


"Aku benar-benar merasa bahagia Dine, lalu apa itu artinya kamu sudah menerima cinta aku dan kita sudah jadian?" Tanya Farel untuk memastikan hubungan mereka.


"Iya, aku menerima cinta kamu Farel. Dan namanya kamu sudah nembak aku dan aku sudah menerima kamu, itu berarti kita sudah jadian dong," jawab Nadine.


Farel tersenyum bahagia karena pernyataan cintanya langsung diterima oleh Nadine, ia pun mengapresiasi rasa senangnya itu dengan memeluk wanita yang baru saja menjadi kekasihnya. Nadine tampak ragu-ragu mengangkat tangannya hingga akhirnya ia juga membalas pelukan tersebut.


"Makasih ya Nadine, makasih banget karena kamu mau menerima cinta aku dan mau menjadi pacar aku. Aku janji akan selalu menjaga kamu, selalu memberikan kamu perhatian, selalu membuat kamu bahagia, aku janji tidak akan pernah membuat kamu kecewa. Tapi seandainya nanti ada perlakuan atau perkataan aku yang tidak sengaja membuat kamu kecewa, tolong katakan padaku ya Dine, aku akan mengubahnya demi kamu," ucap Farel.

__ADS_1


"Iya Farel, aku percaya kok. Bahkan selama ini kita dekat kamu sudah banyak memberikan aku perhatian dan membuat aku bahagia. Jadi aku yakin jika aku menjadi pacar kamu, pasti aku akan lebih bahagia lagi," kata Nadine.


"Syukurlah kalau memang seperti itu. Sekali lagi makasih ya Sayang," ucap Farel.


"Iya sama-sama," jawab Nadine.


Lalu mereka melerai pelukan tersebut dan Farel kembali duduk di kursinya.


"Ya sudah kalau begitu kita sekarang pesan makanan aja ya, selesai makan aku mau ajak kamu ke sesuatu tempat yang romantis," kata Farel.


"Kamu mau ajak aku kemana lagi? Ini aja sudah romantis banget Rel," tanya Nadine.


"Ada deh, kalau kamu penasaran sekarang cepat pesan makanannya," kata Farel.


****


"Keenan, kamu kenapa gelisah seperti itu mondar-mandir di ruang tamu?" Tanya Nathan menegur sang anak.


"Papi, kok Papi belum tidur?" Tanya Keenan.


"Oh ini Papi mau ambil berkas di dalam mobil dan Papi malah melihat kamu di sini. Kamu kenapa belum tidur? Tidur sana, ini kan sudah malam," kata Nathan.


"Justru karena ini sudah malam Pi, ini sudah jam 10.00 dan Nadine belum pulang," kata Keenan.

__ADS_1


"Ya ampun Keenan, kami itu khawatirnya malah melebihi Papi dan Mama ya. Paling sebentar lagi adik kamu juga pulang. Lagipula adik kamu itu pergi dengan Farel, Mama kamu sudah kenal dan Mama kamu yakin kalau Farel itu pria yang baik. Kamu percaya sama Papi sebentar lagi juga mereka akan pulang, kamu nggak perlu lah sampai merasa khawatir berlebihan seperti itu. Papi juga yakin kalau Nadine bisa jaga diri dan dia akan baik-baik saja," ucap Nathan mencoba meyakinkan anak sulungnya itu.


"Tapi Pi, seharusnya Nadine itu sudah pulang sekarang. Aku yakin pria itu aja yang nggak beres ajak Nadine keluar sampai malam seperti ini," kata Keenan.


"Keenan, Nadine itu bukan anak ABG lagi. Kamu juga nggak perlu lah mengatur adik kamu selagi itu masih di batas kewajaran. Menurut Papi nggak ada masalah kok, Papi percaya sama adik kamu," ucap Nathan dan segera saja keluar dari rumah menuju ke bagasi, sedangkan Keenan pergi ke kamarnya.


Keenan mencoba untuk membuang rasa khawatirnya yang terlalu berlebihan itu, tetapi tidak bisa dan malah terlihat semakin khawatir karena sama sekali belum melihat kemunculan Nadine.


****


Hingga tepat pukul 11.00 malam, Keenan melihat dari jendela kamarnya ke arah bawah, ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya. Saat itu ia pun melihat Nadine Dan Farel keluar dari mobil tersebut. Karena waktu sudah malam, Nadine meminta Farel untuk segera saja pulang. Lalu Farel kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Nadine.


Sementara itu, Keenan berlari ke ruang utama berniat akan membukakan pintu untuk adiknya itu. Nadine sangat terkejut karena melihat kakaknya sudah berada di depan matanya dengan sorotan mata tajam seperti harimau yang sedang lapar dan ingin menerkam mangsanya.


"Kak Keenan? Kak Keenan ngapain sih, buat aku jantungan aja. Kan aku juga bawa kunci Kak, nggak perlulah Kakak bukain pintunya buat aku," kata Nadine.


"Kamu dari mana saja? Kamu tahu ini sudah jam berapa?" Tanya Keenan.


"Sudahlah Kak, nggak usah mulai lagi deh. Aku bukan anak kecil, lagipula ini masih jam 11.00," kata Nadine.


"Ini sudah malam Nadine, nggak pantas anak gadis keluar dengan seorang pria pulang malam seperti ini. Bahkan pria itu tidak berpamitan dulu sebelum dia pulang. Apa pria itu nggak punya sopan santun sama sekali? Lebih baik kamu jauhi pria itu, kamu cari pria yang lebih baik darinya," kata Keenan yang membuat emosi Nadine terpancing.


"Kamu benar-benar keterlaluan ya Kak. Nggak usah ngomong sembarangan, siapa yang bilang dia nggak ada sopan santun sampai kamu suruh aku cari pria lain lagi. Farel itu pria baik-baik, Mama saja sudah mengenalnya kok. Asal kamu tahu ya, aku yang suruh Farel untuk langsung pulang karena ini sudah malam, aku yakin Mama dan papi pasti sudah tidur, hanya kamu saja tuh yang masih terjaga. Tapi nggak penting juga lah harus berpamitan dengan kamu. Satu hal yang mau aku minta dari Kakak, ingat ya jangan pernah lagi menjelek-jelekkan pacar aku," ucap Nadine yang membuat Keenan tersentak mendengar Nadine menyebut Farel dengan sebutan pacar.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2