Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Keenan Menghilang


__ADS_3

Mendapat tatapan tajam dari dua pria yang ada di depannya membuat Clara pun menyadari jika ada sesuatu yang salah, ia langsung ingat jika tadi sudah berbicara yang membuat Nathan dan Keenan pastinya merasa curiga kepadanya. Akan tetapi ia mencoba untuk menepisnya dengan membahas soal lain.


"Jika kalian berdua hanya ingin menghakimiku terus seperti ini, lebih baik sekarang kalian keluar! Aku masih banyak pekerjaan," usir Clara.


"Jangan mengelak Clara, sudah jelas tadi kamu mengucapkan kalau kamu tidak mau Nadine menjadi menantumu. Maksudnya apa itu?" Tanya Nathan.


"Iya Bu, tolong jelaskan kepadaku. Apa benar bahwa aku ini bukan anak Papi Nathan? Lalu siapa Ayahku? Siapa Ayah kandungku? Apa itu artinya sewaktu Ibu masih menjadi istri ayahku, Ibu telah berselingkuh. Iya? Aku benar-benar tidak menyangka mempunyai seorang ibu seperti Anda," ucap Keenan yang begitu marah terhadap ibu kandungnya.


"Cukup Keenan, cukup! Kenapa kamu tega sekali berbicara seperti itu kepada Mami dan stop memanggil Mami dengan sebutan ibu. Mami ini Mami kandung kamu, justru wanita yang kamu anggap sebagai ibu kamu itu, yang selalu kamu puja-puja yang kamu panggil dengan sebutan mama, perempuan itu yang sudah menghancurkan hidup Mami, Keenan. Dia yang sudah merebut Papi kamu sehingga Papi kamu meninggalkan Mami. Kamu harus tahu itu, jangan terus menyalahkan Mami. Kenapa sih kamu tega sekali bersikap seperti itu terhadap Mami, setelah sekian lama kita tidak bertemu dan saat kita bertemu kamu malah bersikap seolah-olah Mami ini musuh kamu," kata Clara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Anda sendiri yang menyebabkan hal itu terjadi. Anda kan yang meninggalkan aku di sini, lalu Anda pergi tanpa menghubungiku sama sekali. Anda sama sekali tidak peduli denganku, jadi jangan pura-pura sedih atau menganggap aku disini menyalahkan Ibu. Jangan berlakon jika Ibu adalah korban di sini," kata Keenan.


"Tetapi karena waktu itu Oma dan Papi kamu tidak setuju jika Mami membawa kamu," ucap Clara.


"Cih, bagaimana mungkin aku setuju kamu membawa Keenan. Saat di rumah saja kamu sama sekali tidak bisa menjaganya, Mama yang selalu menjaga Keenan, Mama yang tulus menyayangi Keenan, bukan kamu. Lagipula hendak membawa Keenan itu hanyalah ancamanmu saja agar aku tidak jadi menceraikanmu waktu itu. Setelah kita resmi bercerai, kamu mengatakan tidak menginginkan Keenan sama sekali, apa kamu lupa itu Clara," ucap Nathan yang mencoba untuk mengingatkan.


"Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana jika aku mengatakan aku menyesali semuanya? Apakah Keenan mau memaafkan aku, apakah Keenan akan kembali lagi padaku?" Tanya Clara.


"Terserah Keenan. Karena sekarang Keenan sudah dewasa, dia berhak untuk memilih mana yang terbaik untuk hidupnya. Aku tidak pernah melarang Keenan untuk berhubungan denganmu, karena kamu adalah ibu kandungnya. Tapi itu semua berbalik lagi dengan Keenan, karena dia bisa merasakannya sendiri," jawab Nathan.


"Itu tidak akan mungkin. Apalagi sekarang aku sudah dewasa, bahkan aku sama sekali tidak menginginkan kepulangan Anda ke sini Bu. Kecuali sekarang Anda mau mengatakan siapa Ayah kandungku? Aku mohon katakan kepadaku siapa Ayahku!" Ucap Keenan dengan suara lantang.


