Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Terancam


__ADS_3

Meskipun tampak ragu, Keenan pun menekan nomor ponsel tersebut lalu segera saja menghubunginya. Akan tetapi di saat panggilan itu telah tersambung, ia segera saja mematikan panggilan telepon tersebut.


"Ah sudahlah, untuk apa juga sih aku harus menghubungi nomor ini. Nggak penting banget. Lagipula dia pikir aku akan senang gitu menerima hadiah ini, hadiah nggak jelas siapa pengirimnya. Lebih baik aku kembalikan saja ke Bianca, ya hanya dia yang tahu ini dari siapa. Jadi hanya dia juga yang bisa mengembalikannya," gumam Keenan.


****


Keesokan hari, sesuai dengan niatnya dengan sangat terpaksa Keenan pun mengarahkan laju mobilnya menuju ke Perusahaan Iklan C&K dimana tempat mantan kekasihnya itu bekerja. Meskipun sebenarnya Keenan tidak tahu dimana saat ini Bianca melakukan pemotretan, tetapi tidak ada salahnya jika saat ini ia pergi ke perusahaan tersebut. Berharap jika Bianca memang saat ini berada di perusahaan itu.


Setibanya di sana, Segera saja Keenan turun dari mobilnya. Di saat itu ia melihat mobil Bianca yang ada di depan perusahaan, yang itu artinya wanita tersebut memang saat ini sedang berada di perusahaan tersebut. Tanpa berlama-lama lagi dan membuang-buang waktu, langsung saja Keenan masuk ke dalam perusahaan milik orang tuanya itu.


Bertepatan pula di saat itu Clara yang hendak keluar dari perusahaan, ia tidak sengaja melihat sosok pria tampan itu dan merasa sangat terkejut. Untungnya Keenan belum sempat melihatnya, sehingga Clara pun masih sempat untuk bersembunyi. Akan tetapi tiba-tiba saja pandangannya menatap ke arah bingkisan yang saat itu sedang ditenteng oleh Keenan menuju ke loby perusahaan.


"Halo, selamat pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis.


"Halo Mbak, saya mau bertemu dengan Bianca bisa?" Tanya Keenan.


"Apa Tuan sudah ada janji sebelumnya?" Tanya resepsionis.


"Belum," jawab Keenan singkat.


"Maaf Tuan, tapi Nona Bianca sedang melakukan pemotretan dan tidak bisa diganggu," ucap resepsionis.


"Ya sudah kalau begitu tolong berikan saja bingkisan ini kepada Bianca. Katakan saja ini dari Keenan, katakan juga padanya bahwa saya memintanya untuk mengembalikan bingkisan ini kepada pengirimnya," ucap Keenan.


"Baik Tuan," ucap resepsionis.


"Terimakasih," ucap Keenan dengan wajah datar dan segera saja berlalu.


Resepsionis itu cukup kebingungan, tetapi karena ia dititipkan pesan, maka ia pun nantinya akan menyampaikan pesan tersebut kepada Bianca.


Setelah melihat Keenan sudah keluar dari perusahaan dan masuk ke dalam mobilnya, bahkan mobilnya saat ini sudah tak lagi terlihat dari pandangannya, Clara pun segera saja keluar dari persembunyiannya menuju ke loby.

__ADS_1


"Rita, apa yang diantar oleh pemuda tadi?" Tanya Clara to the point kepada resepsionisnya itu.


"Ini Nyonya, tadi ada seorang pria yang menitipkan bingkisan ini untuk Nona Bianca dan memintanya untuk mengembalikan kepada pemiliknya. Saya jadi bingung jadi bingkisan ini milik Nona Bianca atau orang lain," jawab Rita dan mengeluarkan bingkisan yang tadi sudah ia simpan.


"Kamu tidak perlu bingung dan tidak perlu tahu. Berikan saja bingkisan itu kepada saya. Nanti biar saya yang akan memberikannya kepada Bianca," ucap Clara.


"Iya Nyonya," jawab Rita seraya memberikan bingkisan tersebut kepada bos-nya.


Clara pun segera saja membawa bingkisan tersebut ke dalam ruangannya, ia membuka kotak dan jam tangan yang masih tampak utuh. Begitu juga dengan note yang telah ia tulis itu. Clara teringat jika tadi malam Keenan telah menghubunginya, akan tetapi di saat itu Clara yang sedang tidur pun tidak mendengar karena anaknya itu hanya menghubunginya sebentar. Lalu Clara sendiri tak ada keberanian untuk menghubunginya kembali, entah kenapa ia yang terkenal dengan sikapnya yang arogan dan angkuh, pemberani, tetapi nyalinya begitu ciut saat berhadapan dengan anaknya sendiri. Apalagi jika ia mengingat bagaimana sikapnya dulu terhadap Keenan dan bagaimana pula tentang pertemuan terakhirnya dengan Keenan. Semua itu masih sangat terngiang-ngiang di dalam pikirannya. Sampai saat ini Clara masih mencari cara bagaimana agar Keenan mau menerimanya kembali.


