
Karena waktu sudah semakin malam, selesai bercerita hingga kedua hati mereka pun sedikit lebih tenang, kini Keenan dan Nadine sudah berada di dalam kamar masing-masing. Keduanya masih tampak saling memikirkan tentang hubungan mereka yang kandas sebelum dimulai, mereka takkan pernah bisa bersatu selamanya. Nadine harus ikhlas untuk menikah dengan Farel dan menjalani rumah tangga bersamanya, berharap jika Keenan juga akan menemukan wanita yang lebih baik darinya.
"Aku harus bisa, aku harus bisa melupakan cintaku untuk Kak Keenan. Aku harus ingat bahwa aku dan Kak Keenan adalah saudara, aku harus bisa terlepas dari terjerat cinta saudara. Kamu harus ingat Nadine, sebentar lagi kamu akan menikah dengan Farel, kamu harus menjalani rumah tangga dengannya, hapus nama Keenan dalam hati kamu. Kisah cinta kamu dan Keenan sudah selesai, Nadine," gumam Nadine yang bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Semoga saja ini memang yang terbaik. Aku akan mencoba untuk ikhlas yang penting Nadine dan Anak aku nantinya akan bahagia, Anak aku akan lahir didampingi oleh seorang ayah. Aku cukup senang jika bisa melihat anakku tumbuh, mendampinginya, meskipun aku tidak bisa mendampinginya sebagai seorang ayah, hanya sebagai seorang Om," gumam Keenan pula.
Lalu keduanya pun memejamkan mata hingga terlelap dan terbangun di esok hari saat sinar mentari menyapa.
****
Hari-hari pun telah berlalu, hingga kini telah tiba hari pernikahan Nadine dan Farel yang diadakan besar-besaran di suatu gedung.
Meskipun saat ini Nadine sudah menggunakan gaun yang begitu indah dan membuatnya begitu cantik sempurna di mata semua orang, tetapi sama sekali tak terlihat raut wajah bahagia dari dirinya. Ia masih tak percaya jika akan menikah dengan Farel, pria yang sama sekali tidak diinginkannya. Meskipun ia sudah berusaha untuk ikhlas, berusaha untuk menerimanya, tetapi tetap saja rasanya begitu berat, Nadine tidak tahu bagaimana ia harus menjalani rumah tangganya bersama Farel kedepannya nanti.
"Nadine, kamu cantik sekali Sayang," puji Cynthia saat ia masuk ke dalam kamar cucunya yang terlihat sedang di rias oleh MUA International.
"Terimakasih Oma, tapi Nadine dag dig dug Oma," ucap Nadine.
"Itu biasa Sayang jika orang mau menikah mempunyai perasaan seperti itu, itu wajar kok," ucap Cynthia.
__ADS_1
"Iya Oma. Tapi Nadine takut Oma, kira-kira pernikahan aku dan Farel akan berjalan dengan lancar nggak ya? Kenapa perasaan aku seperti rasanya lain, terasa sangat ragu Oma," ucap Nadine dengan tatapan sendu
"Sayang, kamu jangan berbicara seperti itu dong. Kamu tidak boleh berpikiran negatif, kita berdoa saja ya semoga pernikahan kamu dan Farel akan berjalan dengan lancar. Kamu harus yakin itu, kamu harus optimis, jangan pesimis seperti itu," ucap Cynthia yang mencoba untuk menenangkan dan menyemangati cucu perempuannya itu.
"Iya Oma, maafkan Nadine ya Oma. Terimakasih juga Oma. Oh iya, Mama, Papa, Kak Keenan, Kenzo dan Kenzie sudah siap Oma?" Tanya Nadine.
"Sudah, semuanya sudah selesai dan sedang berada di ruang keluarga, tinggal menunggu kamu saja kita langsung berangkat menuju ke lokasi acara pernikahan kamu dan Farel," jawab Cynthia.
"Iya Oma. Oma apa kita benar-benar akan meninggalkan Opa sendiri, kasihan Opa, Oma. Seandainya saja Opa bisa bangun dan melihat acara pernikahan aku, pasti aku akan lebih merasa bahagia," ucap Nadine yang saat ini pun matanya sudah tampak berkaca-kaca.
