Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Diteror


__ADS_3

"Maaf Nadine, Keenan, aku harus kembali ke kantor sekarang. Karena sebentar lagi aku ada meeting," ucap Farel.


"Oh … gitu. Ya baguslah kalau begitu. Silahkan!" Ucap Keenan.


"Kak Keenan apa-apaan sih, nggak tahu terimakasih banget. Padahal Farel sudah memberi Kakak makanan loh, kalau nggak pasti Kakak sudah kelaparan," hardik Nadine.


"Keenan, sabar … sabar. Kalau nggak karena aku baru berbaikan dengan Nadine, pasti aku sudah melawan kata-kata Nadine. Memang dipikir mereka aku nggak mampu apa beli makanan, terus aku harus merasa senang karena diberi makanan yang sebenarnya bukan buat aku," batin Keenan menatap sinis.


"Sayang, aku ke kantor dulu ya. Nanti malam kalau kamu nggak sibuk, kalau kamu bisa pulang cepat, aku jemput kamu makan malam ya," kata Farel.


"Oh iya, nanti kamu hubungi aku aja ya lagi dan kamu hati-hati di jalan," ucap Nadine.


"Iya Sayang, bye … ," ucap Farel melambaikan tangan.


"Bye … ," balas Nadine.


"Sayang, nanti kita makan malam ya. Bye … ," nyinyir Keenan yang membuat Nadine tertawa melihatnya.


"Kak Keenan ini kenapa sih Kak, masih aja sensi dengan Farel. Padahal aku nggak ada tuh sensi-sensi sama Bianca," ucap Nadine.


"Sudah, nggak usah bahas Farel dan Bianca. Lebih baik kamu duduk sini dulu deh," kata Keenan memberikan ruang untuk Nadine duduk di sebelahnya.


Lalu Nadine pun segera saja duduk di samping Kakaknya itu.


"Kenapa kak?" Tanya Nadine.


"Kamu sudah memaafkan aku kan. Aku minta maaf ya atas kesalahpahaman ini, aku janji kalau aku nggak akan lagi langsung asal nuduh seperti itu tanpa bukti dan akan mendengarkan penjelasan kamu dulu," ucap Keenan.


"Gitu dong Kak. Iya aku maafkan Kakak kok, tapi benar ya kamu nggak boleh salah paham lagi sama aku, nggak boleh asal nuduh. Jujur aku kaget sewaktu kamu tiba-tiba saja datang terus marah-marah, nuduh aku seperti itu. Padahal aku sama sekali nggak melakukannya, bahkan aku juga baru tahu tadi pagi setelah aku tanya langsung ke Mama, dan Mama mengatakan kalau Mama mendengar pembicaraan kita malam itu di balkon," kata Nadine.

__ADS_1


"Jadi kamu tanya langsung ke Mama?" Tanya Keenan.


"Ya iyalah Kak. Kamu pikir aku bisa tenang, bisa diam saja gitu setelah aku dituduh seperti itu sama Kakak, jelas saja aku akan mencari kebenarannya," jawab Nadine.


"Terus setelah kamu mengetahui yang sebenarnya dari Mama, kenapa kamu nggak memberitahu aku langsung, WhatsApp kek, telepon Kek," kata Keenan.


"Malas aja. Lagipula aku banyak pekerjaan Kak. Untuk apa juga aku harus WA, harus nelpon kamu, nanti saat di rumah kita juga akan ketemu," kata Nadine.


"Iya juga sih. Tapi aku aja nggak sabar untuk meminta maaf sama kamu setelah mengetahui yang sebenarnya, maka dari itu aku langsung datang ke sini," ucap Keenan.


"Oh gitu ya, bagus deh kalau Kakak masih punya rasa bersalah. Aku pikir enggak. Kalau aku sih memang nggak salah ya, maka itu aku santai aja," sindir Nadine.


"Apaan sih Dine. Aku sudah datang ke sini baik-baik, minta maaf juga," hardik Keenan.


"Iya, iya, ya sudah sekarang ini memangnya kamu nggak mau balik ke kantor lagi Kak? Sudah lewat banget loh ini jam makan siang. Aku juga masih ada pekerjaan Kak," kata Nadine.


"Iya aku juga mau balik ke kantor kok. Nggak usah di usir juga kali Dine," ucap Keenan.


"Kalau gitu aku balik ke kantor dulu ya," ucap Keenan.


"Iya Kak hati-hati," ucap Nadine.


Lalu Keenan pun segera saja pergi meninggalkan butik Nadine dan melajukan mobilnya menuju ke perusahaannya.


****


Sore hari, seorang kurir datang ke kediaman keluarga Nathan untuk mengantarkan sebuah paket. Langsung saja bi Ina yang merupakan ART di rumah itu pun menerima paket tersebut. Setelah itu ia langsung saja menuju ke kamar sang Nyonya karena paket tersebut ditujukan untuk Dinda.


