Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Mengungkapkan Kembali


__ADS_3

Farel tampak masih diam membisu, membuat Nadine pun menjadi kebingungan dan semakin penasaran.


"Kenapa kamu diam saja Farel? Dan kenapa kamu seperti orang linglung? Atau jangan-jangan kamu dan Bianca memang sudah melakukan hal yang tidak seharusnya kalian lakukan?" Tanya Nadine.


"Ya aku dan Bianca memang melakukannya, dan itu semua gara-gara kamu dan Keenan. aku nggak terima Nadine, karena seharusnya aku melakukannya denganmu waktu itu, tapi semuanya gagal hanya gara-gara Keenan yang mengambil kamu dariku. Dan sialnya aku malah melakukannya dengan wanita lain, aku sama sekali tidak menginginkannya," ucap Farel.


Plak …


Sebuah tamparan langsung saja mendarat di pipi Farel. Nadine yang begitu sangat geram mendengar ucapannya itu pun dengan reflek menampar wajah mantan kekasih yang saat ini berada di hadapannya.


"Nadine, kenapa kamu menamparku? Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi?" Tanya Farel sembari memegangi pipinya yang terasa pedas karena tamparan tersebut.


"Apa kamu tidak sadar kalau ucapan kamu itu salah? Kamu bilang apa tadi, seharusnya kamu melakukannya denganku? Sakit jiwa ya kamu. aku benar-benar nggak menyangka, jadi ternyata waktu itu kamu benar-benar menjebakku, kamu benar-benar ingin memperko**ku, iya?" Ucap Nadine dengan tatapan tajam dan tubuh bergetar karena menahan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Bu-bukan seperti itu juga maksud aku Nadine, aku hanya tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan untuk mendapatkan cinta kamu. Aku sangat mencintai kamu, tapi kamu pergi begitu saja meninggalkanku. Aku tidak bisa terima," ucap Farel membela dirinya.


"Tetapi cara kamu itu salah Farel. Kamu benar-benar keterlaluan, apa yang terjadi dengan kamu dan Bianca itu adalah karma dari perbuatan kalian," ucap Nadine.


Mendadak emosi Farel pun muncul, rasanya ia begitu sangat marah karena ternyata Nadine sama sekali tak peduli padanya dengan apa yang telah menimpa dirinya itu. Bahkan Nadine pun telah menampar pipinya, padahal apa yang ia lakukan hanyalah demi untuk mendapatkan cintanya. Di saat itu Farel bagaikan kesetanan dengan mencekik leher Nadine begitu saja, hingga Nadine pun terkejut dan merasa kesakitan.


"Kamu dengar ya Nadine, aku tidak akan tinggal diam dengan apa yang sudah kamu lakukan terhadapku. Aku pastikan kamu akan menjadi milikku," ucap Farel.


"Lepaskan aku Farel," pinta Nadine lirih.


Akan tetapi Farel seakan menulikan telinganya, ia tak peduli dengan rintihan Nadine, bahkan ia lupa jika wanita yang ia sakiti itu adalah wanita yang dicintainya.


"Lepaskan adikku!"


Bug …


Untungnya di saat itu Keenan datang tepat waktu, sehingga ia langsung saja memukul dan menarik tubuh Farel, hingga Farel pun melepaskan cekikkannya dari leher Nadine.


Bug …

__ADS_1


Farel membalas pukulan itu hingga terlihat bekas kemerahan di pipi Keenan.


"Keenan, berani sekali kau mencampuri urusanku!" Ucap Farel yang tak tahu diri.


"Brengsek!" ucap Keenan.


Bug …


Keenan kembali memukul Farel, ia terlihat begitu emosi melihat adiknya yang tadi hampir saja celaka gara-gara ulah pria itu.


"Kak Keenan, stop Kak Keenan, stop!" Teriak Nadine.


"Apa aku tidak salah dengar, kau mengatakan jangan mencampuri urusanmu tapi kau menyakiti adikku. Bedebah! Mana mungkin aku diam saja melihat kau yang hampir saja membunuh adikku," ucap Keenan yang masih memegangi kerah baju Farel yang saat itu sudah ambruk di atas lantai karena ulahnya.


Bag … bug …


Lagi-lagi Kenan memukuli wajah tampan Farel dengan membabi buta, hingga terlihat sudut bibir Farel yang sudah berdarah. Farel mencoba untuk melawan, akan tetapi tenaganya terlalu lemah untuk melawan pria yang sangat jago bela diri itu.


"Kak, aku mohon jangan pukul Farel lagi," pinta Nadine sembari menarik tangan Keenan untuk menghentikan perbuatannya itu.


"Pergi kau sekarang dari sini! Atau aku berubah pikiran dan akan membunuhmu!" Ancam Keenan dengan tatapan tajam.


Farel berusaha untuk bangun dan bersusah payah berjalan menuju ke mobil. Setelah itu segera saja ia pergi meninggalkan butik milik Nadine dengan perasaannya yang begitu sangat kesal dan emosi. Dalam hatinya ia bersumpah akan membalas perbuatan Farel dan Nadine suatu saat nanti.


****


Setelah Farel pergi, kini tampak Nadine yang sedang mengobati luka pada wajah Keenan karena terkena pukulan Farel tadi.