Clara terduduk lemas dengan air matanya yang kini mulai bercucuran, tak percaya jika saat ini semua rahasia yang telah Ia simpan rapat-rapat telah terbongkar. Bahkan ia juga tidak tahu dari mana mantan ibu mertuanya itu tahu tentang hal ini. Ia merasa sangat sedih dan juga sakit hati dengan kelakuan anak kandungnya sendiri terhadapnya. Meskipun selama ini Clara tidak pernah peduli dengan Keenan dan menganggap bahwa ia tidak menyayangi Keenan, tetapi ia menyesali semuanya dan menyadari jika ia sebenarnya sangat menyayangi anaknya itu. Karena hanya Keenan lah satu-satunya harta paling berharga tak ternilai harganya di dalam hidupnya.


Sebagai seorang anak tentunya Keenan juga merasa sedih dan perih melihat ibunya dalam kondisi seperti itu, tetapi rasa marahnya kali ini mengalahkan segalanya. Ia benar-benar kecewa terhadap wanita paruh baya yang saat ini berada di hadapannya. Karena tidak mau terus berada di sana dalam perasaan yang tak penentu, Keenan pun segera saja keluar dari perusahaan Clara dengan rasa kecewa karena tidak mendapatkan jawaban apa-apa.


"Keenan tunggu Papa!" Teriak Nathan tetapi sama sekali tak digubris oleh anaknya itu. "Camkan kata-kataku Clara! Jika kamu terus saja menyakiti hati Keenan seperti itu, aku akan memberimu perhitungan setelah kemarin kamu membuat istriku menderita ketakutan, tapi aku hanya diam saja. Sekarang kamu malah membuat ulah lagi seperti ini. Aku akan melakukan tes DNA dengan Keenan dan aku tidak peduli apapun katamu tadi, jika Keenan dan Nadine tidak sedarah maka mereka akan segera menikah. Mereka berdua sudah lama saling mencintai dan menganggap bahwa cinta mereka adalah cinta terlarang dan apa kau mau tahu, karena dijebak oleh mantan kekasih Nadine dan Keenan, menyebabkan Nadine saat ini sedang mengandung anak Keenan. Jadi sudah pasti Keenan harus bertanggung jawab," ucap Nathan.


Setelah itu pun Nathan juga keluar dari perusahaan Clara untuk menyusul Keenan yang saat itu sudah terlebih dahulu pergi meninggalkannya. Bahkan saat di parkiran pun Nathan sudah tidak menemukan keberadaan mobil Keenan lagi. Segera saja ia melajukan mobilnya berharap dapat menyusul anaknya itu.

__ADS_1


****


Setelah melaju cukup jauh tetapi tidak juga melihat mobil Keenan yang tak tau entah kemana, akhirnya Nathan pun memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Ia berpikir mungkin saja anaknya saat ini sudah berada di rumah.


Akan tetapi, saat tiba di rumah pun ia tidak melihat mobil Keenan di sana. Segera saja ia keluar dari mobil dan melangkah kaki panjang masuk ke dalam rumahnya. Di saat itu ia melihat kamar orang tuanya yang terbuka dan melihat istri beserta anak-anaknya sedang berada di dalam sana, lalu memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Pi, kamu sudah pulang," ucap Dinda yang melihat suaminya terlebih dahulu.


Lalu Cynthia dan yang lainnya itu pun juga menatap ke arah Nathan yang terlihat sedang panik.


"Ma, apa Keenan sudah pulang ke rumah?" Tanya Nathan.


"Belum, Mama sama sekali belum melihat Keenan," jawab Dinda.


"Dimana dia, tiba-tiba saja Keenan menghilang. Papi pikir dia sudah pulang," kata Nathan.


"Jadi Sayang, Papi bertemu Keenan di sana tetapi Keenan pergi dulu karena dia tidak mendapat jawaban apapun dari ibunya itu," jawab Nathan.


