
"Nadine, lebih baik sekarang kamu keluar dari kamar aku. Aku mau istirahat," ucap Keenan yang tiba-tiba sembari melepaskan pelukan mereka dan tentunya membuat Nadine merasa bingung.
"Loh kenapa Kakak tiba-tiba mengusir aku seperti itu Kak, memangnya kenapa sih? Bukannya tadi Kakak fine-fine aja ya," ucap Nadine.
"Iya benar, tapi kan sekarang kamu sudah tahu kalau aku tidak kenapa-napa, kamu juga sudah merasa lebih tenang kan? Dan aku nggak marah sama kamu soal Jefri, jadi kamu tidak perlu memikirkan apapun lagi. Kamu tenang aja ya, aku bisa kok menghadapi masalah ini," kata Keenan.
"Oh … gitu, terus sekarang Kakak usir aku karena Kakak mau istirahat?" Tanya Nadine.
"Dine, aku nggak bermaksud untuk mengusir kamu kok. Tapi memang benar kalau sekarang aku tuh lagi capek banget dan mau tidur," jelas Keenan.
"Ya sudah kalau gitu, aku juga mau tidur Kak. Good night," ucap Nadine.
"Good night too," balas Keenan.
Lalu Nadine pun keluar dari kamar Keenan dan dengan cepat Keenan menutup pintu kamarnya itu. Ia berdiri bersandar di balik pintu kamarnya, mencoba untuk menstabilkan perasaannya yang sejak tadi terasa begitu mengganggu saat dirinya di dekat Nadine.
"Enggak … ini nggak bisa aku biarkan. Aku nggak bisa terus-terusan seperti ini. Aku harus menjauh dari Nadine agar perasaan ini tidak semakin mendalam. Nadine … Nadine, kamu itu selalu saja menyiksa perasaanku saat aku sedang berdekatan denganmu. Seandainya saja kita bukan saudara, sudah pasti aku akan menyatakan cinta ini untuk kamu Nadine," batin Keenan.
****
Karena tidak mau terlalu larut akan perasaannya itu, Keenan pun mencari cara bagaimana caranya untuk melupakan perasaannya yang berlebihan terhadap Nadine. Ia hanya ingin menyayangi Nadine hanya sebatas rasa sayang terhadap adiknya saja, tidak lebih dari itu. Lalu ia pun membuka laptopnya dan mencari caranya itu lewat internet.
"Membuka hati dan mencintai wanita lain, itu adalah salah satu cara manjur untuk move on dan melupakan cintamu itu kepada wanita tertentu. 95% orang berhasil melakukannya, meskipun akan terasa sangat sulit. Takutnya kamu adalah 5% di antara orang yang gagal itu."
__ADS_1
Keenan membaca salah satu artikel yang ada di internet.
"Artikel apaan sih ini, belum apa-apa sudah buat patah semangat aja, bagaimana coba kalau aku benar-benar ada di antara 5% itu?" Gumam Nathan.
Lalu ia teringat dengan berapa banyak wanita yang selama ini telah ditolaknya. Ya selama ini Keenan memilih untuk tidak berpacaran, ia menutup hatinya untuk wanita semenjak putus dengan pacarnya dulu. Bukan karena tidak ada wanita yang menyukainya, tentu saja dengan ketampanannya, kepintaran dan kekayaannya keluarganya itu, sudah pasti membuat wanita manapun meliriknya dan berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta pria tampan itu. Tetapi Keenan tidak berani untuk menerima wanita tersebut, bukan karena wanita itu tidak cantik, tidak kaya, tidak baik atau apapun itu. Tetapi Keenan hanya takut jika kesalahan yang pernah ia lakukan di masal lalu saat berpacaran akan terulang kembali. Keenan yang terlalu berlebihan memperhatikan sang adik sehingga mengabaikan kekasihnya sendiri dan telah membuat kekasihnya itu pun pergi meninggalkannya. Tentu saja hal itu meninggalkan kesan yang amat mendalam untuk Keenan.
Tetapi Keenan sadar bahwa ia tidak bisa seperti ini terus selamanya. Hingga Keenan pun memutuskan untuk mendekatkan dirinya lagi dengan seorang wanita yang terakhir kali mendekatinya waktu itu. Dia adalah anak dari salah satu rekan bisnis ayahnya, bahkan saat itu kedua orang tua mereka pernah mengatakan jika ingin menjodohkan Keenan dan wanita yang bernama Bianca Anindita Atmaja, anak tunggal dari pemilik Perusahaan Atmaja Group.
Keenan berniat besok akan menghubungi wanita tersebut dan mengajaknya untuk bertemu. Mudah-mudahan saja dengan caranya ini ia akan bisa melupakan rasa cintanya yang berlebihan untuk adiknya sendiri.
