Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Berpura-pura


__ADS_3

Wanita yang berada di dalam mobil yang baru saja ditabrak oleh Amanda itu adalah Nadine. Meskipun Nadine tidak pernah bertemu dengan Clara secara langsung bahkan sejak ia masih kecil, tetapi ia sering melihat foto Clara saat muda yang disimpan oleh Keenan sampai saat ini. Meskipun di dalam foto tersebut Clara masih menjadi model muda dengan rambutnya selalu tergerai panjang, sedangkan saat ini terlihat Clara yang memotong pendek rambutnya itu, tetapi tetap saja Nadine mengenali jika itu benar Clara. Terlebih lagi Nadine juga teringat Keenan mengatakan jika ibunya itu saat ini sudah kembali dari luar negeri. Akan tetapi Nadine tetap berpura-pura tidak tahu, karena Clara sendiri juga tidak mengenali Nadine. Jangankan Nadine yang sekarang, bahkan Nadine yang kecil dulu saja ia rasa Clara sama sekali tidak pernah melihatnya.


"Mbak maaf, apa Mbak baik-baik saja? Saya benar-benar minta maaf, saya tadi tidak fokus menyetirnya," ucap Amanda sekali lagi.


Sedangkan Nadine masih tetap terlihat bengong menatap Clara yang membuat Clara pun kebingungan dan balik menatapnya.


"Oh iya, tidak apa-apa kok. Justru saya turun dari mobil karena ingin bertanya apa kalian baik-baik saja," ucap Nadine.


"Iya kita tidak apa-apa kok Mbak. Kita baik-baik saja," jawab Amanda.


Din … din … din … din …


Suara klakson terdengar berulang kali karena di saat itu lampu merah sudah berubah menjadi hijau, yang itu artinya kendaraan akan segera melaju kembali. Hingga akhirnya Nadine, Clara dan juga Amanda pun segera kembali masuk ke dalam mobil dan segera saja melanjutkan perjalanan.


Sepanjang perjalanan, Nadine masih tetap membayangkan wajah Clara yang baru saja tadi ditemuinya.


"Aku yakin tadi itu Tante Clara, ibu kandungnya Kak Keenan. Ternyata wajahnya sama sekali tidak berubah, masih saja cantik seperti Mama. Meskipun umur mereka sudah bertambah tua, tetapi kecantikan mereka sama sekali tidak memudar," ucap Nadine diiringi senyumannya.


Sama halnya dengan Clara, ia juga tampak memikirkan di saat tadi Nadine terus menatap wajahnya.


"Amanda, apa kamu tadi melihat jika wanita tadi terus menatap ke arah saya?" Tanya Clara.


"Saya tidak memperhatikannya Nyonya. Tetapi bukankah itu adalah hal yang sangat wajar, Nyonya ini model terkenal di zamannya, bahkan sampai sekarang pun Nyonya masih sangat terkenal. Terlebih lagi Nyonya mempunyai perusahaan di luar negeri dan saat ini membuka cabang di Indonesia. Jadi wajar saja jika banyak yang mengenali Nyonya. Kalau menurut saya kemungkinan dia itu adalah salah satu fans Nyonya, bisa saja kalau wanita tadi juga model," kata Amanda yang asal menembaknya saja, tetapi membuat Clara sedikit menganggap ucapannya itu masuk akal.


"Ya kamu benar, kemungkinan seperti itu. Lagipula seandainya wanita itu memang seorang model, itu wajar sih. Karena menurut saya wanita itu juga cantik," ucap Clara.


Ia sama sekali tidak mengingat jika Nadine adalah wanita yang pernah ditemuinya saat di restoran. Karena di saat itu Dinda dan Nadine membelakanginya sehingga ia hanya dapat melihat wajah Nathan, Keenan dan juga kedua anak kembar Nathan dan Dinda dengan jelas.

__ADS_1


****


Keenan dan Bianca baru saja menikmati makan siang dan saat ini sedang berjalan-jalan di mall. Sesuai janjinya Keenan akan membelanjakan apapun keinginan Bianca. Akan tetapi karena pada dasarnya Bianca itu juga adalah orang kaya dan tidak matre, jadi tidak banyak yang diinginkannya. Hanya saja sebuah tas bermerk keluaran baru.


"Kamu yakin hanya mau ini saja Sayang?" Tanya Keenan.


"Ya aku yakin, lagipula barang apapun yang aku inginkan juga sudah aku miliki. Kamu juga tahu kan kalau aku juga bekerja dan Papi aku juga bisa menuruti apa saja keinginanku karena aku anak tunggal. Jadi aku sama sekali tidak butuh apapun, ini saja sudah cukup. Dan aku akan menjadikan hadiah ini adalah hadiah paling terindah karena dibelikan oleh kekasihku yang paling aku sayang," ucap Bianca tersenyum.


Keenan pun membalas senyuman kekasihnya itu. Meskipun Bianca sangat cantik dan tak heran banyak yang mengaguminya, tetapi entah kenapa Keenan masih sama sekali belum bisa memberikan hatinya sepenuhnya kepada wanita itu. Baginya tetap saja Nadine yang telah menguasai hatinya itu.