"Sayang, kamu jangan sedih seperti itu. Nanti kalau air mata kamu jatuh bagaimana, kamu kan belum selesai make up. Kamu tenang saja Nadine, Opa pasti akan baik-baik saja. Opa juga pasti akan merasa bahagia kok kalau tahu kamu menikah meskipun Opa tidak bisa melihat langsung bersama-sama dengan kita. Di rumah ini Opa akan lebih aman. Kamu kan tahu sendiri Papi kamu sudah menyewa Suster dan penjaga khusus untuk menjaga Opa, jadi kamu nggak perlu mengkhawatirkan hal itu. Yang penting kamu harus siap untuk melangsungkan pernikahan kamu dan Farel dengan lancar. Setelah semuanya selesai, nanti kita akan pulang lagi ke sini, kita akan temui Opa. Kita kabarkan jika pernikahan kamu sudah selesai dan semuanya berjalan dengan lancar," ucap Cynthia seraya mengusap lembut pundak Nadine.
"Iya Oma," ucap Nadine tersenyum dan merasa perasaannya saat ini lebih tenang.
****
Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh Nadine, perasaan Farel juga dag dig dug karena sebentar lagi ia akan melangsungkan acara pernikahan dengan wanita yang dicintainya. Tetapi berbeda halnya dengan Nadine yang tampak ragu, Farel terlihat begitu bahagia, ia sudah tidak sabar lagi ingin mempersunting Nadine untuk menjadi istrinya.
"Farel, kamu jangan tegang seperti itu dong Sayang. Kamu harus percaya diri agar semuanya berjalan dengan lancar," ucap Rasti, ibunya Farel.
__ADS_1
"Biasa lah Mi, namanya juga mau melangsungkan acara pernikahan, pastinya Farel terasa gugup dong. Dulu sewaktu Papa mau menikah dengan Mami juga seperti itu, Papi merasa gugup dan canggung, tetapi untung saja acara Ijab kabulnya semua berjalan lancar," ucap Adi Jaya, ayahnya Farel.
"Iya, tapi bagaimanapun juga jangan sampai acaranya berantakan karena Farel gugup," ucap Rasti.
"Iya Mi, Pi, jujur rasa gugup itu ada. Tapi aku akan berusaha kok untuk tenang agar semuanya berjalan lancar seperti keinginan kita," ucap Farel.
"Good boy, itu baru anak Papi," ucap Adi.
Tidak berapa lama kemudian, kini mereka pun telah tiba di lokasi acara. Segera saja Farel dan keluarganya itu turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung.
Beberapa saat kemudian, keluarga Nadine juga telah tiba di sana. Farel yang sudah menunggu di tempat dimana ia akan melangsungkan ucap janji Suci dengan Nadine, melihat dengan jelas di saat itu Nadine sedang melangkahkan kakinya dengan anggun yang didampingi oleh sang ayah dan diikuti oleh keluarganya di belakang. Farel begitu terpesona melihat kecantikan Nadine, calon istrinya itu terlihat begitu sempurna dan sangat cantik layaknya seorang Ratu, membuat Farel sudah tak sabar lagi ingin memilikinya. Hingga kini Nadine sudah berada di dekat Farel dan duduk di sampingnya.
Karena kedua mempelai sudah siap, begitu juga dengan keluarga dan kerabat yang sudah hadir. Kini penghulu juga sudah siap untuk mengikat kedua calon mempelai untuk menuju ke jenjang yang lebih serius dan mempunyai hubungan yang sah.
Akan tetapi baru saja penghulu dan juga Nathan sebagai wali dari Nadine mengucapkan kata sakral untuk mengikat keduanya dan di saat itu Farel baru hendak menjawab, tiba-tiba saja …
"Stop! Pernikahan ini tidak sah dan harus dibatalkan."
Suara seorang wanita terdengar mengejutkan, sehingga kini semuanya pun mengalihkan pandangan ke arah wanita tersebut.
__ADS_1
Bersambung …