*****
Keesokan hari sesuai dengan niatnya itu, ia pun meminta tolong kepada ayahnya untuk meminta nomor ponsel Bianca dari ayahnya. Meskipun awalnya Nathan terlihat tampak bingung, tetapi ia juga merasa senang karena akhirnya Keenan mau berkenalan dengan anak dari Bram rekan bisnisnya itu seperti yang Keenan katakan tadi.
Setelah mendapatkan nomor ponselnya, Keenan pun langsung saja menghubungi dan mengajak Bianca untuk bertemu. Untungnya hari ini Bianca hanya ada jadwal pemotretan sore, karena ia adalah seorang model. Sehingga ia pun bisa menggunakan waktu luangnya untuk bertemu dengan Keenan, tentu saja ini adalah kesempatan yang bagus untuknya dan tidak mau menyia-nyiakan hal tersebut.
****
"Tidak Ma, tadi kan Keenan izin ke kita bilangnya mau keluar saja Ma. Papi juga nggak tahu Keenan mau kemana, tapi tadi Keenan minta nomor Bianca, anak rekan bisnis Papi itu loh Ma, yang namanya Pak Bram," ucap Nathan.
"Oh ya? Memang ada apa? Tumben banget anak itu minta nomor cewek. Bukannya selama ini dia selalu menolak ya. Dan itu Bianca yang pernah Papi bilang mau di jodohkan dengan Keenan waktu itu kan?" Tanya Dinda.
"Iya benar, tapi nggak jadi karena Mama melarang dan lagipula Keenan juga tidak mau di jodoh-jodohkan. Bahkan semenjak putus dengan pacarnya yang dulu itu, dia sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain lagi. Makanya Papi sempat berniat mau menjodohkan mereka, tapi karena Keenan nggak mau ya sudahlah. Padahal Bianca itu anaknya baik, sopan, cocok untuk anak kita. Mama juga pernah kan bertemu dengannya?" kata Nathan.
__ADS_1
"Iya Mama pernah ketemu dengan Bianca waktu itu, pas lagi ada acara kantor kalau nggak salah," kata Dinda.
"Iya benar Ma. Tapi Papi juga nggak tahu deh kenapa tiba-tiba Keenan meminta nomornya dan katanya sih mau bertemu dengannya tapi nggak tahu kapan. Bisa saja kan barusan Keenan keluar karena mau bertemu dengan Bianca," kata Nathan.
Saat itu Nadine yang hendak menghampiri orang tuanya di ruang televisi itu pun tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Entah kenapa mendadak hatinya terasa sakit saat mendengar Keenan meminta nomor wanita dan mengajak wanita itu untuk bertemu, seakan ada perasaan tidak rela dalam dirinya.
"Ada apa ini? Kenapa rasanya aku begitu marah saat mendengar Kak Keenan mau bertemu dengan wanita lain. Apa jangan-jangan Kak Keenan mau mulai membuka hatinya untuk wanita lagi? Atau mungkin Kak Keenan mau menerima perjodohan yang dulu sempat Papi rencanakan? Tapi kalau iya memangnya kenapa? Bagus dong, kalau memang seperti itu. Kalau Kak Keenan nanti punya pacar, dia nggak akan mungkin lagi mengganggu hubungan aku," gumam Nadine dalam hati.
"Nadine, kamu kenapa berdiri di situ?" Tanya Dinda yang melihat anak perempuannya ada di depan pintu.
Nadine yang merasa dirinya telah tertangkap basah pun segera saja melangkahkan kaki mendekati kedua orang tuanya itu.
"Tadi aku mau ke sini, tapi sepertinya aku dengar Mama sama Papi lagi ngomong serius, jadi aku berhenti dulu di situ," terang Nadine.
"Nguping maksud kamu?" Tanya Dinda.
"Nggak juga Ma, tapi nggak sengaja dengar," jawab Nadine tersenyum.
"Itu sih sama aja," sahut Nathan.
Nadine terkekeh. "Oh ya Ma, Pi, tadi aku dengar katanya Kak Keenan minta nomor cewek dan mau ketemuan ya sama cewek itu?" Tanya Nadine.
"Iya Nadine Kamu benar, kata Papi Kakak kamu itu tiba-tiba minta nomor Bianca dan mau ketemuan sama Bianca. Wanita yang waktu itu sempat mau Papi jodohin dengan Keenan, tapi Mama melarangnya dan kita nggak tahu deh tujuan Keenan ajak Bianca bertemu untuk apa," jawab Dinda.
__ADS_1
"Oh ya? Memang Kak Keenan mau bertemu dengan wanita itu dimana?" Tanya Nadine yang terlihat penasaran.
Bersambung ....