Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Ada Apa Dengan Nadine?


__ADS_3

Melihat keadaan Nadine yang tak sadarkan diri, membuat keluarganya itu pun menjadi panik dan menghampirinya. Begitu juga dengan Cynthia, meskipun kondisinya sendiri di saat ini sangat lemah, tetapi ia memaksakan diri untuk bangun karena sangat cemas melihat cucunya itu.


"Nadine, bangun Sayang. Kamu kenapa Nadine?" ucap Dinda, sebagai seorang ibu tentunya ia yang paling khawatir melihat keadaan anaknya seperti saat ini.


"Nadine, bangun Nadine," ucap Keenan pula.


"Keenan, panggil Dokter sekarang," ucap Nathan yang tak kalah khawatirnya.


"Iya Pa," jawab Keenan dan bergegas pergi.


"Ma, Mama tidak usah bangun. Mama tidur saja, kondisi Mama juga sedang tidak baik," ucap Nathan saat melihat ibunya hendak turun dari brankar.


"Mama mau lihat kondisi Nadine, kenapa Nadine bisa pingsan seperti itu?" Ucap Cynthia.


"Mama tenang ya, Keenan kan sedang memanggil Dokter untuk Nadine Ma," ucap Nathan.


Di saat itu Keenan pun telah kembali dan menyampaikan bahwa dokter meminta untuk segera membawa Nadine ke ruang pemeriksaan.


Lalu segera saja Keenan membopong adiknya itu dan membawanya ke ruang pemeriksaan bersama dengan Dinda. Sedangkan Nathan tetap berada di ruang rawat inap Cynthia untuk menjaga ibunya itu.


Selama Nadine ditangani oleh dokter, Dinda dan Keenan pun diminta untuk menunggu di luar sampai menunggu dokter selesai memeriksanya. Dinda tampak sangat cemas memikirkan keadaan Nadine, Keenan yang sangat tahu akan hal itu pun mendekati dan memeluk ibunya agar lebih tenang, meskipun ia sendiri merasa sangat khawatir terhadap wanita yang dicintainya itu. Ada apa dengan Nadine? Kenapa Nadine bisa tiba-tiba pingsan? Padahal tadinya dia baik-baik saja. Itulah yang sedang dipikirkan oleh Keenan dan Dinda saat ini.


****


Di saat ini, Bianca sedang berada di apartemen Farel untuk mengobati luka pria tersebut setelah tadi dipukuli oleh Keenan, yang menyebabkan wajahnya itu babak belur. Karena Farel tidak mempunyai teman dekat, keluarganya juga sedang berada di luar negeri, sehingga hanya Bianca lah satu-satunya orang yang bisa ia hubungi dan meminta bantuan. Bianca juga sudah diceritakan oleh Farel tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Nadine saat di butik tadi sampai akhirnya Keenan datang dan memukulinya seperti itu.


"Makanya lain kali jangan sok jagoan, pikir-pikir dulu lah sebelum melakukan sesuatu. Lagipula kok kamu bisa sih menyakiti wanita yang kamu cintai seperti itu? Itu Nadine loh, kenapa kamu sama sekali tidak memikirkan bahwa Nadine tadi pasti kesakitan dan ketakutan karena ulah kamu," ucap Bianca yang sebenarnya sama sekali tak peduli dengan kondisi Nadine, hanya saja ia tak menyangka jika Farel bisa menyakiti wanita yang ia cintai seperti itu.


"Akh," rintih Farel saat Bianca menyentuh lukanya itu.


"Sorry aku nggak sengaja," ucap Bianca.

__ADS_1


"Ya mau bagaimana lagi Bi, aku juga nggak sadar. Aku benar-benar kesal karena Nadine sama sekali nggak peduli saat aku bercerita mengenai kondisi aku, dia cuek," ucap Farel.


"Ya itu artinya, Nadine benar-benar kesal dan marah karena ucapan kamu itu telah menyinggungnya, Farel," ucap Bianca.


"Lantas aku harus bagaimana sekarang Bi? Pasti sekarang Nadine benar-benar sudah sangat membenciku dan nggak mau bertemu aku lagi. Apalagi kalau keluarganya sudah tahu, pasti nggak akan ada yang mengizinkan untuk aku menemui Nadine lagi, terutama Keenan itu. Tapi aku nggak akan tinggal diam dengan apa yang sudah Keenan berbuat sehingga aku menjadi seperti sekarang ini, lihat saja aku pasti akan membalas dendamku terhadap Keenan," ucap Farel.


"Memang kamu mau melakukan apa terhadap Keenan? Jangan macam-macam ya. Aku nggak akan diam saja kalau kamu sampai menyakiti Keenan," ucap Bianca.


Farel hanya diam saja, ia lupa jika Bianca adalah wanita yang sangat menginginkan Keenan karena obsesinya.


"Sudah selesai, kamu kenapa nggak ke rumah sakit saja sih? Ini luka kamu lumayan parah loh, kalau nanti infeksi gimana?" Ucap Bianca.


