Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Anak Dan Ibu


__ADS_3

Keenan melangkahkan kakinya mendekati seorang ibu paruh baya yang saat itu sedang menunggunya. Meskipun ia yakin jika wanita yang mengaku sebagai ibunya itu adalah Clara, tetapi entah kenapa ia tidak merasa senang setelah kejadian yang waktu itu terjadi di restoran. Rasanya sangat enggan bertemu dengannya, ingin menghindar agar tidak bertemu dengan wanita itu. Tetapi setelah Keenan berpikir kembali, lebih baik ia menemuinya saja dulu untuk menanyakan apa maksud dari ibu itu ingin menemuinya.


Kini Keenan pun telah berdiri tepat di belakang Clara. Meskipun Clara belum melihatnya, tetapi dari perawakannya Keenan yakin jika wanita itu memanglah Clara.


"Maaf Anda siapa?" Tanya Keenan sehingga membuat Clara pun langsung saja memutar wajahnya dan melihat ke arah sumber suara.


"Kamu? Kamu anak muda yang kemarin menabrak saya di toilet itu kan?" Tanya Clara menatap tajam ke arah Keenan.


"Ya benar, saya adalah anak muda yang kemarin tidak sengaja menabrak Ibu di toilet dan Ibu marah-marah serta membentak saya. Bahkan Ibu bilang saya sembrono, tidak menggunakan mata saat berjalan. Pada saat itu saya benar-benar lagi terburu-buru sehingga saya tidak melihat Ibu sama sekali. Sekarang Ibu datang ke perusahaan saya, mau mencari saya, ada apa?" Tanya Keenan lagi dengan tegas.


"Kamu, jadi kamu benar-benar Keenan, Keenan anak Mami?" Tanya Clara.


"Anak? Anak apa ya maksud Ibu? Ibu saya namanya Adinda Karina. Jadi saya tidak mengenal Ibu, kenapa Ibu bisa mengatakan jika saya ini anak Ibu?" Tanya Keenan. Meskipun ia dapat dengan lancar mengucapkan kata-kata itu, tetapi tidak dipungkiri jika saat ini ia menahan perih di hatinya karena terpaksa tidak mengakui ibu kandungnya sendiri.


"Keenan, kenapa kamu berbicara seperti itu Sayang. Ini Mami kamu, Mami Clara. Setelah lama kita tidak bertemu ,kamu malah bersikap seperti ini terhadap Mami. Bahkan kamu panggil Mami dengan sebutan ibu? Siapa yang mengajari kamu. Papi kamu atau Mama tiri kamu itu?" Hardik Clara.


"Stop! Stop menyalahkan Mama dan Papi saya. Mama dan Papi saya adalah orang yang baik, mereka mendidik saya dengan sangat baik hingga saya menjadi orang hebat dan sukses seperti sekarang. Apalagi Mama Dinda menyayangi saya segenap jiwa dan raganya, dia tidak pernah meninggalkan saya sama sekali, dia selalu ada di samping saya dalam keadaan suka maupun duka. Mama Dinda selalu menyemangati saya, tidak pernah menganggap saya sebagai anak tirinya. Saya juga sangat menyayangi Mama Dinda," ucap Keenan. Rasanya saat ini juga ia ingin segera menjatuhkan air matanya, tetapi Keenan berusaha untuk menahannya agar tidak jatuh di hadapan Clara.


"Keenan kenapa tega sekali kamu berbicara seperti itu di depan Mami, kamu seolah meratukan Dinda dan menganggap Mami ini tidak baik. Apa kamu sama sekali tidak merindukan Mami kamu sendiri," ucap Clara.


"Oh tentu saja saya meratukan Mama Dinda yang memang pantas untuk diratukan. Dan mohon maaf, kalau Ibu memang merasa sebagai seorang ibu, tolong berkaca dulu, tolong intropeksi diri apakah sikap Ibu itu sudah mencerminkan sikap seorang ibu. Maaf saya sedang banyak pekerjaan, lebih baik sekarang juga Ibu pergi dari perusahaan saya. Jika masih ada keperluan titipkan saja pesan kepada resepsionis," ucap Keenan dan segera saja membalikkan tubuhnya serta melangkahkan kaki hendak pergi meninggalkan Clara.


"Keenan tunggu!" Panggil Clara, lalu berjalan mendekati Keenan

__ADS_1


Kini ia pun telah berdiri di hadapan anaknya itu dan langsung saja memeluknya. Keenan sangat terkejut, akan tetapi ia juga masih tidak bisa terima atas perlakuan ibunya itu dengan berdiam mematung. Resepsionis dan juga asistennya, Bisma yang saat itu melihatnya pun merasa keheranan dan bertanya-tanya ada apa sebenarnya, siapa wanita yang telah memeluk presdir mereka itu?


Meskipun Keenan merasa marah dan kecewa terhadap ibu kandungnya, tetapi ia juga merasakan begitu merindukannya. Tetapi entah kenapa ia tetap saja masih tidak bisa terima atas perlakuan ibunya itu. Setelah sekian lama pergi meninggalkannya dan saat pertemuan awal malah meninggalkan kesan yang membuatnya begitu sedih. Karena bagaimanapun pun juga Clara adalah orang tua, Keenan pun masih berusaha untuk bersikap lembut dengan melepaskan pelukannya itu secara perlahan.


