Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Merasa Nyaman


__ADS_3

Sebenarnya aku juga ingin membicarakan masalah ini ke kamu, mungkin memang kamu orang yang tepat karena kita mengalami hal yang sama. Keenan itu pacar aku dan Nadine adalah pacar kamu. Aku merasa Jika hubungan di antara mereka berdua itu nggak wajar, sebenarnya apa sih hubungan mereka? Kenapa hubungan mereka berdua nggak seperti saudara gitu. Sepertinya Nadine itu nggak rela banget kalau aku dekat dengan kakaknya, begitu juga sebaliknya, iya kan?" Ucap Bianca.


"Iya Bi kamu benar, aku juga merasa ada yang janggal dengan hubungan mereka. Bahkan tadi aku sudah menyampaikan tentang kecurigaan aku ini ke Keenan," ucap Farel.


Bianca membelalakkan matanya menatap Farel. "Hah, maksud kamu tentang hubungan mereka yang nggak wajar ini?"


"Iya, aku langsung menuduh kalau mereka berdua itu saling mencintai," jawab Farel.


"Wah … itu sih kamu benar-benar nekat Rel namanya. Terus apa tanggapan Keenan? Nadine sendiri tahu nggak?" Tanya Bianca penasaran.


"Keenan marah dan menyangkalnya, alhasil tanda merah di pipi aku ini karena bekas tonjokan dari pacar kamu itu," terang Farel.


"Jadi itu karena Keenan? Kamu juga sih, bisa-bisanya kamu menuding Keenan secara langsung seperti itu," ucap Bianca mendadak nyeri melihat luka di wajah Farel. "Seharusnya kamu itu tahan dulu, sabar lah, kita selidiki dulu tentang kebenarannya."


"Ya mau gimana lagi Bi, aku benar-benar sudah nggak bisa menahannya. Meskipun sebenarnya ada rasa penyesalan di dalam hati aku, aku takut jika Keenan akan mengatakannya kepada Nadine dan pastinya Nadine pasti akan marah," ucap Farel yang tampak khawatir.


"Hm … semua juga sudah terjadi kan. Berdoa aja semoga hal itu tidak akan terjadi," ucap Bianca yang cukup prihatin terhadap kondisi Farel saat ini.


"Ya sudahlah, dari tadi kita hanya membahas mereka berdua membuat perut aku jadi keroncongan. Kamu masih mau nggak makan malam sama aku?" Tanya Farel.


"Tapi aku sudah makan Rel, nanti aku gendut. Kamu kan tahu kalau aku ini seorang model, kalau aku gendut nanti bisa bermasalah dong," kata Bianca.


"Ya ampun, sedikit aja Bi, nggak akan buat kamu gemuk kok. Lagipula apapun profesi kamu dalam bekerja, kamu tidak boleh mengabaikan makan. aku tahu kok kalau selama ini kamu benar-benar menjaga makan kamu. Aku ingat sewaktu kita di Bandung kemarin, kalau bukan karena di depan orang tua Farel dan juga Nenek Kakeknya, sudah pasti kamu nggak mau kan makan malam waktu itu? Dan akhirnya kamu memilih untuk makan sedikit karena menghargai masakan Neneknya Farel, iya kan?" Ucap Farel.


"Kok kamu tahu sih Rel," ucap Bianca.

__ADS_1


"Ya aku tahu lah, aku bisa kok mengerti kondisi kamu waktu itu. Tapi aku liat Farel cuek aja tuh, dan aku juga nggak ada hak untuk berbicara soal itu, karena aku bukan siapa-siapa kamu. Tetapi karena hari ini kamu lagi sama aku, jadi nggak ada tuh yang namanya diet. Lupakan diet kamu sejenak, kamu harus makan ya. Aku yakin pasti kamu hanya makan apel atau susu diet seperti orang-orang yang lagi diet itu kan? Sudahlah kamu nggak usah menyangkal. Sekarang kita makan, pesan makanan ya. No membantah," ucap Farel yang terlihat memaksa, tapi pada kenyataannya ia hanya memberikan sedikit perhatian kepada wanita yang ada di depannya itu dengan tanpa sadar.


"Iya, kamu memang bukan siapa-siapa aku Rel. Tapi ternyata kamu yang lebih mengerti terhadap kondisi aku, sedangkan Keenan yang jelas-jelas kekasih aku, sama sekali tidak pernah bersikap seperti ini kepadaku," ucap Bianca dalam hati. Entah kenapa ia begitu merasa kagum dan nyaman saat mendapatkan perhatian dari Farel yang bukan siapa-siapa.


"Ya sudah kalau begitu aku makan. Tapi nggak banyak-banyak juga ya, aku tetap harus menjaga kondisi badan aku Rel, karena ini memang sudah menjadi resiko aku menjadi model," ucap Bianca.


"Iya sedikit aja, yang penting makan. Oke!" Ucap Farel.


