Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Alasan Sebenarnya


__ADS_3

Setelah lama memendam perasaan ini, akhirnya Keenan pun sudah tak bisa lagi menahan apa yang ada di dalam hatinya. Saat ini ia sudah jujur kepada Bianca tentang perasaannya yang telah mencintai orang lain, meskipun ia belum dapat mengungkapkan siapa wanita itu.


"Enggak, itu nggak mungkin kan Rel. Siapa wanita itu? Kalau kamu memang mencintai wanita lain sejak dulu, lalu kenapa kamu memilih berpacaran denganku?" Tanya Bianca yang tak terima.


"Itu karena aku berusaha untuk melupakannya, karena aku merasa tidak akan mungkin bisa untuk mendapatkan cintanya. Untuk itu aku berpacaran denganmu, berharap aku dapat melupakan wanita itu," ungkap Keenan.


"Oh … jadi ini alasannya kenapa waktu itu tiba-tiba kamu mengajakku untuk menjalin hubungan? Jadi alasan sebenarnya karena kamu hanya ingin menjadikanku pelampiasan saja," kata Bianca.


"Tidak seperti itu juga Bi, buktinya selama aku berpacaran denganmu, aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, aku sudah berusaha memberikan rasa cintaku untukmu seutuhnya. Tetapi pada kenyataannya tidak bisa, rasa cinta ini hanya untuknya. Aku sudah sangat mencintainya dan aku rasa tidak akan ada lagi yang wanita yang mampu menggantikan posisinya di hati ini. Untuk itu aku sudah memutuskan untuk menutup pintu hati ini rapat-rapat untuk wanita lain, kecuali hanya untuknya," ucap Keenan.


"Aku nggak percaya Keenan. Kalau kamu memang tidak bisa mendapatkan cintanya, lalu untuk apa kamu berharap. Kecuali memang kamu mau Mengejar cintanya," kata Bianca.


"Untuk apa aku mengejar cintanya kalau aku tidak akan pernah bisa bersama dengannya," ucap Keenan yang membuat Bianca itu pun semakin tidak mengerti.


Karena merasa sangat marah dan kesal terhadap Keenan, akhirnya Bianca pun segera saja keluar dari ruangan Keenan, lalu pergi meninggalkan Perusahaan Collin Group.


****


"Siapa wanita yang dimaksud Keenan?" Kenapa Keenan mengatakan kalau mereka tidak akan bisa bersama? Apa jangan-jangan Wanita itu sudah memiliki suami. Tapi kalau memang seperti itu, untuk apa Keenan mengharapkannya. Sudah jelas-jelas ada aku, wanita yang tulus mencintainya dan sudah pasti tidak memiliki suami," gumam Bianca yang merasa kebingungan.


Lalu ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi yang tak tau kemana arahnya ia hendak pergi. Akan tetapi tiba-tiba saja ia teringat akan James, James yang kemarin telah datang menghampirinya tetapi sama sekali tidak digubris olehnya, dengan alasan ia ingin sendiri. Terbesit rasa bersalah di dalam hatinya, hingga ia pun memutuskan untuk menghubungi teman lamanya itu.


"Halo Bi," ucap James yang sangat cepat menjawab telepon darinya.


"James, kamu ada dimana sekarang?" Tanya Bianca.

__ADS_1


"Aku sedang berada di rumah sakit, ada apa Bi?" Jawab James dan bertanya.


"Oh kamu sedang ada pekerjaan ya, maaf kalau aku mengganggu," ucap Bianca.


"Iya, sekarang memang aku sedang ada pasien. Tapi kamu sama sekali tidak menggangguku kok. Kalau kamu memang ada perlu, sebentar lagi aku juga sudah selesai," kata James.


"Aku hanya ingin bertemu sebentar denganmu James. Bagaimana kalau aku datang ke rumah sakit saja, kita bertemu di kantin rumah sakit," kata Bianca.


"Ya sudah kalau kamu maunya seperti itu. Aku tunggu ya Bi, kamu hati-hati," ucap James.


"Iya James," jawab Bianca dan mengakhiri telepon tersebut.


****


Setelah beberapa hari pulang dan pergi ke Butik bersama dengan Keenan, hari ini pun Nadine memutuskan untuk membawa mobilnya sendiri. Karena keadaan Nadine di saat ini benar-benar sudah pulih, akhirnya keluarganya itu pun menyetujuinya.