"Maaf, saya benar-benar sedang sibuk, lebih baik sekarang Ibu pergi. Dan satu hal, jangan pernah mencari saya lagi," ucap Keenan dan segera berlalu dari pandangan Clara.


Di saat itu juga Clara pun menangis, ia tidak menyangka jika Keenan anak yang telah ia kandung selama 9 bulan dan ia lahirkan dengan bertaruh nyawa, tidak mengakuinya sebagai ibu tanpa menyadari apa kesalahannya. Tiba-tiba saja pikirannya melayang pada sosok Dinda dan menganggap bahwa Dinda lah yang menyebabkan semua ini. Dengan perasaan yang sangat kesal, Clara pun menghapus air matanya itu dan segera saja keluar dari perusahaan Collin group menuju ke mobil.


Sedangkan Keenan saat itu langsung saja masuk ruangan presdir, ia yang sedari tadi menahan air matanya untuk jatuh pun kini menangis perih meskipun tanpa suara di dalam ruangannya itu.


"Maafkan aku Mi, padahal tadinya aku benar-benar sudah ingin melupakan masa lalu itu. Aku juga tidak bisa membohongi perasaan ini kalau aku sangat merindukan Mami. Seandainya saja pertemuan kita waktu di tidak menyedihkan seperti itu, pastinya sekarang aku sudah memeluk Mami. Pastinya aku akan sangat berbahagia bertemu Mami. Tapi aku benar-benar kecewa karena sikap Mami tidak pernah berubah," gumam Nathan yang terus saja menjatuhkan air matanya, hatinya saat ini benar-benar rapuh dan tak berdaya.


Bisma yang melihat tuannya itu sedang menangis, merasakan kesedihan yang amat mendalam, memilih untuk membiarkan tuannya menenangkan diri terlebih dahulu dan tidak akan mengganggunya, meskipun saat ini ada hal penting yang ingin ia sampaikan menyangkut pekerjaan.


"Baik Nyonya," jawab Amanda yang langsung menyalakan mesin mobil, lalu segera saja pergi meninggalkan Perusahaan Collin Group.


"Dinda, kamu lihat saja nanti. Kamu benar-benar sudah merebut Keenan dari aku. Kamu pikir aku akan tinggal diam, aku pastikan kamu akan menderita setelah ini Dinda. Aku tidak akan membiarkan kamu merasa menang karena merebut Keenan setelah dulu kamu merebut Nathan dari aku," batin Clara menatap penuh kebencian.


****


"Sayang, Mama dan Papa aku menanyakan soal kamu. Mereka meminta aku membawa kamu menemui mereka. Kira-kira kapan kamu ada waktu?" Tanya Farel.


Saat ini Farel dan Nadine sedang makan siang bersama di sebuah restoran yang tidak jauh dari butik Nadine.

__ADS_1


"Mama dan Papa kamu?" Tanya Nadine.


"Ya iyalah Sayang, jadi Mama dan Papa siapa lagi? Aku sudah menceritakan soal kamu ke orang tua aku," ucap Farel.


"Oh ya? Tapi bukannya orang tua kamu sedang berada di luar negeri ya?" Tanya Nadine.


"Iya memang benar sayang, tapi 3 hari lagi mereka akan pulang dan mau bertemu denganmu, bahkan kalau bisa orang tua aku mau sekalian bertemu dengan keluarga kamu. Kamu mau kan Sayang?" Tanya Farel.


Nadine terdiam, entah kenapa rasanya sangat sulit untuk menjawab iya menyetujui bertemu dengan kedua orang tua Farel. Padahal Farel sendiri sudah mengenal baik dengan keluarganya.


"Sayang, kamu kenapa malah bengong seperti itu? Aku ini sedang bertanya, kamu bisa nggak bertemu dengan Mama dan Papa aku nanti saat mereka sudah pulang dari luar negeri?" Farel mengulangi pertanyaannya itu.


"Oh iya Rel, kan masih 3 hari lagi. Nanti kalau orang tua kamu memang sudah kembali, kamu kabari aja ya ke aku. Tapi sebaiknya nggak usah langsung bertemu keluarga ya, biar aku aja dulu yang ketemu sama orang tua kamu. Jujur aku gerogi, karena ini akan menjadi pertemuan pertama aku nanti," ucap Nadine yang membuat kekasihnya itu pun mengerti.


"Iya Sayang aku mengerti. Terus sekarang kamu mau kemana Sayang, mau balik ke butik lagi atau mau langsung pulang ke rumah?" Tanya Farel.


"Aku masih mau ke butik, karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dulu. Nanti kalau sudah selesai pekerjaannya baru aku akan pulang ke rumah," jawab Nadine.


"Oh … ya sudah kalau begitu aku antar kamu ke butik ya. Aku juga harus ke kantor lagi," ucap Farel.


"Ya sudah yuk," ajak Nadine, lalu ia dan Farel pun segera beranjak meninggalkan restoran.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2