
Tak seperti biasanya, saat ini Cynthia terlihat diam dan tidak terlalu merespon keluarganya itu meskipun mereka berada di satu atap yang sama. Bahkan Cynthia pun tampak menghindar saat mereka mengajak makan bersama. Jika ada salah satu keluarganya yang menghampirinya ke kamar dan mengajaknya berbicara, Cynthia sama sekali tak menggubris mereka, sehingga mereka pun langsung saja keluar dari kamar tersebut.
Hingga pada akhirnya saat ini Dinda, Nathan Keenan dan Nadine pun menghampiri Cynthia yang berada di kamar menemani suaminya itu.
"Oma, kenapa Oma mendadak menjadi pendiam seperti ini? Sudah 2 hari loh Oma mendiami kita seperti ini. Oma marah karena aku mengatakan ingin ikut Nenek pindah ke Bandung?" Tanya Nadine.
"Kamu masih menanyakan soal itu Nadine. Sudah jelas lah Oma marah, Oma tidak menyangka kalau kamu akan meninggalkan Oma. Padahal Oma sudah bela-belain datang ke sini bersama Opa kamu," ucap Cynthia.
"Oma, Oma nggak boleh egois seperti itu dong. Oma kan tahu bagaimana kondisi Nadine sekarang. Oma mau Nadine tetap berada di sini dengan perutnya yang semakin membesar nanti. Atau lebih baik Oma, Papi dan Mama restui saja kami berdua menikah. Jadi Nadine akan baik-baik saja meskipun tetap berada di sini," ucap Keenan yang membuat mereka yang mendengar akan hal itu pun merasa terkejut.
"Keenan, kamu ini bicara apa sih. Sudah jelas kalau seperti itu kamu tidak akan bisa, kamu tidak akan pernah bisa untuk menikah dengan adik kamu sendiri. Kenapa kamu sama sekali tidak mengerti akan hal itu Keenan," ucap Dinda.
"Lantas aku harus bagaimana lagi Ma? Aku sangat kasihan melihat Nadine. Di saat Nadine sudah memutuskan untuk pindah ke Bandung bersama Nenek agar tidak ada yang mengetahui kehamilannya, Oma malah menghalangi-halangi seperti itu, Oma malah marah. Sebenarnya apa sih mau Oma," ucap Keenan.
Cynthia tampak berpikir, sebenarnya ia sendiri bingung, tidak tahu apa keinginannya sehingga ia pun tak dapat menjawab pertanyaan cucunya itu.
"Ma, coba tolong katakan apa mau Mama sebenarnya. Apa Mama memang mau Nadine tetap berada di sini dengan kehamilannya yang kian membesar tanpa suami? Atau Mama mau mencarikan jodoh lagi untuk Nadine atau juga mengizinkan saja Nadine menikah dengan Keenan, kakaknya sendiri?" Tanya Nathan.
"Kenapa kalian semua jadi menghakimi Mama seperti ini? Apa Mama salah jika Mama hanya ingin cucu Mama tetap berada di sini bersama Mama. Mama tidak mau Nadine meninggalkan Mama dan ikut bersama neneknya," ucap Cynthia.
"Memangnya kenapa Ma? Bu Santi itu neneknya Nadine juga kan? Bahkan Nadine sudah sangat dekat dengan neneknya itu sedari dia bayi, jadi aku percaya jika Ibu bisa menjaga Nadine dan anaknya nanti dengan baik. Lagipula kita nantinya juga bisa sering ke sana untuk melihat Nadine. Dan di saat nanti Nadine sudah melahirkan, Nadine juga bisa kembali ke sini lagi kan? Kalau hanya masalah cucu, apa bedanya Ma, di sini juga ada Keenan, Kenzo dan Kenzie, mereka juga cucu Mama. Jangan egois seperti itu Ma, tolong mengerti, ini semua demi kebaikan Nadine," ucap Nathan yang rasanya sudah tidak tahan lagi melihat sikap Mamanya, meskipun ia tahu pasti kata-katanya itu akan menyakiti hati ibunya sendiri.
"Stop! Stop Pi, sudah jangan ribut lagi hanya gara-gara aku. Oma, Papi, Mama, Kak Keenan, kalau Oma memang tidak setuju dengan keputusan aku untuk ikut Nenek pindah ke Bandung, lebih baik aku akan menggugurkan kandungan ini. Kalian tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya jadi aku," ancam Nadine yang membuat semuanya terkejut dan takut mendengarnya. Mereka takut jika Nadine benar-benar nekat akan menggugurkan bayi di dalam kandungannya yang sama sekali tidak berdosa.
"Oke! Oma akan mengizinkan kamu dan Keenan menikah," ucap Cynthia.
__ADS_1
Ucapan dari mulut Cynthia itu tentunya lebih mengejutkan lagi bagi Nathan, Dinda, Keenan dan Nadine. Tentu saja mereka bertanya-tanya dan meminta penjelasan kenapa Cynthia bisa mengatakan hal itu, padahal sudah jelas-jelas Keenan dan Nadine tidak akan pernah bisa bersatu karena ikatan darah yang mereka miliki.
"Ini apa lagi Ma? Jangan hanya gara-gara keegoisan Mama, Mama sampai melawan takdir. Tidak ada yang bisa mengubah takdir itu meskipun itu adalah Mama. Keenan dan Nadine adalah anak aku, di dalam diri mereka telah mengalir darah aku Ma. Bagaimana bisa mereka akan menikah, apa Mama mau menambah dosa dengan menikahkan mereka?" Tanya Nathan yang tampak emosi.
"Tidak Nathan, mereka tidak sedarah. Jadi mereka bisa menikah," ucap Cynthia dengan air matanya yang sudah tampak bercucuran.