"Ya sudah, kalau begitu aku antar kamu pulang ya. Karena sebentar lagi aku ada meeting, bisa gawat kalau sampai aku terlambat datang ke kantor. Kamu tahu kan Sayang kalau sekarang ini orang tuaku sudah mulai menyerahkan perusahaan sepenuhnya kepadaku. Jadi aku harus mempertanggungjawabkan pekerjaan aku. Apalagi aku juga kan sudah meluangkan waktu untuk kamu, aku sudah meninggalkan jam kerja demi memperbaiki hubungan kita. Aku harap kamu mengerti ya. Aku janji akan meluangkan waktuku lagi untuk bisa bersama-sama dengan kamu seperti saat ini, asalkan kamu juga ada waktu. Karena aku juga mengerti kok kalau kamu itu model terkenal yang banyak job-nya," ucap Keenan panjang lebar dan didengar seksama oleh Bianca.


"Sayang, aku mengerti kok dan aku mau mengucapkan terimakasih banget karena kamu sudah meluangkan waktu kamu itu untuk aku. Jujur, aku senang dan bahagia banget," ucap Bianca sembari menggelayut manja di lengan kekasihnya itu.


"Sama-sama, terimakasih juga ya karena kamu sudah mengerti dengan kondisiku dan mau memberikanku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita," ucap Keenan pula.


Lalu mereka berdua pun jalan bergandengan tangan untuk keluar dari mall.


"Sayang, lebih baik kamu langsung ke kantor aja, nggak usah antar aku," ucap Bianca.


"Memangnya kenapa? Terus kamu sama siapa ke perusahaannya?" Tanya Keenan.


"Tenang aja Sayang, kan aku bisa pesan taksi online atau minta jemput Siska. Lagipula jadwal pemotretan aku masih 1 jam lagi, sedangkan meeting kamu sudah semakin dekat waktunya. Terus perusahaan kamu dengan perusahaan aku bekerja itu tidak searah, kamu harus putar balik setelah antar aku, belum lagi nanti ada macetnya di jalan yang akan memperlambat waktu kamu untuk tiba di perusahaan. Aku nggak mau kalau kamu sampai terlambat," ucap Bianca.


"Oh … gitu. Benar juga sih apa yang kamu katakan itu. Tapi memang benar nggak apa-apa kalau aku balik ke kantor duluan," kata Keenan yang sebenarnya merasa tak enak jika harus meninggalkan Bianca di mall sendirian, akan tetapi apa yang Bianca katakan benar jika waktu meeting-nya sudah semakin dekat.


"Nggak apa-apa Sayang, apalagi kamu kan hari ini sudah menemani aku makan, sudah ajak aku jalan-jalan, belanja. Jadi ini sama sekali bukan masalah, apalagi kan menyangkut pekerjaan kamu, buat masa depan kita nanti," ucap Bianca yang membuat Keenan tersentak.

__ADS_1


Padahal tadinya Keenan merasa sangat kagum terhadap pengertian dan perhatian yang Bianca berikan, malah tiba-tiba dibuat bad mood karena Bianca membahas masa depan dengannya yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya itu.


"Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati ya nanti, aku duluan," ucap Keenan.


"Iya Sayang, hati-hati ya. Bye … ," ucap Bianca.


"Bye … ," balas Keenan, lalu ia pun segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju untuk kembali ke perusahaan.


Setelah menghubungi Siska, Bianca pun memilih menunggunya di dalam sembari iseng-iseng melihat-lihat aksesories yang ada di salah satu toko di dalam mall tersebut. Di tempat yang sama tidak sengaja ia bertemu seorang pria yang merupakan teman SMA-nya dulu. Pria tersebut juga tampak menatapnya karena merasa tidak asing melihat wajahnya itu.


"Bianca kan," ucap pria itu.


"Iya betul, kamu James kan? Apa kabar?" Tanya Bianca.


"Aku baik Bi, nggak nyangka banget ya kita bisa bertemu di sini. Yang aku lihat sekarang kamu sudah menjadi model terkenal, sudah terpampang wajah kamu di seluruh media. Aku tidak menyangka saat ini bisa bertemu langsung dengan model papan atas," ucap James.


"Iya kamu benar, sudah lama kita tidak bertemu. Tapi makasih loh pujiannya," ucap Bianca.


"Iya Bi sama-sama. Kebetulan aku ini baru balik dari Jerman, kemarin aku tugas di sana. Niat aku datang ke sini mau cari gantungan kunci, eh ternyata malah bertemu model di sini. Benar-benar suatu keberuntungan buat aku," ucap james.


"Oh ya? Bisa aja kamu James. Oh iya aku dengar sekarang kamu sudah jadi dokter hebat ya?" Tanya Bianca.


"Iya Bi alhamdulillah, tapi nggak harus dibilang dokter hebat juga kali Bi, biasa saja kok. Oh ya daripada kita berbicara seperti ini, bagaimana kalau kita duduk dulu. Kamu nggak buru-buru kan," ucap James.


"Enggak kok, aku lagi nunggu asisten aku jemput. Boleh deh kita duduk dulu," ucap Bianca.


Setelah membayar aksesoris yang mereka beli, kini Bianca dan James pun menuju ke suatu cafe untuk duduk bersama dan melanjutkan obrolan mereka itu.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2