"Paket dari siapa ini Bi?" Tanya Dinda.

__ADS_1


"Saya juga tidak tahu Nyonya, karena di sini tidak ada nama pengirimnya, hanya ada nama penerima saja yaitu Nyonya Dinda," jawab bi Ina.


"Oh … ya sudah. Terimakasih ya Bi," ucap Dinda dan menerima paket tersebut. Lalu Dinda pun segera saja masuk ke dalam kamarnya membawa paket itu.


Kebetulan di saat ini Nathan sedang tidak berada di rumah karena ada urusan, sehingga Dinda pun hanya menerima serta membuka paket tersebut sendirian.


Perlahan Dinda membuka paket itu dan ia sangat terkejut saat melihat ada sebuah boneka yang sobek seperti dicabik-cabik serta cairan warna merah seperti darah yang melumuri boneka tersebut, seperti boneka horor yang membuat bulu kuduk Dinda pun merinding. Selain itu terdapat juga selembar tulisan yang ditulis dengan spidol merah. Dan isi surat tersebut adalah …


"JIKA KAMU BERANI BERMACAM-MACAM, MAKA NASIB KAMU AKAN SEPERTI INI."


"Akh … !" Teriak Dinda dan langsung saja mencampakkan boneka serta kertas itu di atas lantai. Ia merasa sangat takut karena diteror oleh seseorang yang tidak dikenalnya.


"Siapa ini? Siapa yang sudah melakukan ini padaku. Apa salahku? Tidak, aku tidak boleh takut. Kalau aku ketakutan seperti ini, bagaimana kalau Papi nanti melihatnya dan akan bertanya? Tidak, Papi tidak boleh melihat tentang surat teror ini. Aku harus menyembunyikannya," gumam Dinda dengan tubuh bergetar, tetapi ia mencoba untuk melawan rasa takutnya itu.


Meskipun saat ini Dinda merasa ketakutan, tetapi sebisa mungkin ia mencoba memberanikan diri untuk mengambil surat dan boneka tersebut, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak yang tadi dikirim oleh orang iseng tersebut. Setelah itu, dengan perasaan ngeri Dinda pun membawa kotak yang berisi boneka serta surat ancaman itu ke dalam gudang dan menyembunyikannya di tempat yang menurutnya sangat aman. Meskipun Dinda sebenarnya tidak bisa menyembunyikan apapun dari Nathan dan ini adalah kedua kalinya ia menyimpan rahasia setelah pertama tentang pertemuannya dengan Clara, bahkan ia diancam oleh mantan istrinya itu dan saat ini tentang teroran ini. Dinda juga yakin bahwa ini semua ada hubungannya dengan ancaman Clara waktu itu.


****


Malam hari, di saat keadaan apartemen sudah sepi dan Amanda yakin jika Clara saat itu sudah tidur, Amanda pun mengendap-ngendap masuk ke kamar Clara yang memang tidak pernah dikunci olehnya.


Di saat itu, Amanda melihat Clara yang sedang tertidur pulas hingga ia pun melangkahkan kakinya mendekati Clara. Amanda celingukan melihat ke sekelilingnya tetapi tidak menemukan sesuatu yang sedang ia cari. Hingga akhirnya …


"Nah itu dia, ternyata ada di sana," batin Amanda saat melihat ponsel yang sedang ia cari ada di samping Clara.


Pelan tapi pasti Amanda menjulurkan tangannya untuk mengambil ponsel Clara. Akan tetapi baru saja ia berhasil mendapatkan ponsel tersebut, tiba-tiba …


"Kamu jangan macam-macam ya dengan saya jika kamu mau selamat," oceh Clara dalam kondisi mata yang masih terpejam.


Akan tetapi hal tersebut membuat Amanda ketakutan dan langsung saja bersembunyi di bawah ranjang.

__ADS_1


Karena tidak ada pergerakan dan terdengar suara dengkuran Clara yang berisik, di saat itu Amanda pun sadar jika Clara hanyalah mengigau. Sehingga Amanda dapat bernafas dengan lega lalu segera saja ia mengotak-atik ponsel Clara. Sialnya ternyata Clara menggunakan sidik jari pada ponselnya itu, hingga Amanda pun meraih jari Clara yang saat itu terjuntai di atas kepalanya. Ia mencoba membukanya dengan jari jempol Clara, alhasil kuncinya itu terbuka yang membuat Amanda tersenyum senang. Lalu segera saja ia mencari nomor seseorang dan menyalinnya di ponsel miliknya sendiri. Setelah itu, Amanda pun meletakkan ponsel Clara di atas nakas, lalu secara perlahan ia keluar dari kamar Clara.


Bersambung …


__ADS_2