"Maksud Mama apa berbicara seperti itu? Keenan dan Nadine bukan sedarah, maksud Mama apa? Sudah jelas mereka ini anak aku Ma," tanya Nathan yang mewakili rasa penasaran semua orang yang berada di sana.
Cynthia tampak menghirup nafas secara perlahan lalu menghembuskannya secara kasar, mencoba untuk menetralisir perasaannya saat ini. Ia yakin jika inilah saatnya untuk mengungkapkan yang sebenarnya, ia sudah tidak sanggup lagi jika harus menyimpan rahasia ini terlalu lama. Ia harus melawan rasa egoisnya dan melawan rasa takut karena tidak mau membuat cucu-cucunya semakin menderita.
"Jadi memang kenyataannya Keenan dan Nadine itu tidak sedarah. Karena Keenan bukan anak kandung kamu Nathan," ungkap Cynthia.
Duar …
Bagai tersambar petir, seluruh tubuh Keenan dan Nathan pun tiba-tiba saja bergetar hebat, mereka seakan tak percaya dengan ucapan Cynthia yang mengatakan jika Keenan bukanlah anak kandung Nathan.
"Maaf Kenan, Oma juga tidak tahu siapa ayah kandung kamu. Yang tahu jelas tentang itu hanya Mami kamu, Clara," ucap Cynthia.
Nadine dan Dinda pun sama terkejutnya dengan apa yang dirasakan oleh Keenan dan Nathan serta tak mempercayainya.
"Ma, kenapa Mama bisa mengatakan bahwa Keenan ini bukan anak aku. Sudah jelas-jelas Keenan ini anak aku, kenapa Mama tega mengatakan seperti itu Ma. Apa maksudnya ini semua?" tanya Nathan.
"Maafkan Mama Nathan, Dinda, Keenan, Nadine, tapi itulah kenyataannya. Jadi beberapa tahun yang lalu Mama mengetahui kenyataan itu," ucap Cynthia.
Lalu Cynthia pun menceritakan bagaimana masa lalu di saat ia mengetahui fakta bahwa Keenan bukanlah anak dari Nathan. Akan tetapi karena ia sudah sangat menyayangi Keenan sebagai cucu kandung sendiri, membuatnya memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari keluarganya, agar Keenan dan Nadine tetap menjadi saudara.
__ADS_1
"Mama benar-benar egois, kenapa hal sepenting ini Mama tidak pernah memberitahu kita. Mama memilih untuk menyembunyikannya sendiri, padahal berita ini sangat penting, Apalagi dalam kondisi yang seperti ini. Tetapi Mama baru mengatakannya sekarang, Mama benar-benar keterlaluan!" Ucap Nathan penuh amarah.
"Ini yang Mama takutkan, Mama takut karena sudah terlalu lama menyimpan rahasia ini. Jika mama mengungkapkan yang sebenarnya kepada kalian, pasti kalian semua akan marah dengan Mama. Mama tidak mau hal itu terjadi Nathan," ucap Cynthia.
"Tapi apapun alasannya, apa yang Mama lakukan itu salah. Mama hanya mementingkan kepentingan Mama sendiri, Mama lebih mementingkan keegoisan Mama. Mama tidak pernah memikirkan keluarga ini," ucap Nathan yang emosinya sudah mencapai di ubun-ubun.
Sementara Dinda di saat itu tampak sedang menenangkan Keenan yang merasa sangat terpukul, karena menerima kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui. Setelah itu pun Keenan yang sudah tidak kuat lagi berada di sana, segera saja pergi meninggalkan keluarganya itu.
"Keenan kamu mau kemana Nak?" Panggil Dinda.
"Biarkan saja Ma, biarkan saja Keenan menenangkan dirinya dulu. Wajar saja jika ia merasa sangat terpukul karena sikap neneknya sendiri. Ayo sekarang lebih baik kita juga keluar dari sini," ucap Nathan lalu menarik tangan istrinya itu untuk segera keluar dari kamar orang tuanya.
"Tapi kasihan Mama Pi," ucap Dinda.
"Sudah Ma, biarkan saja Mama merenungi kesalahannya," ucap Nathan, lalu ia dan Dinda pun berlalu.
Sedangkan Nadine masih tampak berdiri mematung seakan tak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Nathan pria yang selama ini ia cintai, yang ia anggap adalah kakak kandungnya sendiri, sehingga mereka tidak bisa bersatu, ternyata bukanlah Kakak kandungnya. Bukankah itu artinya mereka bisa bersama? Ia bingung harus bagaimana sekarang, apakah ia harus senang ataupun merasa sedih atas apa yang terjadi kepada Keenan.
"Nadine, apa kamu tidak mau meninggalkan Oma juga. Apa kamu tidak marah dengan Oma?" Tanya Cynthia yang membuyarkan lamunan Nadine.
"Jujur aku kecewa sama Oma. Setelah apa yang terjadi, Oma baru mengungkapkannya sekarang. Bahkan jika aku tadi tidak mengancam akan menggugurkan bayi ini, apakah Oma akan mengatakan hal yang sebenarnya?" Ucap Nadine dengan linangan air matanya.
"Maafkan Oma Nadine, Oma terpaksa," ucap Cynthia.
"Oma, Nadine bisa saja memaafkan Oma. Tapi nggak tahu bagaimana dengan Papi dan Kak Keenan, karena mereka berdua lah yang pastinya merasa sangat terpukul," ucap Nadine, lalu ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Cynthia di saat itu langsung saja menangis tersedu-sedu di samping suaminya. Ia benar-benar merasa sangat menyesal karena sudah menyembunyikan rahasia sebesar ini dari keluarganya. Dan sekarang apa yang ia takutkan itu benar-benar terjadi, keluarganya merasa sangat marah terhadap dirinya.
Bersambung …