"Papi tidak perlu khawatir, aku yakin kok kalau Kak Keenan itu bisa menjaga diri. Lagipula Kak Keenan itu kan laki-laki," ucap Nadine.


"Tapi saat ini keadaan Keenan sedang terpuruk Sayang, Papi hanya takut terjadi sesuatu dengan Keenan," ucap Nathan.


"Biasanya Papi yang paling percaya terhadap Keenan di saat Mama khawatir. Kita berdoa saja ya Pi semoga tidak terjadi sesuatu dengan Keenan. Mungkin saat ini Keenan hanya ingin memenangkan diri," ucap Dinda.


"Ma, Pi, kalau boleh biar Kenzo dan Kenzie aja yang pergi mencari Kak Keenan," ucap Kenzo.


"Jangan mencari gara-gara, bahkan umur kalian saja belum genap 17 tahun tapi kalian mau nyetir mobil berkeliaran di luar sana. Benar-benar mau mencari masalah baru!" Ucap Nathan yang tampak emosi sehingga membuat Kenzo pun bungkam.


"Pi, sabar Pi. Tujuan Kenzie itu kan baik, jadi jangan marah-marah dengan mereka dong. Kalau lagi kesal jangan mereka yang dibawa-bawa," ucap Dinda.

__ADS_1


"Iya Nathan, Mama tahu kamu masih marah dengan Mama dan Mama yang menyebabkan ini semua terjadi, tapi jangan anak-anak kamu yang lain dong yang jadi sasarannya. Kalau memang terjadi sesuatu dengan Keenan, Mama yang akan bertanggungjawab karena ini semua kesalahan Mama," ucap Cynthia.


"Oke! Papa minta maaf terhadap kalian berdua. Tapi apapun alasannya kalian tidak boleh keluar menyetir mobil, apalagi mencari Keenan. Lebih baik di sini saja jaga Opa dan Oma kalian," ucap Nathan lalu ia pun segera saja pergi menuju ke kamarnya dan disusul oleh sang istri.


"Oma, aku mau ke kamar dulu ya. Perut aku rasanya nggak enak banget," ucap Nadine.


"Iya Sayang, lebih baik kamu istirahat saja. Ingat kandungan kamu masih muda, masih sangat lemah," ucap Cynthia.


"Iya Oma, terimakasih ya," ucap Nadine.


"Tenang aja Kak, aku dan Kenzie pasti akan jaga Oma dan Opa dengan baik kok," ucap Kenzo.


"Iya Kak Nadine, Kakak istirahat yang tenang ya. Kasihan keponakan aku nanti kenapa-napa," sambung Kenzie.


"Iya, iya. Terimakasih ya Adik-Adik Kakak yang baik hati," ucap Nadine tersenyum, lalu ia pun keluar dari kamar Oma dan Opanya itu menuju ke kamarnya.


Saat tiba di kamar, beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi Keenan tetapi sama sekali tidak bisa dihubungi, membuat Nadine pun merasa sangat cemas. Bayi di dalam perutnya pun seakan mengerti, karena tiba-tiba saja ia merasakan perutnya begitu sakit.


"Tenang ya Nak, Mama tahu pasti kamu juga ikut khawatir dengan Papa kamu. Tapi kalian harus yakin jika Papa kamu akan baik-baik saja," ucap Nadine seolah berbicara dengan anak di dalam kandungannya sembari mengusap-usap lembut perutnya yang masih terlihat datar.


****


Sementara itu Keenan masih tampak melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tak tentu arah tanpa memperdulikan kendaraan di sekitarnya. Bahkan saat mau menyebrang ia sama sekali tak melihat kanan kiri yang di saat itu ada kendaraan lain yang sedang melaju kencang, hingga tiba-tiba saja ada sebuah mobil tronton yang sudah begitu dekat dengan mobilnya.


Din … din …


Suara itu mengejutkan Keenan, akan tetapi ia sama sekali tidak sempat lagi untuk mengelak sehingga tabrakan pun tak terelakkan lagi.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2