Akan tetapi wajah Clara yang tadinya tampak sedih karena mengingat tentang itu, kini tampak murka dan bertanya-tanya kenapa Keenan harus mengembalikan hadiah darinya. Padahal Bianca mengatakan jika Keenan sudah menerimanya dengan senang hati. Clara yang sudah tidak tahan lagi ingin menanyakan hal ini kepada Bianca segera saja menghampiri modelnya yang saat itu baru saja selesai melakukan pemotretan.


"Bianca, jelaskan kepada saya Kenapa Keenan mengembalikan bingkisan ini," ucap Clara dengan tatapan murka yang membuat lawan bicaranya itupun bergidik.


Bianca juga cukup terkejut, karena ia sendiri tidak tahu apa alasannya.


"Saya juga tidak tahu Nyonya, tapi saya sudah menyerahkannya kepada Keenan. Kenapa saat ini bingkisan itu ada pada Nyonya?" Tanya Bianca.


Lalu Clara pun menceritakan disaat tadi Keenan datang ke perusahaan dan menitipkan bingkisan ini kepada resepsionis.


"Berani sekali ya kamu mengajari saya. Kamu tidak tahu jika saya punya alasan sendiri kenapa saya memberikan hadiah ini tanpa memberitahunya," ucap Clara.


"Lalu kenapa Nyonya? Kenapa Nyonya tidak memberitahu saya. Jika Nyonya memberitahunya, jadi saya bisa membantu tujuan Nyonya, mencari cara supaya hadiah itu bisa diterima oleh Keenan," kata Bianca.


"Masalahnya tidak semudah itu Bianca," kata Clara.


"Jadi saya harus bagaimana Nyonya, bahkan hubungan saya dan Keenan saat ini sudah berakhir," ucap Bianca.


Kali ini Clara yang cukup terkejut mendengar ungkapan dari Bianca itu. Jika memang benar hubungan Bianca dan Keenan telah berakhir. Lalu untuk apa ia mempekerjakan Bianca. Karena tujuannya hanya satu, ia ingin dekat lagi dengan Keenan. Lalu bagaimana sekarang dia harus dekat lagi dengan anaknya sedangkan Bianca saja sudah tidak bisa lagi membantunya.


"Apa maksud kamu putus dengan Keenan? Bukankah kamu sudah berjanji akan membantu saya. Jika kamu tidak berbaikan lagi dengan Keenan, maka maaf Bianca kerja sama kita akan berakhir dengan cepat," ucap Clara.

__ADS_1


"Tapi Nyonya, memangnya ada apa sih? Kenapa pekerjaan saya harus terancam hanya gara-gara hubungan saya dengan Keenan telah berakhir. Justru saya mengakhiri hubungan ini karena saya ingin fokus dengan pekerjaan saya," ucap Bianca yang merasa kebingungan.


"Tetapi saya tidak bisa memperkerjakan kamu jika kamu mengakhiri hubungan kamu dengan Keenan. Kamu pikirkan saja lagi," kata Clara dan segera saja pergi dari pandangan Bianca.


Saat ini Bianca benar-benar di buat pusing tujuh keliling, kenapa pekerjaannya harus benar-benar terlibat dengan Keenan. Bagaimana caranya ia harus meminta berbaikan kepada Keenan, sedangkan ia sendirilah yang mengakhiri hubungan tersebut.


****


Beberapa hari pun telah berlalu, kini Nadine telah tampak kembali pulih dan sudah akan pergi ke butik untuk beraktivitas seperti biasa.


"Dine, lebih baik kamu pergi sama aku aja ya. Biar aku yang antar kamu pergi ke butik dulu, baru aku pergi ke perusahaan," kata Keenan.


"Nggak usah Kak, aku bawa mobil sendiri aja," tolak Nadine.


"Enggak, pokoknya kamu harus pergi sama aku. Kamu itu belum terlalu pulih, kamu juga nggak boleh kecapean kan. Jadi sudahlah lebih baik kamu tuh nurut aja," kata Keenan.


"Nadine, benar apa yang Kakak kamu katakan. Lebih baik kamu perginya dengan Keenan saja ya. Nanti kalau sudah pulang, kamu bisa telepon Papi atau nanti biar supir yang jemput kamu," kata Nathan.


"Tapi Pi-" ucapan Nadine terhenti.


"Sayang, kamu nurut saja ya. Ini semua juga demi kebaikan kamu," kata Dinda.


"Ya sudahlah terserah kalian aja," ucap Nadine yang tak bisa lagi menolak.


Lalu Nadine dan Keenan pun berpamitan kepada kedua orang tuanya dan segera saja pergi beraktivitas seperti biasa. Sedangkan Kenzo dan Kenzie diantar oleh supir pergi ke sekolahnya.


****


"Terimakasih ya Kak," ucap Nadine sembari hendak melepas safety belt saat sudah tiba di depan butik.


Akan tetapi Nadine terlihat kesusahan karena ada sesuatu yang menyangkut pada safety belt itu hingga Keenan pun berniat ingin membantunya. Di saat Nadine mendongakkan kepalanya, wajah mereka pun saling berdekatan dan mata keduanya saling bertemu. Lagi-lagi perasaan itu muncul antara Nadine dan Keenan, mereka benar-benar seperti dua insan yang merasakan cinta tetapi tidak bisa untuk bersama, karena mereka adalah saudara kandung.

__ADS_1


Bersambung …



__ADS_2