"Akh," rintih Keenan merasakan perih karena Nadine yang memberikan obat pada pipinya itu.


"Maaf Kak, aku nggak sengaja," ucap Nadine.


"Nadine, kenapa sih kamu mencegahku? Apa karena kamu masih peduli dengan pria itu, hah? Seharusnya kamu tadi tidak mencegahku, tidak melarangku untuk menghabisi pria brengsek itu. Bila perlu biar saja sampai dia mati," ucap Keenan yang begitu kesal. Ia benar-benar tak habis pikir dengan sifat Nadine yang masih saja bersikap baik terhadap pria yang hampir saja membunuhnya.

__ADS_1


"Kak, justru aku nggak mau kamu melakukan hal itu Kak. Memangnya kamu nggak pikir bagaimana kalau nantinya Farel mati, kamu akan masuk penjara. Terus kalau kamu masuk penjara, siapa yang akan menjaga aku Kak. Aku nggak mau itu terjadi, kamu tahu kan kalau aku sayang sama kamu, aku enggak mau kamu terkena masalah. Yang penting sekarang aku nggak kenapa-napa karena kakak sudah datang tepat waktu untuk menyelamatkan aku," ucap Nadine dengan air matanya yang bercucuran. Alasan itu juga lah yang ia berikan dulu saat Keenan memukuli Jefry, mantan kekasihnya yang telah berselingkuh.


Melihat kondisi adiknya yang seperti itu, Keenan pun langsung saja meraih tubuh Nadine ke dalam dekapannya untuk menenangkan wanita yang sangat ia sayangi.


"Maafkan aku Nadine, aku tadi benar-benar emosi melihat kamu diperlakukan kasar seperti itu oleh Farel. Dia Hampir saja membunuh kamu. Memang apa sih yang menyebabkan Farel begitu marah sama kamu, sampai dia tega menyakiti kamu? Bukankah Farel itu sangat mencintai kamu?" Tanya Keenan.


"Aku juga nggak tahu Kak kenapa dia begitu emosi," jawab Nadine.


Keenan menuntun Nadine untuk duduk di sofa. Setelah perasaannya sedikit tenang, Nadine pun menceritakan apa yang tadi terjadi sehingga Farel bersikap kasar seperti itu terhadapnya.


"Nadine, dari situ aku yakin kalau Farel itu sama sekali tidak mencintai kamu. Dia hanya mementingkan obsesinya saja untuk memiliki kamu, buktinya dia tega menyakiti kamu seperti tadi. Berbeda dengan aku Nadine, aku yang benar-benar tulus mencintai kamu. Jangankan untuk menyakiti kamu, bahkan melihat kamu tersakiti seperti tadi saja aku tidak rela," ucap Keenan yang tanpa sadar mengungkapkan cinta kembali, membuat jantung Nadine berdebar tak karuan.


"Kak Keenan, aku juga nggak bisa bohong lagi dengan perasaan ini kak. Sebenarnya aku juga sangat mencintai kamu, bahkan dari dulu sejak kita kecil. Sama seperti apa yang kamu rasakan," ucap Nadine.


Keenan membelalakkan matanya sekaligus merasa bahagia mendengar apa yang baru saja Nadine ucapkan.


"Kamu serius kalau kamu mencintaiku Nadine?" Tanya Keenan.


"Iya Kak aku serius, aku mencintai kamu. Tapi aku tahu jika cinta kita ini cinta terlarang, kita nggak akan mungkin bisa bersatu, karena sampai kapanpun kita adalah saudara. Tidak ada yang bisa mengubah takdir itu Kak," ucap Nadine dengan tatapan sendu.


"Aku tahu itu Nadine, tapi mau bagaimana lagi, perasaan ini sudah tumbuh di antara kita. Lagipula memang salah kita jika kita saling mencintai sejak dulu, sebelum kita mengetahui bahwa kita adalah saudara. Enggak kan? aku juga sudah yakin jika kamu memang mempunyai perasaan yang sama terhadapku," ucap Keenan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Kak? Tidak mungkin kita harus menerjang kokohnya dinding persaudaraan kita hanya karena rasa cinta ini," ucap Nadine.


Tanpa berbasa-basi dan menjawab pertanyaan Nadine, Keenan pun langsung saja menempelkan bibirnya itu pada bibir Nadine, lalu melu***nya secara perlahan.


Nadine membelalakkan matanya merasa terkejut atas perlakuan Keenan, akan tetapi karena rasa cinta yang ia miliki itu membuatnya tak bisa menolak akan perlakuan yang membuatnya melayang udara. Nadine tampak menikmatinya serta membalas ciuman tersebut dengan melu*** bibir Keenan.


Keenan yang mendapatkan respon baik dari Nadine itu pun tak tinggal diam, ia semakin memperdalam ciuman tersebut hingga mereka berdua terhanyut dalam suasana dan lupa tentang hubungan persaudaraan di antara keduanya.


"Stop! Apa yang kalian lakukan?"


Tiba-tiba saja suara lantang itu terdengar dari arah yang tidak jauh, membuat Nadine dan Keenan sontak terkejut dan menghentikan apa yang mereka lakukan. Lalu melihat ke arah seseorang yang saat ini sedang menatap mereka dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2