"Nggak usah sok peduli denganku, nanti juga sembuh kok," ucap Farel ketus.


"Kamu bilang apa? Jangan sok peduli? Kamu nggak salah bicara, atau kamu lupa ya Farel, kalau kamu yang meminta aku datang ke sini. Kalau bukan karena kamu yang tiba-tiba saja menelepon aku dan meminta pertolongan, aku juga nggak akan datang ke sini. Nggak tahu terimakasih banget sih," hardik Bianca yang terlihat begitu kesal.


"Iya, iya aku minta maaf. Terimakasih ya Bi, sekarang kan sudah selesai kamu mengobati aku, lebih baik kamu pulang saja. Lagipula ini juga sudah malam, nggak baik perempuan pulang sendirian malam-malam. Hati-hati ya," ucap Farel.


****


Dinda yang sedari tadi menunggu Nadine di ruang IGD, merasa sangat senang karena setelah beberapa jam lamanya, akhirnya anak perempuannya itu pun telah sadar. Sementara Keenan masih sibuk mondar-mandir mengurusi sesuatu di sana karena adik dan omanya itu berada di rumah sakit.


"Sayang, akhirnya kamu bangun juga," ucap Dinda.


"Mama, aku kenapa Ma?" Tanya Nadine yang merasakan kepalanya masih sedikit pusing saat mencoba untuk bangun.


"Sudah Sayang, kamu jangan bangun dulu ya," ucap Dinda.


"Aku kenapa Ma? Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Nadine lagi.


"Tadi tiba-tiba saja kamu pingsan. Dokter sudah memeriksa kamu dan hanya mengatakan kalau kamu kecapean seperti waktu itu, hanya saja belum menyampaikan penyebab pastinya, hasilnya belum keluar," ucap Dinda.

__ADS_1


"Oh … begitu ya Ma. Ma, aku minta maaf ya setelah apa yang terjadi. Tapi aku benar-benar nggak tahu kenapa ini semua bisa terjadi Ma, semuanya ada di luar nalar aku. Dan untuk hubungan terlarang yang aku dan Kak Keenan lakukan pada malam itu, itu karena kita dijebak, bukan karena kesengajaan," ucap Nadine yang menjelaskannya lagi.


"Siapa yang sudah tega menjebak kalian Nadine?" Tanya Dinda.


"Farel dan Bianca Ma," jawab Nadine jujur apa adanya.


"Apa? Jadi Farel dan Bianca yang melakukannya?" Tanya Dinda yang tak mempercayainya, karena ia sudah mengenal Farel dan Bianca sebagai orang yang baik.


"Iya Ma, Farel sendiri yang mengatakan ingin memiliki aku waktu malam itu, begitu juga dengan Bianca yang menginginkan Kak Keenan. Tapi semuanya gagal dan malah kita berdua yang terjebak," ucap Nadine dengan air matanya yang bercucuran.


"Mama tidak tahu harus berbicara apa untuk saat ini, Nadine. Sudah jelas hubungan yang kalian lakukan itu benar-benar hubungan yang terlarang, terlebih lagi saat kamu dan Keenan mengatakan bahwa kalian berdua saling mencintai. Kenapa semua ini bisa terjadi? Bagaimana bisa kalian sebagai saudara akan menjalin hubungan, kamu tahu kan itu tidak akan mungkin. Mama benar-benar tidak mempunyai solusi apapun untuk kalian berdua," ucap Dinda yang kini pun ikut menangis.


"Maafkan aku Ma, aku juga tahu kalau aku dan Keenan tidak akan mungkin bisa bersama. Selamanya kita berdua hanyalah adik kakak. Aku akan melupakan tentang perasaan ini Ma," ucap Nadine.


"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kamu Nadine. Kamu dan Keenan itu sudah melakukan hubungan itu, apa kamu tidak berpikir bisa saja jika nanti akan terjadi sesuatu dengan diri kamu," ucap Dinda.


"Maksud Mama, aku akan hamil gitu?" Tanya Nadine.


Di saat itu pun dokter yang tadi memeriksa Nadine menghampiri mereka dengan membawa hasil pemeriksaan Nadine.


"Maaf Nyonya Dinda, saya lama karena tadi ada urusan lain. Syukurlah ternyata Nona Nadine sudah sadar. Nona sudah baik-baik saja kan?" Tanya dokter.


"Iya Dokter, saya baik-baik saja," jawab Nadine.


"Anak saya baru saja sadar Dokter, saya sampai lupa untuk memberitahu Dokter," jawab Dinda.


"Tidak apa-apa Nyonya, kebetulan saya ada di sini, saya akan memeriksa keadaan Nona Nadine lagi. Oh iya ini adalah hasil pemeriksaan Nona Nadine, silahkan dilihat," ucap dokter seraya menyerahkan sebuah amplop putih.


Dinda menerima amplop tersebut, jantungnya terasa berdebar tak karuan saat ia membuka amplop dan mengambil kertas yang ada di dalamnya. Perasaannya begitu sangat takut jika apa yang dikhawatirkannya terhadap Nadine itu benar-benar terjadi.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2