Segera saja Nadine mengirimkan pesan kepada Farel memintanya untuk bertemu dengannya hari ini saat jam makan siang nanti.


Hingga waktu yang dinanti pun telah tiba, dimana siang hari ini Nadine dan Farel bertemu di sebuah restoran untuk makan siang bersama sekaligus membicarakan tentang hubungan mereka.


"Farel, aku minta maaf ya atas sikapku dua hari yang lalu. Aku yakin kamu pasti sangat marah dan kecewa terhadapku," ucap Nadine.


"Jujur aku memang cukup kecewa, tapi sudahlah aku juga sudah melupakan hal itu," jawab Farel.


"Ya aku bisa melihatnya. Karena kamu yang biasanya selalu menghubungiku, selalu mengkhawatirkanku meskipun kita sedang bertengkar, tapi kali ini sama sekali tidak ada," ucap Nadine.

__ADS_1


"Apa kamu merasa kehilangan?" Tanya Farel.


"Sejujurnya memang seperti ada yang hilang, terasa sepi. Tapi menurutku mungkin aku harus mulai terbiasa dengan hal itu," jawab Nadine.


"Maksud kamu apa Nadine? Aku melakukan itu hanya ingin memberimu waktu. Bukankah kamu mengatakan ingin sendiri? Kamu tidak ingin diganggu olehku dulu, bahkan kamu merasa jika perhatianku itu berlebihan yang terkadang membuat kamu risih," ucap Farel.


"Aku minta maaf jika kata-kataku telah menyinggung perasaanmu Farel. Tapi ada hal penting yang ingin aku katakan padamu," ucap Nadine.


"Hal penting apa?" Tanya Farel.


"Aku ingin kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini," ucap Nadine.


"Tapi kenapa? Apa aku sudah berbuat kesalahan yang begitu fatal sampai kamu tidak mau lagi menjalin hubungan denganku?" Tanya Farel.


"Bukan karena itu Rel, kamu sama sekali tidak membuat kesalahan apapun. Aku hanya tidak mau lagi menyakitimu terlalu dalam, aku sudah tak bisa lagi menahan perasaan ini untuk mengatakan bahwa sampai saat ini aku sama sekali belum bisa mencintaimu Farel. Jujur ada sedikit rasa suka dan kagumku terhadapmu, karena kamu begitu baik, penyayang, kamu selalu perhatian terhadapku. Aku sudah mencoba untuk belajar mencintai kamu dengan sepenuh hati, tetapi pada kenyataannya aku sama sekali tidak bisa. Dan jujur sebenarnya ada orang lain yang sudah aku cintai sejak lama," ucap Nadine yang akhirnya pun berani untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya. Sama seperti apa yang telah Keenan sampaikan kepada Bianca.


"Apa? Jadi selama ini kamu sudah mencintai orang lain? Tapi kenapa kamu malah menerima cintaku waktu itu," kata Farel.


"Aku minta maaf Rel, karena aku ingin melupakan pria itu hingga aku pun memanfaatkanmu. Berharap supaya aku bisa mencintaimu dan melupakan pria itu. Tapi pada kenyataannya aku belum bisa melupakannya sampai saat ini, aku masih mencintainya Rel," ucap Nadine.


Meskipun ucapan yang keluar dari mulut Nadine itu begitu menyayat hatinya, tetapi Farel cukup merasa senang karena pada akhirnya Nadine bisa jujur dengan perasaannya sendiri. Ia pun berusaha untuk ikhlas menerima keputusan Nadine.


"Aku mengerti jika memang seperti itu. Aku hanya bisa mendoakan supaya kamu bahagia dan bisa bersama dengan pria yang kamu cintai," ucap Farel, lalu ia pun segera saja beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Nadine.


"Maafkan aku Rel, tapi pada kenyataannya aku tidak akan bisa bersama dengan pria itu meskipun kita sudah berpisah," batin Nadine dan meneteskan air matanya, rasanya begitu pedih karena harus menyia-nyiakan pria sebaik Farel. Tetapi ia juga tak mau menyakiti hati Farel lebih lama lagi, hingga ia pun memutuskan untuk mengakhiri semuanya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2