Bianca pun tersenyum, lalu mereka berdua memesan makanan meskipun saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, dan pukul segitu adalah waktu paling anti untuk Bianca makan. Tetapi kali ini karena untuk menghargai Farel, ia pun terpaksa untuk memesan makanan.


"Sekali-sekali nggak apa-apa lah, pulang dari sini kan aku bisa langsung minum obat pencahar supaya nggak bikin gendut," batin Bianca.


***


"Ma, sepertinya kita harus buat Nadine dan Keenan berbicara. Soal masalah mereka itu, Papi yakin ini adalah masalah mereka berdua, bukan masalah mereka dengan pasangannya masing-masing. Karena yang Papi tahu, Keenan dan Bianca hubungannya baik-baik saja, begitu juga dengan Nadine dan Farel," ucap Nathan.


"Papi benar, Mama juga merasa seperti itu. Apa lebih baik sekarang kita pertemukan saja mereka berdua, kita tanyakan, kita bicarakan baik-baik. Bagaimana kalau menurut Papi?" Tanya Dinda.


"Iya, Papi setuju Ma. Kalau begitu panggil anak-anak, kita kumpul di ruang keluarga," ucap Nathan.


"Iya Pi," jawab Dinda lalu segera saja pergi ke kamar Nadine dan Keenan untuk memanggil anak-anaknya itu.


Kini mereka berempat pun sudah berada di ruang keluarga, Keenan dan Nadine duduk berjauhan seperti dua orang yang sedang bermusuhan.


"Keenan, Nadine, sebenarnya Papi dan Mama sudah tahu kalau di antara kalian berdua itu sedang ada masalah. Tetapi selama seminggu ini Papi dan Mama memberi waktu untuk kalian berdua berpikir, untuk kalian berdua menyelesaikan masalah kalian sambil menyelidiki masalah apa sebenarnya sedang terjadi. Dan saat ini Papi dan Mama yakin jika ini adalah masalah kalian berdua. jangankan untuk menyelesaikan masalah itu, bahkan kalian berdua terlihat seperti orang asing. Apa sih yang sebenarnya sedang terjadi? Apa kalian berdua tidak bisa untuk menyelesaikan masalah itu hingga berlarut-larut seperti ini? Jika kalian memang tidak bisa katakan sekarang apa masalah kalian? Biar Papi dan Mama yang membantu untuk menyelesaikannya," ucap Nathan.

__ADS_1


Keenan dan Nadine masih tampak terdiam, dari keduanya belum ada satupun yang hendak menjawab pertanyaan itu.


"Jawab pertanyaan Papi Keenan, Nadine," pinta Nathan yang kini sedikit emosi.


"Pi sabar Pi," ucap Dinda menenangkan suaminya itu.


Keenan menghirup nafas dan menghembuskannya secara perlahan, untuk mengontrol perasaannya saat ini.


"Keenan, Nadine, ada masalah apa sebenarnya? Coba kalian berdua ceritakan kepada Mama dan Papi. Mungkin saja kita sebagai orang tua kalian berdua bisa membantu. Jujur Mama dan Papi tidak bisa melihat kalian berdua seperti ini terus, kalian yang biasanya akur, yang biasanya selalu bersama, selalu melindungi, akhir-akhir ini kalian berdua tampak diam seperti orang yang tidak saling mengenal. Hal itu sudah membuat perasaan Mama dan Papi sedih. Kalian mengerti kan," ucap Dinda dengan tatapan sendu.


Lalu Nadine pun mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk dan menatap kedua orang tua yang ada di depannya.


"Maafkan Nadine Ma, Pi. Kita berdua memang lagi ada masalah, tapi ini hanya kesalahpahaman aja. Untuk masalah kita berdua selama ini kurang bertegur sapa, kurang bercanda, itu karena aku lagi banyak kerjaan aja. Aku capek, jadi lagi nggak ada mood untuk bercanda," ucap Nadine mencoba untuk mencari alasan.


"Ma, Pi. Sebenarnya ada yang aku ingin bicarakan," ucap Keenan.


Deg …


Tiba-tiba jantung Nadine berdetak kencang sembari menatap Keenan, ia takut jika Keenan akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya itu. Tentu saja Nadine tidak mau jika hal itu sampai terjadi.


"Kak Keenan, kamu mau bicara apa ke Mama dan Papi? Kan aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya kalau aku memang capek aja, makanya aku lagi nggak mood untuk bertengkar sama Kakak. Bukannya waktu itu Kakak juga mengatakan kalau lagi banyak pekerjaan sehingga Kakak juga sedang tidak ada waktu untuk meladeniku atau mengajak aku bertengkar," ucap Nadine yang menatap Keenan dengan tajam, berharap jika kakaknya tidak akan mengatakan hal yang tidak-tidak kepada kedua orang tuanya.


Keenan mengerutkan keningnya, ia dapat melihat jika saat ini Nadine begitu khawatir. Sedangkan Nathan dan Dinda menatap kedua anaknya itu dengan penuh curiga.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2